Artikel

Berjumpa Pak Amien Di Masjid Al Amien

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Nilai seseorang tidak ditentukan oleh darah keturunannya, tetapi oleh keluhuran budinya.
(RA. Kartini)

Hari itu Jum’at, tanggal 14 Januri 2005. Saya merasa beruntung, bak menemukan emas segunung, karena dapat berjumpa dengan Pak Amien Rais secara langsung. Pertemuan ini insyaallah membawa berkah, di Masjid Al Amin, masjid kecil ini di Dusun Sambisari, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta. Lokasi masjid ini dekat dengan lembaga Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika Yogyakarta, dengan jarak hanya sekitar seratus meter saja. Peserta diklat biasanya melakukan shalat Jum’at di masjid ini.

Saat itu saya baru saja selesai melakukan shalat sebelum Jum’at pada shaf ketiga. Jamaah yang hadir ketika itu masih belum begitu banyak. Saya berdoa dalam beberapa saat, dan kemudian kulihat sepintas ada seseorang datang menempati shaf pertama di sebelah kiri saya. Beliau menggunakan baju muslim berwarna putih bersih, dengan celana hitam dan berpeci hitam. Beberapa jamaah mencoba menyalami beliau. Saya amati sekali lagi, dan ohhh, ternyata beliau adalah Pak Amien Rais, seorang tokoh yang selama ini menjadi salah seorang yang saya banggakan sebagai pemimpin umat. Selama ini saya belum pernah bertatap muka dengan beliau. Saya hanya dapat melihat beliau di layar kaca televisi. Saya mengikuti kegiatan beliau dalam bidang sosial keagamaan dan politik melalui berbagai media massa. Saya baca beberapa buku dan tulisan beliau. Saya baca biografinya bertajuk ‘Muhammad Amien Rais, Putra Nusantara’. Saya mengagumi beliau karena kesederhanaan dan keberanian beliau dalam menyatakan pendapat dengan prinsip ‘amar ma’ruf nahi munkar’. Saya tidak menyangka, sebagai salah seorang tokoh nasional, beliau masih menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat Jum’at di masjid kecil di dusun kecil bersama rakyat kecil. Keluhuran budi beliau yang masih dapat menyempatkan diri untuk mau bersama rakyat kecil ini patut dihargai. Saya yakin nilai seseorang tidak ditentukan darah keturunannya tetapi oleh keluhuran budinya. Saya juga begitu yakin, Allah jualah yang mempertemukan saya dengan Pak Amien Rais di Masjid Al Amin.

Tidak banyak saya dapat berbincang dengan beliau selepas shalat Jum’at. Saya hanya sempat memperkenalkan diri. Selama kutbah Jum’at, suasana hening mendengarkan kotbah Jum’at yang disampaikan oleh seorang dai muda. Tidak habis pikir oleh saya, kenapa saat itu kotbah tidak sebaiknya dilimpahkan saja kepada beliau saja. Namun, kelihatannya beliau memang tidak mau mengintervensi jadwal yang telah ditetapkan oleh Takmir Masjid. Beliau malah mempersilahkan dai muda itu untuk naik mimbar. Setelah kutbah selesai, syukur alhamdulillah beliau berkenan menjadi imam dalam shalat Jum’at dengan surat yang cukup panjang. Kagum juga saya dibuatnya. Setelah shalat sunat setelah Jum’at, beberapa orang menyalami beliau, termasuk saya, temasuk juga Ketua dan pengurus Takmir Masjid Al Amin. Saya tegaskan kepada beliau bahwa salah seorang yang bersalaman ini adalah Ketua Tamir Masjid. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan oleh Ketua Takmir Masjid, yang kebetulan memiliki program pembelian tanah untuk membeli tanah untuk jalan masuk ke masjid. Beliau sangat antusias dalam menanggapi program ini. Dalam percakapan sekilas tentang program itu, malah beliau menanyakan tentang lokasi lahan yang akan dibebaskan untuk jalan tersebut, dan berapa anggaran yang diperlukan. Maka kami bertiga — Ketua dan seorang pengurus Takmir Masjid, Pak Amien, dan saya sendiri — bersama-sama melihat lahan yang akan dibebaskan itu.

“Berapa kekurangannya?”, tanya beliau dengan penuh antusias, tanpa basa-basi.
“Sepuluh juta rupiah, Pak”, jawab Ketua Takmir Masjid, tanpa basa-basi juga.
“Ya, — sambil melihat jam tangan — besuk Hari Senin, bawa kuitansi yang telah ditandatangani Ketua dan Bendahara Takmir Masjid ke rumah”, sambil menuju mobil Toyota Camry yang sederhana, dengan seorang sopir yang telah siap menunggu beliau.

Singkat kata, Takmir Masjid Al Amin di siang hari itu memang betul-betul beruntung. Itu lantaran karena masalah kekurangan anggaran untuk membeli lahan jalan masuk ke masjid Al Amin, hanya dalam hitungan menit atau bahkan detik, telah terpecahkan. Saya dengan pengurus Takmir Masjid saling berpandangan. Senyum tersungging di bibir kami bertiga. Alhamdulillah.

Bagi saya, perjumpaan dengan Pak Amien di Masjid Al Amin telah memberikan suntikan darah segar semangat baru untuk meningkatkan kinerja sebagai pegawai negeri sipil di negeri ini dengan penuh amanah, jujur, kreatif, dan inovatif. Kecerdasan ‘linguistik’ yang baru saja saya temukan ada pada diri saya ini akan saya coba kembangkan lebih produktif lagi. Saya telah mencoba menulis buku bertajuk ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’. Saya ingin menjadi penulis yang produktif, seperti beliau, meski agak terlambat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Mudah-mudahan perjumpaan ini memberikan berkah tersendiri bagi saya, paling tidak senilai atau bahkan lebih tinggi daripada berkah yang diterima Takmir Masjid Al Amin dan jamaahnya. Sebagai salah seorang jamaah Masjid Al Amin yang sedang berusaha mendalami dan mengamalkan agama sesuai dengan kemampuan yang saya miliki, sudah barang tentu saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Perjumpaan pertama ini insyaallah akan diikuti dengan perjumpaan-perjumpaan berikutnya di masa-masa mendatang. Diskusi dan berbincang-bincang dengan beliau tentang pendidikan di negeri ini mungkin akan sangat mengasikkan dan insyaallah akan dapat melahirkan gagasan-gagasan inovatif untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Mudah-mudahan. Insyaallah. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Yogyakarta, 14 Januari 2005

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel, Pendidikan, Puisi

Ibu

karya: fazla *) oh ibu.. kau yang melahirkanku kau yang mendidikku dengan sabar kau yang membantuku ibu… kau…
Buku, Pendidikan

Alkisah

Buku? Adik ipar saya, Bayu Indrajati, menertawai saya karena punya banyak buku yang saya simpan rapi di rak…