ArtikelDunia IslamPendidikan

Cerita Hati

Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

‘Ceritanya berkesan di hati’
(Paduan Suara Acara Cerita Hati)

Pada hari Ahad tanggal 3 Mei 2015 minggu yang lalu, saya ikut senam Tera Indonesia. Setelah senam ditutup dengan do’a, biasa kemudian saya ngobrol dengan teman-teman. Saling tanya ini itu tentang berbagai hal, termasuk kegiatan sebelum berangkat senam. “Tadi nonton acara Cerita Hari?” tanyaku kepada teman-temanku itu.

Selama minggu ini saya tertarik acara yang dipandu oleh Desy Ratnasari, dengan ustadz yang suka melucu, yang sering dipanggil “Wi.” W singkatan Widjayanto, konon sang usdadz orang Yogya yang juga seorang dosen universitas terkenal di kota itu. Wallahu alam, saya tidak tahu persis profil acara itu dan orang-orang yang mengasuhnya.

Memperkirakan sampel dan populasi umat yang belajar agama

Pertanyaan kepada teman-teman senam Tera itu ternyata dijawab “tidak”. Berarti tidak seorang pun yang nonton acara Cerita Hati tersebut. Jadi nol persen. Saya jadi kecewa. Kalau teman-teman senam Tera dapat saya jadikan sampel dari umat Islam Indonesia, maka berarti tidak ada seorang pun umat Islam yang nonton acara tersebut. Hanya saya dan istri saya saja yang nonton. Sampel tersebut rencananya akan saya perluas kepada teman-teman di kantor, atau di kampus, dengan pertanyaan yang sama, yakni sudah nonton acara Cerita Hati-kah? Saya ingin tahu, kira-kira berapa banyak umat Islam yang nonton acara tersebut. Untuk apa itu? Prosentase sampel teman-teman yang menonton acara tersebut akan saya gunakan untuk menghitung jumlah kira-kira jumlah umat Islam yang menonton acara yang sangat bagus itu. Bahkan saya ingin menghitung-hitung apakah jumlah itu sama saja jika saya menggunakan sampel jumlah peserta pengajian di Masjid Al-Mujahidin, masjid di kompleks rumah saya. Dalam pengajian setiap hari Ahad itu, saya selalu menyampaikan kekecewaan saya tentang sedikitnya jumlah peserta pengajian, yang tidak lebih dari sepuluh orang. Padalah, materi pengajian itu juga sangat bagus, dan pengajian itu juga dilaksanakan pada hari Ahad, yang seharusnya tidak banyak mengganggu kesibukan umat. Lalu, kenapa jumlah peserta pengajian tidak juga bertambah? Apakah materi pengajiannya tidak sesuai dengan materi yang diinginkan oleh peserta pengajian. Dalam arti kata tidak sesuai dengan kebutuhan. Ataukah karena metodenya kurang menarik? Terlalu banyak ceramahnya, barangkali, atau karena apa? Karena ada kesan mengutamakan golongan tertentu? Wallahu alam.

Materi dan Metode Dakwah

Setelah menonton acara Cerita Hati, saya jadi berandai-andai. Andaikan materi dan metodenya seperti acara Cerita Hati itu, barangkali pengajian di Masjid Al-Mujahidin itu pastilah akan lebih menarik, akan lebih banyak anak-anak muda yang ikut pengajian. Menurut saya, materi di pengajian itu sudah cukup bagus, dan pada akhir pengajian sudah dibuka lebar-lebar acara tanya jawab. Boleh jadi, acara tanya jawab itu jangan menunggu akhir acara. Lebih baik pengajian itu dibuka dengan acara tanya jawab dan diakhiri dengan tanya jawab. Artinya porsinya lebih banyak dengan tanya jawab, dan ceramahnya hanya menjadi selingan. Saya melihat dalam acara Cerita Hati itu tidak dikemukakan dalil-dalil yang panjang, untuk menunjukkan bahwa Pak Ustadz hafal ayat-ayat yang dibacakan. Bukan itu yang diperlukan peserta pengajian. Dalil-dalil pendek diperlukan untuk menjadi pedoman. Pak Ustadz dalam pengajian mungkin perlu melihat acara Cerita Hati tersebut barangkali. Bahkan saya jadikan sampel untuk memperkirakan berapa persen ustadz atau ustadzah yang senantiasa belajar dari acara dakwah di televisi. Bahkan, dalam acara pengajian di Masjid tersebut saya berikan contoh ada masjid yang telah memiliki infocus dan layar yang siap digunakan untuk menayangkan materi pengajian yang dikemas dengan baik. Ya, dalam pengajian di Masjid Al-Mujahidin, para ustadz memang telah memakai laptop dan tentu saja menggunakan HP android untuk mencari ayat-ayat yang diperlukan untuk menjelaskan.

Sebagai perbandingan

Begini. Acara Cerita Hari ini sangat bangus. Rileks sekali. Bukan dokmatis, tetapi lucu juga. Lagi, sangat logis, meski tidak menutup upaya untuk menghaluskan hati dan perasaan. Dengan demikian, jika umat Islam banyak yang menonton acara tersebut, insyaallah makin banyak umat yang tercerahkan. Banyak yang memperoleh pelajaran dan pendidikan yang sesungguhnya. Dengan demikian, akan semakin banyak umat Islam yang moderat. Bukan umat yang radikal dan anarkis, apalagi umat yang menjadi teroris. Insyaallah.

Cerita Hati itu merupakan acara baru Kompas TV. Paduan suaranya dimainkan oleh lima orang pemuda yang konon saling berbeda agama. Ketika ditanyakan apa yang menyatukan mereka menjadi kompak seperti paduan suara itu? Desy menanyakan apakah karena suaranya yang sama dan kompak itu? Ustadz W memberikan kemungkinan jawabannya, “pasti karena bayarannya,” dan tertawalah mereka dan para penonton yang jumlahnya masih sedikit itu. Belum seperti acara Islam itu Indah asuhan Ustadz Maulana dan Ustadzah Oki yang suka menyampaikan cerita akhlak para nabi itu.

Sungguh, saya mencoba menghitung-hitung jumlah umat Islam yang menonton acara yang sangat bagus itu. Dengan membandingkan pengajian di Masjid Al-Mujahidin yang juga sangat sedikit dihadiri oleh jamaah, maka saya dapat mengambil kesimpulan bahwa jumlah umat yang mau belajar memang tidak sesuai dengan harapan. Kesimpulan lainnya, memang dakwah yang bersifat moderat dan edukatif harus lebih digalakkan lagi, bukan yang dokmatis.

*) Laman: www.suparlan.com; surel: me@suparlan.com.

Depok, 7 Mei 2015

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.