ArtikelBudaya

Dari Maumere Terus ke Ende

90 views
5 Komentar

Oleh Suparlan *)

Belajarlah apa pun, dari siapa pun, kapan pun, sedapat mungkin.
Maka akan datang waktu di mana Anda akan berterima kasih kepada diri sendiri atas aktivitas yang Anda kerjakan itu
(Sarah Caldwell, konduktor dan pendiri Boston Opera)

Segala yang berkesan akan terpancar
(Aristoteles)

Kesan yang mendalam terhadap keindahan alam yang saya peroleh di Maumere dan Enda telah mendorong saya untuk menulisnya. Memang, segala yang berkesan mudah-mudahan dapat terpancarkan melalui tulisan ini. Maumere untuk pertama kalinya saya kenal lewat berita tentang tsunami yang menerjang Kabupaten Sikka beberapa tahun lalu. Maumere adalah Ibukota Kabupaten ini. Mau artinya pantai, mere artinya besar. Pantai besar atau pantai yang luas. Itulah salah satu makna etimologis yang dapat ditelusuri dari toponim kata Maumere.

Bandara kecil Wai Oti telah menerima kedatangan saya untuk pertama kalinya dengan menumpang pesawat Merpati berbaling-baling. Stepa dan savana di sekitar bandara itu merupakan ciri khas kawasan yang curah hujannya kurang ini. Sudah rumputnya gersang, dibakar lagi. Itulah kebiasaan nenek moyang kita yang harus dibuang jauh-jauh, karena tidak responsif terhadap lingkungan hidup. Keadaan ini perlu menjadi bahan pelajaran berharga bagi siapa saja. Termasuk daerah yang kaya hujan, apalagi daerah yang memang sangat kering ini. Sopir kijang bernomor Surabaya yang membawa saya dari Bandara Wai Oti ke hotel Purnamasari masih juga basah dengan keringat lantaran udaranya yang panas. Apalagi saya.

Sesampai di hotel Purnamasari saya diterima oleh petugas front office yang menyatakan bahwa saya dapat kamar VIP. Saya merasa seperti apa kamar VIP yang dimaksud. Tahu-tahu, ya begitulah. Listriknya lebih sering mati, dan air ledengnya pun hanya mengalir kecil sekali. Itulah VIP di hotel yang tak ubahnya seperti rumah biasa ini. Tak mengapa. Inilah jurang lebar yang harus dapat kita pelajari antara kondisi Jakarta dengan Maumere di negeri ini. Saya harus memahami kondisi ini dengan sepenuh hati.

Ikan, Kekayaan Alam

Hotel Purnamasari berada dibibir pantai. Membelakangi pantai yang besar itu. Ombaknya memang tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan ombak pantai selatan Pulau Jawa di kampung saya. Tetapi, sisa-sisa kerusakan akibat tsunami di sepanjang pantai masih terlihat nyata. Tembok rumah, pohon kelapa yang roboh di pinggir pantai itu menjadi bukti keganasan ombak lain yang menjadi tsunami. Setiap pagi sehabis shalat subuh saya menyempatkan dapat berjalan-jalan di sepanjang pantai. Bahkan pagi itu saya sempat sampai di tempat pelelangan ikan, yang pagi itu kapal-kapal telah merapat di pelabuhan yang dibangun oleh Kementerian Kelautan. Ikan tongkol dan ikan kembung menjadi hasil tangkapan hari itu. ”Duapuluh ribu rupiah, duapuluh ribu rupiah” teriak seorang penjual ikan dengan menunjukkan plastik-plastik berwarna hijau berisi ikan. Sangat murah. Pikir saya dalam hati. Inikah potret rakyat suatu negara yang konon sangat melimpah kekayaan alamnya, tetapi dikatakan miskin ini? Ikan melimpah, tinggal mengambil. Laut kita adalah kolam susu yang sangat kaya. Segepok uang recehan puluhan ribu rupiah terlihat berada di tangan penjual ikan. Semua orang yang berkerumun di tempat pelelangan ikan itu terlihat gembira. Transaksi jual beli antara pemilik ikan dengan pedadang dan para pembeli terjadi dalam suasana kehidupan sosial yang sangat indah. Seorang pemilik perahu cukup besar yang dipanggil ”Pak Haji” telah melakukan transaksi jual beli ikan itu untuk kebutuhan hidup masyarakat yang sebagian besar beragama Katolik ini. Ikan menjadi hasil yang sangat potensial di daerah Maumere. Tak ayal lagi, lauk ikan menjadi santapan saya setiap hari di Hotel Purnamasari.

Ende, Tempat Pembuangan Bung Karno

Perjalanan dari Maumere ke Ende saya tempuh dengan Avansa selama empat sampai lima jam. Jalannya memang mulus, tetapi sayang masih sempit dan berkelok-kelok. Seorang ibu setengah baya, penumpang yang duduk di sebelah saya terlihat sibuk dengan plastik kreseknya berwarna hitam. Ia mabuk. Bagi saya, perjalanan itu sangat mengesankan. Pohon miri di kiri kanan jalan masih terlihat lebat. Kondisi tanah di daerah Ende memang terlihat lebih subur. Hal ini sudah tentu terkait dengan keberadaan Gunung Kelimutu yang pada masanya masih menjadi gunung berapi aktif. Minimal ada dua kehebatan yang dapat dijelaskan dalam tulisan ini.

Pertama, Kota Ende merupakan tempat yang sangat bersejarah, karena Bung Karno pernah dibuang di kota ini. Saya sempatkan melihat rumah tempat pembuangan Bung Karno ini, karena hotel tempat menginap saya, Hotel Dwiputra, kebetulan hanya berjarak lima ratusan meter saja. Sehabis shalat subuh, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di Kota Ende. Jika sebagian besar penduduk Maumere beragama Katolik, masyarakat Kota Ende ternyata beragama Islam. Bahkan, nama bandara di Kota Ende adalah nama seorang raja beragama Islam yang pernah menjadi bupati pertamanya, yakni Haji Hasan Aroeboesman. Istana kerajaan Ende ini sekarang menjadi rumah yang dihuni oleh keturunan raja. Pagar kawasan rumah ini kelihatan berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya, karena memang telah dibangun khusus oleh Pemerintah Daerah. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang cucu Haji Hasan Aroeboesman. Namanya Firdaus, seorang pegawai Pemda Kabupaten Ende. Sayang sejarah Kerajaan Islam di Ende ini belum lagi ditulis? Saya lihat sejarah Ende dalam www.ende.go.id, keberadaan Kerajaan Islam ini tidak secara eksplisit disebutkan. Masjid di sebelah Barat ”istana” Kerajaan Ende ini merupakan masjid tertua di Kota Ende yang dibangun pada abad ke-16. Beberapa masjid banyak terdapat di Kota Ende. Konon, tanah untuk gereja yang besar di Kota Ende juga atas jasa baik Raja Haji Hasan Aroeboesman.

Nama Soekarno memang memiliki kesan tersendiri bagi rakyat Ende. Pohon sukun yang ditanam ketika Bung Karno berada di Ende memang telah lama mati, tetapi sampai saat ini pohon yang satu ini terus ditanam kembali. Di bawah pohon sukun ini Bung Karno dipercayai selalu merenung dan kemudian menuliskan tentang nilai-nilai luhur Pancasila, yang kini menjadi dasar negara. Ketika berada di Kota Ende, Bung Karno juga sering mengunjungi sekolah. Frans Seda adalah seorang siswa Sekolah Rakyat yang bernyanyi ketika Bung Karno berkunjung ke salah satu sekolah itu.

Gunung Kelimutu

Sungguh ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa memang tidak ada duanya. Kawah tiga warga yang ada di Puncak Gunung Kelimutu adalah salah satu buktinya. Bersama dengan peserta workshop Whole School Development (WSD), yakni program yang dilaksanakan oleh Australia-Indonesia Basic Education Program (AIBEP), dan didampingi oleh dua orang District Coordinator (DC) dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ende, saya bersama-sama menuju gunung yang dipercayai sebagai tempat bersemayam para arwah ini. Jarak Kota Ende ke Gunung Kelimutu sekitar lima puluhan kilometer. Pagi-pagi kami berangkat dengan dua bus menuju Gunung Kelimutu. Alhamdulillah, cuaca terang. Hujan hanya rintik-rintak, dan kemudian terang kembali. Untuk ke kawah itu, kami harus berjalan kaki kira-kira satu kilometer melalui jalan yang sudah dikonblok. Kata Pak Kanis, yang mendampingi kami, Adam Malik pernah berkunjung ke kawah tiga warga ini. Beliau naik helokopter dan mendarat tidak jauh dari bibir kawah ini. Sungguh, kawah berwarna hijau begitu mencolok. Kawah ini dipercaya sebagai tempat bersemayan para arwah yang meninggal di usia muda. Di sebelahnya kawah berwarna coklat dipercaya sebagai tempat bersemayam arwah mereka yang meninggal ketika sudah berumur tua. Dan satu kawah lagi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki lagi adalah berwarna hitam dipercaya sebagai tempat bersemayam para arwah para penjahat. Ya, itulah kesadaran magis yang tumbuh dalam masyarakat yang belum dapat menemukan sinar ilmu pengetahuan dan teknologi. Di mana pun, dan kapan pun. Tidak hanya di Tanah Ende. Di Tanah Jawa pun kesadaran magis ini masih terasa kental. Sebagai contoh, ketika para petani gagal panen, mereka akan mengatakan bahwa itu semua karena kemarahan Dewi Sri.

Dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan teknologi, gejala alam ini dikenal sebagai gejala post vulkanik. Gejalanya bermacam-macam. Ada gejala semburan air belerang (sulfatara), ada semburan air panas, dan sebagainya. Memang, fenomena alam ini sangat luar biasa, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasalah yang mampu membangun gejala alam seperti ini. Tidak juga Mbah Marijan, yang dipercaya orang memiliki super power yang luar biasa sehingga dipercaya menjadi penjaga Gunung Merapi.

Gunung Kelimutu – http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kelimutu

Bahasa Daerah

Di Kabuaten Ende ini ternyata ada dua bahasa daerah, yakni Bahasa Ende dan Bahasa Lio. Bahasa Ende kebanyakan dipakai oleh penduduk Kota Ende, sedang Bahasa Lio banyak digunakan oleh daerah kawasan sebelah utara Kota Ende, termasuk penduduk yang banyak tinggal di gunung-gunung di sekitar Kota Ende.  Jao ata Ende. Artinya, saya orang Ende. Itulah salah patah kata yang sempat saya ingat. Sungguh, perjalanan dari Maumere terus ke Kota Ende telah memberi kesan yang mendalam bagi saya. Lebih dari itu, acara kegiatan pertemuan dengan kepala sekolah, guru, pengawas, dan Komite Sekolah selama bertugas di Maumere dan Ende telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa negeri kita ini adalah negeri yang kaya dan indah. Untuk memajukan negeri yang kaya dan indah itu, harus dibangun melalui pendidikan yang berkualitas. Mudah-mudahan. Amin.

*) Website: www.suparlan.com; E-mail: me [at] suparlan [dot] com.

Jakarta, 20 Desember 2007

Related Articles

Tak ditemukan hasil apapun.

5 Komentar. Leave new

  • Dalam cerita ini, Anda seperti merendahkan maumere… Apa karna sebagian besar masyarakatnya memiliki kepercayaan yg berbeda dgn ende,, ha?

    Balas
  • Maumere tidak terlalu kering seperti apa yg di ceritakan…

    Balas
    • Ohh, mohon maaf kalau saya kurang pas menggambarkan keadaan kota pantai yang besar itu. Ya, saya memang menuliskan tentang stepa dan savana, tetapi kalau tidak salah, saya juga menuliskan banyaknya pohon miri. Agat lebih lengkapi pembaca lebih baik dapat menambahkan informasi yang lebih lengkap. Maaf dan terima kasih. Salam.

      Balas
  • Wahhh lengkap banget ulasannya jadi kepingin berangkat kesana juga tapi yang pasti bawa keluarga

    Balas
    • Alamdulillah. Saya juga baru bisa tulisan tahun 2007 ini ketika Anda memberikan komentar tulisan ini. Saya pun sudah banyak lupa tentang apa yang saya tuliskan. Untuk dokumennya masih tersimpan dalam website ini. Jau ata Jawa, karena saya memang orang Jawa. Kalau boleh tahu, apakah Anda berasal dari Ende? Sekarang di mana? Kerja apa? Itulah tulisan yang saya buat ketika menjadi penatar WSD (Whole School Development) AIBEP di Ende. Salam kepada Ende tercinta, karena telah memberikan inspirasi kepada saya dalam menulis. Menulis sepanjang hayat adalah cita-citaku dalam kehidupan.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Popular Posts

Other Posts

Artikel

Kultum 27: Kalempo Ade

1. Pada hari Jum’at tanggal 26 September 2014, alhamdulillah saya dapat memenuhi undangan dari Dewan Pendidikan Provinsi Nusa…
Buku

Tiga Puluh Tausiyah

Buku Tausiyah ini dikumpulkan dari pengalaman kegiatan “menuntut ilmu” dari beberaka kegiatan pengajian di berbagai tempat, mendengarkan kutbah…