ArtikelBudaya

Warung Kejujuran dan Kelahiran Inovasi

47 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Kita harus berani menghadapi realitas dan kesalahan di masa lalu dengan kejujuran, sehingga menjadi jalan untuk teretasnya sebuah kedewasaan
(Raja Hussein, Pemimpin Yordania)

Ketika penulis menjadi guru di Pamekasan, Madura, pada tahun 70-an, penulis sering diminta istri untuk mampir di Warung “Sudi Mampir” untuk membeli es teler. Warung itu terletak di dekat jembatan. Satu bloks dengan Masjid Jamik Pamekasan. Warung “Sudi Mampir” begitu dikenal, bukan hanya karena es teler dan pisang gorengya yang manis, tetapi juga karena layanannya yang mudah, Ketika pembeli menunggu layanan es teler, pembeli mengambil sendiri seberapa banyak pisang goring yang mereka mau. Setelah pembeli selesai makan, penjual selalu menanyakan “habis berapa?” Penjual sama sekali tidak pernah berprasangka buruk apakah pembeli berlaku jujur atau sebaliknya. Selain itu, warung itu juga dikenal karena kecepatan menghitung jumlah rupiah yang harus dibayar oleh pembeli. Penjual percaya bahwa semua pembeli di warung itu semua jujur. Pembeli juga percaya bahwa jumlah uang yang harus dibayar juga telah dihitung dengan benar. Kenyataannya, warung itu sama sekali tidak bangkrut karena sistem penjualan seperti itu. Bahkan sebaliknya, warung itu justru semakin maju. Jualan yang laris di warung tidak lain adalah faktor kejujuran dari pembeli dan penjualnya.

Gagasan Inovatif

Kini penulis berada di tahun 2008. Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mendirikan 20 Warung Kejujuran di sekolah di berbagai daerah. Sebelum Koran Sindo memuat tulisan tentang Warung Kejujuran pada tanggal 14 Mei 2008 ini, sebelumnya penulis telah mendengar dari seorang kawan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bahwa ide awal warung seperti berasal dari seorang mahasiswa UNJ yang berasal dari Ambon. Wallahu alam. Tetapi yang jelas, gagasan Warung Kejujuran itu merupakan satu gagasan inovatif yang perlu diapresiasi. Mengapa? Kejujuran di negeri telah menjadi semacam barang yang amat langka. Sebaliknya, yang marak malah perilaku korupsi, yang telah merambah ke semua lini. Zaim Uchrowi, seorang kolumnis Republika mengaitkan perilaku korupsi dengan kebiasaan-kebiasaan yang korup di sekolah dan bahkan rumah. Perilaku nyontek, ngatrol nilai, datang telat, dan bahkan perilaku ”guru galtu” (meminjam istilah Ketua Umum PGRI untuk guru yang masuk hanya pada tanggal satu) merupakan beberapa di antara perilaku yang bisa menjadi pemicu lahirnya perilaku korupsi. Ironisnya, perilaku itu telah tumbuh di tempat persemaian generasi muda yang bernama sekolah.

Pembukaan Warung Kejujuran oleh KPK boleh jadi hanya merupakan upaya yang kecil. Tetapi upaya itu sudah menjadi satu inovasi. Upaya itu mempunyai arti yang besar untuk mendidik generasi muda agar menjadi anggota masyarakat yang jujur di kemudian hari. Inilah upaya pencegahan yang dapat dilakukan. Bukankah mencegah lebih daripada mengobati? Mudah-mudahan 20 Warung Kejujuran itu menjadi semacam Warung Sudi Mampir di Pamekasan sebagaimana yang penulis ceritakan pada awal tulisan ini.

Negeri ini kelihatannya memerlukan ribuan gagasan inovatif  seperti itu. Kemajuan suatu negara konon dikarenakan tiga hal penting, yakni (1) penemuan (invention), (2) terobosan (inovation), dan (3) modifikasi (modification). Warga negara di negeri yang kaya raya ini masih kurang memiliki tiga kemampuan tersebut. Dan hanya melalui pendidikan ketiga kemampuan tersebut dapat dibangun dan dikembangkan.

Inovasi pencegahan korupsi — meski sederhana — kini telah lahir. Pencegahan lebih penting dari pemberantasan. Oleh karena itu, di Malaysia, lembaga ini disebut sebagai Badan Pencegah Rasuah (BPR), bukan Badan Pemberantas Rasuah. Terkait dengan upaya pencegahan ini, KPK juga telah meluncurkan kurikulum anti korupsi. SMP Keluarga di Kudus Provinsi Jawa Tengan telah menerapkan model pembelajaran dengan permainan ular tangga anti korupsi (UTAK) sejak 19 Desember 2005 (Kompas, 19 Mei 2007). Sayangnya, penulis belum mendengar pemerintah memberikan apresiasi terhadap inovasi ini.

Pegawai Rendah Dapat Melahirkan Inovasi

Siapakah yang dapat melahirkan inovasi? Tentu saja mereka yang inovatif! Tidah harus birokrat. Tidak pula teknokrat. Di negeri Paman Sam konon ada seorang pegawai rencah, tukang mematikan AC, telah memperoleh penghargaan dari negara karena inovasinya. , meski inovasi yang sangat sederhana. Tanpa ada perintah dari atasannya — sebagai petugas yang mematikan AC — pegawai ini punya gagasan untuk mematikan AC lima belas menit sebelum jam tutup kantor. Berdasarkan pengalamannya, pegawai ini tahu bahwa selama lima belas menit, ruang kantor itu masih menyimpan udara dingin yang ditinggalkan AC yang telah dimatikan itu. Namun, dia berkayakinan pula bahwa dalam lima belas menit itu kantornya akan dapat menghemat sejumah uang ekuivalen dengan daya listrik di kantor yang telah dimatikan itu.

Walhasil, setelah beberapa bulan berlangsung, kepala bagian keuangan di kantor begitu terkejut karena adanya penurunan biaya listrik di kantornya pada bulan-bulan terakhir. Dicarilah faktor penyebabnya. Akhirnya diketahui bahwa ”inovasi” si tukang mematikan AC yang menjadi penyebabnya. Akhirnya, si tukang mematikan AC justru memperolah penghargaan dari pemerintah karena inovasi kecilnya.

Refleksi

Kita berharap makin banyak warga negara di negeri ini yang mau dan mampu melakukan inovasi. Semakin banyak inovasi akan semakin banyak orang yang hebat, yakni orang yang memikirkan gagasan-gagasan atau ide-ide. Orang hebat adalah memikirkan gagasan-gagasan. Orang yang sedang adalah yang memikirkan fakta-fakta. Sedang orang yang kecil adalah yang hanya memikirkan orang lain (Brian Tracy). Wallahu alam bishawab.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 14 Mei 2008.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Artikel

Mendidik Diri Sendiri

Oleh: Suparlan *)  Alhamdulillah. Awal tahun 2016 ini usia memang bertambah. Tetapi pada hakikatnya, jatah hidup kita sesungguhnya…