ArtikelBudayaDunia IslamPendidikan

Marhaban ya Ramadan

32 views
1 Komentar

Oleh: Suparlan *)

Alhamdulillah, Ramadan pada tahun ini dimulai pada hari dan tanggal yang sama bagi semua umat Islam di negeri ini, yakni Hari Kamis, 18 Juni 2015 M, bertepatan pada 1 Ramadan 1631 H. Meskipun sebenarnya perbedaan merupakan fitrah Allah Swt, dan Alhamdulillah menjadi rahmat Allah Swt. namun jika negeri ini dapat menetapkan kebijakan persamaan awal Ramadan tersebut, hal tersebut tentunya akan menjadi salah satu pertanda yang baik insyaallah dalam menjaga “persatuan dan kesatuan umay.” Mudah-mudahan bukan hanya awal Ramadan, tetapi juga sampai dengan awal perayaan Idul Fitri 1 Syawal. Insyaallah.

Marilah kita sambut Ramadan dengan suka cita penuh rasa syukur, yang mudah-mudahan Allah Swt. senantiasa menaburkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sementara umat memang masih menyambut Ramadan berbagai macam tradisi, seperti juga ketika kita menyambut Ramadan. Menurut adat Jawa, banyak umat yang menandai awal Ramadan dengan “nyekar” ke makam keluarga,”, dengan membersihkan makam dan menebar bunga-bunga ke pusara makan keluarga tersebut, dan kemudian berdo’a untuk para arwah keluarga yang telah meninggal dunia. Ya Allah, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa-dosa Bapak-Ibu hamba, dan Saudara-Saudara hamba, serta kaum muslimpin dan muslimat. Namun, menyambut bulan suci Ramadan sebailknya adalah yang sesuai dengan tuntunan sunnah, misalnya dengan banyak berdo’a, berzikir, dan berpuasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa sunnah yang lain sebagai latihan menyambut bulan Ramadan. Menyambut Ramadan dengan membakar mercon atau berfoya-foya hanyalah perbuatan mubazir yang dibenci Allah Swt.

Marhaban ya Ramadan. Agar sebelum, sepanjang, dan setelah puasa Ramadan kita dapat melaksanakan seluruh rangkaian ibadah Ramadan secara optimal, khususnya ibadah puasa Ramadan, kita dapat melaksanakan sepuluh tip sebagai berikut:
1. Mengamalkan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw, seperti makan pada waktu lapar dan berhenti sebelum kenyang.
2. Selama menjalankan ibadah puasa Ramadan, kita harus dapat menjadi semua pancaindera kita, terutama mulut. Kalau tidak, lebih baik diam.
3. Laksanakan terapi air putih selama bulan puasa Ramadan dengan formasi 2 – 4 – 2, artinya minum air putih dua gelas pada saat buka puasa, kemudian empat gelas pada saat setelah berbuka sampai dengan sahur, dan kemudian dua gelas lagi pada saat bersahur. Empat gelas antara saat berbuka puasa sampai dengan bersahur dapat diselingi dengan makan debutir kurma, misalnya minum segelas air kemudian sebutir kurma, demikian seterusnya sampai empat gelas air putih tersebut habis. Perlu diketahui bahwa kurma memang mengandung gula, tetapi kandungannya tidaklah setinggi gula pasir dan sejenisnya (Dianing Sari, Si Bening Pembuka Puasa, Koran Tempo, 8 Juni 2015).
4. Tidak perlu berhenti olah raga atau bahkan berhenti bekerja. Olah raga dan bekerja dapat terus dilakukan seperti biasa, asal tidak bekerja melebih format biasanya. Disarankan agar kegiatan bekerja dan berolah raga, seperti jalan kaki, dan bahkan renang (asal tidak sambil minum selagi renang heee). Pendek kata orang yang berpuasa tidak akan menurunkan produktivitas kerja. Bahkan meningkatkan produktivitas kerja dan kesehatan. Puasa yang kemudian dapat menurunkan produktivitas kerja dan kesehatan, tentu tidak kita kehendaki, bukan? Insyaallah dengan puasa kita menjadi lebih sehat dan lebih produktif.
5. Selepas sahur, akan lebih baik dilanjutkan dengan shalat subuh berjama’ah di masjid. Bahkan janganlah tidur setelah shalat subuh berjamaah sampai dengan saat matahari terbit, karena selepas shalat Subuh, Allah Swt, memerintahkan agar manusia untuk bertebaran di muka bumi (fantasyiru fil ardh), untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana khalifah di muka bumi ini.
6. Malah kegiatan belajar Al-Qur’an, mendalami Al-Qur’an, atau penelitian dapat bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menulis, serta kegiatan positif lainnya, insyaallah akan menjadi lebih produktif untuk dilakukan kapan saja pada saat puasa Ramadan.
7. Pendek kata puasa Ramadan sama sekali justru tidak akan bermanfaat jika hanya diisi dengan hanya untuk bermalas-malasan atau hanya untuk tidur saja, walaupun tidurnya orang puasa dihitung sebagai ibadah.
8. Tidur dan istirahat cukup perlu dilakukan agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan lebih fit dan sempurna.
9. Puasa untuk para pekerja keras, seperi pekerja untuk kegiatan pertambangan, kelautan, dan kegiatan lain yang memerlukan kegiatan fisik yang berlebih, boleh jadi perlu konsultasi kepada ustadz atau dokter agar kedua-duanya, puasa dan kerja dapat dilaksanakan secara seimbang, tidak melalaikan salah satu dari keduanya.
10. Jika karena alasan yang syari’ah terpaksa tidak dapat berpuasa Ramadan, puasa dapat digantikan di waktu lain, seperti karena haid, atau menyusui, dan sejenisnya. Pahala puasa Ramadan tetap menjadi hak setiap orang yang beriman, yang memiliki niat untuk mengamalkannya sesuai dengan petunjuk Allah Swt.

Marhaban ya Ramadan. Jika ibadah puasa Ramadan dilaksanakan secara syari’ah dan mengikuti kaidah-kaidah ilmu kauniyah, mudah-mudahan menjadi ibadah mahdhoh yang mendatangkan pahala yang tinggi di sisi Allah Swt. Selain itu, ibadah puasa Ramadan juga bermanfaat yang tak ternilai harganya untuk kehidupan manusia.

Dalam buku tipis berbahasa Inggris untuk anak-anak berjudul My First Ramadan karya Karen Katz, yang terbit di New York, ibadah puasa Ramadan sebagai upaya untuk memperteguh keimanan kita kepada Allah Swt. dan sebagai upaya untuk mengingatkan kita agar berterima kasih atas berkah Allah Swt. We fast because it helps us to concentrate on our faith. It also reminds us to be thankful for all we have.

Pada awal puasa Ramadan tahun ini, perkenankan saya menyampaikan permohonan maaf lahir batin atas segala dosa dan kesalahan selama ini, dan sekalugus mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan. Amin. Wallahu alam bishawab.

*) Laman: www.suparlan.com, www.masdik.com; Surel: me@suparlan.com.

Depok, 17 Juni 2015.

Tags: Ramadhan

Related Articles

1 Komentar. Leave new

  • dadang adnan dahlan
    Kamis, 18 Jun 2015 03:45:32

    Ramadhan asal katanya berarti ‘pembakaran’, sementara Syawwal berarti ‘peningkatan’. Sejatinya setelah melaksanakan satu bulan shaum (puasa) baik sebagai individu ataupun bangsa terdapat peningkatan kualitas diri, hari ini lebih baik dari hari kemarin, yang menurut istilah Alquran adalah tercapainya derakat takwa (la’allakum tattaquun). Semoga!
    Apabila memasuki Ramadhan, saya teringat (mengenang) akan suasana di sekolah, anak-anak yang hormat dan santun (sekolah tidak dalam suasana libur, tentu) –mereka tetap ceria, yang tergambar dalam bait lagu berikut.

    33. Gema Ramadhan di SDN Cibeusi

    Lyrik : Dadang Adnan Dahlan
    Lagu : Supriatna
    Arr. : Budi Yanto

    Ibadah shaum bulan Ramadhan
    Terlukis dalam simponi
    Syiar Ramadhan SD Cibeusi
    Nikmat di sanubari

    Latih infak, shalat berjamaah
    Ceramah, pesantren kilat
    Buka bersama, sahur bersama
    Tadarus, dan tarawih

    Reff.
    Gema Ramadhan SD Cibeusi
    Syahdu, dan menyenangkan
    Kita terlatih gemar beramal
    Bina akhlakul karimah

    Jatinangor, 8 Oktober 2007
    (Ramadhan 1428 H.)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Artikel

Guru

Oleh Muhammad Sami’in Pagi ini begitu indah, deruan angin menerpa wajah Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan Renungan hanya…