Artikel

20 Mei = 60 Tahun

45 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan*)

Anda semua terlahir dengan kepakan sayap. Mengapa lebih suka merangkak dalam kehidupan ini?
(Jalal ad-Din Rumi, 1207 – 1273, pujangga sufisme)

Ada penderitaan dan kegagalan dalam kehidupan ini. Tiada orang yang dapat menghindari itu semua. Namun, lebih baik gagal dalam perjuangan meraih cita-cita daripada gagal tanpa pernah tahu rasanya berjuang
(Paulo Coelho, novelis Brazil)

Kemapanan dan kesendirian dari ketenangan hidup mampu menstimulasi ikiran kreatif kita
(Albert Einstein, ilmuwan AS)

Inilah tajuk yang paling pendek yang pernah saya tulis. Satu tajuk yang menggambarkan betapa kita sebenarnya dapat membuat judul apa saja. Itu sangat tergantung kepada penulisnya. Meski sering juga saya menulis berdasarkan pesanan orang lain. Nah itulah sekedar ulasan sedikit tentang judul itu, jika pembaca bertanya di dalam hati tentang mengapa judul itu hanya seperti itu. Ya, judul merupakan ungkapan hati dari penulisnya.

Menurut beberapa catatan, misalnya dokumen di dalam rapor, dan kemudian berdasarkan catatan dalam rapor itu dibuatkanlah sebuah Surat Tanda Kenal Lahir di Pamekasan, dulu ketika masih menjadi guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Terus terang, dokumen-dokumen itu memang tidak menjamin kebenaran tanggal kelahiran, karena ketika itu bapak dan ibu saya belum kenal akta kelahiran. Maklum saja orang desa, yang tinggal di, kata orang, “gowok tekek”, yaitu tempat bersembunyinya binatang yang suaranya sering digunakan untuk menghitung waktu itu.

Sudahlah, menurut dokumen itu, saya lahir pada tanggal 20 Mei 1949 di Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. O, sampeyan itu orang Munjungan to Lan, kata teman lama saya yang entah sudah berapa tahun tidak pernah berjumpa. Ya, saya memang orang Munjungan. Jawab saya ringan, karena itulah yang dapat saya ketahui.

Hari ini, tepatnya tengah malam pukul 24.00 WIB tadi malam, adalah tanggal 20 Mei 2009. Dengan demikian, sekarang ini saya sudah berumur genap 60 tahun. Wow, bukan tidak terasa, tetapi memang siapa yang tahu masa depan? Siapakah yang tahu entah bagaimana besok. Besok akan menjadi sekarang, sekarang adalah sekarang, dan sekarang ini akan segera menjadi kemarin. Sekarang segera menggantikan kemarin. Today replaces yesterday. Itulah perjalanan waktu yang kita tidak pernah bisa menghalang-halanginya. Apalagi memberhentikan. Itulah sebabnya maka manusia haruslah menyesuaikan dengan perjalanan waktu itu. Berhenti berarti mati terlindas dengan mesin perjalanan itu. Ya, itulah saya, yang kini telah menjadi kakek dari dua cucu yang lucu-lucu. Malah sebentar lagi akan menjadi tiga cucu, karena akan bertambah dari menantu, istri anak saya pertama. Alhamdulillah. Itulah nikmat Allah yang telah diberikan kepada umat-Nya.

Tulisan singkat ini akan mencoba mengingat kembali masa lalu yang tidak pernah akan kembali. Tidak bermaksud untuk kembali ke masa lalu, karena kembali ke masa lalu sama halnya dengan membongkar makam yang telah lama terkubur. Saya bermaksud untuk mengingat pengalaman itu hanyalah untuk menjadi motivasi, dan yang terpenting untuk menjadi bahan pelajaran bagi siapa saja yang ingin meniti kehidupan ini. Siapa tahu, pengalaman itu ada gunanya untuk bahan perbandingan.

Tahun 1969 menjadi mahasiswa IKIP Malang

Itu kebanggaan yang luar biasa bagi seorang desa yang ternyata dapat diterima dalam tes masuk perguruan tinggi di Kota Malang. Tentu saja itu menjadi kebanggaan bagi mbah kakung dan mbok embah. Begitulah saya menyebutnya. Bapak ibu saya petani, dan sejak kecil saya telah diasuh oleh kakek-nenek yang kebetulan menjadi pamong desa (kamituwo) Dukuh Tawing. Berkat mbah kakung dan mbok embah itulah saya bisa menuntut ilmu sampai di perguran tinggi itu. Alhamdulillah, saya lulus dengan IP lebih dari 3, lulus pada tahun 1972, bertiga dari teman-teman satu angkatan yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang.

Tahun 1974 mengajar di SPG Negeri Pamekasan

Siapa tahu perjalanan hidup seseorang? Atas jasa Bapak R. Hidayat, putra Bapak R. Iskandar, kepala sekolah ketika di Sekolah Rakyat. Beliau pegawai Kanwil Depdikbud, dan beliau telah memberikan jalan lempang kepada saya untuk menjadi guru SPG, meski ditempatkan di daerah yang asing sekali bagi saya. Entah apa rencana Allah SWT mengapa saya harus mengajar di daerah yang bahasa daerahnya juga masih harus dipelajari. Ternyata pada tahun 1975 saya dipertemukan dengan seorang siswa pindahan dari SPG Negeri Mojokerto, yang kemudian menjadi istri tercinta saya, yang kemudian telah memberikan tiga anak saya. Alhamdulillah.

Tahun 1982 menjadi juara karya tulis tingkat nasional Korpri

Menulis memang memerlukan potensi. Tetapi potensi itu memang harus dikembangkan sendiri. Loma karya tulis tingkat nasional Korpri telah mengantarkan saya untuk mengenal Jakarta. Setiap malam saya harus mengetik satu karya tulis dengan mesin ketik Brother. Alhamdulillah, menjadi juara pertama, dan memperoleh hadiah langsung dari Menteri Dalam Negeri, sebagai pembina Korpri, sebesar satu juta rupiah. Jumlah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Siapa tahu hasil dari mengetik beberapa malam, kadangkala sampai jauh malam, itu telah menghasilkan karya tulis juara pertama.

Ketua LIPI, Prof. Dr. Bachtiar Rivai, yang menjadi ketua dewan juri telah menentukan sepuluh pemenang dalam lomba karya tulis itu. Alhamdulillah juga, Om Sutardjo, adik dari bapak mertua saya kebetulan ada di Jakarta. Rumah Om Sutardjo itulah yang menjadi sasaran menginap saya pertama kali. Ketika para pemenang harus berkumpul dulu di gedung LIPI, saya diantarkan oleh sepupu. Sampai di gedung LIPI, saya ditinggal di situ, karena semua peserta akan diinapkan di Hotel Wisata Internasional, di sebelah Barat Hotel Indonesia. Di gedung LIPI itulah saya baru mengetahui bahwa saya menjadi juara pertama. Sampai di hotel yang megah itu, saya juga baru tahu bahwa teman sekamar saya adalah seorang dosen Universitas Nusa Cendana, Kupang, yang ternyata menduduki juara harapan ke sepuluh. Inilah foto kenang-kenangan saya ketika menerima hadiah satu juta rupiah itu. Pembaca dapat memperhatikan foto berikut ini dan membayangkan, betapa saya menggunakan baju Korpri yang kebesaran, karena itu adalah baju pinjaman dari Om Sutardjo.

Penyerahan hadiah juara I Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional
oleh Mendagri, Bapak Amir Machmud

Tahun 1983 kuliah di Universitas Darul Ulum Jombang

Ijazah sarjana muda memang sudah cukup tinggi ketika itu. Namun ketika seorang siswa SPG yang sudah lulus dari IKIP, dan kembali ke SPG menjadi guru SPG dengan gelar sarjana dan dengan pangkat pertama III/A, saya masih mempunyai pangkat II/D. Itulah sebabnya dengan modal hadiah lomba karya tulis itu, saya mencoba meneruskan pendidikan ke jenjang sarjana, di Universitas Darul Ulum, Jombang. Setiap hari Sabtu dan Ahad saya bersama Pak Zainal Alim harus bergelantungan di bus jurusan Pamekasan ke Surabaya, ke Jombang. Menginap di mana? Teman-teman saya mengatakan bahwa tempat yang paling aman adalah masjid. Karena itu, selama dua tahun saya menginap di emperan Masjid Kampus Universitas Darul Ulum, Jombang. Alhamdulillah, dalam masa dua tahun saya dapat lulus sarjana pada tahun 1985, dengan IP yang memuaskan.

Tahun 1987 kuliah di University of Houston

Berkat ijazah sarjana, dan berkat hubungan baik dengan seorang konsultan dari Georgia University, saya memperoleh kesempatan belajar di negeri Paman Sam. Marion Jenning Rice adalah seorang konsultan P3TK di Jakarta. Saya kenal dengan beliau, karena setiap selesai sesi pelatihan di Balai Penataran Guru (BPG) Surabaya, saya selalu menemui beliau untuk mempraktikkan percakapan hasil kursus tertulis saya di Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPPG) Tertulis di Bandung. Saya malah dijadikan guide beliau ketika mengadakan acara budaya berkeliling melihat-lihat peninggalan sejarah di Kota Surabaya. Akhirnya saya diusulkan untuk dapat memperolah beasiswa tugas belajar bersama 30 orang penerima beasiswa lainnya, dan alhamdulillah diwisuda untuk mendapat gelar M.Ed pada tahun 1988.

Tahun 1990 pindah ke Jakarta

Berkat bantuan Bapak Drs. Sjafioedin DA, saya akhirnya dipindahkan dari guru SPG Negeri Pamekasan menjadi pegawai Bagian Perencanaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Setelah di Jakarta, karir saya memang tidak dapat melejit sampai ke eselon II atau bahkan I. Tetapi pengalaman saya sangat luas, karena pernah menjadi Kepala Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur selama hampir lima tahun, pernah menjadi pendamping guru teladan ke Jepang selama tiga minggu, pernah mengikuti Seminar Internasional tentang Hak Azasi Manusia di Swedia selama tiga minggu. Lebih dari itu, saya pernah menjadi Kepala Bidang Pelayanan Teknis di Pusat Penataran Guru (PPPG) Matematika di Yogyakarta selama dua tahun. Tidak mujur, karena diproyeksikan menjadi eselon II di PPPG Matematika, tetapi gagal, karena Mendiknas memilih calon yang lain. Akhirnya, tidak ada jalan tanpa ujung. Saya harus menerima SK Pensiun pada tahun 2004 di PPPG Matematika Yogyakarta, yang sekarang namanya juga sudah berubah menjadi P4TK Matematika Yogyakarta.

Tahun 1995 menjadi konsultan Pembinaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah

Berkat bantuan teman-teman lama di Bagian Perencanaan, khususnya Pak Yudistira, yang secara kebetulan memegang proyek Pembinaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, saya telah diberikan pekerjaan untuk merancang proses pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Sampai dengan tahun 2009 ini saya masih bekerja di kegiatan itu. Jadi tidak terasa saya menjadi konsultan sudah lima tahun. Alhamdulillah. Tidak dapat memperoleh akar, ternyata saya malah telah memperoleh rotan. Umur 60 tahun saat ini insyaallah memang belumlah akhir dari semuanya. Saya ingin menulis, malah dua tahun terakhir saya masih mengajar, dipanggil untuk menjadi pembicara dalam acara seminar, bahkan jika mau saya diminta untuk menjadi Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan di universitas swasta. Bagi saya, hidup harus bekerja, bermakna bagi hidup dan kehidupan ini. Mudah-mudahan. Jika orang Amerika konon pada ulang tahunnya ke-60, dia dapat memamerkan karyanya selama ini, insyaallah, saya pun dapat menunjukkan website www.suparlan.com, yang memajang buku karangan saya dan artikel lainnya di website itu. Anak sulung saya, Arif Hidayat, yang lulusan dari Universiti Utara Malaysia dalam bidang Sains Komputer, telah membuatkan mainan untuk ayahnya. Alhamdulillah.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Depok,  20 Mei 2009

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts