ArtikelPendidikan

Ki Hajar Dewantara dan Sariman

83 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Contohlah teladan dari kehidupan dan perjuangan orang-orang besar di dunia, tetapi jangan sekali-kali kamu mendewakan seseorang.
(Ki Hajar Dewantara)

Kebanggaan suatu bangsa terhadap pahlawan-pahlawannya akan membangkitkan kesadaran bangsa itu terhadap harga diri dan martabat bangsanya yang luhu, yang telah mampu melahirkan manusia-manusia besar dan pahlawan-pahlawan besar.
(Ki Hajar Dewantara)

Ini adalah cerita tentang seorang pemimpin bangsa, bapak pendidikan nasional Indonesia. Ki Hajar Dewantara. Cerita yang amat menarik ini amat sayang untuk kita lupakan begitu saja. Cerita yang penuh dengan perjuangan, dan memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi ini, sudah sepantasnya dapat menjadi bahan pelajaran yang amat berharga bagi anak-anak bangsa di negeri ini. Khususnya bagi anak-anak bangsa yang kini sedang memikul amanat sebagai pemimpin bangsa.

Cerita ini menjelaskan tentang sifat cinta kasih Ki Hajar Dewantara kepada sesama manusia. Kawan akrab Ki Hajar Dewantara adalah Sariman dan anak-anak sebaya yang tinggal di dekat puri Ki Hajar Dewantara. Rasa cinta kasih Ki Hajar Dewantara terhadap mereka telah menumbuhkan cinta kasihnya yang luar biasa terhadap pendidikan anak-anak bangsa di Indonesia.

Keturunan bangsawan yang cerdas

Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Suryaningrat adalah ayah Ki Hajar Dewantara. Pangeran Suryaningrat adalah putra sulung dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam III, raja agung Paku Alaman di Yogyakarta. Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara adalah putra kelima dari Pangeran Suryaningrat. Jadi, Ki Hajar Dewantara adalah cucu Paku Alam III. Dengan kata lain, Ki Hajar Dewantara adalah keturunan bangsawan atau dapat disebut berdarah biru.

Paku Alam III dikenal sebagai raja yang amat keras menentang pemerintah penjajahan Belanda. Oleh karena itu, setelah Sri Paku Alam III mangkat pada tahun 1864, maka pemerintah Belanda tidak menaikkan tahta kerajaan kepada Pangeran Suryaningrat dan keturunannya. Keputusan Gubernur Jenderal Belanda tidak dapat dilawan oleh keluarga Paku Alaman, karena keadulatan negeri Paku Alaman pada masa itu telah jatuh ke dalam kekuasaan Belanda. Akhirnya, Pangeran Suryaningrat diberi penghidupan di luar istana, dalam sebuah puri untuk tempat tinggalnya.

Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara kecil memiliki otak yang cerdas dan memiliki tabiat yang menonjol, yaitu bergaul dengan anak-anak jelata, termasuk salah satu teman kentalnya yang bernama Sariman. Semangat sosialisasinya tinggi. Dengan kata lain, Ki Hajar Dewantara memiliki kecerdasan interpersonal yang hebat. Pemilihan nama Ki Hajar Dewantara ketimbang menggunakan nama bangsawan Raden Mas Suwardi Suryaningrat menunjukkan keteguhan hatinya untuk memilih keluhuran budi ketimbang gelar kebangsawanannya.

Kasih sayang sebagai dasar pendidikan

Kasih sayang merupakan salah satu sari sembilan puluh sembilan asmaul husna atau nama-nama Allah SWT. Kasih sayang Allah jualah yang menyebabkan proses penciptaan manusia di muka bumi ini. Itulah sebabnya, maka manusia ciptaan-Nya sudah sepantasnya juga memiliki sifat cinta kasih terhadap Allah, diri, dan sesamanya. Tidak sempurna iman seseorang jika tidak dapat mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Ada tiga dasar pendidikan yang harus menjadi pegangan bagi para pendidik atau guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, yakni (1) cinta kasih, (2) kepercayaan, dan (3) kewibawaan. Mengajar anak didik di dalam dan di luar kelas oleh seorang pendidik atau guru harus dilakukan dengan penuh cinta kasih. Tanpa cinta kasih, mengajar tidak akan menjadi proses pendidikan. Mengajar tanpa cinta kasih akan hanya menjadi proses transfer ilmu pengetahuan tanpa jiwa. Mengajar tanpa cinta kasih hanya akan menghasilkan anak-anak yang cerdas intelektualnya tetapi tidak dalam kecerdasan lain seperti kecerdasan emosional, interpersonal, intrapersonal, apalagi spiritualnya. Mengajar tanpa cinta kasih tidak akan menghasilkan kepercayaan siswa terhadap pendidik atau gurunya. Anak didik mengikuti apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh gurunya bukan karena rasa kepercayaan yang tumbuh di hatinya, melainkan hanya sekedar mengikuti perintah gurunya, atau mungkin hanya karena rasa takut saja atau karena maksud lainnya seperti agar memperoleh nilai yang tinggi dari gurunya. Hanya dengan rasa kepercayaan yang tinggi dari siswanya, pendidik atau guru akan memperoleh kewibawaan sejati. Kewibawaan sejati merupakan kemampuan seorang pendidik untuk dapat diikuti segala perintahnya karena kesadaran diri siswanya, bukan karena rasa takut (fear motivation) dan juga bukan karena ada motivasi insentif (incentive motivation). Kesadaran dari dalam diri siswa inilah yang akan melahirkan disiplin hidup yang tumbuh pada diri siswa, bukan disiplin mati.

Sariman dan anak-anak jelata

Kebiasaan Ki Hajar Dewantara bergaul dengan Sariman dan anak-anak jelata di kampung di sekitar puri tempat Ki Hajar Dewantaran tinggal adalah satu bentuk cinta kasih Ki Hajar Dewantara terhadap sesama manusia. Sariman dan anak-anak jelata itu adalah representasi dari anak-anak bangsa yang terjajah oleh kolonialime dan imperalisme Belanda. Siapa yang harus mengasihsayangi mereka, kalau bukan sesama anak bangsanya sendiri? Mungkinkan anak-anak bangsa terjajah itu hanya akan mengharapkan politik etis (politik balas budi) dari penjajah. Tidak mungkin!! Politik balas budi Belanda yang diusulkan Van Deventer, melalui Trilogi Van Deventer, sebagai gambaran, kenyataannya hanya untuk kepentingan penjajah, bukan untuk kepentingan rakyat yang terjajah. Program irigasi ternyata hanya untuk mengairi perkebunan Belanda. Program migrasi atau perpindahan penduduk juga hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah untuk perkebunan Belanda, Dan program edukasi juga hanya untuk meningkatkan pendidikan bagi tenaga kerja Belanda. Walhasil, penjajah adalah penjajah. Anak-anak jelata seperti Sariman di kampung dekat puri Ki Hajar Dewantara tinggal pada akhirnya tidak pernah memperoleh pendidikan yang diadakan oleh penjajah. Diceritakan oleh Bambang Sukawati Dewantara, dalam bukunya bertajuk “Mereka Yang Selalu Hidup: Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara” bahwa ayah Ki Hajar Dewntara telah berunding dengan Mester Abendanon, dan dari hasil perundingan itu Ki Hajar Dewantara diperbolehkan masuk ELS (Sekolah Dasar untuk orang Eropa). Dengan sangat senangnya Ki Hajar Dewantara mendengar berita itu dari ayahnya. Berikut ini kutipan dari tulisan Bambang Sukawati Dewantara dengan sedikit gubahan yang menjelaskan tentang suasana batin Ki Hajar Dewantara.

“Sekolah!”, seru Suwardi setengah bersorak, “Jadi aku akan beresekolah seperti anak-anak Belanda itu?”.

“Betul”, jawab ayahnya singkat.

“Di mana, Ayah? Bila aku memulainya?. Dan dapatkah aku kelak menjadi cendekiawan seperti Sultan Agung? Atau seperi Mas Ngabehi Ronggowarsito yang pernah Ayah ceritakan itu?”, tanya Suwardi seperti tidak ada habis-habisnya untuk terus bertanya.

“Insyallah, Suwardi. Tapi yang sangat penting, mulai besok kamu harus mulai belajar di sekolah ELS”, jawab ayahnya dengan memberikan motivasi.

Suasana batin Ki Hajar Dewantara demikian menggelegak, karena keinginan bersekolah dalam hatinya sebentar lagi akan dapat dipenuhi. Kegirangan seorang anak seperi Ki Hajar Dewantara kecil ini menimbulkan niat suci untuk segera menyampaikan berita itu kepada Sariman dan teman-teman dekatnya, anak-anak jelata.

“Man, tidakkah kamu juga ingin sekolah seperti aku. Aku diperbolehkan masuk sekolah ELS seperti orang-orang Belanda?”, tanya Suwardi kepada Sariman, sahabat kentalnya.

“Tentu”, jawab Sariman cepat. “Tapi, bagaimana mungkin Denmas, hamba ini hanyalah anak kebanyakan”, sambung Sariman dengan nada suara merendah.

“Jangan khawatir Man, aku akan membicarakan dengan ayahku, agar beliau dapat mengizinkan saya dapat bersekolah bersamamu di ELS”, jawab Suwardi tanpa menyadari kesulitan yang akan dihadapi tentang hal itu.

Singkat kata, ternyata Suwardi tidak dapat bersekolah bersama Sariman di ELS, hanya karena Sariman anak jelata. Ayah Suwardi memang tidak akan mungkin bisa memasukkan Sariman untuk bersekolah dengan Suwardi di ELS. Ki Hajar Dewantara kecil pun menjadi sangat sedih dibuatnya. Konflik dalam hati telah terjadi pada diri Suwardi. Pertama, keinginan untuk bersekolah pun makin menggebu-gebu. Sementara itu keinginan untuk membantu teman-temannya agar dapat memperoleh pendidikan juga tidak dapat ditawar-tawar lagi. Konflik batin inilah yang telah membuka tabir kekalutannya dengan satu tekad bahwa hanya dirinyalah (bukan orang Belanda) yang dapat membantu Sariman dan teman-temannya untuk bersekolah. Naluri kemanusiaan Suwardi benar-benar tersinggung bagaikan tertusuk sembilu terhadap kebijakan diskriminatif dari pemerintah Belanda ini. Sementara itu keinginan bersekolahnya juga harus dicapai. Itulah sebabnya maka Ki Hajar Dewantara bertekad akan bersekolah dengan tujuan agar kelak dapat membantu Sariman dan anak-anak jelata lainnya juga agar dapat bersekolah. Rupanya, getar hati untuk bersekolah dan untuk dapat membantu Sariman dan kawan-kawannya itulah yang senantiasa telah membimbing Ki Hajar Dewantara untuk berjuang dalam dunia pendidikan bagi rakyat negeri ini. Suasana kebatinan inilah yang telah melahirkan semangat untuk merobohkan sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif untuk menggantinya dengan sistem pendidikan nasional yang demokratis.

Akhir kata

Cinta kasih Ki Hajar Dewantara kepada Sariman dan anak-anak jelata di kampungnya ternyata telah memupuk dan membentuk jiwa dan kepribadian nasinal yang tangguh dalam diri Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin bangsa, Bapak Pendidikan Nasional kita. Mudah-mudahan para pemimpin bangsa di negeri ini dapat meneladaninya, dan sekaligus dapat meneruskan cita-cita perjuangan Ki Hajar Dewantara, yakni memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak jelata di negeri ini untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Insyaallah.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Bahan bacaan:

  • Bambang Sukawati Dewantara. 1993. Mereka Yang Selalu Hidup: Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Jakarta: Roda Pengetahuan.
  • Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi, Yogyakarta: Hikayat.

Depok, 29 Juni 2005

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts