ArtikelDunia Islam

Kuliah Tertulis Ramadan Hari Keenam: Bagaimana Mendudukkan Secara Proporsional Tata Cara Ritual dan Kultural dalam Sholat Taraweh

55 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Sholatlah, sebagaimana aku sholat
(HR Muslim)

Tradisi dan budaya lokal memang telah digunakan secara bijak dan cerdas oleh para Walisongo ketika menyebarkan agama pada masanya. Cara itu patut dihargai. Cara itu sudah barang tentu menjadi bagian tata cara kultural yang dapat terus kita lestarikan dalam praktik hidup dan kehidupan kita, termasuk dalam kehidupan beragama, dengan satu prinsip bahwa tidak dicampur aduk dengan tata cara ritual keagamaan, yang memang telah ada contoh yang patut ditiru, yakni tata cara Nabi kita Muhammad SAW.

Menurut saya, kita perlu membedakan mana tata cara ritual dan mana tata cara kultural, yang antara keduanya tidak dapat dicampur aduk. Tata cara kultural adalah bentuk kegiatan yang dimaksudkan agar umat tertarik untuk melakukan tata cara kultural. Bukan sebaliknya. Bahkan kemudian dicampur aduk sampai tidak diketahui lagi mana yang hak untuk tata cara ritual, dan mana yang kultural. Sebagai contoh, pemukulan beduk sebelum ritual ibadah shalat. Pemukulan beduk merupakan tata cara kultural, dan dapat digunakan untuk menarik umat untuk berkumpul di masjid. Tetapi bukanlah tata cara ritual untuk mengajak shalat, karena dalam ritual itu telah ada aturannya, yakni dengan membaca azan dan iqomah. Bilal sampai harus naik ke menara masjid untuk mengumandangkan azan untuk memanggil umat untuk shalat. Masih banyak contoh lain, yang perlu dibedakan tata cara yang harus kita fahami sebagai tata cara kultural dan kita dudukkan pada porsi yang sebenarnya, bukan kita campur aduk dengan tata cara ritual.

Dalam shalat taraweh, ada beberapa tata cara kultural yang sering dapat mengganggu kekhusukan dalam menjalankan ibadah shalat. Teriakan amin dari anak-anak yang terlalu keras, bacaan-bacaan yang diucapkan dengan teriakan, tidak secara merdu dan halus, merupakan contoh lain tat cara yang perlu kita luruskan agar ibadah shalat kita menjadi lebih khusuk, bukan bersifat hura-hura. Anak-anak secara dini harus kita latih untuk dapat membedakan bahwa shalat adalah tata cara ritual yang jauh berbeda dengan menyanyikan lagi khasidah atau bahkan teriakan-teriakan orang yang sedang berburu kijang di hutan. Ada adab yang harus dijaga ketika berada di masjid, tidak lari-lari dan mengobrol sendiri ketika khatib sedang memberikan kotbahnya. Mereka yang melakukannya dengan sengaja tanpa mempedulikan adab ketika di masjid dapat dikategorikan sebagai perilaku keledai.

Saya pernah shalat taraweh di satu desa di daerah Jawa Timur. Saya sangat merasa tidak khusuk karena adanya ucapan amin dari jamaah yang terlalu keras dan nyaring, serta cenderung seperti bermain-main.bahkan saya dapat kategorikan sebagai teriakan-teriakan yang teramat keras dan nyaring, yang kadang sengaja diucapkan tanpa ekspresi bahwa ucapan itu adalah ucapan untuk memohon pertolongan Allah. Amin artinya semoga Allah mengabulkan permohonan hamba. Apakah ucapan salam yang keras seperti itu dapat kita artikan bahwa Allah itu telah tuli dan tidak mendengarkan permintaan hambanya? Tentu tidak, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Persoalannya sebenarnya terletak dari tingkat pemahaman kita tentang agama yang belum sempurnya. Kebanyakan kita beragama karena keturunan, karena ikut-ikutan, secara taklid buta. Setiap yang berbau Bahasa Arab selalu dipercayai sebagai Al Quran dan Al Hadist. Padahal ternyata ada Hadist maudu’ atau Hadist palsu yang dibuat oleh Snock Horgronye segala. Bahkan jangan heran, ternyata ada kaligrafi dengan Bahasa Arab dari Injil Matius, yang boleh jadi dipajang di ruang tamu orang Islam. Tingkat pemahaman tentang agama yang rendah itu sebenarnya bersumber dari pengetahuan Bahasa Arab kita yang rendah, bahkan malah tidak tahu sama sekali. Akibatnya, kita tidak bisa membedakan apakah tata cara peribadatan yang kita lakukan sebenarnya merupakan tata cara ritual ataukah kultural. Padahal untuk urusan ritual harus dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan, tetapi berasal dari sumber yang benar, yakni Al Quran dan Al Hadist.

Mudah-mudahan amal puasa hari keenam kita ini dapat menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT. Amin, ya robbal alamin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 16 September 2007

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts