ArtikelBudayaBukuPendidikan

Pembelajaran Melalui Internet

1 Komentar

Oleh: Suparlan *)

Tahun pelajaran 2015 ini istimewa. Mungkin juga bagi dosen FKIP Universitas Tama Jagakarsa lainnya. Hanya Allah Swt. juga yang telah menunjukkan jalan itu. Ihdinashirotol mustakim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Marilah kita menjadi generasi pelurus, bukan hanya generasi penerus. Materi pelajaran sudah di buatkan modul. Juga dalam bentuk power point. Tapi tahun akademis sebelumnya bahan kuliah itu masih harus saya kopi dulu. Baru kemudian hardcopynya saya berikan kepada mahasiswa untuk dipelajari. Hasilnya? So so! Gitulah kira-kira. Artinya sedang-sedang saja. Banyak modul yang mungkin hanya dijadikan bantal tidur. Tahun akademik kemarin, saya minta kepada mahasiswa untuk membeli buku tulisan saya yang telah diterbitkan oleh PT. Bumi Aksara. Semua mahasiswa memang membeli. Bagi mahasiswa memang lumayan. Ada bahan kuliah yang menjadi rujukan untuk belajar. Maksud hati untuk meningkatkan budaya literasi. Ya, yang namanya mahasiswa, setidaknya ada yang pegang buku teks! Bukan menjadi panji klantung, yang hanya klepas-klepus mengisap rokok jika istirahat. Beginikah generasi emas yang kita harapkan?

Kembali ke modul, saya lihat memang belum menjadi kebanggaan mahasiswa. Mereka dengan malu-malu memegangnya. Pegangnya aja malas. Apalagi membaca dan mengkajinya sebagai bahan diskusi. Karena itu memang akan lebih baik kalau pegang buku teks. Kerenlah sedikit. Apalagi kalau bukunya tebal, dan Bahasa Inggris pula! Wow mahasiswa Universitas Tama Jagakarsa lho! Banyak di antara dosen yang berharap seperti itu. Untuk membesarkan universitas? Ya kalau hanya secara kuantitas tentu memang penting. Tapi kalau sekalian kualitasnya, maka itulah yang ngejossss. Lebih penting. Kerja sama universitas dengan penerbit menjadi keniscayaan. Begitulah kira-kira. Bikin PENA UTAMA saja kadang terbit kadang tidak.

Alamat e-mail mahasiswa

Terpikirlah untuk memiliki e-mail mahasiswa. Dengan alamat itu, dosen akan dapat mengirimkan bahan kuliah kepada mahasiswa. Wow. Ternyata belum semua mahasiswa memilikinya. Belum semua mahasiswa punya amalat e-mail. Cara menuliskan alamat e-mail itu perlu diingatkan. Ada yang tulisannya asal-asalan. Pendek kata diminta untuk lebih teliti. Dengan alamat e-mail tersebut, dosen mengirimkan power point dan bahan kuliah yang lain. Power point di sini bukanlah dalam bentuk buku teks yang disajikan dalam power point. Isinya adalah semacam hand out untuk mahasiswa, dan tulisan-tulisan lain dari internet untuk dijadikan materi kuliah. Menyimpan bahan kuliah ibarat menghalangi penyebaran ilmu. Itu paradigma konvensional namanya. Dosen atau guru menjadi sumber ilmu, dan baru dikucurkan kepada mahasiswa jika mereka menengadahkan tangannya untuk menerima ilmu itu! Sekali lagi itulah paradigma konvensional yang perlu dihilangkan. Itulah model zaman kerajaan. Model satriyo piningit. Ilmu yang akan diberikan kepada satriyo piningit harus melalui upacara kramas air dari pancuran tujuh! Mestinya, ilmu itu dipajang seperti di mall atau di warung makanan siap saji. Mahasiswa tinggal pilih dan ambil ilmu yang diinginkan. Nah, internetlah wahananya. Melalui internet, mahasiswa dapat memilih bahan kuliah yang telah disajikan oleh dosennya. Kalau memang materinya harus dikawal oleh tim penilai, yah bentuklah tim penilai yang akan menyeleksi materi kuliah sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Sampai saat ini, materi kuliah yang harus ditransfer kepada mahasiswa juga belum pernah dinilai. Inilah yang disebut standar isi dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). Ingat 8 standar nasional pendidikan?

Buka internet di dalam kelas?

Semua kelas sudah memiliki infocus. Luar biasa itu! Terima kasih kepada Universitas Tama yang telah menyediakan perangkat modern itu. Perangkat seperti itu sebenarnya tidak perlu digotong-gotong ke atas ke bawah seperti sekarang ini. Kasihan mahasiswa, dan room boy-nya. Takut rusak? Tidaklah ada yang mau merusak atau mengambilnya. Kan ruang kelas sudah dikunci? Perangkat semacam itu mestinya sudah harus siap pakai di kelas. Itulah contoh di kampus SSE (Sampurna School of Education). Jadi, internet harus masuk Universitas Jagakarsa. Internet harus masuk ke semua ruang kelas mahasiswanya. Yang kurang saat ini adalah Wi-Fi di ruang kelas. Suatu ketika kita memang harus memasang Wi-Fi di ruang kelas, agar mahasiswa lebih terbuka untuk memperoleh IPTEK. Mahasiswa kita masih gagap teknologi. Dalam wawancara Kick Andy, seorang siswa mengungkapkan beberapa penyakit para guru yang membuat penonton menjadi tertawa terbahak-bahak. Salah satu penyakit yang disebutkan oleh siswa tersebut adalah TBC (tidak bisa computer). Heee. Hal tersebut sudah barang tentu janganlah terjadi di kampus tercinta kita. Universitas Tama Jagakarsa. Apalagi dalam wisuda kemaren kita telah memiliki yel-yel yang sangat luar biasa. Seperti yel Merdeka-Ampera. Juga dengan yel-yel TA-MA-JA-KAR-SA-JA-YA. Meski tsunami meluluh lantakkan bumi ini, tapi bumi ini masih dihuni makhluk yang namanya manusia, hiduplah TA-MA-JA-GA-KAR-SA-JAYA.

Pesan melalui internet

Tujuan pendidikan yang akan dicapai bukanlah hanya ranah kognitif (pengetahuan), tetapi juga dalam ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotor (keterampilan). Oleh karena itu, pesan-pesan melalui e-mail juga harus dalam ketiga ranah tersebut.

Pesan-pesan yang disampaikan oleh dosen kepada mahasiswa melalui e-mail antara lain adalah: (1) buka dan print out bahan kuliah yang telah Anda terima melalui email; (2) jika ada sahabat Anda yang belum memiliki e-mail, tolonglah untuk membantu memiliki hardcopy-nya; (3) berilah komentar kritis terhadap bahan kuliah yang telah ada terima melalui e-mail ini; (4) carilah bahan kuliah yang lain dari laman pribadi dosen, print out, dan kajilah bahan kuliah tersebut; (5) sekali lagi berilah komentar kritis terhadap bahan kuliah tersebut; (6) semua komentar kritis And akan dinilai sebagai pelaksanaan tugas Anda yang akan dinilai dengan skor yang telah diatur dalam panduan akademik universitas (ingat kehadiran =10%, nilai tugas = 20%, nilai UTS = 20%, dan nilai UAS =50%). IP yang Anda peroleh setiap akhir semester yang mengukir sebenarnya Anda sendiri. Dosen hanyalah perantaranya.

Akhirulkalam, marilah tulisan ini kita tutup. Marilah kita belajar dengan menggunakan internet. Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Amin.

*) Taman Depok Permai Blok D Nomor 6, Depok II Timur, Kota Depok.

Depok, 24 September 2015.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

1 Komentar. Leave new

  • dadang adnan dahlan
    Sabtu, 10 Okt 2015 08:17:38

    Saya termasuk telat berkenalan dengan komputer, mungkin ketika memasuki usia 23 tahun baru mengenalnya. Itu pun setelah menyelesaikan perkuliahan. Sebelumnya, cukup mesin tik olympia atau brother yang apabila ada kesalahan pengetikan kerap menggunakan penghapus cair atau tip-ex kertas. Tunggu beberapa saat agar tulisan yang salah bisa ditimpah kembali (replace) dengan yang baru. Seringkali ujung jari tangan menghitam, oleh karena memutar-mutar putaran pita mesin tik yang macet, atau tidak mau berputar balik.
    Ketika menyusun karangan misalnya, seringkali kertas HVS disambung-sambung seperti kliping. Yang salah ditutup dengan saya benar. Terus hasil karya di-photo copy biar bekas tempelan tampak hilang. Ribet memang apabila dibandingkan dengan zaman sekarang menggunakan komputer, serba mudah. Tinggal klik! replace, backspace, atau copy paste. Lagi pula lebih gampang peroleh rujukan.
    Menafakuri kesenangan saya menulis: mudah-mudahan bisa mengikuti jejak Pak Parlan dengan teknik menulis genre baru-nya — saya seringkali teringat Bapak Drs. Hanapi Natasasmita (Alm.), guru bahasa Indonesia di SMA yang telaten mengajar. Ketelatenan beliau di antaranya ialah seringkali menunjukkan letak kesalahan karya tulis siswanya dengan tinta merah — dan itu sangat saya rasakan dan besar manfaatnya hingga sekarang.
    Mungkin ketika itu saya pernah berpikir, “Ah, Bapak … sudah susah-susah mengetik, eh malah dicoret-coret ….” Itulah pendidik sejati, yang selalu menunjukkan kesalahan karya tulis siswa. Berarti beliau benar-benar membacanya.
    Tentang komputer ini saya abadikan dalam puisi (lagu) berikut. Semoga berkenan.

    BELAJAR KOMPUTER*)
    Lirik: Dadang Adnan Dahlan
    Lagu : Supriatna Motekar
    Arr. : Budi Yanto

    Sungguh asyiknya belajar komputer
    Percepat dan permudah pekerjaan
    Terampil mengetik, pintar menggambar
    Olah data hingga program internet

    Unduh, unggah, laman, akun, jejaring
    Password, dotcom, blog, e-mail, daring
    Virus, homepage, Yahoo, Google, chatting
    http, www, website, dan plugin

    Reff.
    Masa depan yang penuh tantangan pasti
    Jangan ‘gaptek’ atau gagap teknologi !
    Dunia maya abad canggih informasi
    Genggam dunia, raih tinggi prestasi!!

    Jatinangor, 1 September 2007/12 Mei 2015
    *) Semula berjudul Pelajaran Komputer di SDN Cibeusi. Simak lagu: soundcloud.com. FB#Dadang Adnan Dahlan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel, Dunia Islam

Kultum 2: Amal

1. Puasa hari pertama tahun 2014 ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Muhammad Nuh, berkenan menyampaikan taushiah. Ada…