ArtikelBudayaBukuPendidikan

Nazaruddin Umar dan Paulo Freire tentang Iqra’ dan Reading

72 views
3 Komentar

Ini tentang iqra’. Tentang membaca. Tentang literasi. Saat ini kemendikbud sedang sibuk dengan upaya untuk meningkatkan budaya literasi. Sibuk dengan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Mendikbud telah menerbitkan Permen 21/2015 tentang kewajiban peserta didik membaca 15 menit sebelum proses belajar dimulai. Sebelum appersepsi dimulai, sebelum ice breaking dimulai. Proses pembelajaran harus melalui tiga tahap yang saling berkaitan: (1) pendahuluan, appersepsi, ice breaking, (2) materi ini, dan (3) penutup, penilaian, atau refleksi. Iqra’inilah yang sedang kita bahas dalam tulisan ini. Iqra’ menurut pandangan Nazaruddin Umar, dan reading menurut Paulo Freire. Meskipun Nazaruddin berbeda agama dengan Paulo Freire. Tetapi secara objektif (murni, genuine) konsep iqra’ atau membaca menurut pandangan Nazaruddin Umar dan pandangan Paulo Freire tenyata sama. Wallahu alam bishawab. Alhamdulillah. Tulisan singkat ini akan membahasnya secara singkat. Insya Allah.

Sedikit biografi

Menurut paman Google – begitulah saya biasa menyebutkan – Prof. Dr. Nazaruddin Umar, MA, sering dikenal sebagai intelektual-pejabat atau pejabat-intelektual, dengan kepribadian yang low profile. Gaya bicaranya terlihat teratur, lembut, dan tenang. Nama lengkapnya Nasaruddin Umar. Lahir di Ujung Bone Sulawesi Selatan pada tanggal 23 Juni 1959. Antara 2006 – 2011, beliau adalah Wakil Menteri Agama RI dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah.

Usia antara keduanya memang jauh. Paulo Freire lahir pada 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan bagian selatan Brazil. Recife merupakan sebuah kota yang terbelakang dan miskin. Ayahnya bernama Joaquim Temistocles Freire, berprofesi sebagai polisi militer di Pernambuco yang berasal dari Rio Grande de Norte. Dia, ayahnya, adalah seorang pengikut aliran kebatinan, tanpa menjadi anggota dari agama resmi. Baik budi, cakap, dan mampu untuk mencintai.

Makna Iqra’

Dalam acara pengajian di kediaman mantan Presiden Habibie pada tanggal 14 Juli 2014, Nazaruddin Umar mengupas habis tentang makna dan tingkatan iqra’ secara ilmiah. Nazaruddin menjelaskan makna iqra’ ada empat tingkatan. Iqra’ dalam Al-Quran memiliki makna qoro’ah dan terkait dengan katabah. Makna iqra’ sekarang ini harus dimaknai dengan perspektif modern. Ada empat tingkatan iqra’.

Pertama, tingkatan yang paling rendah iqra’ maknanya how to read, maknanya melibatkan kemampuan fisikal, dapat mengucapkan. Dapat membaca dengan sangat tartil dalam membaca a, b, c, d dan seterusnya atau alif, ba, ta, dan seterusnya. Sangat lancar, bahkan hafal kata-kata tersebut. Tapi masih dalam makna how to read. Belum naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

Kedua, tingkatan yang kedua, makna iqra’ adalah how to learn. Jika yang tingkatan yang pertama itu melibatkan kemampuan fisikal, maka iqra’ tingkatan kedua tersebut telah naik ke tingkat yang lebih tinggi yakni kemampuan intelektual. Setiap kata memiliki makna, baik secara etimologis sampai ke definisi.

Ketiga, iqra’ tingkatan ketiga mempunyai makna how to understand. Kemampuan yang dimiliki lebih terkait dengan kecerdasan emosional. Iqra’ tingkatan ini memiliki makna yang lebih tinggi lagi, yakni memahami, secara intelektual dan emosional.

Keempat, pada tingkatan keempat, iqra’ memiliki makna how to meditate atau mengamalkannya.  Kemampuan dalam level ini adalah kemampuan spiritual.

Demikianlah makna iqra’ lengkap dengan empat tingkatan. Itulah makna iqra’ yang sebenarnya.

Reading

Iqra’ sama dengan reading. Reading yang dimaknai oleh Paulo Freire pada hakikarnya ternyata sama dengan makna iqra’ yang dijelaskan oleh Nazaruddin Umar tersebut.

Reading is not walking on the words; it’s grasping the soul of them. Membaca bukan hanya berjalan pada kata-lata; membaca adalah menangkap jiwanya. Sekali lagi, membaca bukan hanya berjalan pada kata-kata, tetapi menangkap jiwa kata-kata tersebut. Membaca itu harus sampai kepada tingkatan bukan hanya sampai kepada menghafalkan, tetapi sampai mengerti artinya, memahami, dan kemudian harus sampai kepada mengamalkannya. Insya Allah. Iqra’ pada level pertama baru sampai pada pengertian reading pada level walking on the words. Iqra’ pada tingkat selanjutnya adalah membaca pada level memahami dan terakhir adalah mengamalkannya. Itulah sebabnya masalah terbesar umat Islam di Indonesia adalah masih rendahnya pemahaman Al-Quran sebagai way of life atau sebagai hudallinass.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com. Kritik dan masukan terhadap tulisan ini insya Allah akan disimpan dalam guci emas, yang akan digunakan untuk perbaikan tulisan ini di masa mendatang. Amin.

Depok, 8 Februari 2016.

Tags: Iqra, membaca

Related Articles

3 Komentar. Leave new

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts