ArtikelBudayaDunia Islam

Beberapa Kesan Tentang Masjid Raya As-Mashun dan Istana Maimum di Kota Medan, Sumatera Utara

1 Komentar

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa dan perjuangan para pahlawannya

(Bung Karno)

Kebudayaan harus dibangun di atas landasan perjuangan akal sehat

(WS. Rendra)

***

Allahu akbar! Itulah pertama kali yang terbetik di dalam hati ketika pertama kali melihat Masjid Raya Al-Mashun Medan pada tanggal 17 Desember 2012. Saat itu, saya dan seorang sedang melaksanakan kegiatan monitoring ke daerah Provinsi Sumatera Utara, dan menginap di satu hotel yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Raya As-Mashun di Kota Medan itu. Lokasi masjid memang terdapat dalam satu kompleks dengan Istana Maimun. Antara masjid dan istana tersebut hanya berjarak 200 meter, sehingga selepas shalat Subuh di masjid penulis dapat langsung jalan kaki menuju ke Istana Maimun.

Berdasarkan catatan sejarah, Istana Maimun dibangun pada tahun 1888. Sedang Masjid Raya Al-Mashun dibangun pada tahun 1906 yang sebenarnya menjadi satu kompleks yang tidak terpisahkan dengan keberadaan Istana Maimun. Tulisan singkat ini merupakan kesan penulis terhadap peninggalan budaya yang ada di Kota Medan. Kesan tersebut sebenarnya sangat positif, namun selain itu juga ada juga yang dirasakan sebagai kiritk dengan tujuan untuk menjadi usul atau masukan untuk perbaikan di masa mendatang.

Bertemu Pak Buyung dari Kisaran

Lokasi hotel tempat menginap kebetulan sangat dekat dengan Masjid Raya Al-Mashum. Oleh karena itu, sangatlah sayang kalau pergi ke Medan tidak dapat menyempatkan untuk shalat di masjid yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi ini. Itulah sebabnya, ketika pukul 04.00 WIB, mata ini sudah tidak lagi dapat dipejamkan. Ingin segera shalat di masjid yang megah itu. Ternyata, waktu shalat Subuh di Jakarta setengah jam lebih awal dibandingkan dengan waktu shalat Subuh di Medan. Oleh karena itu, sampai di masjid baru ada seorang yang akan shalat tahiyatul masjid. Inilah orang pertama di masjid itu, yang kemudian diketahui bernama adalah Buyung. Nama yang biasa digunakan untuk anak laki-laki di daerah Medan. Beliau berasal dari daerah Kisaran. Orang kedua yang bertemu di masjid itu adalah Pak Mukhtar, yang berasal dari Magelang Provinsi Jawa Tengah. Beliaulah yang bertugas sebagai penjaga masjid dan sekaligus sebagai muazin.

Lebih dari itu, kemudian diketahui ternyata Pak Buyung itu ternyata tidak dapat berjalan normal, karena beliau terkena stroke. Ya Allah. Lebih menyedihkan lagi, setelah diketahui bahwa pada usai shalat Subuh, ternyata Pak Buyung ini duduk di lantai pintu gerbang masjid dan menggunakan kopyah putihnya untuk menengadahkan belas kasihan dari para jamaah shalat Subuh yang akan keluar dari masjid. Di samping Pak Buyung, ternyata juga ada dua orang lagi yang melakukan hal yang sama dengan Pak Buyung itu.

Kesan tersebut, sudah barang tentu dapat menjadi gambaran buram sebuah masjid yang megah itu. Tidakkah DKM masjid yang megah itu bisa mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut? Lebih dari itu, tidakkah pemerintah daerah setidaknya juga memiliki tanggung jawab untuk dapat mengentaskan masalah kemiskinan warganya dengan upaya yang bijak? Janganlah dinamakan Dewan Kemakmuran Masjid jika masih ada masalah yang dialami oleh Pak Buyung itu. Kemakmuran masjid tentulah bukan hanya bermakna banyak dari segi jumlah, tetapi seharusnya juga diberi makna tidak ada jamaah yang menjadi pengemis seperti Pak Buyung itu. Keberadaan Pak Buyung dan beberapa orang yang menengadahkan kopyahnya untuk meminta-minta, sungguh dapat menjadi aib umat secara keseluruhan, dan aib warga Medan pada khususnya. Maaf beribu-ribu maaf, masalah seperti ini memang juga banyak terjadi di masjid-masjid lain di tanah air. Inilah wajah negeri kita tercinta?

Memelihara Peninggalan Budaya

Keberadaan Masjid Raya Medan memang menyatu dengan Istana Maimun. Oleh karena itu, yang bertanggungjawab terhadap segala sesuatu tentang kedua peninggalan budaya ini tentu saja adalah seluruh bangsa dan negara tercinta Indonesia pada umumnya, dan khususnya adalah warga Provinsi Sumatera Utara. Tidak semua provinsi memiliki masjid raya dan istana yang megah seperti itu. Itulah sebabnya semua pemangku kepentingan di daerah ini sudah selayaknya memiliki kepedulian yang tinggi untuk memelihara peninggalan budaya ini. Sungguh, peninggalan budaya ini memiliki nilai yang sangat tinggi bagi kehidupan kita. Ketika berjalan-jalan di lingkungan masjid, ternyata ada gundukan sampah yang menggunung. Lagi pula, rumput yang menghijau telah tumbuh tidak terawat. Hal yang sama juga di kawasan Istana Maimun. Hal yang sama mungkin saja juga terjadi di tempat-tempat peninggalan budaya di banyak tempat di tanah air. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri, sebagai anak-anak bangsa yang harus memelihara peninggalan budaya itu?

Ketika bertemu dengan petugas kebersihan di kawasan masjid dan istana, kita dapat mengetahui bahwa ada dua dinas yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan kedua kawasan itu, yakni Dinas Pariwisata dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan. Kebijakan ini sudah barang tentu patut dihargai dan diharapkan untuk dapat memelihara peninggalan budaya kita. Kalau perlu ditambah dengan dinas-dinas yang lain, seperti Dinas Perkebunan, yang akan menyumbangkan tanaman-tanaman produktif yang akan ditanam di kawasan ini supaya lebih hijau lagi, sudah tentu akan lebih membuat lingkungan ini menjadi lebih hijau lagi.

Ikut Mencabut Rumput

Ketika sampai di kawasan Istana Maimun, ada tiga orang petugas kebersihan yang sedang mencabut rumput-rumput liar. Saya pun biasanya juga suka mencabut rumput di rumah sendiri dan rumah anak-anak saya. Ketika tiga orang petugas kebersihan itu sedang menyapu dan mencabut rumput saya pun ikut sedikit membantunya sambil menanyakan hal ihwal masjid dan Istana Maimun ini. Dalam kesempatan itu, saya pun memberikan saran agar dapat membuat lubang sampah organik (LSO) sebagaimana yang telah saya tulis di koran AMUNISI yang terbit di Kota Depok. Sama dengan biopori, LSO dapat digunakan untuk meletakkan sampah organik yang telah dipotong-potong, agar sampah organi itu tidak menggunung seperti yang ada di sebelah masjid, dan di depat pos satpam Istana Maimun. Ketika ditanya apakah memiliki alat untuk membuat lubang sampah organik itu, jawabnya tidak punya. Kalau ada, saya ingin sekali memberikan contoh kepada petugas itu. Dengan LSO, sampah organik dari rumput ataupun dari daun-daunan yang gugur tidak akan menyulitkan kita untuk dibuang ditempat pembuangan sampah, atau dengan membakarnya, karena membakar sampah organik justru akan membuat atmosfir menjadi lebih panas. Dengan LSO (lubang sampah organik) dapat dibuat di taman, tanpa harus menyebabkan kotor atau jorok, karena dalam beberapa bulan, sampah organik itu akan menjadi pupuk organik yang akan ikut menyuburkan tanah, yang kemudian dapat ditanami tanaman bunga atau tanaman produktif seperti mangga dan rambutan. Sungguh, jika di lingkungan masjid dan istana ada pohon rambutannya, niscaya rakyat akan banyak berguman betapa indahnya pohon produktif itu. Ketika diusulkan untuk menanam tanaman produktif ada yang menyeletuk bahwa banyak orang yang nanti akan memetiknya. Justru itulah, kita perlu mensyukuri jika ada rakyat yang mau memetik buah-buahan itu jika buah-buah itu telah tua dan masak di pohon. Kita perlu bersyukur jika rakyat kemudian banyak berkunjung ke masjid dan istana itu, yang pada hakikatnya adalah milik umat dan rakyat.

Kebiasaan membuat LSO di negeri ini memang masih perlu dijadikan satu gerakan nasional, sebagai bagian dari program berkelanjutan untuk menanam satu milyar pohon-pohonan yang akan ikut menjadikan hijau bumi. Alam kita yang kaya ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita, tetapi kita telah meminjamnya dari anak dan cucu kita.

Refleksi

Tugas ke Medan memiliki arti tersendiri bagi penulis. Masih banyak obyek yang dapat dilihat di Medan, dan tentu masih banyak obyek yang perlu ditulis. Masjid Raya Al-Mashum dan Istana Maium adalah sebagian dari peninggalan budaya yang harus kita pelihara secara bijak. Siapatah lagi kalau bukan kita yang akan memeliharanya? Hidup di kampung dunia ini memang penuh dengan persaingan. Malaysia memiliki menara berkembar. Tetapi kita punya Borobudur yang menjadi khasanah budaya dunia. Lebih dari itu, rakyat Medan memiliki Masjid Al-Mashum dan Istana Maiumun yang megah dan indah.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat untuk hidup kelak. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Saran dan masukan dapat dikirimkan ke e-mail me@suparlan.com.

Depok, 19 Desember 2012.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

1 Komentar. Leave new

  • Salam kenal pak. Saya sangat mengapreasi tulisan2 bapak yang walau pun sibuk masih peduli untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yg bermanfaat. Kalau ke Bali tolong diinfo pak, siapa tahu saya bisa silaturahmi. InsyaAllah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel, Dunia Islam, Pendidikan

Waktu

Oleh: Suparlan *) Kita sering mengatakan “waktu itu adalah uang” atau “time is money.” Bahkan orang Arab menyebutnya…
Puisi

Detik Perpisahan

Oleh Salma Afifah Oct 01, 2014   Di sini kita bertemu…. Di sini pula kita kan berpisah Semua…