ArtikelBudaya

Tamu Agung dari Kampung

50 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Tujuan akhir setiap tindakan manusia adalah kebahagiaan
(Aristoteles)

Pernikahan adalah sebuah buku berisi larik-larik puisi bab pertama, dengan uraian prosa pada bab-bab berikutnya
(Baverlu Nichols, 1898 – 1983, sastrawan Inggris)

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
(Pepatah Bahasa Indonesia)

Rukun iku agawe santosa
(Pepatah Bahasa Jawa)

Pada tanggal 27 Desember 2008 anak sulung saya, Arif Hidayat, telah menjalani sunah rasul, menikah dengan Desy Gita Lestari, putri Bapak H. Sudarto HS. Acara akad nikah dan resepsi dilaksanakan di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Alhamdulillah, semua acara telah berjalan lancar dan berhasil. Semua itu tentu berkat persiapan yang telah dilakukan oleh keluarga Bapak H. Sudarto HS dan kerja sama secara baik dan sinergis dengan pihak keluarga mempelai pria. Eratnya tali silaturahim, keterbuaan, dan kebersamaan antara kedua keluarga inilah yang telah menjadi faktor utama yang menyebatkan pelaksanaan acara akad nikah dan resepsi pernikahan tersebut anak kami tersebut telah berjalan lancar dan berhasil. Alhamdulillah.

Tentu saja banyak tamu yang telah diundang. Dari pihak mempelai pria, sebagian tamu itu telah datang dari berbagai daerah kabupatan/kota di Jawa Timur. Dari pihak keluarga istri penulis, para tamu dari Mojokerto, Surabaya, dan Pamekasan. Dari pihak penulis, para tamu juga telah datang dari beberapa kabupaten, seperti Trenggalek, Malang, dan Blitar. Para tamu dari pihak pengantin laki-laki itu adalah adik-adik, ipar, dan ponakan-ponakan. Para tamu ini dari pihak keluarga telah datang sehari sebelum acara akad nikah dan resepsi pernikahan dimulai. Rumah penulis jadi terasa sempit. Lantai bawah dan atas jadi tempat tidur. Semuanya saling bercerita sampai larut malam, dan akhirnya tidur dengan pulas,  bahkan ada yang pada ngorok, karena semalaman dalam perjalanan naik kereta api ataupun juga bus antarprovinsi. Penulis jadi tercenung ketika melihat mereka bergelimpangan di lantai, tidur di atas karpet seadanya, seperti ”ikan pindang”.

Tamu-tamu itulah yang saya sebut sebagai tamu agung, yang telah benar-benar telah ikut dapat membahagiakan kami sekeluarga. Keluarga penulis sungguh-sungguh dapat merasakan kebahagiaan itu. Tanpa kedatangan saudara-saudara keluarga batih itu, kami akan menjadi kesepian. Ibarat hidup tanpa siapa-siapa. Ada beberapa nilai-nilai sosial budaya, yang penulis sebut sebagai 5K, yang menjadi karakteristik para tamu agung dari kampung itu.

Kesederhanaan

Penulis merasakan benar bahwa keluarga batih yang telah datang dari kampung halaman adalah keluarga yang sederhana. Sederhana dalam berpakaian, bertutur kata, bertingkah laku. Kesederhanaan itu sama sekali bukan imitatif, tetapi lahir dari hati yang bersih, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Apa yang diucapkan adalah benar-benar lahir dari hatinya yang suci.  Ketika penulis menjemputnya di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kebetulan busnya memang datang agak terlambat. Seharusnya bus antar kota dari Trenggalek – Jakarta itu sudah harus tiba pada pukul 07.00 WIB, tetapi ternyata bus itu baru tiba pada sekitar pukul 09.00 WIB.  Rasa lelah dan lapar sudah kelihatan. Apalagi satu keluarga yang dari Malang ternyata masih belum dapat diketahui sampai di mana. Secara spontan ada yang secara spontan berkata ”mas, lapar”. Dan saat itu pulalah, saya segera mengajak mampir ke warung sederhana yang ada di kompleks terminal itu. Saya tidak ragu untuk mengajaknya sarapan pagi. Dengan lahapnya saudara-saudaraku itu makan apa yang ada. Demikian juga saya. Inilah yang saya maksud sebagai bentuk kesederhanaan yang sungguh-sungguh murni datang dari luhuk hati yang paling dalam.

Kekeluargaan

Keluarga yang datang dari daerah itu terdiri dari adik-adik kandung sendiri, ipar, dan beberapa anaknya. Mereka datang bersama suami atau istri mereka dan beberapa anak-anaknya. Itulah sebabnya, penulis menyebutnya sebagai keluarga batih (extended family), bukan keluarga inti (nucleus family). Meskipun mereka adalah ipar penulis, tetapi mereka sama sekali tidak membedakan kedudukannya, apakah sebagai kakak, adik, atau bahkan ipar. Semuanya merasa sebagai saudara sendiri, diikat oleh tali kekeluargaan yang kukuh.

Keakrapan

Meskipun para tamu itu memang menghormati penulis sebagai saudara yang paling tua, namun keakrapan di antara sesama saudara tidaklah terhalang oleh status tua atau muda itu. Para tamu agung itu sama sekali tidak menganggap kami sebagai orang lain. Hal ini antara lain ditunjukkan ketika waktu sarapan pagi tiba, yang secara lahap menikmati acara sarapan pagi tersebut. Para tamu agung itu makan seadanya, tidak minta macam-macam yang di rumah tidak ada. Para tamu agung itu saling meledek antara dari anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain. Sambil sarapan pagi para tamu sempat bersenda gurau antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya.

Kebersamaan

Dalam acara perkawinan itu, penulis merasakan adanya rasa kebersamaan yang begitu kuat.  Anak penulis yang kawin itu dirasakan sebagai anaknya sendiri. Oleh karena itu, para tamu yang telah datang dalam acara itu ikut juga merasakan bahwa kelancaran dan keberhasilan acara perkawinan itu merupakan tanggung jawab bersama. Dalam tulisan ini sengaja tidak disebutkan dukungan biaya yang telah diberikan untuk pelaksanaan acara ini. Tetapi yang jelas, para tamu itu telah memberikan dukungan yang tidak sedikit. Ketika istri saya menyatakan ”jangan repot-repot”, maka jawabannya adalah ”ya, inilah yang dapat diberikan”. Acara ini adalah menjadi tanggung jawab bersama.

Kerukunan

Dalam Bahasa Jawa terkenal dengan ungkapan ”rukun agawe santosa”, artinya ”persatuan membuat kuat”.  Dalam Bahasa Indonesia, terkenal dengan ungkapan ”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Kedua ungkapan itu menunjukkan makna yang kurang lebih sama. Para tamu agung dari kampung inipun juga memiliki semangat yang sama. Kedatangan para tamu agung ini saja pun telah penulis pandang sebagai salah satu bentuk kerukunan itu. Apalagi dengan nilai-nilai mulai kebersamaan, keakrapan, kekeluargaan, kesederhanaan, yang telah ditunjukkan, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan yang tulus dan ikhlasnya.

Akhir kata

Tulisan singkat ini penulis coba saya ungkapan dalam media ini, dengan harapan dapat menjadi bahan pelajaran. Tentu bahan pelajaran itu memang untuk penulis sendiri, juga sebagai kenang-kenangan untuk semua tamu agung yang telah ikut membuat penulis sekeluarga merasa hidup ”sendirian”, tetapi hidup ”menjadi keluarga batih yang besar.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok, 23 Januari 2009

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts