Artikel

Kultur 10: Kasih Sayang dan Kewibawaan

22 views
Tidak ada komentar

1. Kasih sayang itu milik siapa? Bukan hanya milik mereka yang menjalin kasih mesra para remaja yang sedang menjalin asmara. Itu iya. Tetapi lebih dari itu, kasih sayang itu milik manusia sejak zaman kenabian Ibrahim dan Ibu Hawa. Kasih sayang antara bapak, ibu, dengan anak-anak, dan saudara-saudaranya. Juga dengan tetangga, warga masyarakat.

2. Manusia yang tidak memiliki kasih sayang kepada saudaranya, tidak mengasihi dirinya sendiri. Kasih sayang merupakan fitrah manusia, yang saling mengenal satu dengan yang lain dalam kehidupan sosial. Manusia dengan segala macam keanekaragamannya senantiasa memerlukan kasih sayang dengan manusia lainnya. “Masyarakat binatang saja”, mereka saling berkasih sayang dan bekerja sama dengan yang lainnya. Manusia yang dititahkan sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya.

3. Ada teori yang menjelaskan hubungan antara kasih sayang dengan kewibawaan. Apa hubungannya?

4. Pertama, kasih sayang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan. Kasih sayang menumbuhkan kepercayaan. Coba kita perhatikan. Seorang ayah yang menimang-nimang anaknya. Bapak dan anak saling tertawa karena senangnya. Ohh … betapa sang bapak menaik-naikkan anaknya ke atas, dipegang, dinaikkan ke atas, dan seterusnya, dan tertawalah mereka karena senangnya. Sang anak tidak takut ayahnya melepaskannya, karena sang anak percaya bahwa sang ayah tidak akan berbuat demikian. Itulah contoh kongkrit hubungan antara kasih sayang dengan kepercayaan. Mereka yang menjalin kasih sayang satu dengan yang lain. Karena kasih sayang, timbullah rasa kepercayaan yang kuat antara keduanya. Sang anak percaya sepenuh hatinya bahwa sang bapak tidak akan menjatuhnnya. Kepercayaan inilah yang berhasil ditumbuhkan dari rasa kasih sayang di antara keduanya.

5. Kedua, kepercayaan melahirkan kewibawaan. Apakah itu kewibawaan? Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat diikuti oleh orang lain. Seseorang berwibawa karena perintahnya atau harapanny diikuti dengan segala hormat. Semua perintah dan petunjuknya senantiasa dilakukan tanpa ada paksaan, bukan karena takut akan hukuman, tetapi karena kesadaran. Kewibawaan ini lahir karena kepercayaan. Kepercayaan inilah yang tumbuh karena cinta kasih.

6. Ketiga, dengan demikian, cinta kasih telah melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan telah pula melahirkan kewibawaan.

7. Saudaraku tercinta. Di negeri tercinta Indonesia ini, kita memerlukan banyak orang yang saling memberikan cinta kasih kepada sesamanya. Negeri ibarat bunga beraneka ragam. Negeri kita ibarat pelangi yang indah, yang terdiri atas banyak warna beraneka ragam. Sudah sepatutnya, sesama bunga, dan sesama warna yang beraneka ragam itu kita dapat berkasih sayang. Dengan saling berkasih sayang, kita akan memiliki rasa saling percaya satu dengan yang lain, dan rasa percaya mempercayai inilah yang diharapkan yang akan melahirkan kewibawaan yang yang tidak dilandasi oleh rasa takut dan apalagi takut dengan kebencian, tetapi kewibawaan karena satu pengertian.

Depok, 8 Juli 2014.

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts