ArtikelDunia Islam

Gerakan Membaca Al-Qur’an Digital (GMAD)

Tidak ada komentar

 

 

 

 

***

 

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia telah mencipakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia; Yang mengajar (manusia) dengan pena; Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

 

(Surat Al-‘Alaq)

 

 

 

***

 

Pulang kampung — setelah sekian lama tidak mudik — memang sangat nikmat. Pada tanggal 29 November 2013 kemarin, alhamdulillah penulis sempat menikmatinya, setelah pulang haji bersama KBIH Umul Quro’ sebulan yang lalu. Pulang kampung itu penulis niatkan memang sebagai bukti bakti penulis kepada Ibu yang ada di desa. 

 

Sekali lagi alhamdulillah selepas kutbah wukuf di Arafah, salah satu janji penulis adalah  berjanji untuk selalu shalat Subuh berjamaah di masjid. Alhamdulillah, penuliis juga tidak lupa mengamalkannya, apalagi subuh di tanah kelahiran. Sebelum waku subuh tiba, sayup-sayub mendengarkan puji-pujian “tamba ati” atau obat hati. Ya … memang puji-pujian semacam itu — apalagi dengan lagu yang sendu —  memang tidak mungkin terjadi di Arab Saudi. Lebih dari itu, juga bukan sebagai amalah sunah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Saw. Namun, makna puji-pujian kita rasakan memang sangat menyentuh hati para pendengarnya.  

 

Salah satu syairnya puji-pujian itu adalah “ping sepisan, maca Qur’an, angen-angen sak maknane”. Artinya, yang pertama, membaca Al-Qur’an, dihayati termasuk artinya”. Satu syair ini menunjukkan bahwa membaca Al-Quran diharapkan dapat menjadi obat untuk me menyembuhkan pe-nyakit, terutama penyakit hati. Sungguh, kalau Al-Qur’an kita baca, dan kita mengerti maknanya, serta kita fahami dan kita hayati artinya, serta kita laksanakan dalam kehidupan sehar maka sungguh Al-Qur’an benar-benar akan menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan “penyakit hati” yang menggerogoti kehidupan kita.

 

Sehubungan dengan itu, kita ketahui dari ensiklopedia bebas www.wikipedia.com, agama  Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa penduduk Muslim dari total 234.693.997 jiwa penduduk Indonesia secara keseluruhan. Walau Islam menjadi mayoritas, namun Muslim Indonesia dapat dikatakan belum sepenuhnya dapat menjalankan syariat Islam secara total. Ada seloroh Islam Kejawen, Islam Abangan, bahkan Isalam STMJ (shalat terus maksiat jalan).  Dengan kata lain, jumlah penduduk Muslim tersebut belumlah dapat memahami dan menghayati ayat-ayat-Nya, apalagi mengamalkannya. Apa buktinya? Banyak di antaranya yang namanya Islami telah terjerat kasus barang haram dan dosa-dosa besar. Meski hafal dan fasih dalam membaca Al-Qur’an, namun belum tentu dapat menerjemahkan dan memaknainya dalam bahasa Ibunda. Ayat-ayat Al-Qur’an lebih sebagai mantra. Lebih dari itu, bahkan di antaranya juga belum dapat menamatkan (khatam) dalam membaca Al-Qur’an. Masih kalah dengan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris, yang konon telah khatam tiga kali membaca Al-Qur’an. Maaf, terus terang yang menulis tulisan singkat ini pun termasuk di dalamnya. Penulis ini baru bisa mengeluh karena tidak bisa menghayati makna Bahasa Al-Qur’an, yakni Bahasa Arab, karena tidak mengenal Bahasa Arab. Mengingat jumlah penduduk Muslim terbesar itu, maka seharusnya Bahasa Arab menjadi bahasa ketiga.  

 

Itulah sebabnya, ketika seorang calon jamaah haji di Arafah telah memberitahukan kepada penulis tentang cara membaca Al-Qur’an memalui HP yang dapat dengan mudah didengarkan sambil membaca Al-Qur’an, maka penulis pun tertarik untuk mencobanya. Setelah pulang ke tanah air, ada seorang jamaah masjid yang telah menawarkan teknologi yang lebih tinggi, yakni Al-Qur’an digital bernama Al-Qolam. Dengan membaca Al-Qur’an digital ini, kita dapat menirukan bacaan Al-Qur’an, ayat demi ayat, surat demi surat, dan kalimat demi kalimat dalam Al-Qur’an. Penulis pun tertarik untuk mencobanya, dan ternyata luar biasa. Kagum penulis dibuatnya. Dengan Al-Qu’ran digital ini, kita dapat memilih salah satu dari tiga qori’ dan qori’ah yang ada di dalamnya. Salah satu qori’ah yang ada di dalam Al-Qur’an digital itu adalah udtazah Maria Ulfah asal dari Indonesia. Yang dua qori’nya asli dari Arab, yang tentu saja sangat fasih dalam membaca Al-Qur’an.

 

Bagaimana cara membacanya?. Dengan alat perangkat seperti pen yang lebih besar, kita dapat memilih qori’ atau qori’ah, menentukan apakah membaca halaman demi halam-an, atau akan memilih dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, atau dalam Bahasa Inggris, bahkan lebih dari itu, kita akan dapat memilih fitur yang lainnya. Inilah informasi sekitar Al-Qur’an digital yang sangat luar biasa itu. Nah … inilah kelebihan teknologi, anak dari era teknologi informasi, yang telah dapat membantu manusia untuk dapat belajar lebih efektif. Tentu saja, semua itu adalah sekedar alat. Efektivitas penggunaan alat tetap akan sangat tergantung kepada manusianya, bukan kepada alatnya. “Man behind the gun”, demikian pesan orang-orang bijak. Kalau manusianya tidak punya semangat untuk menco-banya, mana mungkin alat itu akan bekerja sendiri tanpa campur tangan kita?

 

Setelah mengetahui masalah yang ada di depan kita tentang banyaknya umat yang ternyata masih buta Al-Qur’an, tentang anak-anak yang menjadi tanggung jawab orangtuanya untuk mengajarinya membaca Al-Qur’an, dan betapa banyaknya umat yang ternyata masih jauh dari mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-bari. Maka, membaca Al-Qur’an digital dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluarnya. Membaca Al-Qur’an lengkap dengan artinya, tentu saja harus menjadi kegiatan kita sehari-hari, agar kita dapat lancar membaca, memahami dan menghayati artinya, dan tentu saja nanti harus mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu ada satu gerakan massal untuk membaca Al-Qur’an digital ini. Maka lahirlah gagasan GMAD atau Gerakan Membaca Al-Qur’an Digital. Mengapa? Karena kita telah memasuki kampung besar yang bernama globalisasi, yakni kampung dunia teknologi informasi dan komunikasi. Kampung inilah yang melahirkan Al-Qur’an digital yang sangat membantu manusia untuk belajar dan belajar Al-Qur’an. Sekali lagi, belajar adalah kewajiban setiap Muslim. Pendidikan sepanjang hayat. Kita harus melakukan satu gerakakn mempelajari Al-Qur’n digital ini?

 

Ketika umat Islam di Trenggalek masih terus melantunkan puji-pujian “tamba ati”, maka sebabya tidak ada lain adalah karena mereka karena memang mereka belum memasuki kampung besar teknologi informasi. Kini kita telah memasuki era teknologi dan komunikasi. Mengapa mereka tidak kita ajak saja bersama-sama memasuki kampung besar itu, dan kita ajak pula mengikuti Gerakan Membaca Al-Qur’an Digital (GMAD)? Jika anak-anak kita telah mengenal Iped sejak dini, mengapa mereka tidak kita kenalkan dengan Al-Qur’an digital ini. Siapa tahu di masa depan kita dapat mempunyai Al-Quran yang dapat membuat generasi mudakita senang membaca Al-Quran, memahami makna, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Marilah kita mulai dengan GMAD atau Gerakan Membaca Al-Qur’an Digital. Amin.

 

*) Mantan guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK), laman: www.suparlan.com; e-mail: me@suparlan.com.

 

                                                                                                Depok, 9 Desember 2013.

 

Tags: ,

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.