ArtikelDunia Islam

Kuliah Tertulis Ramadhan Hari Kedua: Niat Puasa

Oleh Suparlan *)

Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana telah kuperintahkan kepada umat-Ku terdahulu agar kamu menjadi orang yang bertakwa
(Al Quran)

Puasa itu melatih ”tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan ”ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan ”ya”. Mental manusia lebih berpihak pada ”pelampiasan” dibanding ”mengendalikan”
(Emha Ainun Najib)

Niat dan amal merupakan dua kata kembar yang saling terkait tidak bisa dipisahkan. Sama dengan dua kata lainnya, yakni antara sikap dan tindakan. Ada amal yang pura-pura, karena ia tidak dilandasi oleh niat yang kuat. Demikian juga ada tindakan yang hanya sebagai akting, hanya dibuat-buat, karena tidak dilandasi oleh niat yang sebenarnya.

Sesungguhnya semua amal tergantung dari niatnya. Inal a’malu binniyah. Oleh karena itu, Allah telah memberi nilai satu untuk sebuah niat yang baik. Apabila niat itu diamalkan dengan benar, maka Allah menambahnya nilai satu lagi. Maka diperolehlah nilai dua bagi orang yang sungguh-sungguh berniat dengan tulus dan mengamalkannya dengan benar. Sebaliknya, orang yang berniat jahat, Allah sama sekali belum menghitungnya sebagai catatan perbuatan dosa baginya. Jika niat jahat itu dilaksanakan, maka barulah Allah akan mencatatnya sebagai perbuatan satu dosa, bukan dua dosa. Begitulah, Allah benar-benar memang mencintai dan menyayangi umat-Nya.

Niat letaknya memang di hati yang paling dalam. Untuk dianggap lebih afdol, maka niat itu sering diucapkan secara lisan atau ucapan. Hal ini dapat dimaklumi karena orang lain sama sekali tidak mengetahui seseorang memiliki niat atau tidak. Memang, tidak seorang pun mengetahui hati seseorang. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun sesungguhnya itu telah mendekati amal. Di sini antara niat dan amal menjadi satu kesatuan hanya berbatas setipis kulit bawang. Niat itu menjadi amal apabila direalisasikan dalam tindakan yang dilakukan oleh salah satu dari anggota tubuh kita. Niat yang baik juga harus dilaksanakan dengan cara yang baik. Tujuan yang baik berlandaskan niat yang baik harus dilaksanakan dengan cara yang baik.

Untuk dapat mengamalkan atau melaksanakan puasa, kita harus mengawalinya dengan niat hanya untuk Allah semata. Bukan untuk apa-apa dan siapa-siapa. Saya berniat untuk berpuasa di bulan Ramadhan karena Allah ta’ala. Menurut jumhur ulama, niat hanya untuk Allah ta’ala di dalam hati ini cukup sekali dinyatakan sekali sebelum puasa dimulai. Jika ada niat yang kuat, maka insyallah kita akan kuat menghadapi rintangan selama puasa. Kita akan selalu bangun sebelum imsak untuk makan sahur, kita akan kuat menahan lapar dan dahaga, meski kita harus bekerja keras. Bahkan kita akan dapat menahan godaan lain yang bersifat immaterial, seperti marah, jengkel, syahwat, dan sejenisnya.
Di dalam tulisan singkat ini patut kita renungkan tausiah dari Emha Ainun Najib tentang puasa. Katanya, puasa itu melatih ”tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan ”ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan ”ya”. Mental manusia lebih berpihak pada ”pelampiasan” dibanding ”mengendalikan” (Seputar Indonesia: Jum’at, 14 September 2007). Bulan puasa sesungguhnya merupakan bulan pelatihan ”tidak”. Bukan hanya tidak makan dan minum di siang hari. Lebih dari itu. Sesuatu yang halal saja tidak boleh kita lakukan pada saat kita berpuasa. Apalagi sesuatu yang haram. Mulailah dari ”tidak” yang kecil-kecil, seperti tidak gaduh selama shalat berjama’ah di dalam masjid, tidak berbicara ketika khatib sedang berkotbah, tidak mengucapkan amin terlalu nyaring sehingga mengganggu kekhusukan dalam shalat, tidak membakar mercon, tidak berkata ”hah” kepada orangtua, tidak menyontek ketika ulangan di sekolah, dan masih banyak lagi perilaku yang tidak boleh dilakukan, bukan hanya di bulan puasa. Semua itu harus kita latih selama bulan Ramadhan. Hasil pelatihan selama bulan puasa akan menjadi bekal mental kita yang akan kita terapkan setelah usai bulan puasa. Allah memberikan satu bulan penuh untuk berlatih, untuk belajar, sehingga dalam sebelas bulan yang lain kita berhasil menjadi manusia yang bertakwa, sebagaimana firman Allah yang telah dikutip dalam awal tulisan ini. Sekali lagi selama bulan Ramadhan kita telah dilatih untuk ”tidak” melakukan hal-hal yang halal. Apalagi melakukan hal-hal yang diharamkan.

Semua proses pelatihan dalam bulan Ramadhan itu harus kita mulai dengan niat yang kuat. Setelah itu harus kita pertahankan dengan semangat baja untuk dapat mengamalkan puasa di bulan Ramadhan, untuk mengendalikan semua hawa nafsu kita. Hanya dengan niat yang kuat, kita akan mampu mengamalkan sebuat syariat dalam puasa.

Mudah-mudahan amal puasa hari kedua kita ini diterima sebagai amal saleh kita. Amin, ya robbal alamin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 14 September 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *