ArtikelBukuPendidikan

Kelahiran Pancasila

Oleh Suparlan *)

Pada hari ini, tanggal 1 Juni 2015, hari kelahiran Pancasila ke-70. Pada hari itu, tujuh puluh tahun yang lalu, Pancasila menjadi dasar negara yang telah berhasil diproklamasikan atas nama rakyat dan bangsa Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Alhamdulillah, dengan dasar negara Pancasila, bangsa yang dibangun oleh bangsa yang ber-”Bhinneka Tunggal Ika” ini telah melalui perjuangan panjang menjadi negara yang jumlah penduduknya terbesar kelima di dunia. Masih jauh perjalanan memang untuk mencapai empat tujuan negara yang teruang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni 1) melindungai segenap bangsa Indonesia, 2) memajukan kesejahteraan umum, 3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan 4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Untuk mencapai tujuan negara dan bangsa tersebut, sudah barang tentu tidak akan dapat dicapai bak membalikkan telapak tangan. Tujuan tersebut tidak akan dapat dicapai bak turun dari langit. Tujuan itu harus digapai melalui kerja keras dan perjuangan, bukan oleh seorang diri meski orang itu bak superman yang bisa mengatasi segala macam tantangan dan mara bahaya. Tujuan negara itu harus dicapai melalui kerja sama superteam antara anak-anak bangsa di negeri ini. Orang bilang “we are not looking for a superman, but we are looking for a super-team.” Kita tidak mencari orang hebat seperti superman, tetapi kita mengharapkan kehadiran kehadiran sebuah team yang kokoh. Inilah yang diperlukan pada masa kini untuk mencapai tujuan bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila.

Syukur Alhamdulillah, dasar negara Pancasila dan rumusan Pembukaan UUD 1945 menjadi maha karya para pendiri bangsa yang sangat kokoh untuk dijadikan acuan jangka panjang dalam membangun dan menjapai tujuan mulia anak-anak bangsa ini. Jika negara adikuasa Amerika Serikat telah berhasil membangun Amerika dengan lambang negara “Unity in Diversity” melalui “Declaration of Indevendence,” Indonesia telah berhasil memiliki lambang negara “Bhinneka Tunggal Ika” dan dasar falsafah negara Pancasila, yang kita peringati hari kelahirannya yang ke-70 ini tepat pada tanggal 1 Juni 2015 ini.

Memperingati hari kelahiran Pancasila sebagai dasar filsafat negara, tentu tidak dapat dilepaskan dengan penjabarannya yang paling esensial, yakni memantapkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, sebagai lambang negara dan moto nasional untuk membangun kesatuan dan persatuan bangsa. Tulisan ini kembali ingin meluruskan tulisan dalam judul buku Mengobarkan Kembali Api Pancasila yang ditulis oleh mantan Gubernur Lemhanas. Sekali lagi sekali lagi penulis ingin meluruskan tulisan ini, karena tulisan tersebut terdapat kekeliruan makna tentang kata “ika.” pada halaman 181, dalam Bab 4 Beberapa Masalah Sosial Budaya, dalam subbab Pluralisme Sebagai Kekayaan Bangsa, tertulis “Kelalaian pertama adalah ketika para pemimpinnya terlalu mengutamakan Ika dan mengabaikan Bhinneka.” Apa yang dimaksud dengan makna “ika?” Sudah barang tentu, kalimat tersebut memberikan makna “ika” dengan satu, dan memberikan makna “Bhinneka” dengan berbeda.

Makna Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kata Bhinna artinya pecah atau berbeda. Ika artinya Itu. Tunggal artinya Satu, dan Ika artinya Itu. Singkat kata Bhinneka Tunggal Ika artinya Berbeda Itu Satu Itu. Dalam Bahasa Jawa Ika artinya Iku. Ini bersumber dari www.wikipedia.com. Inilah hasil penelusuran makna Bhinneka Tunggal Ika dari sumber yang dapat dipercaya.

Sumber aslinya berasal dari Kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular pada zaman Majapahit. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Secara lengkap kakawin tersebut berasal dari pupuh 139, bait 5, sebagai berikut:

“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,”

Terjemahannya sebagai berikut:

“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Terpecah belahlah itu, satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.” Inilah hasil penelusuran makna Bhinneka Tunggal Ika, untuk meluruskan isi buku Mengobarkan Kembali Api Pancasila. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin.

Dengan memperingati hari kelahiran Pancasila pada tahun ini, penulis berharap mudah-mudahan pemaknaan Bhinneka Tunggal Ika dapat diluruskan kembali sesuai dengan makna dari sumber aslinya. Mudah-mudahan.

*) Laman: www.suparlan.com: Surel: me@suparlan.com.

Depok, 1 Juni 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *