ArtikelPendidikan

Belajar Dari Renstra Departemen Pendidikan Amerika Serikat

60 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Ngelmu iku kalakoning kanthi laku
(Ilmu itu terlaksana hanya dengan usaha dan kerja keras)
(Pepatah orang Jawa)

Kita memang harus terus belajar. Kemana pun, termasuk ke negeri Cina, dan ke negeri Paman Sam sekali pun. Termasuk juga belajar tentang menyusun Rencana Strategis (Renstra). Setelah membandingkan secara sekilas antara Renstra Departemen Pendiikan Amerikka Serikat dengan buram Renstra Indonesia, maka boleh jadi kita memang harus benar-benar banyak belajar. Bahkan ketika saya membandingkan Curriculum Framework negara Ausralia Barat dengan buram Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Indonesia, sungguh saya juga dapat mengambil kesimpulan awal bahwa dalam banyak hal kita memang harus banyak belajar. Sekali lagi, belajar memang berlangsung sepanjang hayat.

Dalam tulisan singkat ini, Renstra Departemen Pendidikan Amerika Serikat akan dicoba dibedah dan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi siapa saja, terutama bagi Departemen Pendidikan Nasional, yang sedang menyusun Renstra Departemen Pendidikan Nasional 2004 – 2009. Renstra Departemen Pendidikan Amerikka Serikat itu diberi nama “The 2001 – 2005 Strategic Plan” atau Rencana Strategis 2001 – 2005.

Mulai Dari Visi dan Misi

Renstra Departemen Pendidikan Amerika Serikat dan Renstra Departemen Pendidikan Nasional disusun sama-sama mulai dari visi, misi, dan tujuan umum (goals). Ternyata hanya ada 4 (empat) tujuan umum yang akan dicapai oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Masing-masing tujuan umum dijabarkan ke dalam tujuan yang lebih spesifik (objectives), yang di Malaysia disebut sebagai matlamat. Secara keseluruhan ada 20 (dua puluh ) tujuan spesifik yang akan dicapai selama lima tahun (2001 – 2005).

Mulai tahun 2000, visi Departemen Pendidikan Amerika Serikat adalah “Built upon a decade of increasing national recognition of the importance of education and the need for a leadership role for the US Department of Education in achieving national goals” Sementara misinya adalah “To ensure equal access to edcuation and to promote educational excelleve throughout the Nation”.

Visi dan misi Renstra Departemen Pendidikan Amerika Serikat sangat sederhana dan jelas. Membangun pemahaman bangsa tentang pentingnya pendidikan menjadi visi Departemen Pendidikan. Selain itu, Departemen Pendidikan Amerika Serikat juga memiliki visi untuk menjadikan Departemen Pendidikan memiliki satu peran kepemimpinan untuk menncapai tujuan nasional negara Amerika Serikat. Sementara misinya jelas-jelas hanya untuk mencapai equal access dan educational excellence. Dengan kata lain demi akses atau peperataan kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan. Dengan kata lain, relevansi pendidikan, good governace, dan lain-lainnya tidak dimasukkan ke dalam misi, melainkan sebagai strategi untuk mencapai misi. Untuk mencapai akses dan mutu pendidikan sudah tentu memerlukan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk mencapai akses dan mutu pendidikan juga harus dilaksanakan dengan sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Akses dan mutu pendidikan tidak akan dapat dicapai oleh pemerintahan yang penuh dengan KKN.

Empat tujuan umum dalam Renstra tersebut adalah: (1) Build a solid foundation for learning for all children, (2) reform the US education system to help make it the best in the world, (3) Ansure access for all to a high quality postsecondary education and lifelong learning, (4) make the Education Department a high performance organization. Dijelaskan di dalam Renstra tersebut bahwa tujuan umum pertama mempengaruhi pencapaian tujuan umum kedua, dan selanjutnya tujuan umum kedua mempengaruhi pencapaian tujuan umum ketiga. Sementara itu, tujuan umum keempat diharapkan dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap pencapaian ketiga tujuan umum tersebut. Dengan demikian, tujuan umum pertama, yakni membangun satu fondasi yang kuat bagi pembelajaran semua anak, merupakan tujuan umum yang amat penting karena mempengaruhi tujuan umum kedua, yakni reformasi sistem pendidikan yang dapat menghasilkan yang terbaik di seantero dunia, seperti standar akademik yang tinggi, guru yang berbakat, sekolah yang aman dan bebas narkoba, patnersif yang bermakna antara keluarga dan sekolah, pilihan sekolah negeri yang lebih luas, dan teknologi canggih untuk pendidikan. Tujuan umum kedua akan mempengaruhi tujuan umum ketiga, yakni akses yang luas untuk dapat masuk ke jenjang pendidikan tinggi dan pembelajaran sepanjang hayat. Ketiga tujuan umum tersebut memerlukan dukungan tercapainya tujuan umum keempat, yakni terbentuknya satu Departemen Pendidikan sebagai organisasi yang memiliki kinerja tinggi, sudah tentu bebas dari KKN dan melaksanakan prinsip good governance atau sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Adapun 20 (duapuluh) tujuan secara spesifik (obejectives) dari masing-masing tujuan umum (goals) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Empat tujuan spesiifik dari tujuan umum pertama adalah: (1) semua anak siap masuk sekolah dengan memperolah pendidikan yang berkualitas dan pengalaman prasekolah sesuai dengan perkembangannya. (2) setiap anak dapat membaca dengan baik dan secara mandiri pada akhir kelas tiga sekolah dasar, (3) setiap tamatan kelas delapan menguasai mata pelajaran matematika yang menantang, termasuk dasar-dasar aljabar dan geometri, (4) sekolah-sekolah menengah pertama dan atas dapat membantu para siswa dapat berhasil masuk perguruan tinggi dan masuk ke dunia kerja atau karir.

Enam tujuan spesifik dari tujuan umum kedua adalah: (1) setiap negara bagian memiliki standar yang menantang, dan mencapainya dengan hasil nilai akademik yang bermakna dan dapat dipertanggungjawabkan, (2) guru yang berbakat dan berdedikasi di setiap kelas di Amerika, (3) semua sekolah aman, bebas dari narkoba, dan bebas dari kelebihan jumlah siswa, (4) semua keluarga dan komunitas sepenuhnya terlibat dalam bentuk kemitraan dengan sekolah untuk mendukung upaya peningkatan mutu sekolah, (5) semua siswa dan keluarga dapat memilih di antara sekolah negeri yang berkualitas, (6) semua sekolah menggunakan teknologi maju untuk semua siswa dan guru untuk meningkatkan pendidikan.

Empat tujuan spesifik dari tujuan umum ketiga adalah: (1) sekolah menengah atas menerima bantuan finansial yang diperlukan sesuai dengan aspirasi pendidikannya, (2) institusi sekolah menengah atas menerima dukungan yang diperlukan agar dapat menyedian pendidikan yang berkualitas, (3) penyampaian bantuan siswa sekolah menengah atas dan program manajemen efisien, finansial memadai, dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan, (4) semua anak dewasa, khususnya anak dewasa yang memiliki kecacatan akan diperkuat keterampilan keaksaraannya, atau keterampilan yang terkait dengan dunia kerja, untuk meningkatkan kemampuan mencari nakfah melalui pendidikan sepanjang hayat.

Enam tujuan spesifik dari tujuan umum keempat adalah: (1) pelanggan Departemen Pendidikan menerima layanan yang cepat dan tepat, dan penyebarluasan informasi dan produk yang berkualitas prima, (2) Departemen Pendidikan akan mengembangkan, memantapkan, dan menyebarluaskan pengetahuan yang mutakhir untuk mendukung reformasi pendidikan dan kesempatan memperoleh pendidikan yang adil dan merata, (3) Departemen Pendidikan akan membangun sumber informasi sebagai modal untuk meningkatkan misi keefektifan, efisiensi, dan keamanan einformasi, (4) Departemen Pendidikan akan mengadakan penerimaan pegawai dan mempertahankan tenaga kerja yang memiliki keterampilan, yang memiliki perbedaan, dan peduli terhadap keunggulan, (5) Departemen Pendidikan akan mengelola pogram dan layanannya untuk memastikan integritas finansial, dan (6) Departemen Pendidikan akan menjadi satu lembaga yang mendorong pencapaian kinerja tinggi.

Membandingkan dengan Renstra Depdiknas 2005 – 2009

Visi Depdiknas adalah “Menjadi Pengemban Utama dalam Pelaksanaan UUD 1945 dan UU Sisdiknas untuk Mencapai Masyarakat Beradab, Berbudaya, dan Cerdas“. Sementara misinya secara lengkap adalah: (1) mewujudkan pendidikan yang mampu membangun manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian tangguh, memiliki estetika dan etika, serta mandiri; (2) mewujudkan pendidikan nasional yang merata dalam rangka memanuhi hak konstitusional warga negara dalam memperoleh pendidikan dasar sembilan tahun dalam rangka mewujudkan keadilan sosial yang dapat dinikmati oleh seluruh warga negara; (3) mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu, berdaya saing, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta berwawasan kebangsaan yang berbasis pengetahuan dan teknologi melalui penyelenggaraan pendidikan berstandar dan berbasis pada kekayaan bangsa; (4) mewujudkan sistem pengelolaan pendidikan yang efisien, produktif, akuntabel, dan demokratis dengan menerapkan prinisp Good Governance dengan menekankan pada peranan desentralisasi dan otonomi pendidikan (Sumber: Konsep Renstra Depdiknas, produk Hotel Mirah Santika, 19 – 22 Juli 2005).

Membaca visi dan misi Renstra memang harus sedikit dapat menahan nafas, karena kalimatnya yang panjang. Coba kita baca kembali misi kedua, yakni “mewujudkan pendidikan nasional yang merata dalam rangka memanuhi hak konstitusional warga negara dalam memperoleh pendidikan dasar sembilan tahun dalam rangka mewujudkan keadilan sosial yang dapat dinikmati oleh seluruh warga negara” . Adanya dua kata “dalam rangka” dalam kalimat tersebut menunjukkan adanya dua frase kalimat yang dimasukkan dalam kelimat tersebut. Demikian juga dengan misi keempat, yakni “mewujudkan sistem pengelolaan pendidikan yang efisien, produktif, akuntabel, dan demokratis dengan menerapkan prinisp Good Governance dengan menekankan pada peranan desentralisasi dan otonomi pendidikan“. Ada dua kata penghubung “dengan” dalam kalimat tersebut menunjukkan setidaknya ada dua frase kalimat yang disisipkan dalam kalimat tersebut.

Berdasarkan visi dan misi tersebut, ada delapan tujuan yang akan dicapai selama lima tahun mendatang (2005 – 2009). Secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut: (1) iman takwa, akhlak mulai, kualitas jasmani, (2) pendidikan etika dan estetika, penguasaan IPTEK, (3) pemerataan kesemptan belajar yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apa pun, (4) penuntasan program wajar, (5) penuntasan buta aksara, (6) daya saing lulusan, (7) sistem manajemen (governance dan akuntabel), (8) pemberantasan KKN. Mohon maaf, karena rumusan tujuan tersebut sengaja disingkat. Mudah-mudahan tidak mengurangi esensinya. Tujuan pertama dan kedua sebenarnya dapat dijadikan satu. Tujuan ketiga, keempat, dan kelima memang sama-sama tentang akses pendidikan. Sedang tujuan ketujuh dan kedelapan sebenarnya juga sama dengan goal keempat Renstra Amerika Serikat, yakni terbentuknya satu Departemen Pendidikan sebagai organisasi yang memiliki kinerja tinggi. Dengan demikian, pada hakikatnya tujuan Renstra Depdiknas juga sama dengan tujuan Renstra Amerika Serikat, yakni empat tujuan umum (goals).

Perbedaan dengan Renstra Depdiknas 2005 – 2009

Setidaknya ada lima perbedaan mendasar: (1) penjabaran visi, misi, dan tujuan ke dalam program dan kegiatan, (2) Renstra Depdiknas tidak dilengkapi dengan strategi untuk mencapai masing-masing tujuan (yang ada adalah strategi pembiayaan yang dijelaskan dalam Bab V), (3) tidak dilengkapi dengan: (a) Eksternal Factors and Management Challenges, (b)Strengthening Coordination, (c) Evaluation Highlight, (4) Selected History of the Department of education and Key Legislation, serta (4) Akronim yang digunakan dalam Renstra.

Pertama, penjabaran visi, misi, dan tujuan ke dalam program dan kegiatan. Tujuan dalam Renstra Amerika Serikat tidak diwadahi lagi dengan “kotak kerangka kebijakan” seperti yang ada dalam Renstra Depdiknas (akses dan pemerataan pendidikan, mutu dan relevansi, serta governance, melainkan langsung ke (1) Performance Indicators and Targets, (2) Our Role, (3) Core Strategies untuk masing-masing tujuan spesifik (objectives).

Kedua, Renstra Depdiknas belum dilengkapi dengan strategi untuk mencapai masing-masing tujuan spesifik (yang ada adalah strategi pembiayaan yang dijelaskan dalam Bab V). Ini sangat penting, karena strategi akan bisa berbeda-beda antara satu tujuan spesifik (objectives).

Ketiga, Renstra Depdiknas belum dilengkapi dengan: (a) Eksternal Factors and Management Challenges, (b)Strengthening Coordination, (c) Evaluation Highlight. Hal ini penting mengingat implementasi resntra di lapangan perlu memperhatikan banyak faktor eksternal, perlu mengadakan koordinasi dengan berbagai pihak di luar departemen, dan keberhasilan pelaksanaan Rennstra pasti harus dievaluasi, baik oleh pihak intern maupun oleh pihak ekstern secara independen.

Keempat, Renstra Depdiknas belum dilengkapi dengan Selected History of the Department of education and Key Legislation. Perjalanan sejarah pendidikan di Amerika Serikat memang jauh lebih panjang, sejak 1776. Sementara Indonesia masih baru mulai tahun 1945. Tetapi, catatan peristiwa sejarah pendidikan di Amerika Serikat telah dicatat secara tertib untuk digunakan sebagai cermin perkembangan sejarah pendidikan masa kini. Beberapa yang menarik antara lain adalah (1) Northwest Ordinance (1787), memberikan hibah tanah untuk membangun institusi pendidikan, (2) Smith-Hughes Act (1917), mengadakan hibah untuk mendukung pendidikan kejuruan, (3) National School Lunch Act (1946), menyediakan bantuan untuk program makan siang di sekolah, (4) School Milk Program Act (1954), menyediakan dana ntuk membeli susu untuk program makan siang di sekolah, dan masih sederat undang-undang, peraturan pemerintah, yang telah pernah terbit sejak Amerika Serikat berdiri sampai dengan saat ini.

Kelima, Resnstra Depdiknas belum dilengkapi Akronim yang digunakan dalam Renstra. Agar pembaca Renstra tidak mencari-cari akronim yang belum dimengerti, maka Resntra Depdiknas harus dilengkapi dengan daftar akronim, bahkan denga glosarinya.

Akhir Kata

Renstra Amerika Serikat disusun dengan sangat lengkap. Proses penyusunannya dengan melakukan konsultasi dengan berbagai pihak yang terkait, yakni: (1) komunitas pendidikan dan masyarakat umum (The Educational Community and the General Public), (2) Cogress, terutama dengan pihak yang mengesahkan anggaran, (4) General Accounting Office (GAO) dan Inspektur Jenderal Departemen, dan (5) Office of Management and Budget. Itulah sebabnya Renstra Departemen Pendidikan Amerika Serikat memang sangat sistemik, lengkap, dan amat terukur (measurable).

Semua kebijakan dan program institusi jajaran di dalam Departemen mengacu atau bersumber dari renstra, karena keberhasilan dan kegagalan institusi tersebut akan diukur dari kinerja institusi dalam melaksanakan renstra. Bukan melaksanakan yang lainnya.

Untuk mengakhiri tulisan singkat ini, baiklah kita hayati kata-kata mutiara yang menyatakan bahwa “barang siapa yang tidak menyusun rencana dengan baik, ia akan menghadapi kegagalannya”. Mudah-mudah bermanfaat untuk menambah wawasan kita bersama. Wallau alam bishawab.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 8 Oktober 2005

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts