ArtikelBudayaDunia IslamPendidikan

Membimbing Anak Balita Shalat Berjamaah di Masjid

Tidak ada komentar

Oleh: Suparlan *)

Shalat memang harus khusuk. Shalat memang juga harus sesuai dengan rukun-rukun shalat sesuai yang diperintahkan oleh Allah. Dalam hal amalan ibadah mahdhoh, ada kaidah hukum yang harus diikuti, yakni semua haram dilaksanakan kecuali yang ada diperintahkan dalam ayat dan Hadits.   Lebih dari itu, orangtua juga mempunyai kewajiban untuk memberikan suri tauladan kepada anak balita ke masjid secara dini. Terlambat dalam memberikan teladan akan menjadi sebab terjadinya pendangkalan akidah kepada anak-anak kita. Karena dalam ilmu pendidikan proses pendidikan yang paling penting bukan perintah, melainkan memberikan contoh sebagai suri tauladan.

Masalah

Suatu ketika, saat shalat berjamaah di Masjid Al-Mujahidin, ada seorang anak balita — mungkin juga malah batita —-yang diajak shalat bersama oleh orangtuanya. Masalahnya terjadi karena sang balita berlari-lari di depan beberapa jamaah. Perilaku ini pastinya akan mengganggu konsentrasi jamaah. Shalat pun tidak khusuk sebagaimana yang diharapkan. Dalam acara kajian Islam tanggal 8 November 2015, muncullah pertanyaan dari jamaah sebagai berikut: (1) apakah boleh mengajak anak balita ke masjid jika mengakibatkan tidak khusuknya shalat berjamaah kita, (2) apakah boleh memberikan penjelasan kepada orangtuanya agar kejadian tersebut dapat dicegah? Tulisan singkat ini akan menjawab dua pertanyaan tersebut, dan memberikan alternatif upaya penyelesaiannya.

Ketika pertanyaan tersebut diajukan kepada Ustadz, Pak Ustadz pun menunjuk kepada saya sebagai salah seorang yang dipandang tua oleh lingkungan jamaah tersebut. Adalah satu kewajiban moral untuk sedikit dapat memberikan wawasan tentang pendidikan anak (pedagogi) kepada para jamaah. Kebetulan Pak Ustadz mengetahui sedikit tentang saya, yakni bergerak sebagai orang Kemdikbud, yang setiap hari bergerak dalam bidang pendidikan. Pastinya uraian tentang wawasan tentang pendidikan anak ini, pastinya akan menyangkut pendidikan orang dewasa (andragogi) kepada orangtuanya pula. Isnyaallah. Amin.

Anak bukanlah orang dewasa yang masih kecil

Dalam pedagogi sering diingatkan bahwa anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa. Apa itu orang dewasa? Orang dewasa adalah orang yang telah dapat melakukan suatu perbuatan secara bertanggung jawab. Anak-anak bukanlah orang dewasa yang masih kecil. Anak-anak adalah mahluk yang belum dewasa, yakni belum dapat melakukan satu perbuatan secara bertanggung jawab. Jadi, ketika ada anak balita yang diajak ke masjid, dan kemudian berlari-lari di depan jamaah, maka perbuatannya itu dilakukan karena belum tanggung jawab. Perbuatannya itu tidak dapat dituntut pertanggungjawabannya. Namun, ketika anak sudah menginjak dewasa (akil baligh) perbuatannya sudah dapat dituntut dengan sangsi hukum. Sedang perbuatan anak, termasuk kewajiban melaksanakan shalat, belum dapat dikenakan sangsi hukum terhadap anak, apalagi masih balita.

Dalam hal ini, sering kita menganggap anak balita sudah dapat dididik dengan cara orang dewasa, dengan cara diberi tahu, diberikan contoh, diberi larangan, diberikan arahan, diberikan motivasi dengan bahasa orang dewasa. Kita menganggap anak balita itu sama dengan orang dewasa yang masih kecil. Padahal keduanya berbeda sama sekali, tidak hanya secara fisik, tetapi juga berbeda secara mental spiritual.

Pendidikan adalah proses pembudayaan

Proses pendidikan (pedagogi) kepada anak lebih merupakan proses pembiasaan dan bangkan proses bimbingan[1]. Oleh karena itu proses pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan proses pembiasaan. Dan proses pembiasaan tidak dilepaskan dengan proses pembudayaan. Membuang sampah pada tempatnya, sebagai contoh  adalah proses pembiasaan. Demikian juga dengan kebiasaan antri, kebiasaan gosok gigi. Itulah yang kemudian dikenal dengan karakter, sikap dan perilaku, atau dalam bahasa Agama disebut sebagai akhlakul karimah. Oleh karena itu, melaksanakan shalat termasuk dalam karegori akhlakul karimah yang harus dilaksanakan melalui proses pembiasaan. Kebisaan tersebut akan menjadi perilaku yang sifatnya taklid buta pembiasaannya jika tidak melalui oleh pemahaman secara rasional.

Teori Benjamin S. Bloom tentang proses pembentukan ranah afektif.

Oleh karena itu, dalam ilmu pendidikan (pedagogi) proses tersebut dikenal ranah afektif Ranah ini berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Proses pembentukan kebiasaan menjadi budaya melalui proses sebagai berikut:

  1. Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan)
  2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
  3. Valuing(menilai atau menghargai)
  4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
  5. Characterization by value or calue complex(karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai).

Proses pembiasaan atau pembudayaan tersebut dikenal sebagai proses karakterisasi, atau proses pembentukan karakter atau karakterisasi. Itulah yang diharapkan oleh orangtua kepada anak atau cucunya, ketika anak mulai memasuki usia balita. Upaya pembentukan karakter anak balita dengan mengajak anak balitanya merupakan keharusan bagi orangtuanya. Pertama, anak tersebut memang harus mulai mengenal apa itu dan bagaimana itu shalat. Kedua, kegiatan tersebut memerlukan respon secara aktif oleh anak, termasuk menerima atau sebaliknya. Ketiga, proses tersebut melalui proses menilai atau menghargai (menerima atau menolaknya). Keempat, setelah itu, termasuk proses penerimaan nilai dalam diri sang anak. Kelima, terjadilah proses penerimaan nilai yang disebut sebagai proses karakterisasi.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com;

Depok, 8 November 2015.

 

[1] Suparlan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Sampai dengan Implementasi, Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2004, hal. 83.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.