ArtikelBudayaPendidikan

Dua Puluh Mei 2016: Hari Kebangkitan Nasional

89 views
2 Komentar

Oleh: Suparlan *)

JASMERAH. Jangan melupakan sejarah. Demikian Bung Karno berpesan kepada semua anak bangsa. Besok, seluruh anak bangsa akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2016. Pada umumnya, semua anak bangsa di negeri ini tidak akan melupakan hari yang amat bersejarah ini, insyaallah. Tapi boleh jari perlu lebih mendalami lagi, terutama tentang mengapa dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional? Bagaimana nasionalisme Indonesia dapat bangkit dan bagaimana proses kebangkitannya? Tulisan ini mencoba menjawabnya.

Berbeda dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei, Peringatan Hari Kebangkitan Nasional memang berbeda. Hari pendidikan lebih karena ketokohan Ki Hajar Dewantara, yang telah mengusung semangat untuk merdeka melalui pendidikan, dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Hal demikian juga dilakukan oleh Paulo Freire yang telah mengusung pendidikan pembebasan di negaranya Brazil.

Mengapa Hari Kebangkitan Nasional? Apanya yang bangkit? Hal inilah yang perlu dikenang oleh semua anak bangsa. Untuk mengenangnya, semua anak bangsa perlu mempelajari sejarah bangsa yang besar ini. Persisnya tanggal 20 Mei 1908. Hari inilah yang kita kenal sebagai hari berdirinya organisasi Budi Utomo, yakni organisasi yang pertama-tama telah mengusung dan menjunjung rasa kebangsaan dalam jiwa anak bangsa. Jika pada era sebelumnya jiwa anak-anak bangsa masih terkungkung oleh rasa kedaerahan yang sempit, maka para pendiri organisasi Budi Utomo telah membangkitkan kesadaran akan nasionalisme, rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang merdeka. Organisasi para pemuda dan mahasiswa inilah yang telah membangkitkan semangat kebinekaan dan kesatuan sebagai bangsa. “We are not looking for a superman, but we are looking for a super team” Kita tidak mencari orang yang super, tetapi kita mencari tim yang super dalam menjaga solidarisme, persatuan dan kesatuan. Semangat inilah yang sampai saat ini masih harus terus dibangkitkan.

Budi Utomo adalah sebuah organisasi pemuda – lagi-lagi organisasi anak-anak muda – yang pada saat itu didirikan oleh Dr. Sutomo. Tentu saja bersama dengan pemuda dan mahasiswa STOVIA, yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan dan tidak bersifat politik. Organisasi Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa – lagi-lagi organisasi kaum terdidik – dan bukan pemuda yang tidak mengenal pendidikan.

Peristiwa itulah, yakni pada hari Ahad, tanggal 20 Mei 1908, pukul sembilan pagi, berdirinya organsiasi Budi Utomo, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada saat berdirinya organisasi Budi Utomo itulah pemuda Soetomo menjelaskan gagasannya. Pemuda ini menyatakan bersemangat bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka pada pemuda. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa “kaum tua” yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.

Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin organisasi Budi Utomo berasal kalangan “priayi” atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata “politik” ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai “tanah air Indonesia” makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya “tanah air api udara” (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.

Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, Budi Utomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, dipilihlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru Budi Utomo yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah, karena tiga macam bantuan berupa (1) edukasi, (2) irigasi, dan (3) migrasi yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda sesungguhnya hanyalah untuk kepentingan Belanda sendiri. Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel “Als ik Nederlander was” (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sejak itulah jejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.

Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa “nasionalisme Indonesia” tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme Indonesia telah membakar semangat jiwa anak-anak bangsa yang berasal dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan daerah lainnya, yang tidak kurang dari 300-an suku bangsa. Kebangkitan semangat nasionalisme inilah yang harus menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan sejahtera. Kelahiran Budi Utomo menjadi motor penggerak kebangkitan nasionalisme Indonesia.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com. Sumber: www.wikipedia.com.

Tags: Hari Kebangkitan Nasional

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

2 Komentar. Leave new

  • Hey Al,nTaahese are great!I did the following with sweet ptaotoes and we all loved them (my kids too). Take 3 good size sweet ptaotoes and scrub clean. Cut the ptaotoes in large chunks (skin on) and place in microwave container with lid. Microwave on high for about 8-10 minutes. I added black pepper, a pinch of nutmeg and a 1/4 cup of coconut milk. Mash (or smash) and enjoy. Flipping delicious!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Artikel, Pendidikan

Hanya Satu Hari

  *** Menjadi sukses itu bukanlah suatu kewajiban, yang menjadi kewajiban adalah perjuangan kita untuk menjadi sukses. Bila…
Artikel

Kultum 28 Maja Labu Daho

1. Pada hari Jum’at tanggal 26 September 2014, alhamdulillah saya dapat memenuhi undangan dari Dewan Pendidikan Provinsi Nusa…