Buku

Membangun Sekolah Efektif

67 views
4 Komentar

Pengantar

Ketika Barack Obama secara telak telah memenangi kontes demokrasi di negeri Paman Sam, dan menjadi presiden Amerika Serikat ke-44, banyak orang yang kemudian mencoba mencari hubungan antara keberhasilannya menjadi presiden itu dengan faktor-faktor penentu yang mempengaruhinya. Sudah barang tentu banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk faktor pendidikan. Sebagai gambaran, dalam majalah Newsweek edisi special commemorative issue, para wartawan majalah terkenal tersebut berburu informasi tentang banyak hal untuk mencari hubungan antara keberhasilannya dengan berbagai faktor-faktor penentu tersebut, termasuk kaitannya dengan universitas tempat telah belajar. Ternyata Barack Obama lulusan School of Law Harvard University. Lalu, orang dengan ”mengangguk-anggukkan kepala” mengatakan ”oh pantas” ia menjadi presiden”, karena ternyata Barack Obama adalah lulusan universitas yang amat terkenal itu. Bahkan orang kemudian mengaitkan dengan pengalamannya pernah bersekolah di Indonesia.

Sudah barang tentu, sekali lagi, banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor itu juga saling pengaruh mempengaruhi (reciprocal factors), selain sebab akibat (causal factors). Namun yang ingin digarisbawahi dalam buku ini adalah bahwa lembaga pendidikan sekolah mau tidak mau telah memberikan andil yang tidak sedikit bagi kiprah seseorang dan keberhasilannya dalam kehidupan.

Tidak usah terlalu jauh melayang ke negeri Paman Sam. Sebagai bapak dari tiga anak yang sudah menginjak dewasa, penulis yang kebetulan sangat mencintai tanam-tanaman. Suatu ketika, penulis bertanya dalam hati, apakah kecintaan penulis terhadap tanaman ini terkait dengan pengalaman belajar penulis ketika masih di sekolah rakyat dahulu, ataukah memang sebagai bakat terpendam yang telah ada dari “sononya”, begitu kata orang Betawi. Dalam hal ini, penulis masih dapat membayangkan ketika Pak Paniran, guru yang cerdas itu, telah membuat proyek “kebun sekolah” di lahan tidur yang ada di kampung penulis. Betapa ketika itu penulis terlibat aktif secara fisik dan mental mencangkul tanah gersang itu, menggemburkan, memberi pupuk, menanam benih, dan juga menyiangi tanaman kacang tanah yang mulai tumbuh subur itu.  Selain itu, betapa penulis pada waktu itu begitu fasih menyanyikan solmisasi sekian banyak lagu-lagu wajib, karena di setiap akhir pelajaran beliau selalu mengajak para siswa menyanyikan lagu-lagu wajib itu. Apakah makna semua itu? Tidak lain dan tidak bukan, bagaimanapun juga lembaga pendidikan sekolah telah memberikan bekal bagi banyak peserta didik yang telah menuntut ilmu di sekolah itu. Dengan kata lain, efektivitas sekolah akan menjadi jawaban terhadap pertanyaan kunci tentang pengalaman belajar yang telah diperoleh seseorang. Apakah suatu sekolah telah melaksanakan perannya secara efektif, atau kurang efektif, atau bahkan tidak efektif, dalam membentuk bagaimana warna “hati” dan “otak” mereka. Penulis yakin, bahkan hakkul yakin, bahwa lembaga pendidikan sekolah, bagaimanapun juga telah mengambil bagian penting dalam membentuk “hati” dan “otak” peserta didiknya, sekali lagi membangun “jiwa” dan “raga” anak-anak kita.

Anak bungsu penulis pada suatu ketika menceritakan tentang pengalaman pahitnya ketika di SMA. Katanya, suatu ketika ia telah belajar dengan keras ketika menghadapi ulangan Matematika. Kebetulan, tetangga dekat sebelah kiri rumah adalah lulusan IPB yang jago Matematika. Beliau membantu belajar si bungsu itu bersama dengan teman-teman lainnya. Materi pelajaran yang dipelajari kebetulan juga persis sekali dengan materi ulangan itu, dan alhamdulillah anak bungsu penulis telah memperoleh nilai 6 (enam). Tetapi apa di kata? Gurunya masih juga tidak percaya bahwa nilai 6 (enam) itu hasil belajarnya sendiri. Sang guru itu masih tetap menganggap anak saya itu telah menyontek. Maka, sangat kesallah dia kepada gurunya. Rasa kesal itu tentu akan tertanam sampai kapan pun juga. Bahkan sampai ia menjadi dewasa. Apa kata anak saya? Dapat nilai 6 (enam) saja masih dicap menyontek, apalagi dapat nilai 10 (sepuluh)? Satu bentuk ungkapan kekesalan yang luar biasa. Bekas-bekas kekesalan ini sudah pasti akan dibawanya selama hidupnya. Inilah salah satu bentuk ukiran yang dihasilkan oleh sekolah dan gurunya itu terhadap anak saya. Penulis menilai bahwa sekolah dan guru tempat belajar si bungsu tersebut telah ikut membentuk “jiwa-nya” yang kurang percaya diri dan bahkan tidak percaya kepada orang lain. Satu hal yang sangat ironis. Wallahu alam.

Hal yang sebaliknya, Pak Paniran adalah guru yang begitu baik di sekolah tempat penulis belajar di Sekolah Rakyat (SR). Pak Paniran adalah seorang guru yang tidak pernah mencela murid-muridnya. Beliau lebih sering memuji murid-muridnya ketimbang menjatuhkan nama murid-muridnya. Beliau dapat disebut sebagai seorang guru yang sangat cerdas. Beliau dapat dinilai sebagai seorang yang telah mengabdi sebagai seorang guru efektif yang telah mampu mengukir “hati” dan ”otak” saya yang sangat mencintai lingkungan dan mencintai lagu-lagu yang membangkitkan semangat belajar murid-muridnya.

Buku “Membangun Sekolah Efektif” ini akan mencoba menguraikan dan memberikan gambaran bahwa kita sesungguhnya sangat memerlukan lebih banyak lagi “Sekolah Efektif”, dan bukannya “Sekolah Destruktif”. Bukan sekolah-sekolah yang justru  membuat peserta didiknya mengalami “penyakit hati” yang tak tersembuhkan selama hidupnya. Sekolah efektif adalah sekolah yang dapat membangun “hati” dan “otak” atau membangun ”jiwa dan raga” anak-anak kita secara konstruktif, bukan yang merusak atau bahkan menghancurkannya. Dalam proses pendidikan, kita mengenal secara utuh proses membangun ranah kognitif, affektif, dan psikomotorik peserta didik, bukan menghancurkannya.

Buku ”Membangun Sekolah Efektif” ini menjelaskan tentang karakteristik sekolah efektif, bukan hanya kepala sekolah yang memiliki model kepemimpinan yang sangat kuat, tetapi juga sistem manajemennya yang demokratis, transparan, dan akuntabel, tetapi juga guru dan siswanya yang sangat bersemangat untuk mencapai sukses dalam belajarnya. Di samping itu, juga orangtua siswa yang telah terlibat secara partisipatif untuk membangun dan memajukan sekolah.

Dalam beberapa buku yang dijadikan sumber referensi tentang sekolah efektif, selain istilah ”karakteristik sekolah efektif”, kita juga mengenal beberapa istilah yang mempunyai makna yang sama atau hampir sama artinya, misalnya ”faktor penentu kunci sekolah efektif” atau ”key determinant factor for effective school”, atau ”faktor determinan kunci sekolah efektif” atau ”correlates of effective school”, atau mungkin juga istilah-istilah lainnya.

Bagaimanapun juga, buku ini barulah sebuah karya awal yang masih harus disempurnakan. Beberaoa ilustrasi yang ditunjukkan dalam buku ini juga masih kurang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Dengan demikian, ilustrasi-ilustrasi itu mungkin saja kurang dapat menjadi contoh yang jelas dan lengkap. Itulah sebabnya, boleh jadi buku ini masih memerlukan banyak gagasan yang berasal dari para pembaca, yang akan bermanfaat untuk penyempurnaan buku ini. Penulis mengharapkan saran dan masukan dari pembaca yang budiman untuk penyempurnaan buku ini. Walaupun demikian, penulis tetap berharap mudah-mudahan buku ini tetap bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Depok, Akhir 2011.

Penulis.

Itulah kata pengantar buku “Membangun Sekolah Efektif” yang diterbitkan oleh satu penerbit di Yogyakarta. Stok buku itu di rumah sudah habis. Apakah buku itu masih beredar di pasaran, penulis sendiri juga tidak tahu. Pada beberapa orang yang sedang menulis tesis ada yang menanyakan buku itu melalui e-mailnya. Yang dapat dilakukan hanyalah dengan meneruskan e-mail itu ke penerbit. Jika penerbit yang lama tidak lagi mau menerbitkan, saya kira ada penerbit lain yang mau menerbitkan. Itulah sebabnya pengantar buku itu saya pasang di laman ini. Mudah-mudahan ada yang membacanya. Amin.

Salam,

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

4 Komentar. Leave new

  • Saya ingin belajar kepada Bapak.
    saya tinggal di Sawangan Depok. saya tertarik dan senang dengan dengan dunia pendidikan, dan salahsatunya sebagaimana yang bapak tulis.

    Balas
  • Salam super pak. dengan membaca apa yang bapak sampaikan mengenai isi buku yang bapak tulis, saya ingin juga memiliki dan membacanya sampai tuntas sehingga menemukan informasi dan ilmu yang seutuhnya dari buku yang bapak tulis. dan kalau boleh tau yang menerbitkan penerbit apa dan minta alamatnya. dan bapak sendiri tinggalnya dimana pak? terimakasih

    Balas
  • Pak atau Mas Giyono dari mana? Benar sekali. Ketika saya kuliah di University of Houston, profesor saya sering menuliskan “very good” pada lembar jawaban yang saya serahkan kepada beliau, meskipun jawabannya sebenarnya masih banyak yang salah. Tapi ya itulah apa yang dilakukan oleh profesor saya. Persis seperti yang dilakukan oleh Pak Tino Sidin ketika menunjukkan gambar atau lukisan hasil karya anak-anak. “Bagus sekali”, kata Pak Tino Sidin. Dalam teori pembelajaran, itulah yang dikenal dengan “penguatan” atau “reinfrocement”, atau reward system. Memang, sekali waktu hukuman memang bisa diberikan, tetapi harus sebagai hukuman yang edukatif. Bukan hukuman yang mematikan bakat dan semangat siswa, apalagi dalam bentuk kekerasan, harus dihindari. Guru memang lebih sebagai pendidik daripada sebagai pengajar. Oleh karena itu guru akan lebih banyak melakukan tugasnya untuk membangun hati, ketimbang membangun otak. Mana yang lebih penting? Dua-duanya memang penting. Tetapi membangun hati jauh lebih penting, terutama dalam jenjang PAUD, pendidikan dasar dan menengah. Wallahu alam bishawab.

    Balas
  • Saya sangat tertarik dengan gagasan Bapak membangun hati dan otak anak. Bagaimana kalau kita bebaskan anak dari segala macam kekerasan? termasuk dari guru? Dalam hal ini hukuman yag tidak mendidik?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts