ArtikelDunia IslamPendidikan

Indikator Kemajuan Islam, Dapatkah Dilihat Dari Sini?

Oleh: Suparlan *)

***

Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, yang darinya tubuh diciptakan dan dengannya disusun kembali
(Nabi Muhammad, dalam Ippho Santosa, Success Protocol, Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo).

Orang yang taat beragama memiliki daya tahan terhadap fluktuasi ekonomi
(Penelitian Legatum Prosperity Index, dalam Ippho Santosa, Success Protocol, Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo).

***

Suatu ketika saya bertugas di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Saya menginap dua malam tiga hari di sebuah hotel. Kebetulan dalam acara tersebut melalui hari Jumat. Saya dan teman-teman mencari dan mengikuti shalat Jum’at di sebuah masjid yang cukup besar di kawasan Puncak tersebut. Kebetulan tidak saya Tentu saja yang paling dekat dengan hotel tempat kami menginap. Alhamdulillah dapat Masjid dengan jarak hanya hitungan ratusan meter.

Sebelumnya saya sudah pernah melaksanakan shalat Jum’at di kawasan sekitar ini. Sambil lalu saya akan melihat-lihat apakah ada perubahan atau perkembangan kehidupan beragama. Beberapa orang teman mengikuti shalat Jum’at di masjid yang lebih dekat. Setelah bertemua di hotel, kita saling bertukar informasi. Ternyata suasanya sama sebangun. Beberapa indikator kira-kira sebagai berikut.

Bersalaman

Jama’ah pada berdatangan dan tiba di masjid. Kebanyakan jamaáh yang datang kemudian mereka menyalami jamaah yang sudah hadir sebelumnya. Kelihatan cukup akrab. Inikah silaturahim yang ingin ditunjukkan? Jama’ah menyalami tiga atau empat orang, lalu melakukan shalat takhiyatul masjid dan kemudian shalat bakdiatal jum’ah sebelum khutbah dimulai. Kebiasaan bersalaman dapat difahami sebagai kebiasaan yang baik untuk menggugurkan dosa-dosa kita. Demikian petunjuk ayat atau hadist – asal tidak sebagai bagian dari rukun ibadah mahdhoh – tertentu.

Konon ketika bersalaman Nabu tidak pernah melepaskan jabat tangan dengan seseorang sebelum orang tersebut melepaskan jabat tangan terlebih dahulu dengan orang tersebut. Jadi jabat tangan Nabi adalah jabat tangan erat, bahkan boleh jadi dengan merangkul erat. Bukan hanya jabat tangan dengan ujung jari tangan semata. Meningkatkan tali silaturahim sesama umat, walaupun hal tersebut lebih karena tradisi, merupakan sebagai proses peningkatan tali silaturahim sesame umat, termasuk untuk meningkatkan penghayatan persatuan dan kesatuan umat. Wallahu ‘alam.

Tongkat/tombak

Saya belum mendapatkan informasi historis mengapa tongkat/tombak ini menjadi asesori wajib dalam ibadah shalat Jum’at di berbagai tempat di Indonesia. Apakah asesori itu menjadi peninggalan para wali songo ketika menyebarkan agama Islam tempu dulu? Inikah yang termasuk tradisi Islam Nusantara yang kini sedang digaungkan itu? Alangkah baiknya jika Universitas Islam Negeri (UIN) dan Swasta dapat mengadakan penelitian secara historis tentang tradisi ini, termasuk penggunaan beduk, dan tradisi lainnya. Tradisi yang baik tentu saja baik-baik saja dan dapat diteruskan, asal masih dalam kategori syari’ah dan tidak mengandung nilai negatif, dan berdasarkan kesepakatan ulama tidak termasuk kategori bid’ah. Banyak masjid di kawasan Puncak tersebut ternyata masih menganut tradisi menggunakan tongkat/tombak tersebut untuk dibawa naik ke mimbar ketika akan menyampaikan khutbah. Wallahu alam.

Bahasa Arab dan Membaca Buku Kecil

Kebiasaan menggunakan Bahasa Arab ini sebenarnya merupakan hal yang sangat positif jika kebiasaan tersebut digunakan sebagai strategi untuk memahami dan belajar Bahasa Arab. Atau strategi untuk menjadikan Bahasa Arab sebagai Bahasa kedua. Bahkan sebagai strategi bagi umat untuk meningkatkan pemahaman Islam. Tetapi kenyataan tidak sepenuhnya demikian. Kebiasaan itu hanyalah menjadi ritual keagamaan yang belum tentu berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman agama umat. Bagaimana dapat meningkatkan pemahaman Islam, sedang arti dan maknaya saja tidak tahu? Seharusnya pada umara dan ulama memikirkan tentang strategi ini!

Selain itu, khatib kemudian menyampaikan khutbah dengan membuka dan membaca buku kecil yang kemudian dibaca dari awal sampai akhir khutbah yang seluruhnya dalam Bahasa Arab. Tidak satu pun khutbah yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Daerah (Sunda). Ketika sampai ke hotel, secara berseloroh saya menanyakan kepada beberapa teman tentang materi khutbahnya. Teman-teman pun bertanya hal yang sama kepada saya. Saya pun menggeleng lesu, karena tidak tahu. Betul-betul saya tidak tahu apa materi khutbahnya, kecuali beberapa kata yang sudah biasa diucapkan dalam bacaan shalat. Hal ini persis dengan materi khutbah dalam shalat Jum’at di Masjidil Haram. Pada saat itu, saya dan keluarga memperoleh tempat di lapangan yang panas itu. Pada saat itu, suara speaker memang sangat bangus sampai ke telinga ini. Tetapi, apa daya Bahasa Arab yang sampai ke telinga kita sama sekali tidak kita pahami sama sekali. Saya sangat iri kepada jama’ah yang berasal dari negara Afrika Utara. Setelah shalat Jum’at selesai, saya tanyakan kepadanya: “Excuse me sir, do you know the content of the Khutbah?” “Yes, I know,” jawabnya singkat. “Is the Arabic your mother tongue language?” tanyaku kemudian. “No, Arabic language is not my mothe tongue language, but Arabic language is my second language” Demikianlah suasana kebatinan saya ketika melaksanakan ibadah shalat Jum’at, baik di Masjidil Haram Mekah Al-Mukaromah, maupun di salah satu Masjid di kawasan Puncak di Bogor. Sangat menyedihkan. Itulah sebabnya, saya ingin sekali belajar Bahasa Arab. Belajar apa pun seyogyanya memang harus mulai sejak dini. Jika tidak, maka kejadiannya pastilah seperti yang telah saya jelaskan tersebut.

Dalam beberapa kali acara Kajian Islam yang dilaksanakan di Masjid Al-Mujahidin hal tersebut selalu saya kemukakan. Saya selalu banyak bertanya tentang materi yang disampaikan dalam acara Kajian Islam tersebut. Bukan apa, tetapi hanya karena ingin belajar dan belajar, termasuk Bahasa Arab, meski dengan cara merangkak dari nol. Saya sama sekali tidak pernah belajar di madrasah, apalagi di Pondok Pesantren. Hanya ayahku konon pernah mondok, tetapi bukan pondok di zaman sekarang. Sekolah saya hanya di sekolah umum, mulai dari SD sampai di pendidikan tinggi. Itulah sebabnya orang tua pada zaman sekarang perlu bersukur jika anak-anaknya dapat mendapatkan pelajaran di madrasah. Boleh jadi, orang tua tidak perlu bersusah payah untuk memberikan pelajaran Agama kepada anak-anaknya. Melalui madrasah, anak-anak sudah bisa mengaji sejak dini, meskipun hal tersebut tentu masih harus ditambah lagi dengan pendidikan umum, meskipun di madrasah pun pengetahuan umum pun sudah diberikan juga. Oleh karena itu madrasah memiliki nilai lebih yang patut dimanfaatkan, karena di dalamnya terdapat Madrasah Terpadu seperti SD IT, SMP-IT dan seterusnya. Sekarang, kita sering memperoleh informasi bahwa banyak madrasah yang telah berhasil memenangkan olipiade dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan (science), tidak kalah dengan sekolah-sekolah umum lainnya yang setara. Sudah barang tentu ini menjadi indikator yang sangat membanggakan bagi kita. Insyaallah.

Untuk pelaksanaan kegiatan kajian Islam, di samping kegiatan ibadah shalat Jumat, saya pernah menyampaikan kepada DKM Al-Mujahidin, tentang contoh penggunaan teknologi informasi yang lebih canggih. Penggunaan infocus dan tayangan dengan menggunakan power point adalah teknologi yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi kajian Islam. Salah satunya adalah pernah digunakan di Masjid Sunda Kelapa Jakarta. Bahkan masjid An-Nur di tetangga kompleks juga telah menggunakan perangkat tersebut. Pertanyaannya, akankah meningkatkan pemahaman terhadap Islam? Belum tentu. Karena budaya membaca dalam masyarakat belum menjadi budaya literasi yang sebenarnya. “Reading is not walking on the words; it is grasping the souls of them.” Membaca bukanlah meniti kata-kata. Membaca adalah menangkap jiwanya. Dengan demikian penggunaan teknologi canggih seperti itu, kajian Islam akan memiliki daya tarik tersendiri, karena tidak hanya menggunakan apa yang disebut sebagai multi media dan multi metode dalam proses pembelajaran atau penyampaian materi kajian Islam, menjadi strategi untuk dapat menangkap jiwa kajian Islam, karena menggunakan pendengaran, penglihatan, dan perasaan.

Akhir Kata

Beberapa indikator yang telah disebutkan di atas tentu menjadi salah satu faktor yang dapat menggambarkan tingkat pemahaman tentang Islam dan sebagai upaya untuk menjaga status quo. Sudah barang tentu, ada indikator fisik seperti teknologi informasi, dan ada pula indikator non-fisik seperti pendekatan ritual dan sosial. Indikator-indikator tersebut masing-masing dapat menggambarkan tingkat kemajuan Islam bagi penggunanya. Dengan demikian, DKM manapun juga, termasuk majid-masjid di kawasan Puncak, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat memilih dan menetapkan media dan alat yang tepat dan sesuai sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman Islam bagi jamaahnya. Tidak hanya terpaku kepada tradisi lama. Bukankah kita berusaha untuk memahami Islam secara kafah? Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *