ArtikelBudaya

Cara Mengatasi Perbedaan Pendapat di Media Sosial Karena Ulah Netizen

Ulah netizen Indonesia memang seringkali membuat ramai jagat media sosial. Perang opini banyak terjadi entah itu di Facebook, Instagram, maupun Twitter. Dilihat dari sudut pandang kebebasan berpendapat, hal ini sebetulnya baik karena Indonesia adalah negara demokrasi dimana semua orang boleh beropini.

Masalahnya adalah, terkadang ada pihak-pihak yang menggunakan opininya untuk menyerang atau menjatuhkan. Bukan untuk memperkaya wawasan. Belum lagi kalau kata-kata yang digunakan cenderung kasar serta merendahkan. Terlebih, perdebatan sering melebar kemana-mana, menjauh dari pokok persoalan. Iklim media sosial seperti inilah yang kemudian mengantarkan Indonesia menjadi negara paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Duh!

Nah, supaya kita tidak terseret kedalam pusaran perdebatan yang hanya menghabiskan waktu serta tenaga, perhatikan hal-hal di bawah ini ya :

  1. Ketahui dengan pasti pokok permasalahan.
    Misalnya nih, dalam kasusnya dr.Louis yang meresahkan itu. Cuitannya di twitter banyak menggiring publik untuk tidak percaya adanya covid-19, vaksin, dan segala ubo rampenya. Hal ini tentu menyulitkan usaha para tenaga kesehatan, pemerintah, dan segenap masyarakat yang ingin pandemi ini segera berakhir. Usut punya usut, sang dokter diketahui sebagai ODGJ alias Orang Dengan Gangguan Jiwa. Dengan adanya informasi yang terang seperti ini, kita jadi tahu harus beropini seperti apa bukan?
  2. Gunakan bahasa yang baik.
    Jejak digital itu sulit hilang loh teman. Jadi, pastikan untuk selalu menggunakan kata-kata yang baik serta sopan ketika berpendapat. Jangan sampai, kesempatan-kesempatan baik yang akan datang di kemudian hari jadi hilang gara-gara sejarah kita di dunia digital dinilai buruk.
  3. Mundur lebih baik daripada mengumbar emosi.
    Seperti yang disampaikan dalam sebuah hadist “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Jadi, apabila lawan debat sudah mulai menggunakan hate speech atau opini yang tidak berdasar, tinggalkan saja.
  4. Hargai pendapat orang lain.
    Tujuan seseorang berdebat adalah untuk meyakinkan pihak berlainan tentang sesuatu agar sama dengan keyakinannya. Contoh simpel banget nih : wabah covid. Ada banyaaaaakk sekali orang yang menganggap bahwa covid-19 hanya akal-akalan pemerintah saja untuk jualan vaksin, jualan obat, dan korupsi bansos. Well, bagian korupsinya bisa jadi benar, tapi bahwa covid-19 hanya bohongan itu salah. Virus covid-19 itu nyata. Meski demikian, bagi yang sudah yakin bahwa covid tidak ada, akan menutup mata dan telinga dan hanya percaya dengan yang mereka yakini saja. Kalau sudah begini, yasudah. Jangan habiskan tenaga untuk mengubah pandangan mereka, cukup sampaikan pesan bahwa percaya atau tidak, tetap gunakan masker jika keluar serta ikut vaksin.

Ternyata media sosial yang awalnya digunakan untuk happy-happy saja justru bisa bikin pusing ya teman-teman? Agar tetap waras, mungkin kita bisa mengatur waktu bermain medsos secukupnya saja dan berbuat nyata lebih banyak di dunia sesungguhnya. Kalau Anda punya ide yang lain? Silakan tulis di kolom komen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.