ArtikelPendidikan

Kiprah SMP Negeri 30 Pulau Bala, Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

I have never seen a good school with a poor principal or a poor school with a good principal. I have seen unsuccessful schools turned into successful ones and, regrettable, outstanding schools slide rapidly into decline. In each case, the rise or fall could readily be traced to the quality of the principal
(James Lipham in Effective Principal, Effective School)

SMP Negeri 30 Pulau Bala, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo dibangun pada tahun 2006 oleh pilar pertama Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP). SMP ini termasuk salah satu sekolah dari 2.000 sekolah satu atap yang sedang dan telah dibangun oleh pilar pertama AIBEP tersebut. Sekolah yang dibangun AIBEP meluputi 1.500 sekolah untuk Depdiknas dan 500 sekolah untuk Departemen Agama.

Pada awalnya, SMP Negeri 30 Pulau Bala itu hanya dapat memperoleh 7 orang siswa. Sementara Kepala Sekolah untuk SMP itu baru diangkat setahun kemudian. Menghadapi masalah rendahnya tersebut, maka kepala sekolah yang baru diangkat tersebut kemudian melakukan daya upaya untuk meningkatkan jumlah siswa serta sekaligus meningkatkan kinerja sekolahnya. Untuk ini, maka tidak ada jalan lain yang harus ditempuh kecuali melakukan kegiatan yang memiliki kategori kreatif dan inovatif, yakni kegiatan yang tidak biasa dilakukan oleh sekolah-sekolah yang sudah mapan.

Kepala sekolah yang diangkat di SMP Negeri 30 Pulau Bala adalah Abdul Wachid, yakni seorang guru ditugasi untuk mengajar di sekolah itu. sejak sekolah itu mulai dibangun. Sejak ditugasi sebagai guru di sekolah itu, perhatian beliau mulai tercurah kepada upaya agar tamatan SD di daerah itu meneruskan sekolah ke SMP Negeri 30 Pulau Bala. Pelatihan Pengembangan Sekolah Terpadu (WSD = whole school development) ternyata telah banyak mengubah pola pikirnya (mindset) tentang manajemen berbasis sekolah (MBS), Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM), Peran Serta Masyarakat (PSM), dan materi lain yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan pendidikan di sekolah. Kegiatan workshop yang diikutinya diakuinya telah mampu mengubah pola pikir (mindset) untuk tidak melakukan sesuatu yang biasa (doing as usual) tetapi melakukan kegiatan yang luar biasa.

Kepala Sekolah

Dalam paparannya di hadapan peserta kegiatan sosialisasi program WSD di Quality Hotel di Gorontalo pada tanggal 8-10 Oktober 2008, kepala sekolah SMP Negeri 30 Pulau Bala, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontali telah mencoba mengadakan analisis SWOT sederhana. Hasil analisis tersebut kepala sekolah telah menemukan dua masalah yang dihadapi sekolahnya, yakni (1) kekurangan dana, dan (2) ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja sekolah. Hasil analisis SWOT tersebut menjadi dasar pertimbangan utama untuk melakukan daya upaya yang luar biasa tersebut. Apa saja yang dilakukan?
Pertama, berbuat dahulu sebelum melakukan pendekatan kepada masyarakat. Rupanya, kepala sekolah terinspirasi oleh motto “hidup adalah perbuatan’. Inilah tekad kuat yang dilaksanakan oleh kepala sekolah untuk membangun sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah bersama warga sekolah melakukan berbagai kegiatan sebagai bentuk pendekatan dengan masyarakat.

Kedua, pelaksanaan shalat jenazah menjadi media untuk memperkenalkan sekolah kepada masyarakat. Kepala sekolah melakukan kegiatan sosialisasi dengan menggunakan media shalat jenazah. Memang agak aneh. Tetapi ternyata kegiatan ini cukup rasional. Setelah muridnya merayap menjadi sekitar 20 orang siswa, kepala sekolah meminta kepada guru agama di sekolahnya untuk memberikan kemampuan kepada peserta didiknya dalam hal melaksanakan shalat jenazah. Ketika ada salah seorang warga masyarakat yang meninggal dunia, maka kepala sekolah bersama guru dan tata usaha, serta semua siswa yang telah dilatih melakukan takziah ke rumah warga masyarakat tersebut dan melakukan shalat jenazah berjamaah. Setiap ada warga masyarakat yang meninggal dunia maka kepala sekolah bersama dengan warga sekolah melakukan shalat jenazah berjamaah. Hasilnya luar biasa. Masyarakat mengenal dengan baik sekolah yang baru berdiri tersebut.

Ketiga, Kursus Bahasa Inggris. Kepala sekolah ingat kepada beberapa mantan siswanya di SMA, mengetahui kemampuan akademis mantan siswanya tersebut. Ada beberapa mantan siswa SMA tersebut yang sebenarnya memiliki kemampuan akademis yang cukup baik, misalnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Oleh karena SMPN 30 belum memiliki guru Bahasa Inggris yang berkualifikasi, maka dimintalah mantan siswa tersebut untuk menjadi guru honor dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Kepala Sekolah meminta agar para siswa SMP diberikan tambahan kursus Bahasa Inggris. Targetnya, selama tiga bulan ada siswa yang bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dengan cukup lancar, misalnya bisa berpidato dalam Bahasa Inggris. Kemampuan siswa dalam Bahasa Inggris akan “dijual” kepada orangtua siswa dan masyarakat, agar orangtua siswa dan masyarakat mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada sekolah.

Keempat, tuntas baca Al Quran. Mayoritas masyarakat Gorontalo beragama Islam. Oleh karena itu kegiatan tuntas baca Al Quran merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kepala sekolah menilai bahwa salah satu kompetensi lulusan SMPN 30 Pulau Bala adalah mampu dan tamat membaca Al Quran.

Kelima, para guru melakukan home visit. Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dengan keluarga, kepala sekolah dan para guru melakukan kegiatan kunjungan ke rumah-rumah peserta didik, tidak hanya jika peserta didik mengalami masalah, melainkan untuk membicarakan segala sesuatu yang terkait dengan peserta didik.

Keenam, pertandingan olahraga antar orangtua siswa. Kegiatan ini memang jarang dilakukan oleh sekolah. Tetapi kepala sekolah mencoba melakukan kegiatan ini dengan tujuan untuk mengeratkan hubungan sinergis antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kegiatan seperti ini telah dilakukan di sekolah di Amerika dalam bentuk kegiatan The First Day Festival atau Festival Hari Pertama Sekolah. Dengan kegiatan ini, anak-anak yang takut masuk sekolah menjadi senang pergi ke sekolah. Dengan kegiatan seperti ini, kepala sekolah, guru, orangtua siswa, dan tokoh masyarakat dapat saling kenal mengenal. Dari saling kenal tersebut maka terjadilah kepedulian semua pihak terhadap sekolah.

Ketujuh, membentuk Paguyuban Wali Siswa. Setelah beberapa kegiatan sekolah sedikit banyak telah dapat menimbulkan kepedulian keluarga dan masyarakat terhadap sekolah, maka kepala sekolah mulai memikirkan untuk dapat membentuk embrio Komite Sekolah. Mengingat orangtua siswa kebanyakan berasal dari Jawa, nama embrio Komite Sekolah yang digunakan adalah Paguyuban Wali Siswa.

Kedelapan, kerjasama dengan DUDI. Sekolah, keluarga, dan masyarkat merupakan tiga institusi yang harus saling bekerjasama. SMPN 30 Pulau Bala mencoba membuka diri untuk bekerjasama dengan DUDI yang ada di daerah kabupaten/kota. Kerjasama ini harus dimulai, meski belum banyak hal yang dapat dicapai. Tapi setidaknya, satuan pendidikan tidak mau menjadi menara gading yang terlepas dari masyarakat.

Dengan berbagai gebrakan kepala sekolah tersebut, secara pelan tetapi pasti sekolah mulai dapat dikenal secara luas. Jumlah murid yang masuk di sekolah ini pun semakin banyak. Siapa yang menanam, siapa yang memetik. Kepala sekolah dan semua warga sekolah telah melakukan kerja keras untuk memperkenalkan satuan pendidikannya kepada masyarakat, yang pada gilirannya antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat bekerja sama secara sinergis untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Komite Sekolah

Setelah Paguyuban Wali Siswa terbentuk di sekolah, maka lembaga ini bermetamorfose menjadi komite sekolah. Komite Sekolah ini segera malakukan langkah-langkah kongkrit untuk melaksanakan perannya secara bertahap. Komite Sekolah SMPN 30 Pulau Bala dipimpin oleh seorang tokoh LSM, yang mempunyai karakteristik yang gesit enerjik dan sangat terbuka, yaitu Bapak Robin.

Beberapa penjelasan dari ketua Komite Sekolah dalam acara sosialisasi program WDD-WSD AIBEP antara lain sebagai berikut.

Sekolah sebagai miniatur negara

Ketua Komite Sekolah memberikan perumpamaan sekolah sebagai sebuah negara. Jika negara mempunyai seorang presiden dan DPR, maka sekolah mempunyai kepala sekolah dan Komite Sekolah. Satu perumpamaan yang sangat tepat dan masuk akal. Dalam level sekolah, kepala sekolah melaksanakan tugasnya dengan dibantu oleh komite sekolah. Terkait dengan praktik hubungan antara kepala sekolah dan komite sekolah, Bapak Robin  menegaskan bahwa Komite Sekolah seharusnya lebih menjadi mitra ketimbang menjadi oposisi dari kepala sekolah.

Lobi-lobi Ketua Komite Sekolah

Menanggapi masalah yang dihadapi SMPN 30 Pulau Bala, ketua Komite Sekolah telah melakukan lobi-lobi yang sangat positif, misalnya lobi dengan SMP Induk dalam urusan jumlah peserta didik yang berasal di daerah lokasi SMPN 30 Pulau Bala. Bahkan ketua Komite Sekolah juga mampu melakukan lobi dengan balon pilkada bupati dalam rangka mendapatkan dukungan upaya peningkatan mutu SMPN 30 Pulau Bala.

Akhir Kata

Sekolah yang bagus tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan jika tidak dipimpin oleh kepala sekolah yang bagus. Demikian juga sebaliknya, kepala sekolah yang bagus juga tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak didukung oleh warga sekolah yang bagus. Maju mundurnya suatu sekolah akan ditentukan oleh keduanya.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Gorontalo, Oktober 2008

 

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.