ArtikelDunia Islam

Kuliah Tertulis Ramadan Hari Keduabelas: Rasulullah Dan Pengemis Buta

9 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Hidup yang mulia adalah hidup yang dapat memuliakan orang lain
(Hadis).

Sayangilah orang lain sebagaimana menyayangi dirimu sendiri
(Hadis)

Saya menerima e-mail dari kelompok mailis tentang tulisan yang sungguh-sungguh menyentuh hati ini. Izinkanlah saya menggunakan tajuk tulisan itu menjadi tajuk tajuk kuliah tertulis ini. Isinya saya gubah sesuai dengan pemahaman saya terhadap tulisan tulisan tersebut. Sayang sumber tulisan itu tidak disebutkan. Kepala para pembaca yang telah mengetahui sumber tulisan ini, silahkan sampaikan kepada alamat e-mail saya.

Alkisah, pada zaman kehidupan Rasulullah, terdapatkan seorang pengemis buta beragama Yahudi yang selalu mangkal di pinggir jalan untuk meminta-minta sedekah. Sebagaimana kebanyakan orang Yahudi, pengemis ini sangat benci kepada Nabi Muhammad. Selain sebagai pengembis tenyata dia selalu menjelek-jelekkan Rasulullah. Pengemis ini selalu berkata” ”Wahai Saudar-saudara, jangan percaya kepada Muhammad. Jangan ikuti dia. Dia itu seornag pembohong besar. Dia itu pendusta”. Meski Rasulullah mendengar dan mengetahui tentang perilaku pengemis buta yang demikian itu, tetapi Rasulullah sama sekali tidak marah. Rasulullah secara rutin memberikan makan kepada pengemis buta itu. Bahkan Rasulullah menyuapi pengemis buta itu dengan penuh kasih sayang, sampai pada suatu saat Rasulullah wafat.

Singkat cerita, suatu ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, yaitu Sitti Aisyah, yang tidak lain adalah salah seorang istri Rasulullah.

Sebagai sahabat Nabi yang setia, bertanyalah Abu Bakar kepada Sitti Aisyah: ”Wahai anakku, sunnah apa sajakah yang selama ini belum pernah aku lakukan setelah beliau wafat?”.

”Wahai Ayahanda, sebagai sahabat Rasulullah yang setia, hanya ada satu saja sunnah yang belum Ayahanda lakukan”, jawab Siiti Aisyah kepada Ayahanda.

”Sunnah apakah itu, wahai anakku?”, jawab Abu Bakar dengan lembutnya.

”Selalu menyuapi pengemis buta di pinggir jalan itu, wahai Ayahannya”, jawab Sitti Aisyah dengan secara santun.

’Ya, mulai sekarang aku akan melakukan sunnah itu, wahai anakku”, jawab Abu Bakar.

Kemudian, pergilah Abu Bakar menuaikan sunnah memberikan makanan kepada pengemis buta itu. Abu Bakat menyuapi pengemis buta itu, sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah.

”Siapa yang menyuapiku dengan kasar seperti ini?”, bentak pengemis itu dengan kasar kepada Abu Bakar.

”Biasaya saya disuapi dengan dengan lemah lembut. Tangannya dengan lembut menuntun saya. Demikian juga makanannya. Dengan mudah saya kunyah ketika disuapkan kepada saya”,  jelas pengemis itu kepada orang yang menyuapinya.

Menangislah kemudian Abu Bakar dengan penjelasan pengemis itu. Rupanya, sunnah yang beliau lakukan ternyata belumlah sepenuhnya sesuai dengan yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Kemudian, Abu Bakar minta maaf kepada pengemis buta itu, seraya mengakui kekurangan yang telah beliau lakukan.

”Maaf, wahai Saudaraku. Saya memang bukan orang yang biasa memberikan makanan kepadamu. Nama saya Abu Bakar. Saya hanyalah sahabat dekat beliau. Saya pengikut setia beliau yang berusaha untuk melakukan apa yang biasa beliau lakukan. Termasuk memberikan makan kepada Anda ini.

”Lalu, siapakah sebenarnya yang biasa menyuapiku itu, wahai Abu Bakar?  Bolehkah saya tahu siapa sebenarnya dia?”, tanya pengemis buta itu, dengan nada suara yang lembut.

”Beliau itu tidak lain adalah Muhammad. Rasulullah SAW”, jawab Abu Bakar. ”Beliau itu telah wafat, dan saya akan berusaha melaksanakan apa yang dilaksanakan beliau selama hidupnya.

”Ohhh begitukah? Saya sama sekali tidak mengira begitu mulia akhlak beliau. Saya selalu menjelek-jelekkan beliau dengan mengata-ngatai bahwa beliau itu pembohong besar, pendusta, dan sebagainya”, jelas pengemis buta itu.

Akhir cerita, pengemis buta Yahudi itu mengucapkan kalimah syahadat di depan Abu Bakar. Ternyata kekerasan seseorang akan menjadi luluh bukan karena kekerasan, tetapi justru oleh karena kelembutan. Ibarat batu keras yang luluh justru oleh kelembutan air.

Mudah-mudahan amal puasa hari keduabelas ini dapat lebih melembutkan sikap kita kepada orang lain, terutama kepada sesama sesama umat yang kurang mampu dari segi ekonomi. Amin, ya robbal alamin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 25 September 2007

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts