ArtikelPendidikan

Kebijakan dan Gagasan Baru PPPG Matematika Yogyakarta

98 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Whatever you vividly imagine, ardently desire, sincerely believe, and enthusiastically act upon must inevitably come to pass.
(Paul J. Meyer)

Jika mengacu kepada ketentuan tentang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), maka kebijakan berarti cara untuk mencapai tujuan instansi. Pengertian kebijakan dalam tulisan ini juga berarti keputusan-keputusan formal yang telah dirumuskan oleh instansi, yang berbentuk sebagai kesepakatan-kesepakatan atau konsensus instansional, yang akan menjadi pedoman atau acuan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi instansi. Sementara gagasan dalam tulisan ini diartikan sebagai pikiran-pikiran, atau ide-ide yang muncul dan kemudian disepakati oleh instansi untuk dapat diimplementasikan di masa depan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi lembaga.

Beberapa kebijakan dan gagasan baru yang akan dijelaskan adalah kebijakan dan gagasan baru PPPG Matematika Yogyakarta, yang lima di antaranya telah dilaksanakan dalam tahun 2003, sementara kebijakan dan gagasan yang lainnya ada yang masih dalam proses pematangan rencana. Kebijakan dan gagasan baru tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Koordinasi dan program kemitraan dengan Dinas Pendidikan dan LPMP;
  2. Program Sekolah Binaan (Prosebina);
  3. Unit Produksi;
  4. Pemberian alat peraga matematika bagi peserta diklat;
  5. Forum Komunikasi Pegawai;
  6. Pembangunan Waveline;
  7. Pembangunan Software Perpustakaan;
  8. Taman Bermain Matematika (Mathematics Play Ground);
  9. Kerja sama penerbitan produk PPPG Matematika;
  10. Layanan Bimbingan Belajar Matematika untuk Orangtua;

Koordinasi dan program kemitraan dengan Dinas Pendidikan dan LPMP

Kebijakan ini ada pada awalnya memang untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan oleh adanya otonomi daerah terhadap proses pemanggilan peserta diklat. Ternyata dampak itu muncul pada waktu proses pemanggilan peserta diklat yang tidak sesuai dengan persyarakatan yang telah diminta. Sebagai contoh, peserta diklat ‘pemanfaatan computer sebagai media pembelajaran matematika’ meminta peserta yang telah memiliki kemampuan dasar tentang operasi komputer. Namun dalam kenyataan, yang dikirim untuk mengikuti diklat ternyata guru yang sama sekali belum pernah memegang komputer. Pengalaman ini telah memberikan pelajaran bahwa proses penyelenggaraan diklat yang dilaksanakan PPPG Matematika harus dikoordinasikan dengan pemerintah kabupaten/kota.

Setelah otonomi daerah, pembinaan guru dan tenaga kependidikan menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Oleh karena itu, permintaan untuk memilih dan mengirimkan peserta diklat menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatan/kota cq dinas pendidikan kabupaten/kota. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka permintaan peserta diklat oleh PPPG Matematika diajukan kepada Bupati/Walikota cq Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada LPMP. tidak selalu dipenuhi sesuai dengan persyaratan peserta. Berangkat dari pengalaman tersebut, maka timbullah ide untuk mengadakan lokakarya koordinasi PPPG Matematika dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Kebijakan ini telah dapat dilaksanakan pada tahun 2003, dan telah menghasilkan satu Memorandum Kesepahaman yang ditangdatangani oleh Kepala PPPG Matematika, 33 Kepala Dinas Kabupaten/Kota, dan 30 Kepala LPMP seluruh Indonesia, serta disaksikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Program Sekolah Binaan (Prosebina)

Program Sekolah Binaan (Prosebina) merupakan kebijakan yang baru dilaksanakan pada tahun 2003. Latar belakang kelahiran kebijakan ini adalah karena adanya hambatan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Sleman untuk membebaskan tanah seluas 2500 m2 untuk perluasan lembaga. Untuk memperlancar proses pembebasan tanah tersbut, maka PPPG Matematika mencoba untuk menawarkan satu program sekolah binaan di Kabupaten Sleman. Berkat hubungan baik antara Kepala PPPG Matematika dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, akhirnya program itu disepakati bersama, dan proses pembebasan tanah milik kas desa itu pun juga berjalan lancar. Akhirnya prosebina dapat direalisasikan sebagai uji coba untuk lima sekolah (2 SD, 2 SMP, dan 1 SMA) di Kabupaten Sleman pada tahun 2003.

Mengingat pentingnya program ini sebagai upaya untuk menjalin kerja sama langsung antara PPPG Matematika dengan sekolah, maka program sekolah binaan ini akan diteruskan pada masa mendatang dengan jumlah yang lebih besar. PPPG Matematika Yogyakarta menilai bahwa sekolah merupakan tempat laboratorium kerja bagi PPPG Matematika. Hal ini dapat disamakan university hospital bagi suatu universitas.

Unit Produksi

Kebijakan ini lahir karena adanya temuan wasrik Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2002, yang memberikan rekemendasi agar Kepala PPPG Matematika Yogyakarta agar dapat mendayagunakan potensi dan fasilitas yang ada menjadi satu unit produksi. Proses pelaksanaan kebijakan ini diawali dengan mengadakan studi banding di PPPG Teknologi dan PPPG IPS/PPKn Malang. Konsep unit produksi dan jasa (projas) di PPPG Teknologi Malah diadpsi menjadi konsep unit produksi di PPPG Matematika Yogyakarta. Jika di PPPG Teknologi Malang telah mengembangkan berbagai devisi sebagai basis unit produksi dan jasanya, maka di PPPG Matematika Yogyakarta dikembangkan unit-unit layanan jasa pelatihan dan produksi alat peraga dan media pembelajaran matematika, yakni: (1) Unit Rancang Bangun Alat Peraga Matematika, (2) Unit Lab Matematika, (3) Unit Komputer, (4) Unit Madia Audio Video, (5) Unit Perpustakaan dan Penerbitan, (6) Unit Layanan Diklat, dan (7) Unit Layanan Bimbingan Belajar. Dalam usia yang baru setahun ini, unit yang telah berjalan dan telah memberikan sumbangan cukup baik sebagai unit yang dapat meningkatkan income (generate income) adalah Unit Rancang Bangun, Unit Komputer, Unit MAV, dan Unit Layanan Diklat Kerjasama. Sementara unit yang lain masih terbatas dalam kegiatan yang menunjang pelaksanaan layanan lembaga kepada pelanggan.

Pemberian alat peraga matematika bagi peserta diklat

Kebijakan ini berawal dari ide Kepala PPPG Matematika Yogyakarta yang melihat kenyataan bahwa pemberian ‘tas’ bagi peserta diklat pada semua kegiatan diklat sebenarnya kurang bermanfaat. Maka muncullah ide untuk memberikan satu kit alat peraga kepada semua peserta diklat selepas mengikuti kegiatan diklat. Alat peraga itu sudah barang tentu akan dimanfaatkan oleh guru pada saat melaksanakan proses pembelajaran di sekolah. Kebijakan ini telah dilaksanakan pada tahun 2003, dan akan diteruskan pada tahun anggaran selanjutnya.

Forum Komunikasi Pegawai

Forum komunikasi pegawai ini dilatarbelakang adanya keinginan untuk meningkatkan kehadiran para pegawai. Sistem pencatatan kehadiran pegawai seperti yang dilakukan dengan sistem ‘barcode‘ atau sistem ‘finger touch‘ yang telah dilaksanakan di beberapa LPMP belum dapat dilaksanakan di PPPG Matematika dalam waktu dekat, karena masih memerlukan sosialisasi dan persiapan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kehadiran pegawai, dalam rangka meningkatkan kinerja lembaga, maka PPPG Matematika Yogyakarta telah mengadakan satu kegiatan yang disebut Forum Komunikasi Pegawai dengan cara apel pagi pada setiap Hari Senin, dan apel siang pada setiap Hari Kamis. Kebijakan ini mulai dilaksanakan pada awal tahun 2004.

Pembangunan Software Perpustakaan;

Perpustakaan adalah gudang ilmu. Membaca adalah kuncinya. Koleksi perpustakaan setiap tahun terus bertambah. Semakin banyaknya koleksi tersebut, menyebabkan semakin bertambah sulit untuk mencari bahan koleksi yang diperlukan. Kartu catalog konvensional perlu ditingkatkan dengan sistem yang lebih canggih, yakni dengan software yang dapat digunakan untuk inventarisasi dan sirkulasi perpustakaan. Aoftware ini telah diadakan pada tahun 2003. Bahan koleksi perpustakaan sedang dalam proses data entry.

Pembangunan ICT (Information Communication Technology)

Dewasa ini internet di PPPG Matematika masih menggunakan ‘dial-up system‘ (menggunakan jaringan telepon). Di samping biayanya tinggi, aksesnya juga sangat lambat. Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan yang amat dikeluhkan oleh peserta diklat komputer. Untuk mengatasi hambatan ini, maka timbullah ide untuk membangun Information Communication Technology (ICT) untuk pendidikan. Untuk mendukung program unggulan dalam bidang computer di PPPG Matematika, maka pembangunan ICT ini menjadi keniscayaan. Hal ini juga terkait dengan perkembangan Yogyakarta, sebagai cyber city dengan mengembangkan e-governemet. Pada tahun 2004 ini, 25 SMP di Yogyakarta bahkan telah melaksanakan program ICT. Gagasan pembangunan ICT di PPPG Matematika sudah dimulai dengan memasukkannya ke dalam program proyek tahun 2004.

Taman Bermain Matematika (Mathematics Play Ground)

Taman bermain yang bernuansa matematika ini sebenarnya telah lama digagas, yang tidak lain dilatarbelakangi untuk melaksanakan kegiatan untuk mencapai satu misi PPPG Matematika, yakni meningkatkan citra matematika sebagai mata pelajaran yang menyenagkan. Gagasan ini dimulai dengan mengubah nama-nama gedung menjadi nama-nama tokoh atau pakar matematika caliber dunia. Beberapa gedung asrama belum tuntas diubah dengan nama-nama tokoh matematika. Diharapkan perubahan nama yang bernuansa matematika itu selesai dikerjakan pada tahun 2004. Pada tahun 2004 kawasan tanah seluas 2500 m2 telah direncanakan akan dibangun Taman Bermain Matematika.

Kerja sama penerbitan produk PPPG Matematika

Produk widyaiswara telah banyak dihasilkan dari tahun ke tahun, seperti Paket Pembinaan Penataran dan Paket Penggemar Matematika. Selama ini produk ini digandakan dalam format diktat. Kalau produk ini dapat dicetak dalam bentuk buku yang menarik, maka PPPG Matematika dapat menghasilkan dokumen yang memiliki nilai lebih: (1) produk buku tersebut memiliki ISBN, (2) produk itu lebih menarik dan profesional, (3) dapat dipasarkan oleh penerbit untuk meningkatkan penghasilan lembaga (generate income), dan keuntungan lainnya.

Layanan Bimbingan Belajar Matematika untuk Orangtua;

Kebijakan ini bukan lahir karena latah melihat pesatnya kegiatan bimbingan belajar dalam masyarakat. Gagasan ini lahir karena untuk meningkatkan citra matematika sebagai mata pelajaran yang menyenangkan. Untuk meningkatkan citra ini, peran orangtua tidak dapat dinafikan begitu saja. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orangtua yang merasa tidak mampu membantu anaknya untuk mempelajari matematika. Gagasan ini masih memerlukan pemikiran lebih lanjut tentang bagaimana mulai melaksanakannya.

Penutup

Apa yang kita bayangkan dan pikirkan, jika dilaksanakan dengan penuh antusias dapat kita lakukan dengan berhasil. Itulah pesan kata-kata bijak yang sengaja dikutip pada awal tulisan ini dari ahli manajemen yang bernama Paul J. Meyer. Gagasan-gagasan dan pemikiran yang positif perlu dimunculkan untuk memenuhi tuntutan adanya perubahan di PPPG Matematika. Tidak ada yang tidak dapat berubah di dunia ini, kecuali kata perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang menuju kebaikan. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari yang akan datang harus lebih baik daripada hari ini.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Kepala Bidang Pelayanan Teknis, PPPG Matematika Yogyakarta.

Yogyakarta, Maret 2004

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Puisi

Guruku, Pahlawanku

Oleh: Suparlan   Selain ayah-bunda dan kakek-nenek tercinta, Orang berikutnya yang sangat mulia, Di mata hatiku satu-satunya, Adalah…