ArtikelPendidikan

Pendidikan untuk Menangkal Terorisme

Oleh: Suparlan *)

Alhamdulillah, saya hampir menyelesaikan naksah buku berjudul Ilmu Pendidikan (Pedagogi). Tapi diganggu dengan musibah terorisme yang terjadi di kawasan Sarinah Jakarta. Termangu dan terganggulah jadinya. Tidak elok kiranya jika tulisan itu tidak sekalian membicarakan pendidikan untuk menangkal terorisme. Karena inti pendidikan itu adalah upaya sadar untuk memanusiakan manusia. Dengan demikian, pendidikan harus berani berhadap muka dengan terorisme. Walau  hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kita sependapat bahwa terorisme adalah tragedi kemanusiaan. Pembunuhan seorang manusia sama dengan pembuhuhan seorang manusia. Pembunuhahan seorang wanita adalah pembunuhan semua manusia. Termasuk karegori ini sebenarnya sama dengan tragedi kekerasan anak, pembunuhan anak, yang sering terjadi di negeri ini. Komponen utama pendidikan ini adalah anak atau peserta didik, guru, dan kurikulum. Tidak ada salah satu dari ketiganya, kita sama sekali tidak bisa bicara tentang proses pendidikan. Dengan demikian, jika terorisme tersebut masih tidak berhasil kita hentikan, maka tidak artinya proses pendidikan tersebut dalam kehidupan kita. Pendidikan adalah bukan persiapan hidup, tetapi kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey pernah mengatakan. Oleh karena itu, kita semua harus mengacungi jempol kepada Mendikbud Anies Baswedan yang dalam suasana sibuk menghadapi tahun anggaran baru di negeri ini, beliau masih menyempatkan diri untuk membuat panduan untuk orangtua dan guru dalam menghadapi musibah terorisme tersebut.

Dari kaca mata sistem pendidikan nasional, peristiwa terorisme merupakan faktor eksternal globalisasi yang ikut mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Lingkungan eksternal (external environment) sistem pendidikan nasional tersebut pasti mempengaruhi keseluruhan komponen dalam sistem pendidikan nasional. Sama dengan lingkungan sosial-ekonomi-budaya-politik yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Sama seperti pengaruh anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, pengaruh lingkungan fisik sekolah seperti kondisi sekolah seperti kandang kerbau, atau kondisi sekolah yang disegel oleh masyarakat karena lahan sekolah tersebut masih dalam kasus sengketa. Semua itu adalah lingkungan pendidikan. Bahkan kondisi lingkungan tersebut merupakan kondisi lingkungan yang sungguh pelik bagaimana cara menguraikannya. Misalnya pengaruh ”kotak ajaib” yang kini mempengaruhi proses pendidikan. Bahkan kondisi sekolah yang jauh dari kondisi ’taman yang menyenangkan.’ Kondisi sekolah menakutkan dan penuh kekerasan yang terjadi di beberapa sekolah elit. Yang dimaksud dengan kotak ajaib ini adalah pengaruh media televisi yang juga tidak kalah peliknya dibandingkan dengan bahaya terorisme yang kini terjadi. Tragedi penelantaran dan pembunuhan anak, meski tidak termasuk dalam kategori teroris, namun pengaruhya sangat besar terhadap proses pendidikan anak bangsa.

Pemecahan berbagai masalah pendidikan tersebut tentu saja tidak cukup hanya memberantas terorisme, seperti juga memberantas korupsi yang kini telah dengan gencar dilakukan di tanah air. Ternyata semakin diberantas pun korupsi tidak kunjung berhenti. Juga sama dengan memberantas bahasa narkoba. Semakin banyak masalah lingkungan pendidikan tersebut disebutkan satu persatu di negeri, semakin berat pula tugas para pemangku pendidikan. Orangtua sebagai agen pertama dan utama untuk menangkal terorisme. Agen kedua adalah guru. Demikian juga masyarakat. Trimatra pendidikan adalah kuncinya.

Belajar dari persoalan-persoalan pendidikan tersebut, penulis yakin bahwa proses menangkal terorisme akan lebih efektif ketimbang proses kuratif. Apalagi masalahnya berkenaan dengan pendidikan. Kembali masalahnya terkait dengan tujuan pendidikan nasional. Tujuan yang lebih menekankan otak tidak cukup. Pendidikan yang lebih menekankan ranah afektif akan jauh lebih manjur. Kembali pendidikan karakter akan menjadi sebuah pertanyaan besar. Keteladanan bagi anak-anak adalah kuncinya. Masihkan keteladanan tersebut masih diberikan kepada anak-anak kita melalui proses membimbing, mengajar, dan melatih. Pendidikan bukan hanya sebagai proses transpormasi ilmu pengetahuan. Hidden curriculum yang menjadi teladan bagi peserta didik. Anak didik jauh lebih penting dari pada mata pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jadi, guru menjadi garda terdepan. Sekali lagi, sesungguhnya bukan hanya kepada guru yang memang menjadi aktor yang harus diteladani. Good education requires good teachers. Pendidikan yang baik memerlukan guru yang baik. Demikianlah penegasan yang disampaikan oleh Digumarti Bhaskara Rao[1], tokoh pendidikan dari India. Memang, dalam beberapa kasus proses kuratif (pemberantasan) akan sangat diperlukan dengan cepat. Tetapi dalam jangka panjang, proses preventif akan jauh lebih permanen dampaknya.

Bersumber dari panduan menangkal terorisme dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  secara singkat berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu disampaikan kepada siswa:

  1. Mengajak bersama-sama siswa dan seluruh warga sekolah, termasuk Komite Sekolah untuk memahami bahwa teorisme adalah kejahatan terencana yang mengakibatkan pembunuhan secara keji di luar batas-batas kemanusiaan. Tentu saja juga jauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara NKRI dan negara ber-Bhinneka Tunggal Ika.
  2. Oleh karena itu, orangtua dan guru diharapkan dapat mengajak para siswa dan keluarganya menolak, tidak mengikuti, dan tidak memberikan kesempatan melakukannya, baik oleh diri pribadi, keluarga, dan masyarakat.
  3. Mengajak untuk memahami bahwa aksi kejahatan terorisme tersebut merupakan perbuatan dosa besar yang diganjar dengan hukuman yang setimpal.
  4. Memberikan apresiasi yang tinggi dan ucapan terima kasih kepada para petugas keamanan, kesehatan, relawan yang telah memberikan bantuan fisik maupun nonfisik dalam peristiwa ini.
  5. Bersama-sama mengucapkan bela sungkawa kepada para kurban yang meninggal dunia dan mengalami luka-luka, memberikan do’a mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan tabah dan tawakal menerima cobaan ini.
  6. Tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap ancaman yang terjadi sewaktu-waktu dari bahaya terorisme dengan tetap memohon ampun kepada Allah Swt. mengajak para siswa untuk tidak takut menghadapi masalah terorisme[2]. Mudah-mudahan Allah Swt. senantiasa melindungi kita dari segala marabahaya, termasuk terorisme. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com;

Depok, 22 Januari 2016.

[1] Rao, Digumarti Bhaskara, Teachers in a Changing World, New Delhi: hal. 28.

[2] Indonesia Berani, siaran tayangan televisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *