ArtikelDunia IslamPendidikan

Pendidikan Pralahir

Tidak ada komentar

Oleh: Suparlan *)

Pendidikan pralahir dikembangkan baru pada tahun 1979. Itulah yang dikemukakan oleh Dr. Rene Van de Carr, seorang ahli kebidanan dari Hayward California. Nah, apa yang terjadi dengan konsep pendidikan secara umum sebelumnya? Pendidikan diyakini sepanjang hayat. Artinya, mulai lahir sampai mati. Mulai dari ayunan Ibu sampai dibawa ke liang lahat. Mulai dari lahir sampai mencapai ajal. Bahkan ahli pendidikan John Dewey berpendapat bahwa pendidikan itu adalah kehidupan. Education is not a preparation of life, but it is life itself. Pendidikan adalah bukan persiapan hidup. Pendidikan itu adalah hidup itu sendiri. Demikianlah pendapat John Dewey tentang pendidikan.

Hidup

Kapan mulai hidup? Di sini banyak tafsiran. Ada yang menganggap hidup mulai sejak lahir procot. Kapan mati? Tentu sejak dicabut jawanya. Menurut pendapat ini, pendidikan itu terjadi dalam jarak antara lahir procot sampai mati tersebut. Padahal dalam ilmu kedokteran atau kebidanan, hidup itu dimulai sejak bayi atau janin (fetus) 20 minggu usia janin. Fase ini memasuki tahap perkembangan janin yang sangat pesat. Fase berikutnya janin memang lebih cepat lagi berkembang. Dalam usia 4 bulan (15 – 16 minggu) janin itulah sebenarnya proses pendidikan harus dimulai, menurut teori Dr. Rene Van de Carr tersebut. Bukan sejak lahir procot. Nah inilah ilmu kauniyah dalam bidang kedokteran dan tentu saja dalam bidang pendidikan dengan teori pendidikan pralahir. Pendidikan pralahir adalah pendidikan yang dilakukan sebelum sang janin lahir procot sebagai manusia. Ibu dan bapaknyalah yang akan mengukirnya.

Hak-Hak Janin

Persoalan hidup tidak hanya cukup di dunia. Dunia rahim sebagai terminal perjalanan hidup manusia selama sembilan bulan. Satu fase yang cukup menentukan. Itulah sebabnya, Prenatal University telah menyusun Pernyataan Hak-Hak Janin. Secara singkat Janin mempunyai 5 (lima) hak sebagai berikut:

Bahwa setiap bayi pralahir mempunyai hak:
1. Menjadi sesuatu yang berjiwa untuk mengalami perkembangan pralahir tanpa gangguan,
2. Mendapatkan dukungan gizi yang memadai untuk membangun akal dan tubuh yang sehat,
3. Dilindungi dari racun dan toksin yang dapat menghambat perkembangan saraf dan fisik,
4. Mendapatkan lingkungan yang sehat di dalam rahim, bebas trauma fisik atau tingkat kebisingan, cahaya, atau stimulai berlebihan dan membahayakan,
5. Diterima sebagai individu yang hidup dan sadar sebelum dilahirkan.

Hak-hak azasi tidak hanya dimiliki oleh manusia yang hidup dunia. Hak-hak azasi juga dimiliki oleh semua janin. Hak-hak harus dijamin oleh manusia sendiri sebagai rasa tanggung jawab yang menjadi faktor yang menyebabkan keberadaannya. Membunuh janin dalam kandungan, misalnya tanpa alasan syariah adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Menciptakan lingkungan yang beracun dan kurang gizi adalah tindakan manusia yang jauh dari kewajiban ibadah kepada Allah Swt.

Pertumbuhan janin dimulai setelah pembuahan. Lima jutaan sperma dan jutaan sel terus saling mencari pasangan, dan akhirnya hanya satu sperma yang dapat membuahi sel telur tersebut. Inilah persaingan pertama terjadi di dalam dunia rahim. Sampai akhirnya manusia hidup dalam dunia yang sebenarnya persaingan itu memang berlaku sebagai sunatullah.

Kurikulum Pendidikan Pralahir

Para ahli pendidikan pralahir mencoba merancang materi yang diberikan dalam pendidikan pralahir. Buku bertajuk Cara Baru Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan karya F. Rene Van de Carr dan Marc Lehrer, telah memberikan panduan kegiatan sebagai berikut:

Tingkat Pertama, stimulasi kata-kata yang diasosiasikan dengan sentuhan, misalnya: Tepuk, dengan cara menemukan posisi bayi Anda, kemudian menepuk perut dangan halus. Lakukan dengan suara yang jelas dan tegas, misalnya dengan kata-kata tepuk, usap, guncang, belai, berdiri, ayun, misalnya mama tepuk punggung, mama tepuk kepala, mama usap, dsb
Tingkat Kedua, stimulasi kata-kata yang diasosiasiasikan dnegan kata-kata, berdiri dan duduk, dan kata-kata lain yang sifatnya fisikal dengan cinta kasih untuk memperoleh respon positif dari sang janin. Elusan atau dorongan halus pada perut sang ibu menghasilkan “tendangan pertama” sang janin. Artinya, sang janin telah memberikan respon positif (senang) dengan elusan atau dorongan tersebut. Materi kurikulum tersebut dapat diteruskan dengan materi yang lain.
Tingkat Ketiga, stimulasi kata-kata yang diasosiasikan dengan bunyi, dengan mendenarkan berbagai macam musil, baik yang klasik meupun genre lainnya, dengan menggunakan beberapa alat musik. Dalam hal ini sang janin sangat senang mendengarkan ayat-ayat Al-Quran. Dari aktivitas ini lahir para hafidz anak-anak kaliber dunia karena sang janin telah diperkenalkan bunyi ayat-ayat yang merdu.
Tingkat Keempat, stimulai lain yang diasosiasikan dengan fungsi biologis, seperti batuk, bersin, cegukan, tangis, tawa, dan sebaginya.
Tingkat Kelima, stimulai kata-kata yang diasosiasikan dengan penglihatan, seperti terang dan gelap. Matikan senter untuk mengatakan gelap.
Tingkat Kelima, stimulasi kata-kata yang diasosiasikan dengan temperatur, seperti panas, dingin.
Tingkat Ketujuh, stimulai kata-kata yang melibatkan aktivitas sang janin, seperti tending, dorong, putar, dan sebagainya.
Tingkat, delapan, kata-kata untuk menyampaikan berhentinya suatu pekerjaan, sepertiL tidak, tidak goyang, tidak gelap, dan sebagainya.

Sebagai kelanjutan dari penggunaan kata-kata tersebut, dapat dilakukan dengan membaca cerita, menyanyikan lagu-lagu kesayangan, misalnya Indonesia Pusaka, dan banyak lagi lainnya. Juga baca cerita dan belajar angka. Dengan Pendidikan Pralahir, insyaallah akan memperkuat proses pendidikan secara keseluruhan. Wallahu alam.

Laman: www.suparlan.com. Surel: me@suparlan.com.

Depok, 16 September 2015.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.