ArtikelBudayaPendidikan

Air Mata Terkuras Saat Menonton Film Habibie-Ainun

Tidak ada komentar

Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita

(Habibie dan Ainun)


Saya akan menjadi suami yang terbaik, untuk kamu!

(Habibie dan Ainun)


Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi istri yang baik. Tapi aku berjanji akan selalu mendampingi kamu

(Habibie dan Ainun)

Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya, setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu

(Habibie dan Ainun)

***

Semula, istri saya yang mau menonton film Habibie-Ainun itu. Tetapi anak saya meminta agar saya dapat menemani ibunya, sehingga anak-anak dapat menemani cucu-cucu yang lagi ingin bermain di Time Zone. Pikir saya, ya biasalah film, yang menggambarkan sejarah perjalanan kehidupan Habibie dan Ainun, mulai dari studi di Jerman sampai kiprahnya di tanah air waktu membangun IPTN. Itulah prior knowledge yang saya miliki, sebelum masuk ruang gedung film yang megah di satu kawasan, yang anak-anak muda menyebutnya dengan Kemcit (Kemang City) itu.

Saya menempati nomor C8 dan C9 bersama istri, dan duduk manis menunggu tayangan film dimulai. Akhirnya, sampailah kepada episode Habibie mulai bertemu dengan Ainun dalam acara anak muda yang mulai saling menjalin tali cinta. Awalnya Habibie menyebut Ainun sebagai “gula Jawa coklat”. Ainun sendiri mulai tertarik kepada Rudy dengan cara sering menceritakan kepada teman-teman studinya di perguruan tinggi. Akhirnya, sampai kepada satu episode Habibie mulai tertarik kepada “gula Jawa” itu pada saat Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Banyak kumbang yang datang mendekati bunga yang sedang mekar itu. Salah seorang pemuda yang berkunjung ke rumah Ainun adalah Habibie, di samping beberapa pemuda yang ganteng-ganteng dan kelihatan terpelajar. Beberapa di antaranya mengatakan kepada orangtua Ainun bahwa ia telah selesai menyusun disertasi, dan lain-lain. Singkat kata, Ainun yang tidak lain adalah seorang dokter, dan Habibie yang tidak lain adalah seorang ahli mesin pesawat terbang ini kawin di Bandung dengan upacara adat Jawa. Saling melempar “gantal” pun terjadi. Habibie tidak lagi menyebut Ainun sebagai “gula Jawa” tetapi sebagai “gula pasir”. Heee. Itulah kalau sudah cinta, dan sesungguhnya Ainun memang sangat pantas menjadi istri Habibie.

All beginning is difficult.

Semua permulaan itu memang sulit. Hukum ini ternyata juga dilalui seorang Habibie dan Ainun dalam membina rumah tangganya. Ketika Ainun mengandung anak pertamanya, ruang apartemen tempat Habibie mulai mengembangkan layar hidupnya, Ainun terpikir tentang perlunya satu ruangan lagi untuk anak yang akan dilahirkan. Yaa, saya bayangkan ruangan itu seperti satu studio di apartemen. Dalam ruangan itu penuh dengan tumpukan buku yang tebal-tebal. Dengan semangat yang membara untuk dapat menguasai ilmu pesawat terbang, Habibie dan Ainun memang tinggal di apartemen sederhana di Jerman itu. Ternyata, sebagai seorang manusia biasa, Habibie pun punya penyakit TBC tulang, yang sempat menyebabkan Habibie terjatuh di ruang pertemuan ketika menyampaikan konsepnya tentang mesin pesawat terbang. Habibie sangat yakin bahwa Indonesia memerlukan industri peswat terbang, yang nanti akan dapat menyatukan Nusantara, dan sekaligus meningkatkan taraf ekonomi rakyatnya. Saya teringat akan konsep jalanan yang menyatakan bahwa bidang pembangunan yang terpenting di Indonesia ini adalah “pendidikan dan jalan”. Kalau pendidikannya maju maka sumber daya manusia Indonesia juga akan memiliki kemampuan itu tinggi. Kalau jalannya baik, maka kehidupan sosial-ekonomi negara itu juga akan tumbuh dan berkembang. Yang dimaksud dengan jalan ini dalam arti luas adalah alat transportasi dan komunikasi. Komitmen Habibie untuk membangun industri pesawat terbang sangat tinggi. Mulai dari episode ini air mata saya dengan tidak terasa mulai membasahi pipi. Saya teringat ketika menjadi “MMS” atau mahasiswa masak sendiri ketika kuliah di Malang. Alhamdulillah, anak seorang desa dari kota gaplek di Trenggalek dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Episode selanjutnya yang telah menguras air mata saya adalah ketika akhirnya Habibie meraih kompetensi sebagai ahli mesin pesawat terbang, dan kemudian mengemukakan niat suci dan komitmen untuk mendarmabaktikan untuk Indonesia. Habibie pun kemudian mengirimkan gagasannya itu untuk membangun industri strategis pesawat terbang. Meski semula tidak memperoleh respon positif dari para pemimpin di negeri ini, namun akhirnya Habibie harus kembali ke Indonesia untuk menyingsingkan lengan baju dalam membangun industri Pesawat Terbang yang diberi nama N 250. Ketika itu beliau diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi, pada masa pemerintahan Pak Harto.

Setelah Ada Kesulitan Ada Kemudahan  

Penerbangan perdama pesawat hasil karya anak bangsa Indonesia pun akhirnya terwujud. Meksi ada rasa was-was apakah Presiden Suharto benar-benar akan dapat menghadiri upacara penerbangan perdana itu, ALHAMDULILLAH akhirnya pesawat Gatotaca N 250 berhasil tebang denga megahnya dan mendarat dengan selamat di bumi pertiwi Indonesia. Tepuk riuh peserta upacara dan dan masyarakat terdengar sangat meriah. Habibie benar-benar telah membuktikan komitmennya kepada Ainun.

Anekdot Sinis

Di sela-selah penggambaran film yang telah menguras air mata itu, ada adegan di kamar kecil yang menggambarkan adanya kekurangpercayaan beberapa orang dan mastarakat tentang kemampuan pesawat terbang buatan anak bangsa Indonesia. Diceritakan  ada pesawat buatan Amerika Serikat yang terbang di atas udara negara Iran. Maka pejuang Iran pun menembaknya dor-dor-dor. Lewatlah, ternyata tembakan itu tidak berhasil menjatuhkan pesawat itu. Maklumlah, karena pesawat buatan negara adi kuasa. Lalu, terbanglah pesawat buatan Indonesia, tetapi pejuang Iran ternyata tidak satu pun menembakkan pelurunya. Ketika ditanya, mengapa para pejuang tidak menembaknya? Jawabannya sangat menyakitkan perasaan kita. Alasannya, tidak usah ditembak, ntar lagi akan jatuh sendiri. …???… Pembuat film ini memang mengetahui benar, tentang rendahnya rasa percaya diri dari sebagian masyarakat kita.

Episode berikutnya tentu bercerita tentang keberhasilan Habibie dan Ainun menjadi orang pertama di negeri ini. Penggambaran penyakit kronis bangsa dengan korupsinya telah memperoleh porsi yang lumayan baik. Habibie dan Ainun berusaha diajak kerja sama dengan berbagai macam cara KKN, kolusi, dan korupsi, bahkan dengan menawarkan gadis cantik sebagai imbalannya. Tetapi, semua itu tidak berhasil dilakukan oleh agen-agen koruptor yang telah menjadi virus yang bisa menghancurkan negeri tecinta. Inilah setan dan sekutu-sekutunya yang tidak akan berhenti berusaha untuk menghancurkan negeri tercitna dengan cara menghancurkan Habibie dan Ainun. Tidak berhentikah usaha mereka. Tidak!

Episode Akhir

Episode akhir yang betul-betul dapat menguras air mata saya adalah ketika penyakit kangker ovarium Ainun yang telah mencapai stadium ketiga bahkan keempat. Usaha keras untuk menyembuhkan dengan  operasi di Jerman dilakukan beberapa kali. Namun, keyakinan Habibie bahwa Ainun adalah orang yang kuat untuk menerima penyakitnya, dan operasi berkali-kali dipercaya akan dapat menyembuhkannya, ternyata tidak dapat memberhentikan proses menuju kematian Ainun, atau siapa pun, karena kematian adalah kepastian. Ibu mertua Habibie pun malah mengingatkan Habibie, operasi beberapa kali Ainun malah akan memperberat tekanan jiwa dalam diri Ainun. Dapat ditebak, akhirnya Ainun wafat, meninggalkan kita untuk selama-lamanya, dalam pelukan mesra Habibie dan kedua anaknya. Selamat jalan Ainun, mudah-mudahan semua amal kebajikan selama hidupnya diterima Allah SWT. Segala dosanya diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerimanya. Amin, ya robbal alamin.

Depok, 20 Januari 2013.

Tags:

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.