ArtikelBudayaPendidikan

Kedatangan Anak Menteng Dalam itu dapat Menjadi Bahan Pelajaran Bagi Kita

29 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Perdamaian adalah sebuah bingkisan yang saling kita berikan
(Elie Wiesel, Pemenang Nobel Perdamaian 1986)

Nothing is a waste of time if you use the experience wisely
(Robin Green and Mitchell Burgess)

Cukup banyak informasi dari media tentang latar belakang kehidupan sang presiden Amerika Serikat keturuan Afroamerika pertama ini. Yang pasti dan jelas, beliau adalah anak Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Tulisan singkat ini tidak membahas aspek lain dari Obama, kecuali aspek kehidupan pribadi sebagai mantan ”anak Menteng Dalam” itu.  Tidak aspek ideal yang muluk-muluk seperti cacat kebijakan politik luar negeri yang telah diambilnya, tidak juga aspek hubungan antarnegara dan posisinya sebagai tamu sebagaimana tamu-tamu lain. Tidak!! Tulisan ini hanya akan menuturkan cetusan hati penulis tentang fenomena pribadi anak Menteng Dalam itu, dan apa yang dapat kita petik darinya.

Pertama, semuanya memang bisa terjadi. Jika Tuhan telah menentukan, maka semuanya bisa terjadi, walaupun sudah barang tentu semua memalui sunatullah-Nya. Dalam hal ini, Allah SWT tidak pernah diskriminatif. Siapa pun bisa menjadi apa, termasuk menjadi presiden, sesuai dengan hukum sunatullah-Nya. Memang, boleh jadi kita dapat menjadi heran. Anak Menteng Dalam, yang pernah tinggal selama empat tahun di Indonesia, negara sedang berkembang, dalam perjalanan hidupnya dapat menjadi presiden negara adidaya. Subhanallah! Sungguh. Itulah perasaan yang terbesit di dalam hati ini.  Sungguh, negara yang terkenal dengan ”In God we trust” ini pun memang masih benar-benar percaya bahwa fenomena Obama menjadi presiden AS itu juga merupakan bagian kekuasaan Tuhan yang harus diterima. Bahwa Obama adalah seorang keturunan Afroamerika, bahwa Obama adalah anak Menteng Dalam Jakarta, tidaklah akan menjadi penghalang bagi Allah untuk menjadikan Obama sebagai presiden Amerika Serikat. Pelajaran yang dapat kita petik dari fenomena ini adalah kita harus menerima bahwa semuanya memang bisa terjadi, kun fayakun. Manusia memang harus berusaha, tetapi Tuhan pula yang menentukan. Men proposes, but God disposes.

Kedua, satu dunia. Kita punya motto yang luar biasa atau ”cogan kata” atau ”dasar filosofis berbangsa ”Bhinneka Tunggal Ika”. Asal katanya ”binna” artinya berbeda. ”Ika” artinya itu. ”Tunggal” artinya satu. Jadi, secara harfiah arti cogan kata itu adalah ”berbeda itu, satu itu”. Dengan demikian, dunia yang kita huni ini memang diciptakan berbeda-beda. Berbeda warna kulit penghuninya, berbeda keyakinan dan kepercayaannya, berbeda tempat tinggalnya, serta berbeda dalam segala hal. Namun, sesungguhnya kita harus hidup dalam satu dunia yang satu. Sekali lagi, dengan Obama, yang pernah menjadi anak Menteng Dalam Jakarta itu, lahir di satu dunia juga, dengan bapak asal Afrika dan seorang ibu asal Amerika, telah menjadi keturunan Afro-Amerika pertama yang telah menjadi presiden sebuah negara adi daya. Pelajaran yang dapat kita petik dari fenomena ini adalah kita harus lebih meyakini bahwa kita sesungguhnya sama-sama menjadi mahluk Tuhan yang tinggal di satu dunia ini, dan oleh karena itulah kita harus lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa bahkan dunia, ketimbang harus memperuncing perbedaan dan permusuhan. Perang antarnegara, perang antaragama, termasuk bentrok antaretnis, bentrok antarkampung, bentrok antarwarga, dan bentrok antarpenonton pertandingan sepak bola, bahkan telah marak juga bentrok antarmahasiswa, sebenarnya tidak perlu terjadi, karena kita adalah sama-sama menjadi mahluk ciptaan Allah di dunia yang satu ini.

Ketiga, komunikasi efektif. Saya suka istilah yang satu ini. Segala persoalan diyakini dapat dipecahkan jika melalui pendekatan ini, komunikasi efektif. Mungkin juga dengan musuh sekalipun. Konon, tidak ada musuh di dunia ini, yang ada adalah kelompok yang memiliki perbedaan pendapat. Untuk menyatukan perbedaan pendapat itu diperlukan musyawarah dengan komunikasi efektif.  Juga dengan orang nomor satu negara yang telah mengalami peristiwa tragis WTC ini. Dengan demikian, terhadap Obama, negara kita juga perlu melakukan komunikasi efektif itu. Saran dua organisasi keagamaan terbesar negeri ini, Muhammadiyah dan kemudian NU, sangat bijak untuk dilaksanakan oleh pemerintah. Obama adalah tamu, dan kita juga telah bertamu. Tidak elok menolak tamu. Oang Jawa bilang, tamu membawa berkah. Mudah-mudahan.

Keempat, kenangan masa kecil.  Teori yang dikenal dengan ”the golden age humanity” atau ”usia keemasan kemanusiaan” menyatakan bahwa perkembangan otak yang optimal terjadi pada usia lima tahunan. Oleh karena itu, empat tahun masa kecil di Menteng Dalam Jakarta, sudah pasti akan menjadi kenangan manis tersendiri bagi Obama, yang dikenal dengan nama Barry itu. Pengalaman selama empat tahun tinggal di Indonesia, khususnya ketika bersekolah di SD Menteng 1, sudah barang tentu akan menjadi pupuk yang menyuburkan pertumbuhan kecerdasan ganda (multiple intelligence) si anak Menteng Dalam ini. Rully, teman sekelas Obama, menyatakan keyakinannya bahwa kepribadian si anak Menteng Dalam ini akan diwarnai oleh semua pengalamannya selama bersekolah di Indonesia. Setidaknya Obama pernah berbahasa Indonesia dengan baik sesama temannya. Itulah sebabnya, Obama sering mengucapkan ”terima kasih” dan ”apa khabar” secara spontan dalam Bahasa Indonesia. Secara kemanusiaan, biarlah Obama dapat bernostalgia di Indonesia. Biarkan dia mengenang masa kecilnya di negara berpenduduk nomor empat di dunia ini.

Kelima, yang terjadi terjadilah, what will be, will be. Apa yang terjadi dengan kedatangan Obama ke Indonesia? Terus terang, penulis tidak bisa meramalkan dan menjelaskan. Pro dan kontra tentang kedatanggannya boleh saja terjadi, karena perbedaan adalah sesuatu yang wajar. Tetapi, kembali diingatkan, tidak ada musuh, yang ada hanyalah kelompok yang mempunyai perbedaan pendapat. Kita berharap agar apa yang terjadi dengan kedatangan anak Menteng Dalam itu dapat menjadi bahan pelajaran berharga bagi semuanya. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 15 Maret 2010.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts