ArtikelDunia Islam

Masuk Islam Gara-gara Celana Dalam

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Bersuci (thaharah) itu separuh dari iman
(HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)

Kebersihan sebagian dari iman
(Kata-kata mutiara Islami)

Pembaca pasti tahu tentang Negeri Paman Sam. Negeri ini menyebut dan membanggakan dirinya sebagai kampiun demokrasi. Selain terkenal sebagai negara adidaya (super power) di satu dunia dalam satu sistem tata surya ini, Negeri Paman Sam juga terkenal dengan ibarat sebagai the melting pot, karena banyak ras dan agama tinggal dan menetap di sini. Sebuah pot bueeeeesar sekali yang berisi berbagai macam bunga.

Alkisah ada seorang pengusaha loundry yang sukses dan terkenal di Negeri Paman Sam. Tentu saja, pelanggan loundry itu pun berasal dari berbagai bangsa, ras, dan agama, serta kelas sosial dan ekonomi. Semuanya memperoleh layanan yang sama-sama prima dari sang pengusaha. Sebut saja nama sang pengusaha ini adalah Mr. Salam. Lho! Namanya kok sudah nama Muslim? Tidak! Nama itu nama baru setelah masuk Islam. Sebelumnya bernama Edward. Pengusaha ini aslinya memang berasal dari ras kulit putih. Bukan ras coklat yang manis seperti penulis. Bukan ras kuning seperti Dr. Sauqi Futaki orang Jepang yang mendirikan rumah sakit Islam di negaranya itu.

Sebelum perusahaan loudry ini berkembang menjadi perusahaan besar seperti sekarang ini, pengusaha ini melayani sendiri para pelanggannya. Bahkan pengusaha ini masih sering mengoperasikan sendiri mesin-mesin cuci untuk mencuci pakaian kotor yang bertumpuk-tumpuk itu. Tentu saja beliau menggunakan mesin-mesin cuci yang besar dan canggih. Memang, beliau dibantu oleh beberapa orang staf administrasi untuk mencatat siapa saja pelanggannya, berapa saja pakaian yang harus dicuci, dan tentu saja berapa biaya yang harus dibayar para pelanggan itu, serta petugas yang mengoperasikan mesin cuci yang besar itu. Meskipun demikian, sang pengusaha sering menemui para pelanggannya, meski hanya sekedar say hello. Hallo, how are you today, dan seterusnya. Ini penting sekali dilakukan untuk memberikan kepercayaan kepada para pelanggannya.

Hubungan korelat sekolah efektif dan perusahaan efektif

Hebatnya, seperti seorang guru yang mengajar di sekolah efektif yang selalu menjalin hubungan sekolah dengan orangtua siswa, pengusaha besar ini juga menerapkan korelat perusahaan efektif, antara lain adalah menjalin hubungan yang baik antara pengusaha dan pelanggannya. Setiap pagi beliau selalu menyapa para pelanggannya yang datang membawa setumpuk pakaian kotor yang mau dicuci sampai diseterika. Prinsip kerja perusahaan ini adalah “pakaian datang kotor, kembali ke pelanggan sudah bersih dan licin, kalau perlu berbau harus, dan siap dipakai”.

Saat ini penulis sedang menyiapkan naskah buku bertajuk “Membangun Sekolah Efektif”. Karena itu, masih kental dalam ingatan istilah korelat sekolah efektif, yang ternyata dapat dipraktikkan dalam perusahaan yang efektif seperti yang milik pengusaha loundry ini.

Ah!  Lama amat ceritanya. Mana cerita tentang koversi agama itu? Para pembaca yang budiman, sedikitlah kita belajar bersabar, karena orang yang sabar adalah kekasih Tuhan. Membaca cerita ini juga dapat menjadi pelajaran kesabaran bagi pembaca. Bukan hanya memancing saja yang bisa menjadi pelajaran kesabaran bagi pembaca.

Pintu hidayah

Suatu saat, pengusaha ini menemukan kejadian yang menurutnya amat aneh. Kejadian yang amat jarang dijumpai selama menjadi pengusaha loundry. Jika banyak pelanggan yang pada umumnya pakaiannya sangat kotor, bahkan lebih cenderung sangat berbau, tetapi pelanggan yang satu ini sama sekali tidak demikian. Pelanggan itu menyerahkan pakaian yang sama sekali tidak berbau, meski pakaian-pakaian itu memang sudah dipakai. Itulah sebabnya secara iseng pengusaha ini menemui pelanggan istimewa ini.

”Tuan, mohon maaf seribu maaf, bolehkah saya bertanya kepada Tuan?, tanya pengusaha kepada seorang pelanggan.

”Oh boleh. Ada apa ya Tuan?”, jawabnya dengan suara yang merendah.

”Ya, kami sudah cukup lama menjalankan perusahaan loundry ini. Biasanya, kami memang menerima pakaian yang kotor, bahkan ada yang teramat kotor, bahkan sangat berbau. Perusahaan kami kemudian mencucinya. Tentu saja dengan mesin yang kami miliki. Pakaian-pakaian itu menjadi bersih, dan bahkan telah kami seterika sekali, dan akhirnya siap dipakai oleh para pelanggan. Itulah kerja kami, dan kami bangga melakukan pekerjaan ini, karena memperoleh penghasilan dari pekerjaan ini”, demikian pertanyaan dan sekaligus penjelasan dari pengusaha.

”Lalu, apa yang Anda tanyakan kepada saya?”, balasnya dengan senyum.

”Ya, pakaian yang Anda cucikan di sini lain dari yang lain. Pakaian Anda tidak sekotor pakaian-pakaian yang mereka bawa kemari. Mengapa?”, inilah inti pertanyaan pengusaha.

”Benarkah Tuan? Pakaian-pakaian saya itupun juga pakaian yang sudah saya pakai”, balasnya.

”Ya, benar. Tetapi, pakaian Anda jauh lebih bersih daripada setumpuk pakaian-pakaian kotor pada umumnya yang dibawa kemari. Itulah yang saya tanyakan”, kilahnya.

”Oh, begitukah? Perlu Tuan ketahui, saya adalah seorang Muslim. Agama saya mengajarkan bahwa ”bersuci adalah separuh dari iman”. Untuk ini agama saya mengajarkan kepada pemeluknya agar setiap membuang hajat, apa itu hadas kecil apalagi hadas besar, harus melakukan apa yang disebut dengan ”istinjak”. Istijak adalah membersihkan badan kita dari hadas kecil dan besar itu. Sebaiknya memang dengan menggunakan air. Kalau tidak, kita bisa menggunakan benda apa saja yang tidak membahayakan tubuh kita. Beristinjak hubukmya wajib. Kalau tidak, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT.  Itulah barangkali jawaban yang dapat saya sampaikan kepada Anda, berkenaan dengan pertanyaan Anda tersebut, jawab pelanggan dengan sabar.

”Oh ya!”, balas singkat pengusaha dengan mengangguh-anggukkan kepalanya, yang saat itu juga sang pengusaha ingin mengikuti pelanggan untuk memeluk agama Islam”.

Rupanya, penjelasan pelanggan ini telah menjadi satu pintu hidayah bagi sang pengusaha loundry.  Tiga hari setelah peristiwa itu, sang pengusaha menemui pelanggan kembali dan menyatakan niatnya untuk masuk Islam. Akhirnya dengan tuntunan pelanggan itu, sang pengusaha loundry dengan khusuk mengucapkan kalimah syahadat, ”Lailahailallah, waashhadu anna Muhammadarasulullah”.

Hadits Nabi

Jika kita membuka http://konsultasi.wordpress.com, maka kita akan menemukan satu uraian yang cukup bagus tentang hadits Nabi mengenai kebersihan.  Ada satu pertanyaan apakah ”Kebersiahan Sebagian Dari Iman” itu memang sebuah hadits?”. Ternyata, ungkapan ”Kebersihan Sebagian Dari Iman” (an-nazhaafatu minal iimaan) sebenarnya bukanlah hadits Nabi. Lalu apa? Ungkapan itu hanya sekedar sebagai peribahasa atau kata mutiara yang baik atau yang Islami. Namun, ungkapan itu didukung oleh hadits yang sahih, yang kalimatnya memang mirip. Hadits sahih itu adalah ”Bersuci (thaharah) itu setengah dari iman”, yang dalam Bahasa Arabnya adalah ”Ath-thahuuru syatrul iimaan” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi, dan lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/57; Imam Al-Qazwini, Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman (Terj. Mukhtashar Syu’abul Iman Li Al-Imam Baihaqi), hal. 66-67).

Singkat kata, ungkapan “kebersihan sebagian dari iman” hanyalah peribahasa atau kata mutiara yang baik. Sedang hadits Nabi yang terkait dengan kebersihan ini adalah “Bersuci itu setengah dari iman” (HR Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi). Tentu saja kita dapat menggunakan kedua-duanya sebagai dasar dan acuan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Insyaallah. Tentu saja, yang berasal dari hadits akan lebih kuat dibandingkan dengan kata-kata mutiara.

Akhir kata

Akhirnya, cerita ini harus diakhiri. Cerita ini berasal dari cerita dari mulut ke mulut. Penulis memperoleh cerita ini dari Bapak Khairul Anam, seorang national advisor (NA) yang bekerja di Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP) yang berkedudukan di Jakarta. Penulis menulisnya secara imajiner dan bebas. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 15 Januari 2009

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Budaya, Pendidikan

Ayo Menyanyi

Oleh: Suparlan *) Saya jadi ingat guru saya di SR (Sekolah Rakyat), namanya Paniran. Sayang, saya belum sempat…