ArtikelBudaya

Nasib PKL Kita

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Ada penderitaan dan kegagalan dalam kehidupan ini. Tiada orang yang dapat menghindari itu semua. Namun, lebih baik gagal dalam perjuangan meraih cita-cita daripada gagal tanpa pernah tahu rasanya berjuang
(Paulo Coelho, novelis Brazil)

Manusia kreatif termotivasi oleh keinginan mencapai sesuatu, bukan oleh keinginan untuk mengalahkan yang lain
(Ayn Rand, 1905 – 1982, penulis AS kelahiran Rusia)

Entah sudah berapa kali penulis menonton “pertarungan” antara SATPOL PP dengan PKL di televise. Bahkan pernah penulis melihat dengan mata kepala sendiri beberapa PKL yang lari terbirit-birit dikejar-kejar SATPOL PP di trotoir Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Oh, masyaallah. Seperti mengejar binatang buruan saja. Rombong dagangannya diangkut mobil yang khusus digunakan untuk itu. Orangnya dikejar-kejar, dan barang dagangannya, berupa pisang dan tahu gorengnya berceceran entang dimana. Ketika huru-hara pengejaran PKL itu selesai, penulis menanyakan kepada seorang PKL yang bisa bersembunyi dan selamat dari kejaran. Seorang PKL itu masih membawa sebungkus pisang dan tahu goring dalam sebuah plastik kresek berwarna hitam. “Bagaimana dengan rombong Anda?”, tanya penulis. “Ya, semua sudah diangkut oleh mobil SATPOL PP”, jawabnya dengan nada kesal. “Lalu, bagaimana nasib rombong itu nanti”, tanya lagi penulis. “Ya, nanti bisa ditebus”, jawabnya singkat. Dapat ditebus dimana, kapan, dan bagaimana cara menebusnya tidak sempat penulis tanyakan, karena PKL itu segera berlalu dengan jalan gontai.

Nasib Pelaku Ekonomi

Itulah nasib PKL di negeri ini. Sebenarnya, mereka adalah pelaku ekonomi yang patut dilindungi oleh negara. Mereka itu pahlwan sejati dalam bidang ekonomi. Mereka itu mandiri, tidak pernah mendapatkan subsidi. Mereka juga tidak pernah minta gaji. Sementara mereka itu harus dapat menghidupi istri dan mereka sendiri. Allahu akbar. Mereka hanya mencari sesuap nasi. Tidak berfikir untuk mencari semangkok mutiara. Cukup baginya istri dan anaknya dapat makan setiap hari, dan kalau mungkin dapat rezeki untuk biaya sekolah anak-anaknya. Sesungguhnya, para PKL adalah manusia kreatif, karena keingiannya untuk mencapai sesuatu untuk hidupnya, bukan untuk mengalahkan siapa-siapa. Itulah bentuk perjuangan hidup yang harus dilakukan oleh para PKL. Kalau tidak, maka ia akan mati.

Setiap pulang dari kantor, di trotoar di depan dan sebelah Kantor Dikti yang bak sebuah mall itu, berseberangan jalan dengan Hotel Century, penulis selalu melihat betapa banyaknya PKL kecil yang sedang menjajakan dagangannya. Eeee, ternyata banyak juga pembelinya. Sopir-sopir taksi, para pegawai, dan entah siapa lagi. Ada yang minum kopi, ada yang hanya beli sebatang rokok, ada juga yang beberapa potong tempe mendoan, atau makanan kecil apa saja yang dapat untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Itulah kehidupan para PKL tanpa rombong, hanya berbekal sebuah bakul yang mudah dibawa pergi kalau SATPOL PP menghampirinya. Kehidupan pada PKL di sore hari itu pun dapat berlangsung aman karena para SATPOL PP tidak berjaga-jaga lagi.

Jalan Juanda Kota Depok dan Pelating Street di Kota Kuala Lumpur

Setiap Hari Ahad, di sepanjang Jalan Juanda di Kota Depok, kita melihat ratusan, bahkan mungkin sampai ribuan (?) para PKL melakukan transaksi kepada para pembelinya. Mereka adalah masyarakat kreatif yang menggunakan jalan di Hari Ahad, ketika saat itu tidak rampai lalu-lintas, untuk berjualan apa saja, mulai dari jenis makanan tradisional sampai dengan jenis makanan yang biasa disajikan dalam acara resepsi pernikahan, seperti dimsum, spagetti, dan entah apa lagi. Itulah tingkat kreativitas warga masyarakat, yang sebenarnya bisa terjadi di mana saja di dunia ini. Kegiatan ekonomi informal di Jalan Juanda ini tidak ubahnya sama dengan kegiatan di Petaling Street di negeri jiran Malaysia. Kegiatan PKL di Jalan Juanda di Kota Depok memang belum lama berlansung dibandingkan dengan kegiatan PKL di Petaling Street di Kota Kuala Lumpur. Transaksi para pedagang di Petaling Street mencapai jutaan Ringgit Malaysia (RM).

Petaling Street – http://en.wikipedia.org/wiki/Petaling_Street

Inilah foto jalan masuk ke Petaling Street di pusat Kota Kuala Lumpur. Nuansa Cina terasa tampak di sini. Segala macam makan, barang-barang untuk kenang-kenangan, termasuk barang-barang tiruan dalam dibeli di sini. Roda ekonomi bergerak laju di negeri jiran ini, antara lain berkat keberadaan PKL di sini.

Memberdayakan PKL?

Apakah PKL dapat dihilangkan dari bumi pertiwi ini? Tidak!! Yang harus dilakukan adalah bagaimana pemerintah dapat memberdayakan PKL? Alasannya? Pertama, PKL merupakan bentuk perjuangan hidup sebagian masyarakat di negeri ini. Kedua, PKL memiliki konsumennya sendiri. Apa yang dilakukan PKL sangat diperlukan oleh para pelanggan tersebut. Ketiga, keberadaan PKL juga menjadi roda yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Memang diakui, keberadaan PKL memang membuat permasalahan di kota. Kebersihan dan keindangan kota sering dinodai oleh adanya PKL ini. PKL sering membuat kota menjadi kumuh. Selain itu, keberadaan PKL di trotoir jalan raya pasti akan mengganggu kelancaran lalu lintas. Untuk tetang dapat memberdayakan PKL, tanpa menimbulkan dampak negatif dari keberadaan PKL tersebut, pemerintah kota harus berlaku adil dan bijaksana. Penggusuran PKL oleh SATPOL PP jelas bukan pemecahan yang adil dan bijaksana. Kalau itu yang dilakukan, ibaratnya pagar telah makan tanaman. Pejabat telah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada rakyatnya. Padahal kita semua mengetahui bahwa ruang untuk umum di kota-kota adalah hak penduduk kota itu. Oleh karena itu, solusi terbaik untuk pemberdayaan PKL adalah dengan memberikan ruang untuk umum yang bisa menampung PKL. Pemanfaatan Jalan Juanda pada Hari Ahad merupakan kebijakan yang cukup elegan. Akan lebih baik lagi jika pemerintah pusat dan daerah menyediakan lahan yang cukup luas untuk ini. Di situlah para PKL diberikan tempat untuk berjualan. Artinya, di tempat lain tidak boleh. Dengan demikian penggusuran tidak terjadi, yang ada adalah pemindahan tempat. Di negeri jiran Malaysia terdapat banyak ruang umum seperti ini. Wisata kuliner di Malaysia dapat kita jumpai di kawasan yang disebut sebagai “Padang Selera”. Di sana kita dapat membeli nasi lemak (di Indonesia dikenal dengan nasi uduk), roti canai, tentu saja ada bakso maupun bubur, dan berbagai macam makanan khas negeri itu.

Akhir Kata

Pemberdayaan PKL sebagaimana telah diusulkan tersebut merupakan solusi yang sangat elegan. Nasib PKL di masa depan akan sangat tergantung kepada sikap pemerintah pusat dan daerah terhadap rakyat di negeri ini. Kita harapkan PKL dapat menjadi embrio kelahiran pengusaha di negeri ini. Melalui PKL kita harapkan jiwa pengusaha akan lahir, dan melalui PKL akan mampu ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Jakarta, Februari 2009

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel

Kepada Bung Karno

Bung, aku salah satu anak ideologismu marhen di antara jutaan marhen yang ikhlas mencintamu melebihi cinta penuh gincu…
Artikel

Lembaga Pendidikan Bestari

  *** Sesungguhnya setetes air hujan itulah yang lama-lama menjadi seluas samurdera (Anoname) Jika hujan adalah kegagalan, dan…