ArtikelDunia Islam

Pintu-Pintu Hidayah: Begitu Luas, Tanpa Batas

7 views
Tidak ada komentar

Oleh Suparlan *)

Hidayah berasal dari akar kata “hadaya” yang berarti “petunjuk”.
(Luwis Ma’luf, Kamus Al Munjid)

Hidayah adalah tuntunan Tuhan kepada setiap mahluk agar dapat memiliki sesuatu
(Muhammad Quraish Shihab)

Ibadah merupakan terapi dan kontrol untuk memastikan keberadaan hidayah pada diri kita
(Digubah dari Achyar Zein)

Apabila kita berusaha mencari hidayah? Ada berapakah pintu hidayah yang harus kita cari dan usahakan itu? Oh, hanya Allah Yang Maha Tahu. Sesungguhnya sangat banyak pintu hidayah yang telah, sedang, dan akan diberikan Allah kepada umatnya. Pintu itu pun sengaja dibuka lebar-lebar agar apa dan siapa pun akan dapat memperolehnya sesuai dengan kondisi dan usahanya, kecuali orang-orang yang berada dalam keadaan fasik dan dzalim.

Allah tidak pernah akan salah dalam memberikan hidayah-Nya kepada apa dan siapa yang dikehendaki-Nya. Kewajiban kita adalah beribadah dalam rangka mencari ridha Allah dan hidayah-Nya. Hidayah adalah kerja sekaligus hasil dari sebuah asa. Hidayah adalah jihad dan sekaligus hasil jihad tersebut hanya ditentukan oleh dan karena Allah. Berikut ini salah satu contoh. Adalah seorang bernama Irena Andono, seorang calon biarawati yang sengaja dididik untuk menjadi pendakwah Nasrani, ternyata telah berubah arah seratus delapan puluh derajat menjadai seorang ustadzah yang sangat piawai. Suatu saat diskusi tentang keesaan Allah dengan guru atau dosennya, tergugahlah hidayah akal yang telah Allah berikan kepada semua insan. Tidakkah Tuhan Maha Kuasa, maha dalam segalanya? Haruskah Tuhan ditasbihkan? Saat itulah hidayah akalnya hidup dengan kuasa-Nya. Diskusi dengan guru dan dosennya tersebut telah berlangsung beberapa lama. Hidayah akalnya terus bekerja. Pencarian Tuhan dilakukan. Perbandingan agama dijalankan. Belajar, belajar, dan belajar. Al Quran, sebagai Al Furqon, sebagai pembeda yang hak dan yang batil, terus dibaca, dibaca, dan dibaca. Ayat demi ayat difahami dengan akal dan hatinya. Ditemukanlah dan dibacalah surat Al Ikhlas, dan dicamkanlah dengan akal dan hatinya bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah. Tuhan tidak beranak dan diperanakkan”. Masuklah hidayah akal kepadanya. Ia telah memperoleh hidayah sempurna, dan masuklah ke dalam Islam secara kafah. Subhanallah. Itulah pergulatan besar untuk memperoleh hidayah. Allah tidak pernah salah dalam memberikan hidayah-Nya kepada umatnya.

Sangat banyak pintu hidayah itu diberikan kepada manusia melalui akalnya. Dengan hidayah akal ini manusia telah banyak yang dapat menemukan kebenaran  yang sejati. Selain itu, hidayah juga diberikan Allah dalam bentuk naluriah. Seperti manusia memiliki instink ’membela diri’ untuk berbuat sesuatu tanpa menggunakan akalnya. Seorang dikejar anjing gila. Dan kemudian, wusss … ia telah melonjat tembok yang tinggi. Alhamdulillah, selamatlah ia. Sesampai di tanah, berfikirlah ia. Heran mengapa ia dapat meloncat tembok setinggi itu. Seorang memiliki kemampuan untuk menangis, untuk menunjukkan kepada ibunya bahwa ia sedang pipis atau lapar. Selain itu, hidayah  juga dalam bentuk pancaindera, yang manusia dan mahluk hewan telah diberikan sejak kehidupan diberikan kepadanya. Kemampuan kita untuk bisa mendengarkan nasihat yang sejuk, mencium bau bunga yang harum, merasakan manis dan asinnya makanan yang kita makan atau halusnya elusan tangan di kepala kita dari ayah dan ibu kita, dan masih banyak yang lainnya. Hidayah jang paling tinggi adalah dalam bentuk agama atau addin bagi manusia. Manusia diberikan tuntunan agama sebagai pintu hidadyah yang sangat tinggi nilainya.

Pintu hidayah dapat diibaratkan seperti bandara, yang dapat dilandasi oleh pesawat yang beraneka ragam. Bahkan hidayah ibarat samudera yang luas tanpa batas. Untuk mencapai landasan yang luas, samudera yang tanpa batas, dapat dilakukan dengan usaha yang tidak sia-sia. Dengan ridho Allah, hidayah harus diusahakan. Dengan ridho Allah jualah maka hidayah harus dipelihara agar tidak lepas. Karena hidaya dapat saja hilang musnah, tanpa bekas. Seorang abid (ahli ibadah) dapat saja kehilangan hidayah karena ibadahnya bernilai fasik. Apalagi bukan ahli ibadah. Ada cerita dari Trenggalek, satu keluarga murtad gara-gara ayah yang dicintainya meninggal dunia, dan warga sekitar tidak mau menyalatinya. Akhirnya sang ayah terpaksa dikuburkan oleh umat beragama lain, dan sejak itulah satu keluarga murtad dari agama yang tidak dipeliharanya. Itulah cerita sekilas tentang dapat hilangnya ibadah dengan sekejap mata.

Itulah sebabnya, pintu hidayah haruslah dijaga dengan DUIT, yakni do’a, usaha, ikhlas, dan tawakal.Tanpa DUIT, maka hidayah dapat saja lepas dari tangan seseorang, bahkan dari satu keluarga, seperti contoh tragis dari Trenggalek. Untuk memelihara hidayah, sifat-sifat Nabi dapat dijadikan pegangan, yakni dengan akronim SIFAT (Sidiq, Istiqamah, Fathonah, Amanah, dan Tabligh).

Sidiq artinya berbuat benar atau jujur, tidak berbuat kecurangan dan kebohongan. Dengan demikian, hidup menjadi nyaman, tidak merasa dikenar-kejar oleh kesalahan yang telah dilakukannya.

Istiqamah artinya konsisten, terus menerus dan tidak kendor dalam melaksanakan setiap perintah dan menjauhkan larangannya. Memang, keimanan kita bersifat pasang surut, naik dan turun. Ibarat gelombang ada resonansi, tapi amplitudo dalam resonansi itu jangan sampai terlalu tinggi. Mengapa? Ketika menjapai titik nadir keimanan itu, akan terjadi kesulitan untuk menaikkannya ke tingkat yang tertinggi. Karena itu, proses naik dan turun keimanan itu harus dalam kecenderungan yang selalu naik, dan bukan sebaliknya.

Fathonah artinya cerdas, baik dalam hal kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritualnya. Singkat kata, pikir dan hatinya. Dengan menggunakan kecerdasan ini, pintu hidayah insyaallah dapat kita peroleh. Seperti contoh yang telah dijelaskan dalam awal tulisan ini.

Amanah artinya mampu melaksanakan dan sekaligus menjaga semua ‘titipan’ yang telah diberikan kepada kita. Kehidupan ini adalah titipan dari Allah. Kekayaan ini adalah juga sekedar titipan dari Allah. Kita sama sekali tidak memilikinya. Yang kita miliki dari harta yang banyak itu adalah yang telah kita berikan kepada yang berhak menerimanya. Selebihnya dalah sekedar hak untuk menggunakannya secara sementara ketiga harta-harta yang banyak itu masih dititipkan kepada kita. Kesehatan yang kita miliki adalah amanah yang harus dijaga. Dengan demikian, kita harus memiliki kepedulian terhadap segala apa yang dititipkan kepada kita. Dengan melaksanakan dan menjaga semua amanah itu, kita akan dapat memelihara hidayah yang telah diberikan dari Allah.

Tabligh artinya communication capacity atau kemampuan berkomunikasi yang kita miliki. Manusia hidup sebagai mahluk sosial, yang memang harus melakukan komunikasi dengan sesamanya. Komunikasi efektif terjadi apabila hubungan antara sesamanya berlangsung lancer dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan kehidupan yang damai dan sejahtera. Katakanlah yang berasal dariku walaupun satu ayat, merupakan kewajiban tabligh yang harus kita tunaikan untuk menjaga hidayah-Nya. Konon ada empat golongan umat Islam. Pertama, Islam KTP, Islam hanya dalam nama, tidak pernah melakukan amal ibadah yang diperintahkan dalam syariat. Yang pertama ini, disebut sebagai Islam seperempat. Golongan ini sama sekali tidak disegani dan tidak ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Kedua, Islam setengah, artinya kadang-kadang melaksanakan amal ibadah, kadang-kadang tidak. Atau melaksanakan amal ibadah yang dengan setengah hati. Golongan ini agak disegani, tetapi tidak ditakuti. Ketiga, Islam tiga perempat. Sebenarnya golongan ini dapat disebut sebagai ahli ibadah (abid), melaksanakan semua amal ibadah, mulai dari mengucapkan syahadat sampai dengan kewajiban melaksanakan ibadah haji. Tetapi golongan ini tidak atau kurang melakukan upaya untuk melakukan tabligh. Golongan ini beranggapan bahwa urusan agama adalah semata-mata hanya menjadi urusan pribadi seseorang. Golongan ini sangat disegani, tetapi belum ditakuti. Keempat adalah golongan yang dengan gencar melakukan tabligh, di mana pun, dan kapan pun juga. Golongan ini memang sangat disegani dan juga ditakuti musuh-musuh Islam.

Dengan mencoba mengamalkan semua sifat Nabi tersebut, insyaallah kita dapat menjaga hidayah yang memang telah diberikan kepada umat-Nya. Wallahu alam bishawab.

Bahan pustaka:

  • Achyar Zein. Memahami Makna Hidayah. Waspada Online.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Pengajian ”Malam Senin”, Taman Depok Permai.

Depok, 7 Juni 2007.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts