ArtikelBudayaDunia IslamPendidikan

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Tulisan singkat ini saya petik dari buku berjudul Agar Hati Tidak Keras, khususnya Bab 5 tentang Pendidikan Hati. Memang ada kata-kata bijak yang menyatakan bahwa Pendidikan Otak tanpa Pendidikan Hati sama dengan tanpa arti. Hal tersebut dijelaskan dengan baik oleh pengarangnya Jamal Ma’mur Asmani, seorang yang memang telah malang melintang berpengalaman dalam dalam tulis menulis.

Tulisan ini sebenarnya lebih merupakan esensi tentang Pendidikan Hati. Karena perbedaan latar belakang pendidikan, intensi Jamal Ma’mur lebih kepada masalah tasawuf, sedang saya lebih kepada proses pendidikan hati itu sendiri. Perlu diketahui, Jamal Ma’mur dan saya sama-sama mengenyam perpustakaan Universitas Darul Ulum Jombang, walau pun dalam waktu yang berbeda.

Bahasa Arab

Takhalli, tahalli, dan tajalli memang bahasa Arab. Saya memang sama sekali tidak memahami bahasa Arab. Demikian pula dengan makna akar kata ketiga kata tersebut. Itulah kelemahan saya dan kelemahan umat Islam pada umumnya. Iqra’ kita pada umumnya belum dalam tataran “how to understand” atau memahami. Oleh karena itu saya hampir terkecoh dengan tiga kata yang hampir mirip tersebut. Apa maknanya, apa perbedaan maknanya, dan seterusnya. Dengan demikian maka saya justru akan lebih banyak belajar dengan cara menuliskannya. Pelajarilah ilmu itu dengan menuliskannya. Demikianlah petuah Sayyidinna Ali yang masuk ke hati nurani saya.

Takhalli adalah proses pengosongan hari dari semua penyakit hati yang mengotorinya. Itu saja yang saya ketahui. Tekniknya diberikan oleh K.H. Aqiel Siradj (2013) dengan dilakukan secara gradual. Misalnya sehari tidak mencela orang, sehari tidak menggunjing orang lain, dan seterusnya, sehingga hati kita menjadi bersih. Tapi teknik ini pun bisa sangat teoritis, bukan praktik, karena saya sering mendengarkan ungkapan K.H. Aqiel Siradj[1] yang bertentangan, misalnya ungkapan tentang “jenggot makin panjang makin goblog.” Jadi teknik tersebut bisa terjadi sangat teoritis sekali. Tidak terjadi seperti proses internalisasi nilai, seperti yang dijelaskan oleh Benjamin S. Bloom tentang proses pencapaian ranah afektif dengan lima tahap internalisasi nilai-nilai, yang disebut sebagai proses pembiasaan atau proses budaya, sebagai berikut:

  1. Receiving phenomena (penerimaan fenomena);
  2. Responds to phenomena (respon terhadap fenomena);
  3. Valuing (menilai)
  4. Organization; dan (organisasi);
  5. Internalizes values (internalisasi nilai-nilai).

Jadi proses pengosongan hati tersebut tidak terjadi dengan sendirinya. Harus dengan kesungguhan hati. Justru proses yang paling penting adalah Tahalli, yakni proses menghiasi hati dengan sifat-sifat yang terpuji. Ada 11 (sebelas) kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin memiliki hati yang terpuji tersebut, yakni:

  1. Sabar: adalah kemampuan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah secara konsisten. Sabar itu meliputi tiga hal, yakni menjalankan perintah Allah tanpa reserve, dan meninggalkan larangannya, dan sabar ketika mendapat musibah. Pantaslah jika orang yang sabar adalah orang yang memperoleh kasih sayang Allah.
  1. Tawakkal: adalah kemampuan berserah diri hanya kepada Allah. Yang harus dihindari adalah berserah diri kepada selain Allah, karena hal tersebut adalah musrik, dan orang yang musrik memiliki dosa yang tak terampuni. Yang harus difahami adalah orang tawakkal akan bekerja sepenuh hati, bukan setengah hati. Bahkan cepat berserah diri dan takluk jika tujuan yang akan dicapai tidak berjaya.
  1. Syukur: adalah berterima kasih sepenuh hati atas segala kenikmatan dari Allah. Orang yang bersyukur meyakini bahwa rezeki tidaklah salah pintu.
  1. Qanaah: adalah menerima terhadap semua berkah dan rahmat dari Allah.
  1. Zuhud: adalah sikap seseorang yang tidak terpedaya oleh dunia meski dikelilingi dunia.
  1. Wira’i: adalah sealalu menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah.
  1. Hilm: adalah menghormati dan santun terhadap orang lain atau kepada siapa pun.
  1. Rauf: adalah kasih sayang kepada orang lain atau kepada siapa pun.
  1. Raja’: adalah selalmu memiliki harapkan yang baik kepada siapa pun terutama untuk bertemu kepad Sang Khalik.
  1. Harish: adalah sikap yang trengginas, sigap dan giat untuk melakukan sesuatu yang membawa manfaat bagi siapa pun.
  1. Ikhlas: ikhlas lebih baik dari tulus. Tulus bisa melakukan sesuatu karena alasan tertentu, karena pribadi, orang lain, bahkan karena selain dari Allah. Tetapi ikhlas adalah melakukan sesuatu hanya karena Allah semata.

Jika Takhalli dan Tahalli telah dapat dicapai, maka yang terakhir adalah Tajalli, yakni proses menjadi insan kamil. Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani, insan kamil tersebut adalah insan paripurna. Sama sekali bukan lagi berhawa nafsu sebagai hewan, melainkan malaikat berbadan manusia. Wallahu alam bishawab.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com. Kritik dan masukan akan saya terima dengan menyimpan dalam guci emas untuk perbaikan tulisan yang akan datang.

Depok, 27 Februari 2016.

[1] Jamal Ma’mur Asmani, Agar Hati Tidak Keras, Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Hal. 111.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *