ArtikelBudayaPendidikan

Gunung Kuncung belum Beruntung

89 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Pengabdian kepada orang lain adalah pengorbanan yang sesungguhnya.
(Mahatma Gandhi)

Beri kami pendidikan dan kami akan bangkit sebagai bangsa yang memiliki cita-cita.
(RA Kartini)

Ilmu itu didapatkan dari lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berfikir.
(Abdullah Bin Abbas).

Kabupaten Trenggalek sudah barang tentu memang tidak ingin ketinggalan dengan kabupaten lainnya. Kabupaten ini telah berusaha keras untuk menjadi kabupaten yang setaraf kemajuannya dengan kabupaten/kota lain di daerah Provinsi Jawa Timur. Menurut penuturan penduduk, program bupati lama berupa dana perangsang (stimulan) pembangunan fisik di kabupaten ini mengubah wajah jalan-jalan desa yang becek dan berlubang-lubang menjadi jalan beraspal. Jalan sempit di depan rumahku di Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, yang dahulu berupa tebaran batu kerikil yang diambil dari sungai kini telah disulap menjadi jalan beraspal.

Itulah perubahan pertama yang dapat kurasakan, ketika bulan September 2005 yang lalu saya memperoleh kesempatan pulang ke kampung halaman. Setelah sekitar tiga tahun tidak dapat lebaran ke kampung halaman, kepulanganku kali ini dapat disebut sebagai kepulangan pada masa-masa setelah reformasi. Bait-bait lagu “Desaku yang kucinta, pujaan hatiku” dan seterusnya menggelitik untuk dinyanyikan di dalam hati. Dan apa yang dapat kulihat selama perjalanan ini sangat sayang untuk tidak ditulis dalam baris-baris kalimat dalam tulisan singkat ini. Ingin rasanya tulisan ini dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk para pejabat yang sedang memimpin daerah, yang banyak orang menyebutnya “terang nggone wong elek”, bukan “terang ing galih”.

Perubahan yang cukup pesat

Jika dibandingkan dengan keadaan pada tahun 60-an dengan keadaan pada tahun 2005, ada beberapa perubahan signifikan yang dapat mengubah pola kehidupan masyarakat. Selain adanya jalan beraspal sebagaimana telah saya kemukakan di depan, perubahan lain yang cukup pesat antara lain adalah adanya jaringan listrik dan telepon masuk desa, termasuk telepon genggam.

Segera saya tiba di desa, segera pula saya menelpon istri saya di Jakarta. Bahkan telepon itu kemudian saya tempelkan ke telinga ibuku, yang kini sudah berusia lanjut. Beliau kemudian dapat ngobrol dengan istri saya di Jakarta, dan tertawa-tawa sambil berbicara lewat telepon yang masih dalam genggamanku itu. Beliau terkekeh-kekeh bertanya jawab tentang keadaan keluarga masing-masing. Juga, televisi yang saya beli pada tahun 80-an memang telah saya kirim ke desa. Tetapi ketika itu masih menggunakan home light yang disambung dengan kabel dari kampung yang dekat dengan kecamatan. Sejak televisi itu tidak hidup setahun lalu, kugantilah televisi yang agak lebih besar. Ayahku yang kini telah menginjak usia 84 tahun, beliau senang sekali, karena ibuku tidak lagi pergi ke tetangga untuk menonton televisi. Listrik telah benar-benar mengubah pola kehidupan di desaku. Ketika belum ada listrik kedatanganku ke desa pasti membuat sibuk pamanku untuk menyalakan lampu tekan minyak tanah yang dikenal dengan “strongking”. Bahkan harus pinjam satu sampai dua lampu tekan, agar “mbale’ yang besar itu menjadi cukup terang untuk menerima para tetangga yang bertamu untuk menanyakan kedatatangganku. Kedatanganku kali ini tinggal disambut dengan bunyi “klik” beberapa kali, dan menyalalah lampu listrik di ruang tamu itu. Bibirku tersungging senyum melihat perubahan ini. Para tetangga datang, dan obrolan panjang sampai larut malam pun membuat suguhan kopi harus ditambah dan ditambah lagi.

Gunung Kuncung sebagai simbol Kabupaten Trenggalek

Kedatangan para tetangga memang masih tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Keramahan mereka dan cara tegur sapanya masih sama. “Sugeng mas, kala menapa rawuh?” (Sehat-sehat mas, kapan datang?), masih tetap sama. Obrolan panjang sering membicarakan berbagai masalah. Mulai dari masalah rumah tangga sampai dengan masalah sosial kemasyarakatan, bahkan sampai masalah politik ketatanegaraan. Mudah-mudahan ini masih menjadi ciri positif dalam tata pergaulan dalam masyarakat yang dapat dipertahankan.

Dalam obrolanku dengan para tentangga, selain yang dapat kulihat sendiri, dapat kuperoleh beberapa perubahan lingkungan alam dan sosial yang mengkhawatirkan. Sampailah obrolan itu ke berbagai masalah, termasuk masalah bukit dan gunung yang semakin gundul.

Tetangga yang datang ke rumah menceritakan adanya perubahan lingkungan alam ini. Dahulu, di daerah pinggiran pantai masih banyak pohon keben yang besar-besar. Kini pohon itu telah babis ditebang tidak bersisa. Dahulu, buah keben yang kering sering digunakan anak-anak yang bermain di pasir dengan meleparnya ke tengah laut, dan ombak laut yang besar itu pun membawanya ketepi pantai. Dahulu, anak-anak sering mencari buah ketapang, dan memotongnya kulitnya yang keras, kemudian mengambil isinya yang gurih itu untuk dimakan. Setelah hutan di bukit dan gunung di sepanjang pantai telah habis dibabat dan dijadikan “bespel”, tidak lagi hutan alam yang tersisa. Hutan itu kini menjadi hutan sekunder dengan tanaman sengon laut yang tidak terlalu lebat. Ketika aku sempat menjadi “tukang angon kebo” (penggembala kerbau) pada tahun 60-an, gudelku pernah dimakan harimau, dan kutemui tinggal tulang-belulangnya. Adakah kini vauna-vanua itu setelah hutannya habis dibabat?

Ketika ayahku berangkat “blandhong” selama empat sampai lima hari ke hutan pada tahun 60-an, beliau selalu membawa pulang “walang kopo” (sebangsa kelelawar besar) yang tulangnya sering digunakan untuk pipa rokok. Blandhong adalah pekerjaan mencari kayu untuk bahan bangunan. Ayah juga sering membawa “pondhoh langkap”, yakni pucuk sebangsa palem, yang batangnya digunakan untuk “doran pacul” atau tangkainya pacul. Itu keadaan pada tahun 60-an. Masih adakah kini semua itu, setelah hutan alam menjadi ladang ilalang?

Ketika kumelintasi kota yang kini penuh dengan pertokoan, kulihat Gunung Kuncung yang tidak lagi beruntung. Gunung Kuncul adalah simbol Kabupaten Trenggalek yang terlukis dalam emblem yang terpasang di lengan baju sebelah kanan para pegawai Pemda Kabupaten Trenggalek. Ketika saya masih menjadi siswa SPG Negeri Trenggalek, saya sempat mengadakan “cross country” bersama teman-teman ke puncak gunung itu, sekedar melihat dari dekat batu besar yang menyebabkan gunung itu dikenal dengan nama Gunung Kuncung. Ketika itu, hutan di kawasan itu memang sudah tidak dapat disebut sebagai hutan alam lagi. Meskipun demikian, dari bawah masih terlihat sedikit hijau dibandingkan dengan sekarang. Terlebih di musim kemarau saat ini. Semua bukit dan gunung, mulai dari Kecamatan Bendungan di sebelah Utara, sampai dengan Kecamatan Munjungan di sebelah Selatan, pada umumnya telah ludes menjadi bukit dan gunung yang semakin gundul. Di kawasan antara Kampak dengan Munjungan memang pernah terlihat kegiatan PT Perhutani yang giat menanam hutan pinus yang cukup luas kawasannya. Di beberapa pos pengumpulan getah pinus pun terlihat beberapa orang menyadap getahnya dan mengumpulkannya ke dalam drum-drum plastik, entah dibawa ke mana, penulis tidak sempat menanyakan hal itu. Namun, kelihatan jelas bahwa kegiatan penanaman hutan pinus saat ini sudah tidak lagi produktif, dan saya perkirakan kegiatan itu akan berhenti dan mati dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya pasti jelas, karena merugi, seperti kebanyakan BUMN di Indonesia. Tidakkah PT Perhutani telah memiliki kebijakan, program, dan kegiatan yang perlu disinkronkan dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang telah telah disusun dalam Renstra Pembangunan Daerah?

Gunung Kuncung tidak beruntung

Mengapa tidak beruntung? Seperti kabanyakan kawasan hutan lainnya, hak pengelolaan hutan konon berada pada PT Perhutani. Sementara Dinas Kehutanan Kabupaten Trenggalek hanyalah mengelola hutan-hutan rakyat yang ditanam di kawasan tanah milih rakyat. Jadi, Gunung Kuncung memang milik Kabupaten Trenggalek. Namun hanya terbatas pada penguasaan sebagai simbol Kabupaten Trenggalek. Sementara itu Pemda Kabupaten sama sekali tidak memiliki kewenangan dalam pengelolaan hutannya. Kondisi inilah yang kemungkinan menjadi penyebab terlantarnya banyak hutan di kawasan ini. Begitulah kira-kira catatan yang saya peroleh dari beberapa orang pegawai Pemda Kabupaten Trenggalek saat ngobrol menjelang shalat Maghrib tiba.

Sebagai orang yang pernah dibesarkan di kampung halaman Kabupaten Trenggalek, kondisi bukit dan gunung yang gundul di Kabupaten Trenggalek membuat rasa khawatir terhadap masa depan daerah ini. Akankah Trenggalek menjadi padang pasir pada puluhan atau ratusan tahun yang akan datang? Atau setidaknya menjadi daerah yang kering kerontang, sulit air untuk mengairi sawah? Atau menjadi daerah yang sungainya menjadi semacam “creek” di Australia, yang airnya ada hanya pada waktu musim penghujan, sementara ketika musim kemarau sungai itu berubah wajahnya menjadi hamparan batu dan kerikil yang kering kerontang? Ketika musim penghujan banjir sungai itu melanda ke mana-mana, menerjang kawasan perumahan di kawasan sekitar sungai itu?

Kerbau pun menjadi binatang yang hampir punah

Setidaknya itu terjadi di desaku. Dahulu kakekku mempunyai lima ekor kerbau. Seekor kerbau jantan yang cukup besar. “Klonthong” besar selalu melilit di lehernya. Dari kejauhan bunyinya terdengar nyaring ‘klothong, klonthong” ketika kerbauku makan rumput. Mbokdhe Marto memiliki beberapa ekor kerbau. Banyak tetangga yang masih memiliki satu sampai dua ekor kerbau. Dahulu kerbau masih menjadi hewan ternak yang sangat akrab dengan rakyat. Selepas membajak sawah, kerbau-kerbau itu digiring ke sungai untuk mandi bersama dengan penggembalanya. Tapi kini “kedhung” atau lubuk di sungai pun tidak ada lagi. Erosi dari bukit dan gunung yang gundul itu telah menumpuk endapan pada dasar sungainya. Walhasil, bukit dan gunung dengan sungai memiliki hubungan fungsional yang saling mempengaruhi. Bukit dan gunung gundul menyebabkan dangkalnya dasar sungai, dan itu semua menyababkan timbulnya bahaya banjir di mana-mana.

Ini mungkin hanya akan menjadi sejarah tentang kerbau. Suatu ketika anak-anak dari Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek tidak tahu lagi bagaimana wujud kerbau itu. Untuk menjelaskannya, anak-anak harus diajak ke kebun binatang, seperti halnya kita dapat melihat binatang seperti gajah, harimau, dan sabagainya. Mengapa? Karena kini tidak lagi terlihat kerbau yang lalu lalang di jalan setapak di desa itu. Tidak lagi tampak penggembala, yang air liurnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit sariawan. Alat-alat seperti “garu dan luku” (alat untuk membajak sawah), kini tidak ada lagi. Ketika pulang kampung kemarin, saya membawa sebuah “klonthong” yang masih tersisa disimpan di “pogo” atau semacam rak di atas dapur. Untung “klonthong” itu tidak dijadikan kayu bakar oleh pemiliknya. Saya masih akan berburu barang-barang antik seperti itu. Takut keburu habis dimakan zaman. Atau siapa yang mau mengoleksinya? Akankah Pak Bupati mau membuatnya Museum Trenggalek, yang mengoleksi bekas-bekas Kerajaan Menak Sopal dan barang-barang antik dari daerah ini?

Bupati dan Wakil Bupati terpilih

Bupati dan Wakil Bupati baru telah berhasil dipilih oleh rakyat. Saya tidak tahu bagaimana proses pemilihan yang sebenarnya. Setidaknya itu merupakan cara baru yang telah disepakati. Sudah tentu masih banyak kekurangannya. Kelihatannya rakyat memang gandrung akan perubahan. Bukan hanya sekedar “perubahan demi perubahan” tetapi “perubahan untuk perbaikan”. Rakyat menunggu dan siap berperan serta secara aktif untuk membangun daerah ini. Insyaallah.

Sebagai seorang yang pernah dibesarkan di kampung halaman di daerah ini, saya merasa masih ikut memiliki kewajiban moral, untuk melihat daerah itu mengalami kemajuan dan menuju perubahan yang lebih positif. Bukan sebaliknya. Tulisan ini setidaknya menjadi semacam masukan, atau usulan kepada Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk dapat membangun daerah berwawasan lingkungan. Membangun bukan hanya untuk diri dan generasi masa kini, tetapi membangun untuk generasi masa depan yang berkelanjutan. Pengabdian kepada orang lain adalah pengorbanan yang sesungguhnya. Demikian kata bMahatma Gandhi. Dan RA. Kartini menyatakan dengan tegas tentang pendidikan untuk membangun bangsa dan negara, dengan pernyataannya “beri kami pendidikan dan kami akan bangkit sebagai bangsa yang memiliki cita-cita”.

Mudah-mudahan Bupati dan Wakil Bupati yang baru tidak hanya mampu menggiring rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mampu mengajar rakyat Trenggalek untuk bersama-sama membangun Trenggalek dengan konsep pembangunan berwawasan lingkungan. Membangun bukan hanya untuk masa kini, tetapi untuk masa depan yang lebih menghargai alam yang telah dikaruniakan oleh Tuhan Semesta Alam.

Akhir kata

Banyak cerita yang dapat diperoleh dari perjalanan pulang ke kampung halaman. Menyenangkan memang, dapat bertemu ayah ibuku yang sudah berusia lanjut. Sanak saudaraku yang beberapa di antaranya sudah tidak lagi kukenal dengan baik. Tetangga yang masih tidak lepas dengan sapaan akrapnya. “Sugeng mas, kala menapa rawuh” adalah sapaan akrap dari saudara dan para tetangga yang masih sejuk masih selalu saya dengar. Setidaknya saya bukanlah menjadi “si anak hilang” yang sudah lupa kepada asal muasalnya, lupa kepada kampung halamannya. Namun dalam suasana yang penuh kegembiraan itu terbesit rasa kekhawatiran yang amat mendalam terhadap banyaknya bukit dan gunung yang kian menjadi gundul, tetutama Gunung Kuncung yang notabene digunakan sebagai simbol Kabupaten Trenggalek. Minimal, dengan tulisan ini, saya ingin bicara dengan siapa saja, terutama kepada para pemimpin di daerah ini, yang kebetulan memperoleh kepercayaan dari rakyat untuk memimpin daerah ini.

Kita berharap mudah-mudahan PT Perhutani dapat menjadi berkah bagi rakyat, bukan sebaliknya. Kita berharap mudah-mudahan PT Perhutani dapat menjadi mitra bagi Pemerintah Daerah dan rakyat untuk menghijaukan Gunung Kuncung, sehingga gunung ini tidak hanya terkenal sebagai lambang daerah, tetapi menjadi kawasan yang menyejukkan dan menyesejahterakan rakyat banyak. Wallau alam bishawab.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com. Mantan Plh. Kepala PPPG Matematika Yogyakarta.

Ditulis di Surabaya, Tanggal 12 September 2005.
Direvisi di Depok, Tanggal 19 Desember 2005

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Artikel, Budaya, Pendidikan

Membangun Kepercayaan

MEMBANGUN KEPERCAYAAN: BEBERAPA CATATAN DARI HASIL SIMPOSIUM PENDIDIKAN NASIONAL Oleh Suparlan *) *** تَقْوِيمٍ أَحْسَنِفِىٓ ٱلْإِنسَٰنَخَلَقْنَا لَقَدْ Sesungguhnya…