ArtikelDunia Islam

Kuliah Tertulis Ramadan Hari Keempat Belas: Rasulullah Itu Sangat Humanis

4 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Dan pada sebagian malam hari bersalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhammu mengangkat ke tempat yang terpuji
(QS Al Isra’ 79)).

Substansi tulisan ini menunjukkan bahwa Rasulullah lebih mementingkan aspek kemanusiaan dibandingkan dengan syariat dan ketentuan. Memang, aspek syariat dan ketentuan harus menjadi pedoman atau rambu-rambu dalam kehidupan. Puasa Ramadan, sebagai contoh, termasuk ibadah wajib yang harus dilaksanakan bagi mereka yang beriman dengan segala syariat dan ketentuannya.

Dalam melaksanakan ibadah puasa itu, kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang hari mulai dari fajar sampai dengan saat terbenamnya matahari. Namun, ternyata ketentuan itu hanya dapat dikalahkan dengan pertimbangan kemanusiaan. Dalam hal ini, Rasulullah Muhammad SAW sangatlah humanis. Ceritanya begini.

Suatu ketika datanglah seseorang menghadap Rasulullah dengan tergopoh-gopoh. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, orang itu pun menyampaikan masalahnya kepada Nabi Muhammad SAW.

”Wahai Saudaraku, adakah sesuatu masalah yang sangat penting yang ingin segera Anda sampaikan kepadaku?”, tanya Rasulullah kepada orang yang datang tergopoh-gopoh itu.

”Celaka …. celaka …. ya Rasulullah. Saya celaka ya Nabiyullah”, kata orang ini dengan suara terbata-bata dan nada yang sangat menyesal.

”Ya, segeralah sampaikan kepadaku, wahai Saudaraku. Apa yang sedang terjadi, wahai Saudaraku?”, tanya Rasulullah sekali lagi.

”Puasaku hari ini batal …., puasaku batal …. ya Rasulullah. Saya telah berhubungan suami istri setelah fajar. Entah setan apa yang telah menggodaku dan istri saya, sampai saya lupa diri bahwa pada hari ini kami sedang berpuasa Ramadan. Kami menyesal sekali ya Rasulullah, karena kami telah melanggar syariat dan ketentuan-ketentuan yang telah diterapkan untuk puasa Ramadan. Itulah ya Rasulullah yang ingin saya sampaikan kepada Rasulullah”, jelas orang itu kepada Rasulullah. ”Harus bagaimanakah saya ya Rasulullah”, jelas orang itu kepada Rasulullah sekali lagi.

Senyum tersungging di bibir Rasulullah. Sesaat Rasulullah tidak menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi itu. Dengan sikap tenangnya, Rasulullah kemudian mulai menjawab pertanyaan dengan beberapa pertanyaan.

”Wahai Saudaraku, apakah Anda mampu berpuasa setahun penuh?”, tanya Rasulullah.
”Oh tidak ya Rasulullah”. ”Saya tidak kuat ya Rasulullah, jawabnya memelas.

”Kalau begitu, apakah Anda mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?”, tanya Rasulullah lagi.

”Oh, apalagi itu ya Rasulullah. Saya sama sekali tidak mampu melakukannya, ya Rasulullah”, jawabnya dengan lebih memelas lagi.

”Kalau begitu, apakah Anda mampu membebaskan budak, Saudaraku?” tanya Rasulullah dengan sabarnya.

”Mana mungkin saya dapat membebaskan budak, ya Rasulullah. Benar, ya Rasulullah, saya tidak dapat melakukannya ya Rasulullah. Saya tidak mampu”, jawabnya.

Dengan jawaban itu, Rasulullah segera bergegas masuk rumah beliau meninggalkan orang yang sedang menantikan keputusan Rasulullah tersebut. Setelah menunggu sesaat, keluarlah Rasulullah yang ternyata membawa sekarung buah kurma, di taruh di depan orang itu.

”Kalau begitu, berikanlah sekarung buah kurma ini kepada orang-orang miskin yang tinggal di sekitar rumahmu, wahai Saudaraku”, perintah Rasulullah kepada orang itu.

”Eeemmm mohon ampun beribu-ribu ampun ya Rasulullah, sungguh saya termasuk keluarga yang paling miskin di antara keluarga di sekitar saya, ya Rasulullah”, jawabnya sangat menghiba.

”Ya, yaaaaa. Kalau begitu, berikanlah kurma itu kepada keluargamu”, tegas Rasulullah. Rasulullah memberikan sekarung kurma itu kepadanya. Orang itu pun mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Rasulullah. Sementara orang itu meninggalkan tempat itu, Rasulullah mengamati jalan orang itu membawa sekarung buah kurma, sampai orang itu tidak lagi tampak dari penglihatan Rasulullah.

Itulah cerita yang penulis terima dari mailing list. Cerita itu memang sengaja digubah secara sederhana.

Mudah-mudahan amal puasa hari keempat belas ini dapat lebih meningkatkan rasa kemanusiaan kita dalam kehidupan sehari-hari Amin, ya robbal alamin. Wallau alam bishawab.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 26 September 2007

Tags: Ramadhan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts