ArtikelBudayaBukuDunia IslamPendidikan

Sekilas Imam Abu Hanifah

40 views
Tidak ada komentar

Oleh: Suparlan *)

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini tulisan singkat kedua. Imam Abu Hanifah adalah imam pertama dari empat imam yang menjadi rujukan bagi para Aswaja pada umumnya. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah 80 H atau 699 M. Imam Abu Hanifah adalah sosok rupawan berkulit kuning langsat, tinggi ideal, dengan sorot mata yang tajam.

Fisik dan Kecerdasan

Sudah disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah mempunyai postur fisik yang rupawan dan,berkulit kuning langsat, dengan sorot mata yang tajam. Selain itu, Imam yang tampan ini juga berjenggot tebal dan panjang, berbahasa fasih dengan suara lembut, berpakaian rapi dan selalu memakai wangi-wangian.

Baru-baru ini, ada pernyataan dari seorang kyai tersohor bahwa “berjenggot tebal dan panjang mengurangi kecerdassan” malah-malah menyebutnya “goblok,” tentu saja pernyataan itu perlu dikaji barangkali. Apakah ada hubungan antara kondisi fisik dengan tingkat kecerdasan. Imam Abu Hanifah dinyatakan memiliki kecerdasan yang luar biasa, dan suka menggeluti berbagai cabang ilmu. Meski berprofesi sebagai pedangan, Imam Abu Hanifah juga memiliki kebiasaan menghadiri majelis-majelis ilmu untuk meningkatkan kecerdasan tersebut. Bahkan Iman juga memiliki akhlak mulia yang tinggi. Bahkan tidak pernah menerima berbagai gratifikasi, baik dalam bentuk jabatan maupun dalam bentuk harta. Beliau tidak pernah tunduk kepada penguasa yang dengan sengaja atau tidak menawarkan segala macam tawaran dalam bentuk tahta, harta, maupun wanita (mohon baca tulisan Petaka Karena Cemburu Buta dalam www.suparlan.com). Itu ringkasan dari buku novel sejarah pertentangan antarsuku Dayak di Kalimantan. Wallahu alam.

Ulama dan Umara

Yang ideal, ulama dan umara harus dapat bekerja sama. We are not looking for a superman, but be are looking for a super team. Kita tidak memerlukan seorang super kyai, atau pun super apa saja. Kita memerlukan siapa saja yang bisa bekerja sama, bisa berkolaborasi. Perbedaan adalah sunatullah, agar manusia dapat bekerja sama, dapat berkasih sayang antarsesama. Kita tidak boleh membeda-bedakan hanya karena SARA. Amerika Serikat memiliki Unity in Diversity. Indonesia pula memiliki Bhinneka Tunggal Ika, yang sebenarnya menjadi warisan budaya yang berbeda-beda di negeri ini. Demikian juga dengan ulama dan umara. Kedua-duanya menyatu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Ibarat suami dan istri yang berbeda, harus dapat bersatu dalam satu keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Ulama dan umara pun demikian juga. Harus dapat bekerja sama untuk melindungi segenap bangsa dan tanah air tercinta. Juga harus bekerja sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Antara yang ideal dan kenyataan sering kali jauh berbeda. Karena main kuasa sendiri, sering terjadi main kuasa sendiri. Dalam pelaksanaannya sering kali terjadi tirani, baik tirani mayoritas maupun tirani minoritas. Dalam sejarah disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah tidak pernah tunduk kepada khalifah dengan segala macam sebab dan akibat. Umara pun demikian juga. Rakyat yang terkena getahnya. Umara mengira ulama ada maunya. Jabatan atau harta. Padalah ulama tidak memerlukannya, baik jabatan atau pun harta. Akhirnya, dalam sejarah tercatatlah seorang Imam Abu Hanifah telah dipenjarakan beberapa kali, hanya gara-gara perbedaan antara keduanya. Bahkan akhir Imam Abu Hanifah harus menerima cambukan seratus kali. Hukuman fisik dan nonfisik pun harus diterima oleh Imam Abu Hanifah, dan akhirnya wafat. Meski akhirnya penguasa menyesali perbuatannya.

Ilmu Kalam dan Ilmu Praktik

Sebenarnya semua ilmu telah dipelajari oleh Imam Abu Hanifah, seperti ilmu filsafat, ilmu akidah, ilmu agama, ilmu figh, ilmu Hadits, Qiyas (analogi), dan ilmu pengetahuan lainnya.

Imam akhirnya mempelajari Ilmu Kalam. Ilmu kalam dikenal dengan ilmu yang bersifat teoritis. Ilmu praktik adalah ilmu yang lebih praktis. Kedua-duanya saling melengkapi. Imam Abu Hanifah pada mulanya lebih memperdalam tentang Ilmu Kalam atau Ilmu Ushuludin. Ilmu ini bemanfaat untuk mendebat lawan bicara, dan akhirnya untuk mencapai kepuasan jika lawan bicara telah dapat dikafirkan. Sebenarnya tujuan akhirnya baik, yakni menjaga saudaranya jangan sampai masuk neraka, karena kesalahannya selam di dunia.

Oleh karena itu Iman Abu Hanifah beralih untuk mendalami Ilmu Praktik, yakni Ilmu Fiqh, karena dengan ilmu tersebut kita dapat mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca sebagai Jendela Dunia
Sebenarnya konsep membaca sebenarnya sama. Bukan hanya membaca kata-kata, tapi lebih menangkap maknanya, dan kemudian menerapkannya. Membaca untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan. Membaca bukan hanya membaca buku teks semata, tetapi membaca sekeliling kita (atau alam terkembang, Ilmu Kauniyah). Membaca efektif harus diikuti dengan kegiatan mencatat, bahkan dengan diskusi atau musyawarah. Sama dengan konsep Imam Hanbal, tujuan utama belajar adalah (1) mencari ridho Allah Swt., (2) menghilangkan kebodohan, dan (3) menangkap berbagai masalah dan untuk menyelesaikannya. Guru tempat belajar haruslah memenuhi dua syarat: (1) memiliki kapasitas ilmu, dan (2) kapasitas moral.
Sebagai penutup kalam ini, marilah kita laksanakan semua ilmu yang ditinggalkan oleh Imam Abu Hanifah dengan harapan bahw menuntut ilmu tersebut dapat menjadi amal ibadah bagi kita. Alhamdulillahirrabil alamin. Amin.
*) Taman Depok Permai Blok D Nomor 5, Depok II Timur, Kota Depok.
Depok, 19 September 2015.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts