ArtikelPendidikan

Dari D4, Melalui CBSA, sampai dengan Pakem

89 views
1 Komentar

Oleh Suparlan *)

Di masa sekarang dan yang akan datang pengelolaan pendidikan harus lebih demokratis dalam bentuk memberikan otonomi seluas-luasnya kepada masyarakat. Saat ini pemerintah sedang menggulirkan kebijakan otonomi pendidikan. Ini merupakan momentum bagi masyarakat untuk berpartisipasi tidak saja dalam aspek manajemennya, lebih penting lagi adalah dalam memperkaya muatan pendidikan dengan wacana kultural, sosial, agama, dan lain sebagainya yang berkembang di lingkunganya.
(Abdul Malik Fadjar).

Peristiwa yang paling buruk (di dunia ini) adalah jika sekolah dijalankan dengan metode ancaman, paksaaan, dan otoritas semu.
(Albert Einstein)

Memang benar sekali. Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, kecuali kata ‘perubahan’ itu sendiri. Termasuk di dalamnya adalah tentang model pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran dari waktu ke waktu sudah barang tentu akan mengalami perubahan. Proses perubahan itu pasti akan dipengaruhi secara timbal balik oleh proses perubahan kondisi sosial-ekonomi-budaya-politik, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Tulisan ini akan mencoba merekam kembali perjalanan sejarah perubahan penggunaan model pembelajaran di Indonesia, mulai dari D4, melalui CBSA, dan kini telah gencar disosialisasikan model pembelajaran PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Perubahan itu sejatinya menggambarkan perubahan sosok kehidupan sosial-ekonomi-budaya-politik dalam masyarakat.

D4, Antara Wajah Masyarakat dan Wajah Sekolah

Istilah D4 pada awalnya memang muncul di sekitar kehadiran banyak anggota legislatif dalam melaksanakan fungsinya (legislasi, budget, dan pengawasan). Pada saat itu konon banyak anggota legislatif hanya datang, duduk, diam, dan dengar saja dalam sidang-sidang yang diikutinya. Hanya kur tepuk tangan yang riuh lah yang sering mewarnai saat-saat pengambilan keputusan, baik dalam sidang komisi maupun sidang plenonya. Mereka datang ke ruang sidang, kemudian mereka mendengarkan pidato-pidato dalam sidang itu, dan mereka duduk dengan tenang, bahkan nyaris mengantuk, dan pada akhir pengambilan keputusan, mereka bersorak ‘setuju’, dan akhirnya diikuti oleh kur tepuk tangan, sebagai tanda sidang telah usai dengan suara bulat, bukan lonjong.

Kondisi sidang legislatif dan rapat dalam masyarakat tersebut nyaris sama dengan kondisi ruang kelas kita. Anak-anak datang ke sekolah, duduk dengan manis di kelasnya masing-masing, tangan dilipat, mulut ditutup (diam) untuk mendengarkan celoteh sang guru. Dalam hal ini, wajah sekolah memang benar-benar menjadi miniatur wajar masyarakat kita. Apa saja yang terjadi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, tampak nyata akan tergambar dalam kehidupan sekolah.

Bahkan, apa yang tergambar di ruang sidang legislatif dengan anggotanya yang saling dorong dan nyaris baku hantam antara sesama anggota dewan, atau wajah masyarakat yang saling melakukan tawuran antara dua kelompok masyarakat yang hanya dipisahkan dengan jalan kampung, ternyata juga tergambar dengan adanya tawuran antarsiswa atau mahasiswa antarsekolah atau antarfakultas di suatu perguruan tinggi. Bukankah hal itu merupakan gambaran yang nyaris sama antara keduanya. Sekali lagi, D4 merupakan satu gambaran masyarakat dan sekolah kita pada satu kurun waktu tertentu.

CBSA, Satu Terobosan Yang Belum Selesai

Dalam konteks pembelajaran di dalam kelas, siswa tidak lagi dipandang sebagai gelas kosong yang harus diisi oleh guru. Peserta didik adalah subyek didik, dan bukan obyek. Dalam memperoleh pengalaman belajar dalam ruang kelas, mereka bukan bebek-bebek yang hanya akan digiring oleh gurunya. Bukan pula burung-burung beo yang cukup hanya disuruh menirukan bunyi sang pelatihnya. Sebaliknya, peserta didik adalah anak manusia yang telah lahir dengan seperangkat potensi yang harus dikembangkan secara optimal melalui proses pembelajaran. Peserta didik harus banyak diberikan kesempatan untuk beraktivitas untuk memperoleh pengalaman belajar yang akan diperlukan ketika mereka telah terjun dalam masyarakat. Oleh karena itu, proses belajar mengajar di dalam dan di luar kelas harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, bukan hanya datang, duduk, diam, dan dengar. Dari sinilah lahir apa yang dikenal dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang telah diadopsi dari konsep Student Active Learning (SAL) dari negeri asalnya, yakni Amerika Serikat.

Dengan CBSA, metode mengajar guru bukan hanya ceramah, tetapi multimetoder, sekali veramah, kemudian diskusi, atau tanya jawab, kerja kelompok, dan sebagainya. Media dan sumber belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari berbagai sumber seperti koran, majalah dan sumber langsung dari alam sekitar. Aktivitas siswa bukan hanya mendengarkan dan mencatat apa yang ditulis gurunya di papan tulis, melainkan mengeluarkan pendapat di depan kawan-kawan dalam satu kelompok, ataupun dalam satu kelas. Anak-anak mencari sendiri sumber belajar, mendiskusikan dengan kawan-kawannya, membuat rangkuman dan menulisnya dalam lembar kertas yang akan dilaporkan di hadapan teman-temannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, maka ruang kelas tidak lagi disusun dengan pola lama, berderet-deret, tetapi berkelompok-kelompok. Bahkan, pola tempat duduk yang berkelompok-kelompok ini nyaris menjadi ciri yang menonjol dalam pendekatan CBSA. Bahkan terdengar khabar nyaring bahwa bangku-bangku lama akan diganti dengan bentuk bangku-bangku yang mudah untuk diatur untuk membentuk kelompok. Kemudian, khabar tentang perubahan bentuk bangku ini pun nyaris menjadi ciri pendekatan CBSA.

Walhasil, pelaksanaan CBSA yang telah sampai kepada tahap pengembangan replikasi di berbagai sekolah, akhirnya mengalami masa surut. Bahkan akhirnya mengalami degradasi sampai pada tingkat nadir. CBSA dilecehkan dengan akronim yang tidak menyesakkan hati, seperti Catat Buku Sampai Abis, atau Cicilan Baju Seragam Abu-abu, dan banyak lagi yang lain. Proses uji coba dan replikasi CBSA menjadi terhenti tanpa melalui evaluasi, dan sebagai satu terobosan untuk proses pembaharuan dalam dunia pendidikan, CBSA belum dapat dikatakan selesai. Dari segi proses, nuansa D4 dalam proses belajar mengajar belum sepenuhnya berubah. Konsep CBSA masih setengah hati, dan kini belum bangkit kembali.

Empat Pilar Pendidikan Menurut UNESCO

Dalam kondisi yang seperti itu, mutu pendidikan tidak bertambah baik, malah sebaliknya. Beberapa lembaga internasional telah mengadakan penelitian. Hasilnya mengejutkan. Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Indonesia turun dan berada satu tingkat di bawah negara Vietnam. Sistem pendidikan pun berada pada urutan ke-12 dari 12 negara yang diteliti. Sementara itu, terdengar nyanyian merdu yang sayup-sayup sampai ke telinga para pegiat pendidikan di Indonesia, misalnya tentang Empat Pilar Pendidikan dari UNESCO, yakni (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning how to live together. Nyanyian merdu dari UNESCO ini menyadarkan kepada kita bahwa proses belajar mengajar bukan hanya diperlukan agar peserta didik semata-mata dapat memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Peserta didik harus banyak diberikan kesempatan agar pada akhirnya dapat melakukan atau mengerjakan sendiri, dapat menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensi bakat dan minat yang mereka miliki, dan bahkan pada akhirnya peserta didik harus mampu untuk dapat hidup bersama dalam masyarakat yang semakin majemuk.

PAKEM, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan

Sejauh ini, penulis belum menemukan satu catatan atau informasi yang telah menjelaskan tentang sejarah penggunaan akronim PAKEM sebagai satu model pembelajaran. Malah, di samping akronim PAKEM, ada akronim lain yang sejenis yang juga digunakan juga dalam konteks pembelaran, yakni ASIK, dan akhir-akhir ini muncul istilah PAIKEM, yang tampak berasal dari akronim PAKEM. ASIK merupakan akronim dari Aktif, Senang, Inovatif, dan Kreatif. Sementara PAIKEM adalah PAKEM yang ditambah dengan satu ciri pengembangan dari pembelajaran kreatif, yakni pembelajaran yang inovatf.

Dengan menggunakan dana bantuan dari USAID, dalam berbagai kegiatan diklatnya, program MBE (Managing Basic Education) selalu mengaitkan antara PAKEM dengan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) dan PSM (Peran Serta Masyarakat). Ketiganya dipandang sebagai tiga unsur dalam satu kesatuan (three in one) sebagai program MBE. Untuk mendukung upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, ketiga unsur ini akan saling mempengaruhi dan saling mendukung. Ibaratnya, tidak akan ada PAKEM dalam pembelajaran tanpa diawali dengan manajemen yang berbasis sekolah (MBS), dan tidak akan ada MBS tanpa didukung oleh peran serta secara aktif orangtua dan masyarakat (PSM).

Secara fisikal, ada beberapa ciri menonjol yang tampak secara kasat mata dalam proses pembelajaran dengan menggunakan PAKEM. Pertama, adanya sumber belajar yang beraneka ragam, dan tidak lagi mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Bukan semata-mata untuk menafikan sama sekali buku pelajaran sebagai salah satu sumber belajar peserta didik. Kedua, sumber belajar yang beraneka ragam tersebut kemudian didesain skenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan. Ketiga, hasil kegiatan belajar mengajar kemudian dipajang di tembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali rapiah di sana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya siswa.pajangan hasil karya siswa menjadi satu ciri fisikal yang dapat kita amati dalam proses pembelajaran. Keempat, kegiatan belajar mengajar bervariasi secara aktif, yang biasanya didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan salah seorang di antaranya menyampaikan (presentasi) hasil kegiatan mereka di depan kelas. Hasil kegiatan siswa itulah yang kemudian dipajang. Kelima, dalam mengerjakan pelbagai tugas tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya. Keenam, dalam melaksanakan kegiatannya yang beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa. Ketujuh, pada akhir proses pembelajaran, semua siswa melakukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni menyampaikan (kebanyakan secara tertulis) kesan dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran yang baru saja diikutinya.

Bahan Renungan

Apakah D4 sudah tidak lagi dilakukan dalam pembelejaran di negeri ini? Apakah model pembelajaran di sekolah telah sepenuhnya berubah total mengikuti PAKEM? Oh, belum. Pasti belum. Model PAKEM baru dilaksanakan di sekolah-sekolah yang gurunya telah mengikuti diklat Managing Basic Education (MBE) di kabupaten-kabupaten tertentu yang telah dipilih. Apakah sekolah-sekolah yang telah menerapkan PAKEM telah menunjukkan tanda-tanda peningkatan kualitas hasil belajarnaya? Inilah pertanyaan yang ada di dalam benak banyak orang. Belum semua sekolah yang menjadi binaan MBE meningkat hasil belajarnya. Dalam Surara MBE Edisi 10, Bulan Oktober 2005 ada informasi yang membanggakan, yakni “di Kota Madiun, dari 14 SD dan MI binaan MBE, 12 di antaranya naik ranking”. Berita ini pasti menggembirakan, dan sekaligus menjadi setitik harapan bagi negeri ini yang sedang berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Apa yang diperlukan agar penerapan konsep PAKEM dapat berhasil? Pertama, memerlukan komitmen dari semua stakeholder pendidikan. Dan kedua, juga dana yang memadai untuk melaksanakan konsep yang bagus ini. Di masa mendatang, terbetikkah di hati kita bahwa, sekolah yang telah melaksanakan PAKEM bukan hanya menjadi gambaran kecil atau miniatur masyarakatnya, tetapi menjadi agen pembaharuan untuk mengubah masyarakat D4 menjadi masyarakat yang demokratis, antara lain karena sekolah itu telah berhasil melaksanakan PAKEM? Insyaallah.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Mantan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, mantan Kepala Bidang Pelayanan Teknis PPPG Matematika Yogyakarta.

Depok, Desember 2005

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

1 Komentar. Leave new

  • terima kasih informasinya. Mohon info tentang sejarah PAKEM di atas itu dikutip dari buku apa ya Pak? Saya pengin merujuk ke sumber primernya untuk kepentingan naskah ilmiah makalah. terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts