ArtikelLingkungan Hidup

Hujan dan Hutan

Oleh Suparlan *)

Saya instruksikan mulai sekarang, ke depan jangan obral memberikan izin pengelolaan hutan
(Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jumpa pers di Puri Cikeas, Bogor,
28 November 2007)

Jadikan hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia, cegah kebakaran hutan, berantas pencurian kayu dan illegal loging
(MS. Kaban, Menteri Kehutanan)

Alam tidak pernah bercanda. Alam selalu menunjukkan kebenaran. Alam selalu serius, selalu tegas. Alam selalu benar, dan kesalahan-kesalahan serta kelaian-kelalaian yang ada pastilah ulah manusia
(Johann Wolfgang von Goethe)

Musim penghujan sudah berjalan sekitar dua bulanan. Meski kelihatannya tidak sebesar tahun yang lalu, beberapa daerah sudah kebanjiran. Daerah Aceh, Sulawesi Selatan, dan sudah tentu termasuk Jakarta sudah mulai terkena banjir. Sudah tentu kita semua tetap harus waspada dan berjaga-jaga, karena bencana alam memang sering datang tiba-tiba.

Angin puting beliung telah berhasil memporakporandakan gedung sekolah, rumah, dan pepohonan. Banjir bandang telah membawa korban harta dan bahkan nyawa manusia. Tanah longsor telah membuat rumah terhempas, dan jalur lalu lintas terputus total. Benar, kata Goethe, yang menyatakan dengan tegas bahwa ”alam tidak pernah bercanda. Alam selalu menunjukkan kebenaran. Alam selalu serius, selalu tegas. Alam selalu benar, dan kesalahan-kesalahan serta kelaian-kelalaian yang ada pastilah ulah manusia”. Bahkan Al Quran, jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa kerusakan alam yang terjadi di darat, dan di laut, sesungguhnya merupakan akibat dari tangan-tangan manusia.

Persamaan Hutan Dengan Rambut

Hutan ibarat rambut di kepala kita. Jika kepala kita gundul, maka air akan cepat menjadi kering, dan mengalir menjadi limbah. Jika kepala kita lebat rambutnya, maka air masih tersimpan di kepala kita. Itulah contoh yang digunakan guru dalam memberikan pelajaran tentang hujan dan hutan. Sangat sederhana. Contoh ini diberikan oleh Pak Paniran, guru kelas V Sekolah Rakyat (SR) Negeri Tawing I, Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek.

Rupanya baru penulis sadari bahwa beliau sesunguhnya telah menggunakan strategi pembelajaran yang dikenal dengan CTL atau contextual teaching and learning. Strategi pembelajaran ini meminta kepada guru agar materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa harus menggunakan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar. Istilah strategi itu memang belum ada pada saat itu. Sungguh sangat luar biasa. Pak Paniran telah menggunakannya dalam proses pembelajaran. Pak guru ini memberikan contoh-contoh kongkrit tentang banyaknya gunung yang telah gundul di desa, atau di daerah kabupaten kita. Pak Paniran memberikan contoh bahwa dari puncak Gunung Plaosan dahulu masih terlihat jelas adanya air terjun. Setelah Perhutani memberi izin kepada penduduk untuk membabat hutan untuk ditanami palawija, maka perubahan begitu cepat terjadi. Air terjun itu tidak lagi tampak batang hidungnya. Pak Paniran telah memberikan perumpamaan yang sangat  logis, bahwa kalau ibarat gunung itu kepala kita, maka hutan itu adalah rambut kepala. Oleh karena itu, jika hujan yang turun dari langit jangan sampai segera hilang lepas menjadi banjir, maka cara yang paling efektif adalah menjaga gunung kita jangan sampai gundul. Gunung kita akan kehilangan salah satu mahkotanya yang terindah, jika hutannya, karena dibabat sampai gundul. Bahkan gunung akan kehilangan kawan setianya berupa vaunanya. Dalam hal ini, penulis masih dapat merasa bangga jika hutan di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata masih menyimpan satwa rusa yang sampai saat ini masih dapat menyediakan menu sate rusa jika kita sedang berwisata ke daerah itu. Dengan demikian, kita masih bisa berburu rusa, dan menikmati lezatnya daging rusa liar dari hutan belantara di Kabupaten Lembata. Oiiii, nikmatnya.

Tapi sayangnya proses pembelajaran pada saat ini berhenti pada tataran pengetahuan (kognitif). Tidak sampai pada tataran sikap (afektif) dan perbuatan (psikomotorik). Guru seharusnya meminta siswanya untuk membuat percontohan tentang penanaman hutan (reboisasi). Seharusnya setiap sekolah memiliki taman dan bahkan kebun sekolah. Setiap kelas memiliki tanggung jawab untuk menanam dan memelihara taman dengan tanamannya. Taman dan kebun sekolah akan menjadi laboratorium hidup bagi sekolah. Kebun sekolah SMK Negeri Slawi memiliki berbagai jenis bunga yang sekarang sedang booming, seperti anthurium, gelombang cinta, adenia, black cardinal, dan sebagainya. Tidak disangka, sekolah kejuruan pertanian ini telah mengembangkan berbagai jenis tanaman bunga yang sedang banyak dicari orang. Respek terhadap berbagai tanaman terbentuk di jiwa dan benak peserta didik. Kegiatan itu menjadi salah satu dari berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan di sekolah. Pakar pendidikan UNJ, Arief Rachman menegaskan bahwa ”seharusnya di setiap sekolah digalakkan program ekstrakurikuler, jadi baik emosi maupun minat tersalurkan” (Sindo, 30 N0vember 2007).

Bahaya Hujan Tanpa Hutan

Banyak dua bencana telah melanda negeri ini ketika musim penghujan tiba, sementara hutan kita banyak yang sudah hilang.

Pertama, banjir bandang. Banjir bandang telah menerjang banyak daerah. Bukan hanya daerah yang selama ini telah lama menjadi langganan. Daerah-daerah potensial banjir bandang tiba-tiba diterjang banjir bandang. Tiba-tiba saja hujan seperti dicurahkan dari langit. Jika hujan deras telah terjadi dalam waktu yang lama, maka air hujan akan mengalir ke parit-parit di depan rumah kita. Ketika parit kita telah penuh dengan sampah, maka air pun melimpah ke jalan-jalan. Kawasan perumahan akhirnya tergenang dengan air yang telah melimpah ruah. Apabila di daerah hulu sungai juga mengalami hujan yang sama lebatnya, maka luapan banjir dari sungai juga melimpah ke kawasan-kawasan sekitarnya. Banjir telah menimbulkan rentetan bahaya yang lebih besar. Pohon tumbang, listrik putus, sawah gagal panen, kemacetan lalu lintas terjadi di mana-mana, gedung sekolah tergenang banjir, pabrik berhenti beroperasi, dan masih banyak rentetan akibat bencana yang lainnya. Singkat kata, banjir telah mengakibatkan harta dan bahkan nyawa terancam hilang.

Kedua, tanah longsor. Bahaya banjir di suatu daerah biasanya terkait dengan bahaya tanah longsor di daerah yang sama atau di daerah yang lain, di daerah hulu sungat, atau di kawasan lereng gunung yang telah gundul.

Kabupaten Trenggalek telah membuat heboh karena banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di kawasan Bendungan. Sedimentasi telah lama mendangkalkan satu-satunya Waduk Bagong di kawasan itu. Maka banjir bandang telah menerjang dan meludeskan semuanya. Sayang bencana ini hanya direspon secara mistis, tidak rasionalistis. Potong kerbau di Waduk Bagong, dan kepalanya diperebutkan para pemudanya. Akan selesai dan berhentikah bencana banjir dan tanah longsor di daerah ini? Kita lihat nanti buktinya.

Kota Jakarta telah menjadi sorotan media massa secara luas karena banjir di tahun lalu. Banjir kiriman bertemu dengan banjir pasang. Akibatnya bahkan lebih dahsyat. Air pasang naik ke rumah-rumah di pinggir pantai setinggi satu setengah meter. Air mengalir begitu deras. Meski telah beberapa kali dilakukan simulasi untuk evakuasi, perahu karet datang terlambat. Yang sibuk sudah pasti para penjaga pintu air di kawasan ibukota. Dilema pun pernah terjadi. Dibuka pintu air istana tergenang, tidak dibuka rakyat harus berenang. Susah juga kalau sudah demikian.

Dampak banjir dan tanah longsor di musim penghujan memang memang sudah pasti sebagai bencana alam, walau bencana itu sebenarnya berasal dari ulah manusia. Bencana lanjutan yang lebih besar bisa terjadi. Dari masalah penggundulan hutan menjadi masalah sosial ekonomi. Dari masalah yang penggundulan hutan menjadi masalah-masalah yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia, kesehatan, pendidikan, perhubungan, dan bahkan masalah ketertiban dan keamanan.

Hutan

Kita telah mengetahui bahwa gunung-gunung kita telah lama kehilangan hutan. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa program harus menjadi perhatian kita semua.

Pertama, kita harus menghidupkan kembali program reboisasi yang ternyata telah lama mati. Bukan hanya menanam hutan kembali, tetapi memeliharanya. Membangun taman kota dan hutan kota harus menjadi program pembangunan daerah. Lomba Adipura bukan hanya dengan dilakukan dengan sebagai acara ceremonial belaka. Dinas Kebersihan Kabupaten/Kota menaruh pot-pot bunga di separasi jalan hanya ketika tim penilai melakukan penjurian. Setelah lomba usai, pot-pot bunga itu tidak terusus lagi, dan bahkan hilang satu persatu. Reboisasi bukan dijadikan proyek, tetapi menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat.

Kedua, memasyarakatkan teknologi biopori. Setidaknya masih ada satu teknologi yang sangat sederhana yang dapat kita coba, yakni membuat biopori atau lubang serapan di tanah. Teknologi ini perlu dimasyarakatkan oleh seluruh penduduk negeri. Setidaknya presiden harus membuat instruksi, karena penduduk negeri ini masih paternalistik. Membangun kesadaran manusia tentang pentingnya hutan memang juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, proses penegakan hukum harus benar-benar dilaksanakan tanpa pandang buku. Advertensi dan sosialisasi memang diperlukan, seperti ”jadikan hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia, cegah kebakaran hutan, berantas pencurian kayu dan illegal loging” (MS Kaban, Menteri Kehutanan). Sudah barang tentu semua itu tidak hanya berhenti sampai hanya di laci. Harus diikuti dengan aksi.

Ketiga, cara dan pola-pola kehidupan yang responsif terhadap hutan memang harus dibangun. Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat, seperti parit dan sungai, kebiasaan membakar sampah organik, kebiasaan menebang kayu, dan kebiasaan yang tidak responsif terhadap pemeliharaan lingkungan hidup. Program Kali Bersih (Prokasih) sebenarnya merupakan program yang bagus. Suatu ketika, penulis pernah menjala ikan di sungai di kawasan Kuala Lumpur. Di sungai itu terdapat ikan yang dikenal penduduk sebagai ikan bandaraya. Ikan itu ternyata ikan sabu-sabu yang biasanya memakan lumut. Ternyata, ikan itu konon memang sengaja dilepaskan di sungai oleh Dewan Bandaraya (sama dengan Pemerintah Kota di negeri kita) untuk membersihkan sungai. Selain itu, di tempat tertentu juga dipasang jaring untuk menangkap sampah. Pola-pola kehidupan yang sangat responsif terhadap lingkungan hidup itu harus dihidupkan.

Keempat, yang lebih penting, pola-pola birokrasi juga harus terus diperbaiki. Izin HPH yang penuh dengan nuansa KKN harus dihentikan. Kesepakatan Gubernur Nangroe Aceh Darussalam dan Gubernur Papua untuk menghentikan semua HPH yang ditandatangani dalam acara Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNCCC) di Bali harus dapat diteladani oleh daerah yang lain. Selain itu, izin penggunaan lahan untuk perumahan yang tidak responsif lingkungan hidup harus dihentikan.

Akhir Kata

Masalah tidak akan selesai hanya dengan keluh kesah. Termasuk masalah yang terkait dengan hujan dan hutan di negeri ini. Masalah perubahan iklim dan pemanasan global memang harus dibahas tuntas dengan melibatkan banyak pihak. Tetapi tidak hanya berhenti sampai di situ. Kita semua lebih memerlukan aksi. Dan itu memerlukan bukti, bukan hanya dengan diskusi, apalagi hanya dengan saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Kita harus bersatu padu dalam memecahkan masalah tentang hujan dan hutan. Wallahu alam bishawab.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Ende, 11 Desember 2007

One thought on “Hujan dan Hutan

  1. Sebagaimana telah ditulis oleh Pak Parlan tentang Rekor MURI SDN Cibeusi, salah satu lagu berjudul PERINGATAN HARI-HARI LINGKUNGAN HIDUP DI SDN CIBEUSI dimaksudkan agar sejak dini siswa bisa ikut menjaga kelestarian hidup, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Lagu adalah alat edukasi yang efektif, semoga berkenan.

    36. Peringatan Hari-Hari Lingkungan Hidup
    di SDN Cibeusi

    Lyrik : Dadang Adnan Dahlan
    Lagu : Supriatna

    Ingatlah tanggal dan hari terpenting
    Peringatan hari lingkungan hidup
    Nasional, dan internasional
    Untuk jaga bumi tetap lestari

    Mari berbuat sekecil apa pun
    Tak buang sampah sembarangan
    Air dan listrik hemat pergunakan
    Hambat laju pemanasan global

    Tanamilah lingkungan sekitar kita
    Walau hanya sebatang pohon
    Cegah longsor, banjir, dan kekeringan
    Indonesia paru-paru dunia

    Reff.
    Siswa Cibeusi giat berkiprah
    Hari air: dua puluh dua Maret
    Hari bumi: dua puluh empat April
    Lima juni hari lingkungan hidup

    Siswa Cibeusi giat berkarya
    Hari habitat satu Oktober
    Dua satu November hari puspa
    Lestarikan hutan, tanah dan air

    Jatinangor, 19 Oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *