ArtikelPendidikan

Wow, Dosen, Wow

46 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Tak ada yang lebih membahagiakan seorang guru selain mendapatkan seorang murid yang pintar
(Andrea Hirata)

Bila guru tak punya cita-cita, tak mengajarkan sikap optimistis dan percaya diri, bangsa ini tinggal menunggu kematiannya
(Sirikit Syah)

Akhirnya menjadi dosen. Inilah yang barangkali harus penulis tekuni saat ini. Tak menyangka. Tak menduga. Kenyataan telah terjadi juga. Kebiasaan menulis lagi-lagi mungkin menjadi pemicunya. Inilah jalan kehidupan yang kini menjadi hiburan. Happy aja. Itu kata-kata anak muda sekarang. Memang bukan yang pertama kali. Sudah pernah penulis menjadi dosen di pondok pesantren. Di samping sejak awal memang telah menjadi guru di Sekolah Pendidikan Guru Negeri.

Itulah sekilas cerita sejarah masa lalu. Masa lalu yang telah lama berlalu. Sebagian besar sejarah kehidupan yang telah penulis tunaikan. Perjalanan kehidupan yang penuh dengan suka dan duka, berupa keberhasilan dan juga keberhasilan yang tertunda.

Penulis jadi ingat pada masa di penghujung masa pensiun. Karir tidak jadi menduduki tangga jabatan yang tertinggi karena — menurut penulis — kebijakan yang tak pasti. Career development path yang nggak ada seperti dalam ABRI. Entah mau apa lagi, permohonan beralih profesi dari pejabat struktural ke fungsional juga gagal. Universitas Negeri Yogyakarta ternyata tidaklah berterima. Juga Universitas Ahmad Dahlan yang sebenarnya juga menjadi salah satu impian. Waktu tidaklah pernah berhenti. Dan masa pensiun tidaklah dapat ditunda lagi.

Walhasil, menjadi konsultan menjadi pilihan. Banyak teman yang ternyata masih memerlukan bantuan. Masih banyak juga kedudukan yang memerlukan keahlian. Dan masih banyak posisi yang dapat menjadi semacam hobi. Itulah yang kini penulis coba tekuni. Sampai kapan? Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Yang penting usaha. Itu pasti. Siapa tahu kapan-kapan harus berhenti di tengah jalan.

Konsultan perseorangan (personal consultant) ternyata telah menjadi satu pekerjaan yang sangat menjanjikan. Penulis menjadi konsultan selama empat tahun berjalan. Alhamdulillah. Syukur kepada Allah. Penulis tidak mati di dalam lumbung yang sarat dengan padi. Kata teman-teman, penulis kini telah menjadi ulama, artinya usia lanjut masih aktif. He, heeee.

Tapi kini. Penulis harus mulai menilai. Tidakkah masa empat tahun kita memang sudah harus mulai mencari exit strategy. Untuk rotasi barangkali. Masih banyak teman. Dan masih banyak ladang pengabdian. Masih akan tetap ada pengharapan. Salah satunya adalah menjadi dosen seperti saat ini. Honor pertama telah penulis tandatangani. Seratus lima puluh satu ribu rupiah sebulan telah ditangan. Meski tentu tetap harus dapat berbagi dengan teman-teman sejati. Bersama teman mencari jalan. Bersama teman menemukan ladang pengabdian. Bersama teman meniti jalan berbakti. Bersama teman pula mengembangan pekerjaan dan berusaha mencintainya.

Mengapa dosen?

Dosen menjadi pekerjaan yang sarat dan dekat dengan hobi membaca dan menulis. Kalau ingin menjadi pengajar, maka tetaplah harus belajar. Itulah salah satu kata-kata mutiara yang tak pernah penulis lupa. Menjadi dosen haruslah lebih banyak lagi membaca dan menulisnya. Mudah-mudahan lebih banyak lagi tulisan yang dapat dihasilkan. Lebih banyak buku yang akan dapat diterbitkan. Menyusun modul mulailah dicoba. Dapat dilihat pada “unduhan” dalam www.suparlan.com. Yang pasti, semuanya masih perlu waktu, untuk dapat menghasilkan yang bermutu. Menjadi dosen di samping menjadi satu kesempatan sekaligus menjadi tantangan.

Dosen menjadi wahana untuk merajut kembali pertemanan dan persahabatan. Menjadi apapun sudah pasti tidak dapat dipisahkan dengan masalah pertemanan. Manusia lahir di dunia tidak bisa sendirian. Menjadi guru sudah pasti perlu kolega untuk diajak bicara. Menjadi konsultan sudah pasti memerlukan kerja keras dan kerja cerdas dengan semangat kebersamaan. Menjadi dosen diharapkan dapat wahana untuk merajut kembali pertemanan dan persahabatan.

Dosen menjadi karir yang sangat dekat dengan generasi masa depan. Siapakah pewaris masa depan negeri ini?. Tidak lain adalah generasi mudanya. Faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap kualitas masa depannya. Tidak ada lain adalah pendidikan generasi mudanya. Dengan demikian dosen adalah agen utama yang akan melaksanakan tugas berat membangun generasi muda yang diharapkan.

Dosen adalah guru bangsa. Dosen seharusnya menjadi guru bangsa yang bertugas untuk mencerahkan masyarakat suatu bangsa, dan pada gilirannya diharapkan akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah puncak semua profesi, yakni menjadi guru bangsa. Lengser dari birokrasi masih memperoleh apresiasi. Bahkan masih bisa sebagai prestasi. Itulah secercah cita dan setitik harapan.

Refleksi

Mungkin jadi semua harapan yang dipaparkan tersebut hanyalah satu kebetulan. Atau hanyalah sebagai jalan menerabas atau jalan pintas. Tapi sesungguhnya itu adalah jalan pasti yang harus disadari oleh negeri ini. Bahwa masih banyak cara berbakti untuk negeri.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, April 2008

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts