ArtikelLingkungan Hidup

Musim Penghujan dan Banjir

Oleh Suparlan *)

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau mengupahnya
(Hadis)

Teknologi lubang serapan biopori diawali dengan pembuatan lubang sedalam 80 cm dan diameter 10 cm. Langkah selanjutnya memasukkan sampah lapuk dua hingga tiga kilogram, tergantung jenis sampah, ke dalam lubang tersebut
(Ir. Kamir R. Brata, MS, ahli ilmu tanah di Institut Pertanian Bogor)

Sore itu awan cumulonimbus bergelayut di langit. Cuaca gelap. Sebentar lagi mungkin hujan akan segera turun. Ternyata benar. Air hujan seperti dicurahkan dari langit. Petir berpendar-pendar di awan. Guntur bergemuruh memekakkan telinga. Angin berhembus kencang sekali mengoyang-goyang pepohonan. Malah di beberapa tempat pohon-pohon di tepi jalan telah bertumbangan. Air hujan mengalir deras ke jalanan. Dari jalanan ke parit sempit. Dari parit yang sempit menuju parit yang lebih lebar. Akhirnya semuanya menjadi air coklat yang mengalir ke sungai. Air sungai pun menjadi bah yang begitu deras meluap menerjang rumah-rumah di bantaran sungai. Tanah longsor menyumbat parit dan sungai. Di tambah dengan berbagai macam sampah bercampur lumpur menjadi banjir bandang demikian besar. Sawah, ladang, pabrik, sekolah, rumah, dan semuanya tergenang banjir bandang tiba-tiba datang tak diundang itu. Jiwa dan harta pun terancam. Penduduk pun mengungsi hanya dengan apa yang bias dibawa. Itulah kisah duka yang seringkali terjadi ketika musim penghujan tiba.

Kisah pedih itu seakan telah menjadi menu tahunan yang harus dialami oleh banyak orang, tidak terkecuali, khususnya rakyat miskin. Seorang teman bercerita, banjir tahun ini lebih besar dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Banjir tahun kemarin lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Teman itu menceritakan keada penulis bahwa banjir tahun lalu telah menyebabkan mobil boksnya terendam banjir sampai sebulan. Bahkan kasur di rumahnya telah dibawa banjir menjadi seperti perahu karet yang meluncur di sungai.

“Seberapa tinggi banjirnya?”, tanya penulis.

“Oh semata kaki”, jawabnya ringan.

“Hanya semata kaki saja?”, jawab penulis kepadanya.

“Ya, semata kaki, tapi itu di lantai dua”, jawabnya sambil meringis.

Penulis pun terkekeh-kekeh dibuatnya. Penulis pun menjadi heran, di tengah-tengah keprihatinan gara-gara bajir, orang Indonesia masih dapat membuat lelucon. Bahkan masalah yang berat sekalipun di negeri ini masih dapat dibuat seakan-akan masih berupa mimpi.

Kurang apa

Itulah sekedar anekdot di sela-sela kisah pedih karena banjir. Setiap tahun, kisah pedih itu berulang dan berulang lagi. Mengapa pengalaman itu tidak menjadikan sebagai guru yang terbaik? Mengapa pengalaman pedih itu tidak menjadikan kita lebih cerdas? Bukankah hanya seekor keledai yang melakukan kesalahan yang sama, menerima pengalaman yang sama? Apa kekurangannya?

Pertama, kekurangan dalam bidang pendidikan. Sejak kita belajar geografi di SMP, guru kita telah menyampaikan pelajaran bahwa negara Indonesia yang beriklim tropis ini mempunyai dua musim. Kedua musim itu berlangsung silih berganti dalam satu tahun. Angin musim barat telah membawa titik-titik air dan menurunkannya sebagai hujan di banyak kawasan barat Indonesia. Sementara angin musim timur tidak banyak membawa hujan, karena berasal dari Benua Australia yang kering. Akibatnya terjadilah musim kemarau. Musim penghujan terjadi mulai Oktober sampai April. Sementara April sampai Oktober berlaku musim kemarau. Di antara kedua musim ini terdapat musim pancaroba, dengan angin yang berubah-ubah arah. Sayang seribu saying, materi pelajaran yang sangat penting ini kebanyakan hanya disampaikan pada tingkat kognitif. Sedikit sampai ke tingkat afektif, dan sangat jarang sampai tingkat psikomotorik.

Materi pembelajaran itu sebenarnya merupakan bekal pengetahuan yang sangat penting untuk kehidupan. Dengan bekal pengetahuan itu, masyarakat telah mengetahui bahwa pada pada Bulan Oktober sampai dengan Bukan April daerah Indonesia kebanyakan akan mengalami musim penghujan. Tidak jarang juga diikuti bencana alam banjir dan tanah longsor yang menelan korban jiwa dan harta benda, sebagaimana telah diceritakan pada awal tulisan ini. Pengetahuan ini telah kita miliki sejak lama sekali. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa pengetahuan itu masih sampai pada tingkat pengetahuan belaka. Tidak beranjak kepada tingkat pembentukan kesadaran. Tidak sampai pada tingkat yang lebih tinggi, yakni penerapan. Mengapa? Proses pembelajaran kita kebanyakan memang masih terbatas dalam aspek kognitif, jarang sampai ke aspek afektif, dan psikomotorik. Apa itu hujan, bagaimana terjadinya hujan, kapan terjadinya musim penghujan, apa dampak negatif yang ditimbulkan dari hujan, semuanya memang hanya sekadar menjadi pengetahuuan. Mengapa pula? Metode dan strategi pembelajaran di sekolah kita memang sama sekali belum beranjak dari ceramah ke ceramah. Contextual teaching and learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual memang belum banyak digunakan. Akibatnya, hasil belajar kita kaya dengan teori dan konsep, tetapi masih miskin dengan praktik dan pemecahan masalah. Dan itulah dampak nyata yang kita dapatkan. Hasil belajar kita belum menjadi pengalaman yang mencerdaskan.

Kedua, program pembangunan kita masih lebih banyak berorientasi kepada pemecahan masalah yang bersifat kuratif, bukan preventif. Pengadaan perahu karpet untuk menolong para korban banjir adalah salah satu contoh program yang sifatnya kuratif. Latihan dan upacara gladi resik tentang penggunaan perahu karet pun masih bersifat kuratif. Apakah program ini tidak penting? Tentu saja penting. Tetapi ada yang lebih penting. Misalnya, program nasional biopori, yaitu pembuatan lubang penyerapan hasil karya teknologi bangsa sendiri, Ir. Kamir R. Brata, MS, ahli ilmu tanah dari Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah, kantor Depdiknas Jakarta telah memulai membuat biopori di beberapa lokasi. Akan lebih bergema jika program itu dimulai dari Istana Presiden, kemudian diiukuti oleh seluruh gubernur, seluruh bupati/walikota, seluruh camat, sampai dengan seluruh lurah dan kepala desa. Program yang bersifat preventif lainnya perlu banyak digagas di dirumuskan dalam rencana strategis pembanguan lingkungan hidup. Penanaman sejuta pohon, sebagai contoh, merupakan program pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian, lomba lingkungan hidup untuk memperoleh kalpataru, sebagai contoh yang lain, perlu dinilai program-program yang tidak bersifat make up semata-mata. Bukan hanya membuat pot-pot yang dipasang di separasi jalan, tetapi setelah penilaian selesai, pot-pot tanaman itu pun kemudian hilang entah kemana. Sementara itu hutan kotanya sudah tidak terusus lagi. Pembangunan perumahan telah menghabiskan danau atau situ atau tempat peresapan air hujan. Pembalakan hutan, sistem pembakaran hutan untuk perkebunan, pembangunan perumahan di daerah aliran sungai (DAS), juga pembangunan rumah oleh masyarakat di kawasan bantaran sungai, illegal loging yang tidak pernah tuntas dan pelakunya bebas dari tuntutan pengadilan, penggundulan hutan, dan masih banyak contoh yang lain yang semua itu sama sekali tidak berwawasan lingkungan. Musim penghujan pun akan tetap menjadi sumber bencana yang tidak pernah selesai.

Akhir Kata

Benar. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau mengubahkan. Tuhan akan akan mengubah nasib sebagai bangsa yang tidak lepas dari bencana banjir di musim penghujan, jika bangsa itu sendiri tidak akan mengubahnya. Mencegah banjir akan lebih baik dengan mengatasi banjir di musim penghujan. Maaf kawan. Musim penghujan dan banjir dalam tulisan ini adalah kenyataan dalam kehidupan kita. Bukan hanya sekedar olok-olokan. Kita tidak bisa lari dari masalah itu. Kita harus berani menghadapinya, dengan kerja keras, lebih banyak secara pencegahannya, meski tidak melupakan aspek pengobatannya.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, November 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *