ArtikelBudayaDunia IslamPendidikan

Angeline dan Jalan Sedap Malam

1 Komentar

Oleh: Suparlan *) 

Jalan Sedap Malam itu di mana? Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali adalah tempat jenazah Angeline, anak angkat berusia 8 tahun dikubur di halaman rumah Ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe. Inilah salah satu tragedi yang mengenaskan di negeri tercinta ini, di samping beberapa tragedi lainnya. Tragedi ini dicoba dibahas tuntas dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One tanggal 25 Juni 2015. Begitu miris monton acara itu, terlebih ketika mengikuti uraian Ibu Khofifah dan kemudian diteruskan dengan ungkapan hati Ibu Ratna Sarumpait terkait dengan kemiskinan di negeri ini. Saya melihat hal yang aneh melihat kamera televisi yang mengarahkan ke Ibu Kofifah secara bergantian dengan kea rah Ibu Ratna Sarumpait. Seakan ada sesuatu yang perlu dideskripsikan untuk menjelaskan apa yang tersirat di dalamnya.

Ya, kita telah membaca di media sosial, bahwa Ibu Kofifah memang menghadiri pemakaman Angeline di TPU Desa Tegalrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Selasa malam. Pada kesempatan itu, Ibu Khofifah juga telah memberikan sumbangan dari negara untuk keluarga Angeline sebesar lima belas juta rupiah. Alhamdulillahirrobil ‘alamin, prosesi pemakaman anak usia delapan tahun itu, telah memperloleh sambutan luar biara dari masyarakat Banyuwangi khususnya, termasuk Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Umat banyak menyayangkan terjadinya korban “kefakiran-kekafiran” yang tidak dapat ditolong sedikit pun oleh umat. Ungkatan tentang kemiskinan ini dengan mengutip Hadist pun telah diungkapkan oleh Bang Karni untuk menutup acara ILC tersebut. Usai sudah acara itu, tetapi pikiran ini masih saja mengingat faktor mendasar yang menjadi penyebab sesungguhnya tragedi tersebut, yakni kemiskinan dan kebodohan.

Faktor kemiskinan yang menggelayut di negeri tercinta  

Terkait dengan dana aspirasi DPR yang kini dibahas, kenapa dana tersebut tidak secara khusus digunakan untuk penanggulangan kemiskinan di negeri ini? Dana tersebut digunakan untuk menjadi model kegiatan kreatif dan produktif warga masyarakat melalui Kementerian Sosial. Setiap pagi berangkat ke kantor, penulis menemukan “manusia gerobak” lengkap dengan anak-anak mereka. Apakah mereka sudah dilakukan pendataan oleh Kementerian Sosial, di mana tinggalnya, apa potensi yang dapat dikembangkan? Di samping itu, banyak anak-anak remaja peminta-minta dengan label “Untuk Anak Yatim” yang mengacung-ngacungkan kotak untuk meminta bantuan. Padahal tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Inilah wajah kemiskinan yang sebenarnya harus ditangani oleh Pemerintah melalui Kementerian Sosial. Inilah wajah kemiskinan Umat di negeri ini. Inilah yang terjadi pada Ibu Hamidah dan Pak Rosydiq yang melahirkan Angeline, anak yang kemudian diadopsi oleh Margriet Christina Megawe, yang akhirnya membuat Angeline menjadi kurban penelantaran dan bahkan pembunuhan anak. Bukankah anak-anak miskin dan terlantar menjadi tanggungan negara? 

Data Kemiskinan

Dalam acara ILC tersebut, Menteri Sosial telah membacakan data jumlah masyarakat miskin di negeri ini, termasuk data berbagai kartu yang akan dibagikan kepada yang telah terdaftar. Semua saya kagum dengan Ibu Menteri Sosial yang dengan lancarnya membacakan data-data tersebut. Tentu saja, Presiden Jokowi akan menilai bukan hanya sebatas pembacaan data-data mati kemiskinan tersebut, tetapi lebih kepada aksi hidup yang akan dan telah dilakukan oleh Ibu Menteri Sosial. Penulis malah tertarik dengan singkatan-singkatan tersebut, khususnya KIP atau Kartu Indonesia Pintar. Mengapa menggunakan istilah pintar? Padahal kita ketahui bahwa tujuan yang kita harapkan bukanlah manusia yang pintar, apalagi yang “menintari” orang lain. Kita tidak membutuhkan oleh pintar (otak kiri saja), tetapi orang cerdas (termasuk cerdas spiritulnya). Kita perlu kembali ke Pembukaan UUD 1945 yang menjelaskan bahwa salah satu tujuan NKRI ini didirikan adalah 1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, 2) memajukan kesejahteraan umum, 3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan 4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi prioritas program terkait kasus Angeline tersebut, yakni program kesejahteraan dan kecerdasan. Hanya karena kemiskinan dan kebodohan sajalah yang menjadi kunci penyebab tragedi Angeline. Memang, sulit untuk menghabiskan penduduk miskin di negeri tercinta ini, dan tidak akan mungkin menjadikan mereka kaya. Namun, prosentase penduduk miskin di negeri ini di daerah pedesaan menurut BPS pada bulan September 2014 masih 17,37 juta orang. Di daerah pedesaan angka tersebut tentunya pasti akan lebih tinggi lagi. 

Nada Serak Suara Ibu Ratna Sarumpait

Maaf, penulis memang baru tahu jika Ibu Ratna Sarumpait yang begitu peduli dengan Angeline ini ternyata seusia saya. Lahir di Tarutung Sumatera Utara, 16 Juli 1949. Sementara saya 20 Mei 1949. Profesinya adalah penulis naskah drama, aktivis politik dan HAM. Sementara saya hanyalah seorang penulis dan sosok guru. Suaminya adalah Ahmad Fahmy Alhady, dengan empat orang anak, Mohammad Iqbal Alhady, Fathim Aulina, Ibrahim Alhady, dan Atiqah Hasiholan. Ketika diberikan kesempatan oleh Bang Karni untuk menyampaikan ungkapan kepeduliannya terhadap Angeline, dengan surara serak menunjukkan kemirisannya terhadap tragedi ini. Masalahnya sebenarnya bukan hanya soal penelantaran anak, tetapi sekaligus pembunuhan anak. Pembunuhan anak ibarat pembunuhan umat. Apalagi anak tersebut adalah perempuan. Ini sama dengan pepatah “mendidik seorang (laki-laki) adalah mendidik seorang saja, tetapi mendidik wanita adalah mendidik umat di dunia”.

Dengan suara lantangnya yang serak, Ibu Ratna menyatakan bahwa “hanya karena kemiskinan yang telah menyebabkan kematian Angeline”. Oleh karena itu, Ibu Ratna ikut berpesan kepada Jokowi, melalui Ibu Menteri Khofifah, agar hati-hati ketika membangun proyek kesejahteraan. Karena hanya dengan kesejahteraanlah tragedi Angeline dapat kita hilangkah, atau setidaknya kita kurangi di negeri tercinta ini. Ibu Ratna Sarumpaet ini bahkan memberikan batas waktu penyelesaian kasus Angeline ini paling lambat harus tuntas sebelum Ramadan. Sepertinya Ibu Ratna ini ingin sekali menggunakan momentum keagungan Ramadan untuk menyelesaikan kasus Angeline ini, juga Angeline-Angeline lain di Indonesia.

Akhirnya kita berharap agar tragedi Jalan Sedap Malang jangan sampai terulang lagi, dan Angeline-Angeline lain tidak pernah akan terjadi lagi. Insyaallah. Wallahu alam bishawab.

*) Laman: www.suparlan.com, Surel: me@suparlan.com

Depok, 25 Juni 2015.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

1 Komentar. Leave new

  • Tulisan bapak menyentuh hati saya ternyata masih banyak rakyat indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Tapi saya kurang paham dengan judul bapak yaitu ada kata sedapnya. Sedap itu identik dengan suatu yang enak tapi dalam artikel ini menceritakan suatu masalah sedih. jadi mohon penjelasannya. Terima kasih!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel, Pendidikan

Salah

Oleh: Suparlan *) Belajar itu di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Pagi-pagi buta saya telah…