Artikel

Terapi Penyakit Dengan Cinta

Tidak ada komentar

Oleh: Suparlan *)

***

Ilmu iku, kalakoning kanthi laku. Lekasing lawan kas. Tegese kas amungkasi. Setya boga pangekese dur angkoro
(Tembang pucung, slendro, Jawa)

***

Tembang pucung tersebut sering dinyanyikan oleh Kakek saya. Ternyata punya makna yang dalam tentang ilmu. Pertama, ilmu harus dipelajari. Sayyidina Ali menyebutkan ilmu itu harus diikat. Diikat bagaimana? Dengan menuliskannya. Setelah itu? Diamalkan! Setelah itu apa lagi? Dibagi untuk siapa saja yang memerlukan! Untuk kemaslahatan bersama. Mudah-mudahan. Amin.

Ilmu dalam tulisan singkat ini saya peroleh dari kegiatan tahunan Ikatan Pensiunan Kementerian Dikbud di Senayan Jakarta. Maklumlah, saya ini ulama (usia lanjut masih aktif) di Kemdikbud. Jika ingin tahu lebih mendalam, silahkan tanyakan langsung kepada Ibu Dokter di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggai (Dikti) ini. Nama beliau dokter Dwi Ristiati. Cek kesehatan, silahkan. Serba komputer. Juga kalau mau cek umur biologis. Kata beliau, umur itu ada tiga macam. Pertama, umur kalender, yang tertera dalam KTP kita. Dua, umur biologis, harus dicek dengan perangkat komputer. Apalagi umur psikologis. Alhamdulillah, mudah-mudahan umur biologis lebih muda dibandingkan dengan umur kalender. Artinya, kesehatan kita lebih baik daripada kondisi fisik kita. Ya, soal panggilan Allah Swt. hanya Allah yang maha tahu. Toh itu sudah tertulis dalam buku Allah.

Tulisan singkat ini (tidak lebih dari dua halaman kuarto) dapat kita pelajari. Kemudian dapat kita terapkan, dan jangan lupa dapat kita berbagi dengan siapa saja.

Tubuh

Tubuh kita terdiri dari sel-sel dan gen-gen. Jutaan banyaknya. Terima aja ini. Toh kita pun tidak dapat menghitungnya persis. Penguasa tunggal jasad dan nyawa kita tentu saja hanyalah Allah Swt. Percayalah! Kalau tidak dosa terbesar. Nah, penguasa jasad tubuh kita tidak lain adalah otak dan hati kita, ibarat Presiden dan Wakil Presiden. Sel-sel dan gen-gen yang jutaan banyaknya itu hanya patuh atas penguasa tersebut. “Yes sir,” jawab sel-sel dan gen-gen tersebut jika memperoleh perintah dari otak dan hati kita. Sel-sel dan gen-gen dalam tubuh kita tidak pernah membantahnya. Seluruh sel dan gen dalam tubuh kita senantiasa patuh dan setia kepadanya. Apabila otak dan hati memerintah X, maka semua sel dan gen akan serentak melakukan X. That’s all. Begitulah.

Suatu ketika, kita bersin-bersin. Lalu kita secara spontan “aduh sakit aku.” Apa yang dilakukan oleh sel-sel kita? Semuanya patuh atas perintah otak dan hati kita. Maka sakitlah flu, karena semua sel dalam tubuh kita memenuhi perintah penguasa tertinggi dalam tubuh kita. Oleh karena itu, hati-hati dengan ucapan kita. Agama mengajarkan bahwa ucapan kita itu adalah doa. Menurut teori sel, sebenarnya sel tersebut telah mengikuti perintah otak dan hati kita. Inilah yang sering disebut sebagai teori positive thinking.

Konsep positive thinking

Itu konsepnya. Itu teorinya. Lalu bagaimana menerapkannya? Tentu saja, kita harus hati-hati dengan perintah otak dan hati. Ucapan yang lahir dari otak dan hati kita sebenarnya adalah doa. Terkait dengan doa, Allah Swt. tak pernah menolak doa. Itulah yang saya tangkap dari ceramah seorang Ustadz di sebuah masjid dekat pemondokan di Mekah. Allah senantiasa mengabulkan doa umatnya. Tentu dengan berbagai cara.

Pertama, X = X atau doa X dijawab X (doa makbul).
Kedua, X = X +/- atau doa X dibalas X+/-1, karena Allah maha tahu apa yang sesuai dengan kebutuhan umat-Nya.
Ketiga, X = X atau apa saja atau doa X, dibalas dengan X atau apa saja dengan jangka waktu yang diperhitungkan-Nya. Wallahu alam. Ini teori positive thinking. Kita senantiasa berfikiran positif, bukan berfikiran negatif.

Lalu, bagaimana dengan terapi cinta tersebut? Sabar …. Bukankah Allah mencintai umat-Nya yang sabar? Innalloha maashobirin. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar. Karena itu marilah ditunggu dengan bersabar.

Marilah kita coba praktikkan dengan konsep dokter Dwi Ristiati. Setiap kita berangkat tidur, pastikan kita berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian, marilah kita sapa badan kita. Apakah yang terjadi dengan badan kita itu. Semua sebutan itu hanya milik Allah. Semuanya milik-Nya, meski secara spesifik menyebut semua organ tubuh kita.

Katakanlah, jantungku yang saya cintai …. Terima kasih kepadamu, karena selama ini telah bersama diriku. Mohon maaf kepadamu …. Jika selama ini saya tidak pernah menyapamu, bahkan sama sekali tidak menyapamu. Prosesi ini persis seperti hypnosis sebagaimana yang kita lakukan ketika melakukan mendidik anak dalam proses hypno parenting. Setelah melaksanakan prosesi tersebut, pada ujungnya kita masuk ke dalam hypnosleep atau dalam keadaan tidur pulas, dengan ciri hembusan nafas yang dalam.

Pernahkah Anda melakukan hypno parenting? Menidurkan anak dengan mengelus-elus ubun-ubun secara teratur. Atau mengetuk-ngetuk dahi di atas alis anak kita. Mengetuk-ngetuk daerah di atas bibir anak. Atau mengetuk-ngetuk dada anak di atas jantung anak kita. Kemudian, katakanlah dengan penuh kesungguhan, misalnya “anakku menjadi anak yang shaleh atau sholehah, anak yang suka membantu ayah dan budanya,” dan seterusnya sesuai dengan harapan kita. Begitulah kira-kira prosesi terapi cinta yang dapat kita laksanakan. Insyaallah, terapi itu berhasil. Kuncinya adalah keyakinan dan keikhlasan. Allah Swt. tidak pernah menolak doa kita. Sebaliknya, Allah senantiasa mengabulkannya. Penyakit kita akan sembuh hanya karena Allah, dengan cinta. Insyaallah. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com.

Depok, 15 September 2015.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.