ArtikelBudayaPendidikan

Dari Semarang ke Tegal

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Salah satu hal yang konstan terjadi dalam kehidupan adalah perubahan
(Franqois de la Rochefoucauld, 1613 – 1680, penulis klasik Perancis)

Kita harus berani menghadapi realitas dan kesalahan di masa lalu dengan kejujuran, sehingga menjadi jalan untuk teretasnya sebuah kedewasaan
(Raja Hussein, Pemimpin Yordania)

Kota dan kabupaten ini memang sudah pernah saya kunjungi. Tetapi belum sekali pun saya tulis. Bukan karena tidak ada yang menarik untuk ditulis. Bukan. Tetapi semata-mata karena masih belum ada keinginan saja. Itu saja. Biarlah. Itu masa lalu. Tetapi sekarang keingingan muncul. Seiring bertambah besarnya keinginan untuk menulis. Apa saja.

Pada siang hari saya dan Ibu Romlah dari Direktorat Pembinaan TK dan SD, Ditektorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah saya telah sampai ke Simpang lima. Itulah landmark Kota Semarang, yang memang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Hotel Santika di tengah Kota Semarang memang mewah. Itulah tempat workshop WDD Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP) yang harus saya hadiri. Dari lubuk yang paling dalam, saya melihat kontradiktif dalam hal ini. Pendidikan dasar yang masih menyisakan banyak masalah, misalnya gedung sekolah yang roboh, dibahas di hotel yang mewah. Sementara dana yang digunakan adalah dana hibah dari negara tetangga Australia. Ya begitulah, saya, penyelenggara, dan peserta workhop hanya ibarat wayang yang dimainkan oleh penentu kebijakan. Perdiem yang diberikan untuk semua fasilitator seperti saya, panitia penyelenggara yang diberikan kepada PC (provincial coordinator), dan peserta pun sama. Itulah setidaknya yang telah disampaikan oleh PC kepada saya selaku fasilitator. Itulah kondisinya. Sekali lagi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kita semua sekali lagi adalah ibarat wayang yang dimainkan oleh penentu kebijakan. OK-lah. Ini terlalu masuk dunia kebijakan. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mepaparkan telah substansi yang menjadi bahagian saya.

Titik Kritis Manajemen Kita

Materi yang harus saya sampaikan dalam kegiatan workshop WDD-AIBEP adalah tentang  monitoring dan evaluasi. (MONEV).  Bahan paparan sebenarnya sudah disiapkan. PC pun sudah memulainya dengan pengantar umum. Saya segera diminta untuk menyampaikan paparan tentang MONEV itu. Produk kegiatan workshop ini adalah draft panduan dan instrumen MONEV dari masing-masing kabupaten/kota peserta workshop.

Apakah pada masa lalu MONEV tidak dilakukan? Apakah instrumennya tidak pernah disusun? Tentu saya semuanya dilakukan. Bahkan telah dilaksanakan. Tetapi, biasanya panduan dan instrumennya disiapkan oleh pejabat yang memang mempunyai tupoksi tentang kegiatan MONEV. Termasuk juga laporannya berupa LAKIP. Itu saya bedanya. Dalam workshop ini, panduan MONEV dan instrumennya harus disusun dan diibahas oleh stakeholders (para pemangku kepentingan pendidikan) di kabupaten/kota, yakni Bappeda, DPRD, Dinas Pendidikan, Depag, dan Dewan Pendidikan. Inilah sasaran ideal yang ingin dicapai. Semua pemangku kepentingan harus dilibatkan dalam semua fungsi manajemen, mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasan, yang termasuk di dalamnya adalah MONEV.

Dalam sesi paparan ini, saya mencoba mengemukakan tentang titik kritis manajemen kita, yakni lemahnya akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kebetulan pada hari itu saya membaca koran tentang keluhan BPK terhadap LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat). Ternyata, selama tiga tahun ini laporan pemerintah berupa LKPP itu ternyata selalu mendapat nilai rapor yang merah yang dikenal dengan discalimer. Weleh-weleh, rupanya begitu, Tentu saya sebagai intruduksi, laporan itu saya sampaikan kepada peserta. Dan semua peserta ternyata juga mengiakan.

Ketika saya ikut studi banding ke Australia untuk melihat beberapa sekolah di Australia Barat, khusuanya di Gibbs Street Primary School. Kalau di Indonesia mungkin dapat dianalogikan dengan SD Panglima Sudirman, begitu. Terus tentang saya mengagumi sistem akuntabilitas Kepala Sekolah dan Komite Sekolahnya. Setiap tahun ajaran, Kepala Sekolah dan Komite Sekolah membuat leaflet tentang apa saja yang telah dikerjakan selama setahun itu, dan dari mana saja anggaran yang diperolehnya. Sekali lagi, weleh-weleh. Dari unit terkecil satuan pendidikan di Australia kita telah dapat memperolah contoh akuntabilitas penyelenggaraan pendidikannya. Mengapa di negeri ini membuat laporan saja masih harus memperoleh nilai merah disclaimer.  Itulah sebabnya saya terpaksa menyampaikan bahwa materi workshop ini merupakan titik kritis dalam manajemen di republik ini, agar peserta memahami bahwa apa yang mereka kerjakan merupakan substansi yang sungguh sangat penting. Bahkan saya menegaskan bahwa seluruh fungsi manajemen pendidikan kita memang dalam kondisi titik kritis tersebut, Saya menjelaskan empat fungsi manajemen yang dikenal dengan POAC (planning, organizing, actuating, controlling). Oleh karena itu, terus terang saya m.enghargai AIBEB telah membuka mata kita semua tentang pentingnya pelaksanaan workshop WDD, dengan ser A sampai dengan E-nya, mulai dari (1) legislasi, (2) renstra, (3) rencana tahunan, (4) penganggaran, dan (5) monev. Workshop WDD telah sampai ke putaran terakhir, yakni seri E dengan materi tentang MONEV.

Saya melihat kelima materi itu tidak akan mudah ditanamkan kepada benak para peserta. Karena sebenarnya pemaparan materi itu sesungguhnya bukan terletak pada materinya semata-mata, tetapi lebih terletak pada perubahan mindset para pesertanya, dan perubahan sistem manajemen pemerintahan yang selama ini telah kita laksanakan. Selama mindset dan perilaku manajemennya tidak berubah, maka selama itu pula maka pemahaman materi itu hanyalah merupakan pemahaman materi yang mati. Setelah program AIBEP ini hanya akan mengalami nasib yang sama dengan program-program yang lain, yakni tidak ada kesinambungannya. Habis program akan habis pulalah riwayatnya. Memang susah untuk berubah. Apalagi perubahan mindset. Padahal, salah satu hal yang konstan terjadi dalam kehidupan adalah perubahan (Franqois de la Rochefoucauld, 1613 – 1680, penulis klasik Perancis). Untuk ini ”Kita harus berani menghadapi realitas dan kesalahan di masa lalu dengan kejujuran, sehingga menjadi jalan untuk teretasnya sebuah kedewasaan (Raja Hussein, Pemimpin Yordania).

Pelaksanaan MONEV memang sudah sering dilakukan. Malah dalam setiap kegiatan selalu akan ada kegiatan MONEV-nya. Bahkan kegiatan ini dapat disebut sebagai kegiatan yang banyak membawa ”berkah pemerataan” bagi para petugas MONEV. Namun demikian, penyusunan panduan dan instrumen MONEV memang tidak dilakukan oleh semua stakeholder, atau setidaknya meminta saran dan masukan dari stakeholder tersebut. Yang biasanya tidak atau kurang mendapatkan perhatian adalah pengolahan hasil MONEV, dan yang tidak digunakan adalah penggunaan hasil MONEV untuk penyusunan perencanaan berikutnya. Ini dia titik kritis fungsi MONEV kita.

Setelah selesai kegiatan workshop WDD-AIBEP di Semarang, saya bersama Ibu Romlah meneruskan perjalanan ke Kabupaten Tegal untuk mengikuti kegiatan WSD-AIBEP Seri E. Ceritanya lain lagi.

Kebangkitan MTs?

Peserta workshop WSD-AIBEP di Kabupaten Tegal diikuti oleh 7 (tujuh) MTs swasta di 3 (tiga) kabupaten, yakni Kabupaten Jepara, Kebupaten Brebes, dan Kabupaten Kebumen. Tak ayal lagi, suasana kehidupan pesantren menjadi sangat kental. Beberapa peserta terlihat menggunakan sarung dalam kegiatan tersebut. Salah satu pesertanya memang adalah pemilik yayasan, yang nota bene adalah pemimpin pesantren di tiga kabupaten tersebut.

Salah satu yang menarik dari kegiatan WSD-AIBEP bagi 7 (tujuh) MTs tersebut adalah acara kunjungan ke MTs Negeri Model Kabupaten Brebes. Kegiatan kunjungan tersebut adalah (1) praktik mengajar dengan pendekatan PAKEM atau CTL (contextual teaching and learning), (2) wawancara dengan kepala sekolah tentang pelaksanaan MBS, (3) wawancara dengan ketua Komite Sekolah tentang pelaksanaan PSM, dan kegiatan kunjungan ke beberapa fasilitas di sekolah itu.

Peserta diterima secara resmi dengan acara sebagai berikut. Acara pertama adalah atraksi band MTs yang melantunkan dua lagu religi “Tombo Ati” dan “Tuhan” yang dinyanyikan oleh siswa MTs. Lumayan, peserta workshop menjadi sedikit rileks setelah hari-hari workshop yang melelahkan. Setelah itu, acara berikutnya adalah pidato selamat datang dari Kepala Sekolah MTs. Lalu, acara yang tidak kalah menariknya adalah pidato dalam Bahasa Arab dari seorang siswa yang duduk di kelas excellent atau mumtaz. Terus terang saya tidak dapat menangkap sama sekali isi yang dipidatokan. Konon, judul pidato yang disampiakan oleh siswa MTs itu adalah ”Madrasatul Ula” atau Pendidikan Pertama. Satu judul yang sangat penting. Acara berikutnya adalah ”Story Telling” dalam Bahasa Inggris bertajuk ”The Island of Virgin” yang disajikan dengan amat apik oleh seorang siswi MTs.

Dalam pidato yang saya sampaikan sebagai wakil dari National Trainer (NT) antara lain menyinggung pentingnya acara kunjungan seperti ini sebagai pengalaman belajar nyata bagi para peserta workshop. Sungguh kegiatan ini merupakan momen yang sangat besar artinya bagi peningkatan pemahaman dan pengetahuan telah upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya masing-masing. Saya juga menyinggung tentang kehebatan dua penampilan pidato dalam Bahasa Arab dan Story Telling dalam Bahasa Inggris. Sayang, story telling itu diambil dari cerita dari dunia Barat. Akan sangat bagus jika yang disampaikan adalah story telling itu adalah tentang kehidupan para nabi.

Setidaknya, kedua penampilan yang disampaikan oleh siswa MTs ini telah memberikan gambaran tentang kebangkitan MTs. MTs tidak dapat lagi menyandang atribut sebagai sekolah kelas dua. Saya memberikan acungan jempol kepada sekolah ini. Tentu saja, lahir pula rasa bangga dari para orangua siswa terhadap usaha keras sekolah dan komite sekolah tang telah melakukan perubahan. Sekali lagi, MTs memang sudah saatnya untuk mau berubah dari paradigma lama yang serba lamban menjadi paradigma baru yang lebih aktif dan proaktif dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ingat. Salah satu hal yang konstan terjadi dalam kehidupan adalah perubahan (Franqois de la Rochefoucauld, 1613 – 1680, penulis klasik Perancis).

Refleksi

Banyak pengalaman, banyak kesan yang diperoleh. Termasuk kesan mendalam tentang semakin derasnya arus perubahan di MTs. Banyak dana dan fasilitas yang diberikan kepada madrasah ini. Setidaknya, dana IDB telah diberikan untuk membangun MTs ini dengan gedung bertingkat. Tentu saja dana APBN tidak sedikit yang diberikan kepadanya. Untuk itu, peran serta sekolah untuk mengisi kegiatan sekolah dengan kegiatan yang inovatif dan kreatif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selamat berjuang kawan-kawan pegiat pendidikan!!

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. National Trainer Workshop WDD dan WSD-AIBEP.

Depok, 9 Juni 2008

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Puisi

Syair Untuk Guru

Oleh: Dewan Pendidikan Kota Tebing Tinggi   Kalau hendak ke padang datar Jangan lupa bawa tembikar Kalau hendak…