ArtikelBudayaDunia Islam

Kultum 12: Antara Membaca dan Menulis

Tidak ada komentar

1. Saya tertarik kepada puisi Taufik Ismail, seorang sastrawan terkenal di negeri ini. Apa pula pusinya? Inilah, saya petikkan secara lengkap. Puisi itu berjudul Membaca Buku dan Mengarang. Siapa tahu perlu dideklamasikan segala. Heee.

MEMBACA BUKU DAN MENGARANG,
KAKAK-ADIK KANDUNG TAK TERPISAHKAN
Oleh Taufik Ismail
Alangkah inginnya kita,
Melihat seluruh anak bangsa ketagihan membaca,

Bukan hanya bisa membaca alfabet demi alfabet saja,
Tapi sungguh-sungguh membaca buku,

Membaca alfabet itu,
Bagaikan berkecimpung di kolam yang kecil ukurannya,
Sedangkan membaca buku ibarat berenang di lautan ilmu yang sangat luasnya,

Marilah kita latih anak-anak bangsa kita,
Berenang di samudera ilmu,
Terengah-engah mancapai garis cakrawala,

Kita merindukan anak-anak bangsa kita pandai menulis

Bukan semata-mata bisa menuliskan deretan alfabet saja,
Tapi pandai memindahkan fikiran di dalam kepala
Menjadi bentuk karangan yang enak dibaca.

Menulis alfabet adalah ibarat anak kecil main layang-layang,
Tapi pandai mengarang,
Adalah ibarat pilot pesawat terbang
Yang mampu melesat ke langit luas karena tangkasnya.

Marilah kita latih anak-anak bangsa kita terbang ke angkasa pemikiran dan perenungan,
Melalui kemampuan dan kecintaan mengarang.

Membaca, membaca, dan membaca,
Mengarang, mengarang, dan mengarang.

Jakarta, 10 Maret 2006.

2. Ini terkait dengan Hafiz Indonesia dengan kegiatan utamanya menampilkan hafiz anak-anak Indonesia. Luar biasa. Allah Swt menyatakan dalam Al-Quran “bacalah”. Dengan demikian, betapa pentingnya tulisan. Teman saya Satria Dharma, mantan Ketua Dewan Pendidikan di salah satu kabupaten di Kalimantan Timur, sangat gandrung terhadap pentingnya literasi untuk menccerdaskan kehidupan bangsa. Beliau tidak hanya faham soal teori dan konsepsi tentang literasi. Beliau menerapkan dalam lingkungan keluarga, dan juga menyebarluarkannya. Di rumah beliau bikin “silent reading program”. Tulisannya dalam laman www.satriadharma.com telah memberikan gambaran tentang upaya setengan mati untuk menyebarluaskan program literasi. Beliau kritik habis-habisan tidak adanya program membaca di sekolah-sekolah kita. Non buku. Kata beliau, sementara sekolah-sekolah negara juran sudah jauh ke depan, dengan memberikan kewajiban membaca kepada peserta didiknya. Padahal semangat membaca sebenarnya sudah menyala.

3. Bukan hanya membaca, tetapi lebih penting lagi adalah menulis. Dalam buku Satria Darma pulah saya mengutip pendapat Bud Gardner yang menyatakan bahwa “When your speak, your words echo only across the room or down the hall. But when you write, your words echo down the ages (Bud Gardner”). Pendapat ini sejalan dengan makna kata-kata bijak teman kita ini.

4. Artinya, membaca memang sangat penting untuk menambah wawasan kita. Tetapi lebih penting lagi adalah menuliskannya.

Depok, 10 Juli 2014.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.