Artikel

Kredit Untuk Sarjana: Satu Asa Pendidikan Untuk Anak-Anak Bangsa

57 views
Tidak ada komentar

 

***

When you speak, your words echo only across the room or down the hall. But when you write, your words echo down the ages

(Bud Gardner)

***

Sharing informasi. Itulah kosa kata yang lagi ngetren saat ini dalam kegiatan komunikasi efektif. Berbagi informasi. Itulah istilah padanannya dalam Bahasa Indonesia. Sambil jalan pagi, kawan saya menjadi informan, atau sumber informasi atau narasumber atau orang yang memberikan informasi, karena dengan pengalamannya, beliau mau berbagi tentang pengalamannya tersebut. Saya sendiri menjadi pihak penerima informasi, dan sekaligus menjadi pelapor informasi. Tulisan singkat ini diharapkan dapat menjadi media yang gaungnya tidak hanya sampai kepada para pembaca pada masa kini, tetapi sepanjang masa yang tidak terbatas. Dalam hal ini, Bud Gardner, seorang guru sekaligus penulis dari Kalifornia menyatakan bahwa “when you speak, your words echo only across the room or down the hall. But when you write, you words echo down the ages”. Jika anda berbicara, gema kata-kata anda hanya akan menyeberang kamar atau turun ke tempat pertemuan. Tetapi, jika anda tulis, gaung kata-kata anda akan turun ke sepanjang usia. Inilah perlunya sharing informasi ini saya sampaikan melalui tulisan ini.

Kawan saya jalan kaki pagi selepas subuh di Masjid Al Mujahidin Taman Depok Permai, Kota Depok, bernama Darmoyono. Beliau telah berkenan memberikan informasi penting bagi kita semua. Beliau pensiunan pegawai Bank BNI 1946, berusia 74 tahun. Dari umur yang panjang seseorang biasanya telah menyimpan pengalaman yang mungkin bermanfaat bagi kita. Pengalaman itulah yang saya tularkan kepada para pembaca dengan judul “kredit untuk sarjana”. Artinya kredit yang diberikan untuk dapat mencapai gelar sarjana. Pemberian kredit seperti ini ternyata sangat bermanfaat, sebagai satu asa pendidikan untuk anak-anak bangsa. Ada dua cerita, begini.

Cerita Pertama

Suatu ketika, pada saat masuk kantor di pagi hari, sebagaimana biasa, beliau melihat keanehan pada seorang ibu pesuruh di kantor Bank BNI 1946. Biasanya, layaknya pesuruh atau pegawai rendah di kantor itu, ibu ini berpakaian sederhana. Tetapi pagi itu meski beliau tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa, seperti menyiapkan minum dan makanan kecil untuk para pejabat di kantor itu, dan sebagainya, ternyata ibu ini menggunakan pakaian necis ala menghadiri undangan perkawinan. Oleh karena itu, maka secara spontan Pak Darmoyono berkomentar: “lho, kok nggak seperti biasa. Kok mentereng sekali cara berbusanamu pagi ini?”. “Oh, ya Pak, saya mau menghadiri wisuda anak saya”, jawabnya dengan nada sedikit bangga. “Wah, luar biasa, dan selamat, atas wisuda anakmu”, jawab Pak Darmoyono mendengar jawaban ibu pesuruh kantor itu. Tidak lama, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai pesuruh kantor, ibu ini pun kemudian mohon izin kepada pimpinannya untuk berangkat menghadiri acara wisuda anaknya. Pimpinannya di kantor itu pun tidak lupa memberikan ucapan selamat atas keberhasilan anaknya yang telah lulus S1 jurusan ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Singkat kata, keberhasilan anak seorang pesuruh di kantor Bank BNI itu lulus S1 dari UI tersebut memang satu hal yang bisa dibanggakan. Meski sebagai anak seorang pesuruh, ia telah berhasil menggondol gelar S1 ekonomi. Siapa tahu pemuda ini kelak akan dapat menjadi pegawai Bank BNI 1946 yang sukses dalam memajukan Bank milik negara ini? Tidak hanya menjadi pesuruh seperti ibunya!!

Namun, kebanggaan tersebut tidak hanya patut diberikan kepada anak seorang pesuruh itu saja. Kebanggaan ini juga perlu diberikan kepada ibu si pesuruh kantor Bank BNI 46 itu sendiri yang telah berhasil menjadi ibu yang berhasil mendidik anaknya. Bahkan, kebanggaan sebenarnya patut kita berikan acungan jempol kepada para pejabat yang telah menetapkan kebijakan untuk memberikan kredit untuk meneruskan kuliah bagi semua pegawai Bank BNI 1946. Berkat kredit ringan inilah sang anak pesuruh kantor Bank BNI 1946 dapat meneruskan kuliah di UI dan berhasil lulus dalam ujian akhir program S1 di universitas tersebut. Itulah sebabnya sarjana yang diperoleh para pegawai Bank BNI 1946 tersebut dengan berseloroh dapat kita namakan sebagai “sarjana kredit”. Tak mengapa! Makah syukur alhamdulillah. Dengan kredit tersebut, para pegawai Bank BNI 1946 dapat berusaha untuk meningkatkan status sosial-ekonominya. Tentu saja, para pegawai Bank BNI 1946 yang memperoleh kridit akan melalui proses pemberian kredit dengan persyaratan dan kriteria tertentu. Alhamdulillah, mungkin ada beberapa kantor di negeri tercinta ini yang ternyata telah menetapkan kebijakan yang sangat peduli terhadap pentingnya pendidikan. Salah satunya adalah Bank BNI 1946.

Nah, itulah sharing infomasi pengalaman yang ingin saya tularkan kepada para pembaca laman pribadi saya.

Cerita Kedua

Ada satu lagi informasi yang sebenarnya dapat dibuat joke. Ceritanya begini. Ada seorang teman kerja Pak Darmoyono, yang status kepegawaiannya di Bank BNI 1946 lebih rendah dari Pak Darmoyono. Suatu ketika kawan yang cukup akrab ini saling berjumpa setelah beberapa lama tidak berjumpa, karena teman tersebut dipindahkan ke lain daerah. Ketika saling bertemu, maka keduanya saling menanyakan keadaan keluarga, termasuk tentang pendidikan anaknya. “Sekolah di mana yang anak yang sulung?”, tanya Pak Darmoyono. “Anak saya yang sulung sudah kuliah di UI”, jawabnya dengan penuh rasa bangga. “Di fakultas mana?”, tanya Pak Darmoyono lagi. “Di FISIP Pak” jawabnya tidak kurang rasa bangganya. “Jurusan apa?”, tanya Pak Darmoyono lebih lanjut. Namun jawaban teman ini tidak sesuai yang diharapkan. Apa jawabnya? “Di FISIP ya ….. FISIP”, jawabnya singkat. Dengan jawaban ini, Pak Darmoyono pun sadar, bahwa yang ditanya ini adalah pegawai yang tingkatannya memang lebih rendah. Jadi, ia mungkin tidak mengetahui seluk beluk fakultas, termasuk nama-nama jurusannya. Pak Darmoyono pun segera memahami, dan tidak menanyakan lebih lanjut tentang jurusan anak temannya itu dalam FISIP.

Tulisan singkat ini hanya ingin memberikan informasi bahwa anak teman Pak Darmoyono ini dapat meneruskan kuliahnya di FISIP Universitas Indonesia juga berkat kredit dari BNI 46 kepada para pegawanya, tidak terkecuali kepada teman kerja Pak Darmoyono. Jadi, anak teman Pak Darmoyono pun, sama dengan seorang ibu pesuruh di kantor Bank BNI dalam cerita pertama, dapat meneruskan kuliah di perguruan tinggi berkat kredit dari kantor Bank BNI 46. Jadi kelak anak temannya itu pun dapat disebut dengan “sarjana kredit”. Alhamdulillah, berkat kridet itu, banyak anak-anak yang berasal dari keluarga yang pas-pasan dapat melanjutkan kuliahnya. Dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, diharapkan agar kualitas sumber daya manusia Indonesia akan menjadi lebih baik. Dengan demikian kebijakan BNI tersebut dapat disebut sebagai satu asa pendidikan untuk anak-anak bangsa.

Akhir Cerita

Program pemberian kredit dari Bank BNI 1946 kepada semua pegawai yang memenuhi persyaratan sudah barang tentu merupakan program yang sangat bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tentu saja, program yang sangat baik ini diharapkan dapat diteruskan. Dengan program ini, banyak anak-anak dari keluarga pegawai Bank BNI 1945 menjadi sarjana, yang kita boleh saja menyebutnya sebagai sarjana kredit, tanpa pretensi sama sekali untuk merendahkannya. Selamat dan sukses para sarjana Indonesia! Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak akan mau mengubahnya. Hidup BNI 1946! Sukses selalu. Saya bangga kepadamu. Tidak rugi kalau kemudian saya telah menjadi nasabahmu, karena Bank BNI 46 memang sebagai sahabat sejati pendidikan.

Depok, 9 Maret 2013.

 

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Budaya, Pendidikan

Ayo Menyanyi

Oleh: Suparlan *) Saya jadi ingat guru saya di SR (Sekolah Rakyat), namanya Paniran. Sayang, saya belum sempat…