ArtikelBukuDunia IslamPendidikan

Mewaspadai Beberapa Tragedi

Oleh: Suparlan *)

“The two highest achievements of the human mind are the twin concepts of “loyalty” and “duty”.
Whenever these twin concepts fall into disrepute, get out of there fast! You may possibly save yourself, but it is too late to save that society. It is doomed.”
(Robert A. Heinlein, 1907-1988 American writer)

Tragedi artinya peristiwa yang dampaknya mengalami kondisi yang menyedihkan, bahkan sampai ke ujung kematian. Miris juga kita mengetahui adanya beberapa tragedi bertubi-tubi yang menimpa negeri tercinta ini. Dari satu tragedi ke tragedi yang lain telah terjadi. Beberapa tragedi berikut ini adalah tragedi yang perlu kita waspadai dengan maksud agar tidak sampai terjadi lagi atau paling tidak dapat mengurangi kasus dan dampaknya. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Itulah gunanya mencegah lebih baik dari pada mengobati. Beberapa tragedi dijelaskan berikut ini.

Tragedi Nol Buku.

Tragedi ini diceritakan oleh penyair legendaris Taufik Ismail Dalam Buku Membaca Buku dan Mengarang Kakak-Adik Kandung Tak Terpisahkan. Taufik Ismail menyadari sepenuhnya bahwa peristiwa ini dipandang sebagai satu tragedi bagi anak-anak bangsa, karena anak-anak bangsa telah menanggung derita mengalami buta membaca dan buta menulis dalam hidup dan kehidupan di masa depan. Sebagaimana kita ketahui, membaca dan menulis adalah ibarat cangkul yang akan digunakan untuk mengolah peradaban dunia di abad XXI. Meski di antara kelompoknya mereka menjadi juara olimpide sains dan teknologi, namun karena kebanyakan mereka mengalami buta membaca dan menulis, maka anak-anak bangsa – kata Taufik Ismail – tidak dapat “berenang di lautan ilmu yang sangat luasnya.” terbang ke angkasa. Dengan membaca, anak-anak bangsa kita akan berenang di samudera ilmu, terengah mencapai garis cakrawala.

Taufik Ismail berharap dan menghiba agar anak-anak bangsa ini pandai memindahkan fikiran di dalam kepala menjadi bentuk karangan yang enak dibaca. Di samping itu, Taufik Ismail juga berharap agar anak-anak bangsa dapat menjadi ibarat pilot pesawat terbang yang mampu melesat ke langit luas karena tangkasnya di angkasa pemikiran dan perenungan, melalui kemampuan dan kecintaan mengarang atau menulis.

Tragedi nol buku Taufik Ismail meradang dan menerjang bak Chairil Anwar, sang maestro puisi pembebasan, yang telah menjadi pendorong tercapainya proklamasi lantaran kemampuan membaca anak-anak SD hanyalah pada urutan kedua terbawah dari 45 negara di dunia yang diteliti berdasarkan studi PERLS (Progress in International Reading Literacy). Sayangnya, Suhardjono sendiri dari Pusat Penelitian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri tidak dapat menjelaskan penyebab utama rendahnya kemampuan membaca peserta didik dari Sekolah Dasar tersebut. Beliau hanya menyebutkan secara umum bahwa penyebab rendahnya kemampuan membaca anak-anak SD tersebut adalah karena rendahnya kemampuan guru dan kondisi sekolah. Tentu, hal ini adalah satu pernyataan yang terlalu umum, atau tidak secara spesifik dapat ditindaklanjuti untuk memecahkan masalah tersebut. Kondisi guru dan sekolah adalah pernyataan yang sangat umum yang sering digunakan untuk menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Kompetensi guru sebagai misal, kita masih perlu melihat kompetensi guru dalam bidang yang mana. Demikian juga dengan faktor kondisi sekolah, akan menyangkut kondisi sekolah fisik atau gedung atau kondisi sarana dan prasarana yang mengalami perubahan demikian pesat. Gedung sekolah yang mengalami rusak ringan, akan cepat menjadi rusak berat setahun berikutnya. Oleh karena itu, tragedi nol buku tentu saja tidak cukup hanya dilakukan pemecahan dengan memberikan buku-buku yang perlu dibaca peserta didik. Lebih dari itu, membangun budaya literasi memerlukan proses panjang yang tidak diselesaikan dalam waktu sekejap mata, karena membangun budaya sama dengan membangun kebiasaan. Kebudayaan tersebut tidak hanya cukup dengan kebudayaan peserta didik, tetapi justru kebudayaan semua pemangku kepentingan sekolah, mulai dari orang tua siswa, termasuk wali peserta didik, kepala sekolah, dewan gurunya.

Untuk memecahkan masalah tragedi nol buku tersebut harus dimulai dari kebijakan dan program yang tertuang dalam kurikulum. Taufik Ismail menanyakan secara oratoris apakah kebijakan dan program peningkatan budaya literasi tersebut sudah dirumuskan dan tertuang dalam kurikulum yang sebenarnya telah mengalami perubahan dan pengembangan tidak kurang dari sepuluh kali perubahan dan pengembangan selama Indonesia merdeka. Sudahkan para guru telah memperoleh pelatihan yang memadai untuk memberikan mata pelajaran membaca yang sebenarnya? Demikian seterusnya agar peserta didik dan semua pemangku kepentingan untuk sadar dalam upaya peningkatan budaya literasi sekolah melalui berbagai program kegiatannya. Termasuk di dalam keluarga, apakah orang tua peserta didik telah memperoleh contoh dalam kegiatan membaca, dan bukan hanya banyak menonton televise dengan tontonan yang sering kali tidak mengandung nilai moralitas dan edukatif. Ketika penulis menanyakan kepada jama’ah di Masjid siapakah yang telah menonton acara Cerita Hati di Kompas TV? Tidak seorang pun yang mengacungkan tangan dan mengaku bahwa mereka pernah menonton acara itu, padahal acara tersebut banyak memuat acara spiritual dan edukatif yang bagus, ketimbang acara televisi dan hanya menampilkan acara yang hura-hura. Dengan demikian, kesimpulannya adalah kegiatan membaca dan menulis di rumah, sudah pasti akan memiliki prosentase yang jauh lebih kecil lagi.

Treagedi Kekerasan Terhadap Anak, Penelantaran dan Pembunuhan Anak

Anak-anak lahir di dunia memiliki hak yang harus dipenuhi orang tuanya, masyarakat, bangsa dan negaranya dalam kehidupan manusia (human life). Unesco memberikan rambu-rambu 10 (sepuluh) hak anak sebagai berikut: 1) children have the right to survive: anak-anak mempunyai hak untuk hidup, 2) children have the right to survive and develop to the fullest: anak-anak mempunyai hak untuk hidup dan berkembang secara penuh, 3) children have the right to develop to their full potential: anak-anak mempunyai hak untuk berkembangn sesuai dengan potensinya secara penuh, 4) every child has the right to food and nutrition: setiap anak mempunyak hak untuk memperoleh manakan dan nutrisi, 5) children have the right to play: anak-anak mempunyai hak untuk bermain, 6) children have the right to privacy: anak-anak mempunyai hak untuk privasi, 7) children have the right to special care and assistance: anak-anak mempunyai hak untuk memperoleh pengasuhan dan perlindungan secara khusus, 8) children have the right to meet and share views with others: anak-anak memiliki hak untuk bertemu dan berbagi pendapat atau pandangan dengan orang lain, 9) all rights to a childhood need protection: semua hak untuk masa kanak-kanan memerlukan perlindungan, 10) rights should be applied in the best interests of the child: hak-hak hendaknya diterapkan dalam kepentingan terbaik bagi anak-anak.

Tragedi penelantaran anak dan bahkan sampai dengan pembunuhan anak, seperti dalam kasus Engeline baru-baru ini sungguh patut disesalkan oleh semua pihak. Membunuh manusia adalah membunuh seorang manusia, tetapi membunuh anak-anak adalah melakukan pembunuhan seluruh umat. Apalagi anak-anak perempuan. Kasus ini dapat disamakan dengan mendidik seorang (laki-laki) adalah mendidik seorang laki-laki tersebut, tetapi mendidik seorang wanita sama dengan mendidik umat manusia, karena yang melahirkan umat manusia itu adalah wanita. Oleh karena itu tragedi pembunugan wanita, apalagi wanita anak-anak, adalah tragedi pembunuhan umat manusia.

Treagedi Korupsi

Tragedi berukutnya adalah tragedi korupsi. Menarik symposium yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah yang mengundang Yeni Wahid untuk berbicara tema bertajuk Puasa Korupsi. Bertepatan dengan tema tersebut, simposium yang digagas oleh Muhammadiyah dapat disebut sebagai sangat cerdas dan memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Siapa yang tidak miris dengan tragedi yang terjadi di negeri ini. Bayangkan dengan perilaku korupsi dengan kuantitas sebesar tujuh keturunan. Sebesar apakah itu? Apakah hal ini terlalu dibesar-besarkan oleh media? Wallahu alam. Namun perilaku korupsi termasuk trageri yang perlu diwaspadai.

Dampak tragedi korupsi kalua dinilai juga setara dengan pembunuhan umat manusia, karena uang yang dibawa kabur oleh pelaku korupsi tersebut sebenarnya juga uang yang sebenarnya untuk membiayai anak-anak yang terbunuh itu. Seandainya dalam bulan Puasa Ramadan ini para koruptor juga berniat puasa korupsi (tentu saja yang beragama Islam), maka insyaallah di negeri ini akan lahir manusia-manusia yang suci ibarat bayi yang baru lahir.

Jika kita mencoba menilai tragedi perilaku korupsi di negeri ini, saya menjadi tersenyum sinis ketika membaca cerita dalam majalah tentang negara terjujur di dunia. Negara manakah itu? Bagaimana mengukurnya? Ternyata negara terjujur di dunia adalah Finlandia, bukan negeri sendiri tercinta. Cara mengukurnya ternyata sangat sederhana. Setiap negara yang akan diukur disebarkan dua belar dompet yang diisi tentu saja sedikit uang, kartu nama untuk menunjukkan alamat pengiriman kembali dompet tersebut, dan mungkin juga foto keluarga. Berapa jumlah dompet yang paling banyak kembali, adalah memberikan petunjuk bahwa negara itulah yang paling jujur di dunia. Demikian sebaliknya. Jika dompet itu disebat di mall, di tempat parkir, dan di tempat umum lainnya, maka kita dapat memperkirakan barangkali tidak ada satu pun dompet yang kembali. Begitukah? Siapa yang mau mencoba membuat penelitian ini?

Treagedi Narkoba

Tidak kalah dengan tragedi-tageri lain seperti tragedi pembunuhan wanita anak-anak, tragedi korupsi, maka tragedi narkoba tidak kalah berbahanya. Bahkan boleh jadi yang paling berbahaya.

Pada acara peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) pada Hari Jum’at, 12 Juni 2015 yang lalu, Presiden Jokowi meminta kepada kita semua memerangi narkoba, agar tidak terjadi tragedi ke sekian kali. Hukuman mati telah dilaksanakan di negeri ini, meski ada sedikit kecuali. Data tentang tragedi narkoba menjadikan kita lebih miris lagi. Pertama, 4,1 juta penduduk Indonesia telah menjadi pengguna narkoba. Mereka tidak pandang bulu. Dari anak-anal sampai dengan lansia. Dari rakyat jelata sampai dengan pejabat tinggi negara. Dari pengangguran sampai dengan para wakil rakyat dan penegak hukumnya. Data tersebut menyebutkan bahwa 40 sampai 50 orang pecandu narkoba yang telah meninggal setiap harinya. Dijelaskan pula bahwa tragedi tersebut telah menimbulkan kerugian tidak kurang dari Rp63 trilyun pertahun untuk biaya keseluruhan tragedi narkoba (Republika, 27 Juni 2015).

Masih ada lagikah tragedi yang mengancam negeri tercinta ini? Tentu saja masih. Pembaca yang mau menjelaskan tragedi-tragedi yang lain, silahkan kirimkan kepada alamat surat elektronik ini, yakni me@suparlan.com. Yang jelas, di negeri ini masih kita jumpai adanya tragedi keteladanan atau tragedi kepemimpinan, ditambah lagi tragedi moralitas remaja, dan wallahu alam bishawab apa lagi. Yang jelas, semua tragedi tersebut perlu kita waspadai, agar tragedi tersebut tidak menyebar dan berkembang ibarat virus yang menggerogoti tubuh negeri ini, baik tubuh jasmani maupun tubuh rohaninya. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com.

Depok, 7 Juli 2015.

3 thoughts on “Mewaspadai Beberapa Tragedi

  1. Komunitas ASEAN sudah di depan mata, akhir 2015 ini. Kata Mendikbud Anies Baswedan baru-baru ini, anak-anak Indonesia harus memahami tiga bahasa, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa internasional — seperti menjawab tulisan Pak Parlan di atas agar tidak terjadi ‘tragedi nol buku’ tentu berkaitan dengan membaca dan menulis .
    Dari begitu banyak bahasa yang digunakan oleh penduduk dunia, baru ENAM bahasa yang dijadikan sebagai bahasa internasional resmi yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan yang keTUJUH tentu kita berharap bahasa Indonesia.
    Supaya mudah diingat ketujuh bahasa tersebut saya singkat “MISPARI” (Mandarin, Inggris, Spanyol, Perancis, Arab, Rusia, dan Indonesia).

    BAHASA RESMI PBB KETUJUH *)
    Karya Dadang Adnan Dahlan

    Anda tahu PBB atau UNO
    Itu Perserikatan Bangsa-Bangsa
    Dorong kerja sama ‘sluruh dunia
    Hari jadi dua puluh empat Oktober

    Dukung cita-cita luhur bersama
    Bahasa Indonesia yang “ketujuh”
    Bahasa resmi putusan PBB
    Lingua franca internasional

    Pergunakan dengan baik dan benar
    Karunia bahasa Indonesia
    Bahasa ibu: bahasa daerah
    Jati diri bangsa Indonesia

    Songsong masa depan “MISPARI”
    Enam bahasa resmi dunia PBB
    Mandarin, Inggris, Spanyol, Prancis
    Arab, Rusia, serta Indonesia

    Jatinangor, 9 Juli 2015/ 22 Ramadhan 1436
    *) Revsisi tulisan terdahulu (ke-2)

  2. Komunitas ASEAN sudah di depan mata, akhir 2015 ini. Kata Mendikbud Anies Baswedan baru-baru ini, anak-anak Indonesia harus memahami tiga bahasa, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa internasional — seperti menjawab tulisan Pak Parlan di atas agar tidak terjadi ‘tragedi nol buku’ tentu berkaitan dengan membaca dan menulis .
    Dari begitu banyak bahasa yang digunakan oleh penduduk dunia, baru ENAM bahasa yang dijadikan sebagai bahasa internasional resmi yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan yang keTUJUH tentu kita berharap bahasa Indonesia.
    Supaya mudah diingat ketujuh bahasa tersebut saya singkat “MISPARI” (Mandarin, Inggris, Spanyol, Perancis, Arab, Rusia, dan Indonesia).

    BAHASA RESMI PBB KETUJUH *)
    Karya Dadang Adnan Dahlan

    Anda tahu PBB atau UNO
    Itu Perserikatan Bangsa-Bangsa
    Dorong kerja sama ‘sluruh dunia
    Hari jadi dua puluh empat Oktober

    Dukung cita-cita luhur bersama
    Bahasa Indonesia yang “ketujuh”
    Bahasa resmi putusan PBB
    Lingua franca internasional

    Pergunakan dengan baik dan benar
    Karunia bahasa Indonesia
    Bahasa ibu: bahasa daerah
    Jati diri bangsa Indonesia

    Songsong masa depan “MISPARI”
    Tujuh bahasa resmi dunia PBB
    Mandarin, Inggris, Spanyol, Prancis
    Arab, Rusia, serta Indonesia

    Jatinangor, 9 Juli 2015/ 22 Ramadhan 1436
    *) Revsisi tulisan terdahulu

  3. Assalamu’alaikum,

    Komunitas ASEAN sudah di depan mata, akhir 2015 ini. Kata Mendikbud Anies Baswedan baru-baru ini, anak-anak Indonesia harus memahami tiga bahasa, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa internasional — seperti menjawab tulisan Pak Parlan di atas agar tidak terjadi ‘tragedi nol buku’ tentu berkaitan dengan membaca dan menulis .
    Dari begitu banyak bahasa yang digunakan oleh penduduk dunia, baru ENAM bahasa yang dijadikan sebagai bahasa internasional resmi yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan yang keTUJUH tentu kita berharap bahasa Indonesia.
    Urutan lengkap ketujuh bahasa berdasarkan kepopuleran dan banyaknya pengguna (supaya mudah diingat) saya singkat “MIHSARI” (Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol, Arab, Rusia, dan Indonesia).

    “TUJUH” BAHASA RESMI PBB
    Karya Dadang Adnan Dahlan

    Anda tahu PBB atau UNO
    Itu Perserikatan Bangsa-Bangsa
    Dorong kerja sama ‘sluruh dunia
    Hari jadi dua puluh empat Oktober

    Dukung cita-cita luhur bersama
    Bahasa Indonesia yang “ketujuh”
    Bahasa resmi putusan PBB
    Lingua franca internasional

    Pergunakan dengan baik dan benar
    Karunia bahasa Indonesia
    Bahasa ibu: bahasa daerah
    Jati diri bangsa Indonesia

    Songsong masa depan “MIHSARI”
    Tujuh bahasa resmi dunia PBB
    Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol
    Arab, Rusia, serta Indonesia

    Jatinangor, 9 Juli 2015/ 22 Ramadhan 1436

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *