ArtikelBudayaPendidikan

Bangsa Bola dan Pendidikan Kita

Tidak ada komentar

***
You learn to speak by speaking, to study by studying, to run by running, to work by working; and just so, you learn to love by loving. All those who think to learn in any other way deceive themselves
Anda belajar bercakap dengan bercakap, belajar dengan belajar, berlari dengan berlari, bekerja dengan bekerja, dan hanya begitulah, Anda berlatih menyintai dengan menyintai. Semua orang yang berfikir untuk belajar dengan cara lain membohongi dirinya sendiri
(Saint Francis de Sales)

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.
Pendidikan adalah senjata yang terkuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.
(Nelson Mandela).

***

Dahulu, Bung Karno pernah menyindir bangsa sendiri agar jangan sampai menjadi “bangsa tempe”. Maksudnya jangan menjadi bangsa kelas dua, meski ternyata nilai gizi tempe ternyata tidak dapat dipandang lebih rendah dari pada roti. Ya sudahlah, Bung Karno mempunyai maksud baik, agar bangsa kita jangan merasa diri lebih rendah dibandingkan dengan bangsa lain. Bangsa kita — meski memang suka makan tempe — harus berdiri sama tinggi, sederajat dengan bangsa lain di dunia. Dalam kampanye pilpres sekarang ini, semua kontestan bertekat untuk berusaha menjadi bangsa yang besar, bersatu, aman, dan sejahtera. Indonesia harus bangkit menjadi bangsa yang bermartabat. Indonesia harus menjadi satu bangsa yang kuat, bangsa yang hebat. Begitulah mimpinya. Memang semua harus dimulai dari mimpi. Mimpi nggak membayar kok! Demikian kata William Tanuwijaya dalam buku kecilnya tentang kata-kata bijak dosis tinggi. Dari mimpi kita menaruh harapan yang besar untuk diwujudkan grand disign itu, dengan rencana yang jelas dan kerja keras.

Brazil Menjadi Bangsa Bola Kelas Dunia

Brazil kini menjadi sebuah negara yang banyak disiarkan melalui dunia maya karena bola. Perhelatan untuk menjadi bangsa bola yang diakui dunia di negara Brazil karena bola menjadi menu utama olah raganya. Salah satu kontestan pilpres juga memasukkan program dan rencana strategisnya tentang kegiatan bola. Bola menjadi pemantik semangat untuk menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain di dunia. Brazil telah membuktikan dirinya menjadi bangsa bola yang terkenal. Anak-anak di dunia menjadi gila bola. Pernik-pernik olah raga bola dicari banyak orang, mulai dari kaos sampai dengan berbagai macam asesoris lainnya. Saya pun jadi beli jaket Manchester City warna buru muda kesenanganku. Dunia benar-benar telah gila bola, gila untuk membela tim yang diidolakan. Bola memiliki makna “terus bergerak” dan “terus berjuang”. Menjadi bangsa bola artinya menjadi menjadi yang senantiasa bergerak dan berjuang untuk mencapai mimpi yang dicita-citakan, bukan bangsa yang memble, yang menyerah kalah sebelum berperang.
Hasilnya, Brazil memiliki tim sepak bola yang tangguh sebagai menjadi pemain berkaliber dunia. Benar sekali, lembaga internasional Goldman Sachs and McKinsey Institute telah meramalkan Brazil menjadi empat negara besar di dunia, yakni BRIC (Brazil, Rusia, India, dan Cina). Jika negara kita bisa bangkit menyusul ke empat negara besar tersebut, maka Indonesia juga harus mampu bersaing menjadi bangsa bola di dunia dan masuk menjadi the emerging market coutries, seperti Korea Selatan dan Turki (Aburizal Bakri (Kompas, 22 Februari 2014).

Sejarah bola

Dari Wikipedia, kita mengetahui sejarah bola. Pertandingan sepak bola internasional pertama dimainkan pada tahun 1872 di Glasgow antara Skotlandia dan Inggris, meskipun konon olahraga tersebut sebenarnya jarang dimainkan di luar Inggris.
Namun tahun 1900 olahraga telah memperoleh tanah di seluruh dunia dan asosiasi sepak bola nasional mualai didirikan. Pertandingan internasional resmi pertama di luar Inggris dimainkan antara Uruguay dan Argentina di Montevideo pada Juli 1902. FIFA didirikan di Paris pada 22 Mei 1904, terdiri dari asosiasi sepak bola dari Perancis, Belgia, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia dan Swiss, dengan Jerman yang berjanji untuk bergabung.
Seperti sepak bola yang mulai meningkat popularitasnya, hal ini diperebutkan IOC yang dikenal secara luas sebagai Olimpiade olahraga di 1900 dan Olimpiade Musim Panas 1904, serta di Olimpiade Interkala 1906, sebelum menjadi FIFA yang diawasi kompetisi resmi Olimpiade di Olimpiade Musim Panas 1908, diselenggarakan oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris, untuk pemain amatir saja dan dianggap sebagai acara biasa ketimbang kompetisi. Tim nasional sepak bola amatir Inggris memenangkan acara pada 1908 dan 1912.
Ada upaya yang dilakukan oleh FIFA untuk menyelenggarakan turnamen sepak bola internasional antara negara di luar Olimpiade pada tahun 1906 dan hal ini berlangsung di Swiss. Hari tersebut merupakan hari yang sangat awal untuk sepak bola internasional dan sejarah resmi FIFA menjelaskan kompetisi tersebut sebagai kompetisi yang telah gagal.
Bersama acara Olimpiade yang diperebutkan hanya antar tim amatir, kompetisi yang melibatkan tim profesional juga mulai muncul. Torneo Internazionale Stampa Sportiva, diselenggarakan di Torino, Italia pada tahun 1908, Sir Thomas Lipton merupakan salah satu yang pertama dan tahun berikutnya menyelenggarakan Trofi Sir Thomas Lipton, yang juga diadakan di Turin. Kedua turnamen itu diperebutkan antara klub masing-masing (dikecualikan untuk tim nasional), yang mewakili seluruh bangsa. Karena alasan ini, tak satu pun menjadi pelopor langsung Piala Dunia. Namun, Trofi Thomas Lipton terkadang digambarkan sebagai Piala Dunia Pertama,[5] dengan mengorbankan pendahulunya (Italia) yang kurang terkenal. Singkat kata bola telah mendunia. Dalam hal ini Brazil termasuk negara yang berhasil menjuarai pertandingan dunia, pada tahun 1959, 1962, 1970, 1994, 2002, dan kini pada tahun 2014 berusaha untuk merebutnya kembali dari tangan Spanyol pada tahun 2010 dengan menjadi tuan rumah perhelatan kelas dunia ini. Bravo Brazil.
Hidup seperti bola artinya hidup terus berputar seberti bumi yang senantiasa berputar pada porosnya. Hitup juga berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Dan dalam kompetisi, hal yang biasa, kadang menang, dan kadang juga kalah. Makna ini menjadi pegangan para pemain dan penyelenggara kompetisi sepak bola.
Pendidikan Menjadi Kunci Utama

Kalau nanti Indonesia telah mencapai usia satu abad pada tanggal 17 Agustus 2045 mendatang, kita menanti datangnya generasi emas, kita berharap agar dari 250 juta pendidik Indonesia, kita mampu melahirkan kesebelasan pemain sekaliber Brazil. Melalui proses yang panjang dan penuh tantangan, Indonesia pada saat ini telah melahirkan Garuda Muda. Semua itu amat tergantung pada upaya besar pendidikan. Tujuan pendidikan bukan hanya membangun ranah pengetahuan (kognitif), tetapi juga ranah sikap (afektif), dan ranah keterampilan (psikomotor). Dalam hal ini, sepak bola menjadi salah satu kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik. Brazil dikenal penghasil kopi terbesar di dunia. Anak-anak kelas 5 SD diminta untuk memiliki kompetensi memetik kopi, termasuk dalam kategori ranah keterampilan atau ranah psikomotor, sama dengan berbain bola.

Jika pada saat ini tim sepak bola kita masih sering kalah dengan negeri jiran Malaysia, dan juga masih juga sering kalah dengan Mianmar, semua itu dapat menjadi indikasi bahwa kecerdasan kinestetik kita memang masih rendah dari mereka. Untuk itu, pembangunan pendidikan di negeri ini memang harus lebih dipacu lagi.

Pada tanggal 30 Mei 2014 lalu, penulis melaksanakan kegiatan monev SPM (Standar Pelayanan Minimal) di SD Negeri Panda, SD Negeri Talabiu, SMP Negeri 3 Woha, dan SMP Negeri 3 Talibelo. Semuanya terletak di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Meski lapangan sekolahnya dan sekaligus lapangan sepak bolanya belum terurus secara memadai, dan lingkungan sekolah belum dijaga kerapian dan kebersihannya, di waktu istirahat para siswa banyak yang siang hari itu bermain sepak bola di siang hari. Mereka sebenarnya juga terkena imbas demam sepak bola di Brazil. Satu momentum yang sangat berarti untuk meningkatkan semangat siswa cinta belajar dan berlatih untuk masa depan. Ketika penulis menemui dan menanyakan kepada mereka “besok mau jadi apa?”, ternyata tidak satu pun yang berani mengemukakan cita-citanya itu. Ah tdak! Ini masa depan suram. Meski mereka masih berumur 10 – 12 tahunan, sebenarnya sudah harus mendapatkan motivasi untuk menatap masa depannya, termasuk kemungkinan menjadi pemain sepak bola sekelas Brazil dan negara-negara pecinta bola. Pendidikan sebenarnya harus menjadi wahana untuk mengetahui sejak dini potensi dan kemudian mengembangkannya. Wallahu alam.

Melalui tulisan ini, akhirnya kita diingatkan bahwa menuntut ilmu itu menjadi kewajiban setiap manusia. Nelson Mandela mengingatkan bahwa pendidikan adalah senjata terkuat untuk mengubah dunia. Mudah-mudahan.

Depok, 7 Juni 2014.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Budaya, Pendidikan

Ayo Menyanyi

Oleh: Suparlan *) Saya jadi ingat guru saya di SR (Sekolah Rakyat), namanya Paniran. Sayang, saya belum sempat…