ArtikelPendidikan

Melongok Empat Sekolah di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat

Oleh: Suparlan dan Ridwan Tanjung *)

***
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.
Pendidikan adalah senjata yang terkuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.
(Nelson Mandela).

Education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.
Pendidikan, oleh karena itu, adalah sebuah proses kehidupan dan bukan satu persiapan kehidupan di masa depan.
(John Dewey).

***
Pada tanggal 30 Mei 2014, saya dan Saudara Ridwan Tanjung telah memperoleh kesempatan melaksanakan tugas monitoring Standar Pelayanan Minimal (SPM) di empat sekolah, dua Sekolah Dasar dan dua Sekolah Menengah Pertama. Sekolah-sekolah yang kami kunjungi tersebut adalah SD Negeri Panda, SD Negeri Talabiu, SMP Negeri 3 Woha, dan SMP Negeri 3 Talibelo. Semuanya terletak di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Mengapa menggunakan kata melongok?. Apa maknanya? Saya melihat sekolah kebanyakan hanya dengan mengggunakan kepala ke obyek sekolah yang saya kunjungi. Bisa juga dengan istilah mengintip, karena kaya melihat ruang kelas, misalnya, dengan melihat ruang kelas dengan menempelkan sebelah mata melalui lubah jendelanya. Yah, begitulah maksudnya pengertian melongok dalam Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, sekecil apa pun, bagi upaya meningkatkan mutu pendidikan.

SD Negeri Panda

Kami dijemput oleh petugas dari Dinas Pendidikan di bandara, dan meluncur langsung tiba di Sekolah Dasar Negeri Panda sudah siang hari menjelang sore. Udara sedikit panas. Syukur kami diterima Kepala Sekolah SD Negeri Panda Ibu Nurlaila di halaman depan sekolah, di bawah pohon mangga yang rindang, dengan angin semilir sepoi-poi, kami sambil menikmati jagung rebus dan kelapa muda. Alhamdulillah. Saya suka proses konfirmasi data dengan cara ini. Sungguh, ini sangat manusiawi. Komunikasi terjadi sangat alamiah, apa adanya. Data memang perlu akurasi, karena data menjadi alat paling penting untuk membuat perencanaan yang baik. Terima kasih Ibu Nurlaila! Terima kasih air kelapa hijaunya.

Sambil mengkonfirmasi data dalam instrumen SPM, saya langsung saja melihat-lihat sekolah dari dekat — blusukan — istilahnya. Saya melongok-longok lingkungan sekolah, dari kelas ke kelas — meski sudah tidak ada proses pembelajaran karena sudah sore hari — dan ruang perpustakaan, dan ruang guru. Kami melihat dua ruang kelas di sebelah ruang kelas yang sudah difungsikan. Menurut Ibu kepala sekolah, dua ruang yang tidak berfungsi itu adalah bekas rumah penjaga sekolah. Saya pun melongok-longok ke belakang sekolah. Dari keadaan belakang sekolah tersebut, dapat dikatakan bahwa sekolah ini memang perlu meningkatkan budaya kebersihan. Memang ada tiga tempat sampah di bawah pohon mangga, tetapi tampak kurang fungsional. Yang penting, bukan adanya “trash bin” atau kotak sampah atau tempat untuk membuang sampah. Yang penting bukan hanya ada atau tidak adanya alat untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi adakah kebiasaan warga sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya. Itulah sebabnya membangun budaya kebersihan bagi warga sekolah. Jadi yang terpenting adalah “the man bihind the gun” atau manusia yang ada di belakang senjata (alat-nya).

Sayang, tidak cukup waktu yang leluasa untuk pengamatan secara lebih mendalam. Terakhir saya meihat dua bangunan musholla yang belum selesai. Sudah ada atap seng, dan pilar-pilar bangunannya. Ya, rencana bangunan itu pasti untuk musholla kecil, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa. Tetapi bangunan ini kelihatannya mandeg. Saya tanyakan kepada Ibu Kepala Seolah, itu dananya berasal dari pemerintah daerah, dua kali lima jutaan, dan sudah tiga tahun lalu, dan sekarang mandeg, karena dananya belum tahu lagi? Lalu kapan lagi bangunan itu selesai? Kapan lagi bangunan itu dapat digunakan? Kapan musholla itu selesai dibangun, dan segera dapat difungsikan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa? Jika ditanyakan kenapa tidak melibatkan peran serta masyarakat, pastilah jawabannya karena “sekolah gratis’ dan larangan Komite Sekolah untuk memungut uang kepada orang tua/wali peserta didik..

Setelah itu saya mekemudian melongok dua ruang yang sudah tidak digunakan. Kata Ibu Kepala Sekolah, itu bekas rumah penjaga sekolah. Kasihan saya melihatnya. Seperti dalam keadaan “hidup segan, mati tak hendak”. Maunya ada dan hidup, tapi keadaan memaksa mati. Kalau sekolah kita banyak yang begini? Apa mau dikata? Bukan salah bunda mengandung. Sekolah ini sagat memerlukan bantun RKB. Bukan hanya rehab, karena kondisinya tinggal menunggu ambruk saja.

Selepas observasi di SD Negeri Panda, kami pun menginap di hotel La’mbitu di tengah Kota Bima, tentu saja setelah makan dengan menu ikan laut yang lezat. Sambil nonton televisi dengan berita pencapresan Prabowo-Hatta yang bersaing ketat dengan Jokowi-Jusuf Kala, kami pun tertidur pulas sampai pagi untuk melanjutkan kegiatan di sekolah berikutnya.

SMP Negeri 3 Woha

Selanjutnya kami pergi ke SMP Negeri 3 Woha yang letaknya hapir dekat dengan garis pantai. Semua sekolah yang kami kunjungi lokasinya memang strategis, karena terletak di jalan raya Kabupaten Bima, termasuk SMP Negeri 3 ini. Pada awal tiba di sekolah ini, belum apa-apa, wakil kepala sekolah menyatakan bahwa sekolah ini terkena imbas air asin, yang oleh karena itu, sangat sulit untuk menanam pohom untuk kerindangan dan keindahan sekolah. Mungkin, beliau sudah merasakan adanya kekurangan dalam hal penghujauan sekolahnya (green school). Sekolah ini luas, karena itu lapangan di tengah-tengah sekolah ini dpat dimanfaatkan anak-anak untuk bermain sepak bola. Barangkali sekolah seperti ini dapat menjadi tempat menyemai bibit pemain sepak bola. Sayang lingkungan sekolah seperti kurang terawat, dan kurang memperoleh perhatian. Bekas-bekas pot bunga berikut ini telah berbicara sendiri bahwa dahulu pernah ada usaha untuk menjaga kebersihan dan keindahan sekolah, tetapi sekarang usaha itu sudah pupus tinggal sisa-sisanya, berupa pot-pot yang tidak terurus lagi.

Melongok beberapa sekolah dengan mata kepala sendiri di Kabupaten Bima, saya menjadi dapat membayangkan kondisi sekolah-sekolah di negeri tercinta ini tampaknya memang sudah banyak yang mulai “uzur” usianya. Banyak sekolah yang fasilitasnya mulai tua, dan oleh karena itu saya membayangkan perlu adanya program rehabilitasi massal. Tentu tidak semua sekolah di tanah air kondisinya seperti itu, terapi saya membayangkan jumlahnya pasti banyak. Itulah sebabnya pendataan SPM sudah termasuk pendataan tentang tingkat kerusakan gedung sekolah dan kondisi fasilitasnya. Kondisi SD Negeri Panda dapat menjadi contoh awal. Sekolah ini mempunyai dua ruang yang sudah tidak berfungsi, menunggu rehap atau sekalian diganti dengan pembangunan RKB (ruang kelas baru). Menurut penjelasan kepala sekolah, ruang yang tinggal menunggu roboh ini adalah bekas tempat tinggal penjaga sekolahnya. Kondisinya SD Negeri Talabiu tidak jauh berbeda dengan sekolah yang telah kami kunjungi sebelumnya.

SD Negeri Talabiu

Kami pun diantarkan oleh pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Bima ke SD Negeri Talabiu. Kondisi sekolah pun tidak jauh berbeda dengan SD Negeri Panda yang telah kami kunjungi sebelumnya. Kepala Sekolahnya kebatulan tidak berada di tempat berada di tempat karena pada saat yang sama ada rapat di Pemda untuk urusan SPM juga. Untuk konvirmasi data Pak Ridwan dilayani oleh Wakasek, dan saya pun tidak betah duduk di ruang, dan melihat-lihat kondisi sekolah. Saya menjumpai sekolah guru senior yang sejak tadi sibuk bekerja, tidak mempedulikan kedatangan kami. Saya tanya katanya sedang sibuk mempersiapkan panitia UAS (ulangan akhir semester). Saya tidak sempat menanyakan nama dan identitasnya secara lengkap. Tetapi guru senior ini menjelaskan bahwa beliau tinggal menuggu usia pensiun pada bulan Desember 2014 ini. Dari cerita keluh kesah sebelumnya, saya dapat menarik kesimpulan bahwa proses promosi kepala sekolah di banyak tempat di Kabupaten Bima ini tidak berjalan lancar. Banyak kepala sekolah yang walaupun sudah mengikuti pelatihan CAKEP (calon kepala sekolah) ternyata juga masih berstatus PLT (pelaksana tugas). Ini merupakan dampak pengaruh pilkada langsung di daerah. Oleh karena beberapa sekolah masih mempunyai kepala sekolah yang masih PLT, maka yang menandatangani ijazah terpaksa adalah kepala dinasnya. Harus begitu lamakah penggantian kepala sekolah harus dilakukan? Padahal penggantian kepala sekolah sudah harus dilakukan ketika masa baktinya sudah empat tahun.

SMP Negeri 3 Talibelo

Terakhir, kami menuju SMP Negeri 3 Talibelo. Kepala Sekolahnya Bapak Sudarmin, yang sudah menjadi kepala sekolah sejak sekolah ini didirikan pada tahun 2008. Sudah 6 (enam) tahun beliau mengembang amanah sebagai kepala sekolah. Itulah sebabnya kepala sekolah ini memiliki kepedulian yang sangat tinggi untuk menjaga kualitas sekolahnya. Pintu dan jendela gedung sekolahnya terbuat dari jati. Beliau siap dengan cat yang sewaktu-waktu tembok sekolahnya lecet terkena apa. Cat itu di taruh di ruang kepala sekolah, dan siap digunakan. Di ruang tamu ada rak untuk menaruh busana tari atau model, karena para siswanya sering dimintai bantuan untuk tampil menari dalam acara peringatan atau resepsi yang diadakan oleh masyarakat. Biaya yang diperoleh separuh diberikan kepada anak-anak — untuk beli baksolah katanya — dan separuhnya untuk kepentingan sekolah. Lumayan kreatiflah kepala sekolah ini. Bahkan, untuk dapat bersaing dalam hal penerimaan siswa baru, sekolah ini telah mengusahakan angkutan siswa dari rumah sampai sekolah. Apa kendaraan yang digunakan? Pick-up! Ketika kami pamitan pulang, pikup itu telah siap menunggu di depan sekolah. Tidak sama dengan sekolah yang sebelumnya, kepala sekolah yang bersemangat tinggi mengelola sekolah ini dengan bangga menunjukkan sekolahnya rimbun dengan tanaman dan pepohonan yang ditanamnya sendiri, tentu dengan guru-guru yang membantunya.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa sekolah ini belum mempunyai ruang laboratorium, tetapi sudah memiliki peralatannya. Oleh karena itu peralatan lab tersebut masih disimpannya dengan rapi, jika suatu saat nanti sekolah ini telah memperoleh bantuan. Beliau dan para guru menunjukkan ruang perpustakaan yang baru satu bulan dirapikan, buku-bukunya baru diklasifikasikan — tapi belum menggunakan call number —, ya lumayan daripada tidak diurus sama sekali. Sudah dibuatkan buku induk perpustakaan, yang mencatat semua buku, mulai judul buku, siapa pengarangnya, tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit, serta dari mana buku-buku itu diperoleh. Sudah rapi, dan bahkan buku peminjaman pun sudah dibuatkan. Ketika petuguas menanyakan apakah boleh buku dipinjam untuk dibawa pulang, dan apakah boleh diadakan denda kalau ada pelanggaran dalam peminjaman, saya langsung menjadi “boleh”. Itu tergantung pada tata tertib yang dibuat bersama oleh pustakawan bersama dewan guru. Saya menyarankan perlu ada ketentuan minimal membaca buku dalam satu tahun pelajaran, untuk meningkatkan budaya literasi di dunia pendidikan kita. Pustakawan ini mengiayakan. Namun, hal itu perlu dimulai oleh guru mata pelajaran dan didukung oleh kepala sekolahnya.

Saya melihat banyak anak-anak bermain sepak bola dengan ceria di lapangan sekolah saat waktu istirahat. Saya teringat konsep/teori SEKOLAH EFEKTIF dari California Center for Effective School. Beberapa pilar sekolah efektif dari tujuh pilarnya adalah adanya strong leadership atau kepemimpinan yang kuat, dan high expectation of the teacher dan students atau harapan yang tinggi dari guru dan para siswanya untuk meningkatkan prestasi belajar atau hasil belajar siswa. Saya melihat dua pilar ini dimiliki SMP Negeri 3 Talibelo.

Akhir Kegiatan Blusukan

Demikianlah hasil melongok kodisi secara sekilas empat sekolah yang kami datangi. Dari empat sekolah tersesbut, ada satu sekolah yakni SMP Negeri 3 Talibelo, meski ruang laboratorium IPA-nya belum punya, beliau memiliki kepedulian yang sangat tinggi untuk menjadi kualitas gedung sekolah. Mungkin juga untuk mempersiapkan akreditasi, maka sekolah ini mulai giat menata diri, misalnya mengelola perpustakaannya. Sama dengan rencana musholla di SD Negeri Panda yang juga masih belum selesai dan rencana musholla di SD Negeri Panda belum dapat dipastikan kapan akan diselesaikan, tetapi rencana musholla di SMP Negeri 3 Talibelo, kepala sekolahnya yakin akan dapat menyelesaikannya dengan melibatkan peran Komite Sekolahnya.

Secara keseluruhan, sekolah-sekolah tersebut memerlukan perhatian dan bahkan juga bantuan pengadaan fasilitas sekolah yang memadai, baik dari Pemerintah maupun pemerintah daerah. Anak-anak yang bermain ceria di lapangan sekolah memerlukan motivasi agar mereka kelak akan menjadi warga negara yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara. Anak-anak masa kini adalah calon pemimpin masa depan. Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Demikian pesan Nelson Mandela. Pendidikan adalah senjata yang terkuat yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia. Demikianlah hasil monitoring SPM yang dapat kami sampaikan. Kalempo ade (Bahasa Bima yang artinya mohon maaf).

*) Petugas monitoring SPM.
Kota Bima, Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.